BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kemarahan Audric


__ADS_3

'Kenapa aku harus bersembunyi? Apa Aku selemah itu dimatanya?'


Aera kesal, dia benci dianggap sebagai kelemahan Audric.


"Apa yang dilakukan Audric sekarang? Dia menyembunyikanku seperti menyembunyikan barang."


Ivon hanya terkekeh ketika Aera menggerutu. Mereka sedang berada di dalam bunker yang terletak di sebuah taman bunga belakang sebuah sekolah di desa. Sekolah itu telah lama ditutup sehak Martell membeli tanah disekitarnya.


Dari luar, wilayah itu hanya seperti sekolah kosong yang ditinggalkan. Tapi dibelakangnya, dibangun bunker berukuran cukup besar untuk dijadikan tempat persembunyian.


"Kita tidak akan lama disini Nona. Selain itu, Tuan melakukan ini untuk keamanan Anda."


Ivon menyajikan dua cangkir kopi diatas meja. Mereka baru saja sampai beberapa menit yang lalu setelah berkendara selama satu jam lebih. Dalam perjalanan, pada perbatasan kota Ivon mengganti kendaraan mereka dengan mobil yang telah disiapkan oleh bawahannya.


"Sebaiknya Anda istirahat dan tidur sebentar, saya akan pergi sebentar untuk membeli beberapa bahan makanan."


"Tunggu, kamu juga butuh tidur!"


"Lebih aman melakukannya sekarang, karena daerah ini akan sedikit sepi pada jam seperti ini. Desa ini tidak jauh dari kota, pihak musuh bisa saja mengirim mata-mata kesini besok. Anda bisa membersihkan diri, ada beberapa pakaian di dalam lemari. Kamar mandi ada disana dan Anda bisa memakai kamar tidur yang mana saja."


Selepas Ivon pergi, Aera melihat penampilannya. Gaun yang robek dengan jas hitam milik Ivon yang menutupi pundak terbukanya. Badan yang kotor dan lengket karena debu dan keringat.


"Aku terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa." gumamnya.


Selesai mandi, Aera membuka lemari kecil di dalam kamar. Ada beberapa baju kaus dan kemeja panjang. Semuanya pakaian laki-laki. Ada celana olahraga dan itu juga untuk laki-laki. Dengan terpaksa, Aera memakai apa yang ada. Tubuh mungil itu tenggelam dalam baju yang kebesaran. Terlihat sangat lucu.


Dia keluar lagi, duduk di kursi dan meja tadi. Menikmati kopinya yang hampir dingin. Aera baru sadar, tempat ini terlihat seperti kepribadian Audric. Terlihat tenang tapi membuatmu takut. Rasanya ada sesuatu yang akan menangkapmu dari kegelapan ketika lengah sedikit saja.


Ada dua pintu kecil yang tidak bisa Aera buka ketika dia mencari kamar mandi tadi, juga ada sebuah lingkaran di dinding. Lingkaran aneh yang dicurigai Aera sebagai sebuah pintu besi sebuah lorong yang entah kemana. Ada tombol disisi kanan lingkaran. Aera tadi menekannya, membuka penutup dari tombol-tombol angka yang jelas untuk apa itu.


'Apa ini rancangannya? Atau dibuat sesuai permintaannya? Tempat ini seperti menyimpan banyak rahasia Audric. Atau hanya perasaanku saja?'


Aera mengelilingi tempat itu, tidak ada banyak ruang. Hanya ada dua kamar tidur, satu dapur dan satu kamar mandi yang super luas dengan kamar-kamar kecil layaknya pemandian umum. Dua toilet dengan pintu tertutup di area yang sama.


Aera memperhatikan tanaman hias dalam pot-pot kecil di dinding. Bertanya-tanya siapa yang memelihara tempat ini karena terlihat sangat terawat.


"Ini jenis tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Jenis yang cocok ditaruh ditempat seperti ini." gumamnya.


Meski dia berkta demikian, Aera tidak tahu nama tanaman hias itu. Terlihat berbeda dari yang pernah ia lihat di kediaman Martell maupun rumah Luisa sebelumnya.

__ADS_1


"Oh, ternyata ada perpustakaan kecil disini."


Aera mengambil sebuah buku dengan asal. Buku lama tapi tidak berdebu. Sangat jelas tempat ini dirawat dengan baik.


Aera membawa satu buku, namun tidak langsung membacanya. Dia kembali mengedarkan pandangannya ke arah lain, tidak ada hal yang menarik selain tanaman hias. Ruangan ini cukup kosong.


"Aku butuh ponselku, kenapa dia tidak menitipkan satu ponsel untukku. Dia hanya mengirimku kesini tampa memikirkan cara bagaimana aku menghubunginya?" gerutu Aera.


Dia kawatir, keadaan diluar tidak baik-baik saja untuk Audric. Dia tidak tahu apapun, tidak tahu situasi dan apa yang telah terjadi. Ini membuatnya frustasi.


"Aku tidak suka hanya duduk tenang dan membaca buku seperti ini. Dia sendiri yang bilang akan membiarkanku bertindak sendiri melawan Luisa! Apa karena aku terlalu lemah?"


Aera meletakkan kepalanya diatas lengannya. Mengetuk-ngetuk meja bulat itu dengan perasaan cemas.


Tampa sadar, Aera tertidur. Saat Ivon kembali, dia segera meletakkan barang bawaannya dan memeriksa Aera. Takut kalau dia demam karena terlihat gelisah dalam tidurnya.


Ivon mengangkatnya dan memindahkan Aera ke dalam kamar. Membaringkannya diatas kasur dengan lembut.


'Dia bahkan tidak mengeringkan rambutnya.'


Ponselnya bergetar, Ivon segera keluar dan mengangkatnya.


Itu adalah salah satu ketua regu yang melapor.


"Aku mengerti, tetap awasi dan tempatkan juga beberapa orang di sekitar ajudannya." suruh Ivon.


Dia cemas, dia baru saja mendapat informaai bahwa presiden tiba-tiba menemui Mentri pertahanan diam-diam. Meski selama ini Mentri itu berpihak pada Audric, tidak ada yang bisa memastikan kesetiaannya.


Ivon segera mengirim pesan pada Harald. Meski pria itu mungkin juga sudah tahu, Ivon ingin tahu langkah apa yang akan diambil Audric.


Sementara itu, Audric sedang berada dilantai paling atas gedung pencakar langit miliknya. Sebuah perusahaan dengan lambang keluarga Martell berdiri di depan gedung yang saat ini ia tempati. MFc berdiri tidak kalah megah dengan Martell, perusahaan yang menjalin kerja sama dengan lawan bisnis keluarganya sendiri yang kini berhasil dibuat jatuh oleh Rupert atas perintahnya.


"Bukankah permainan ini sangat luar biasa? Aku berada pada puncak rantai makanan dalam negara ini dan mempengaruhi sistem ekonomi negara lain. Tapi, untuk mencapai apa yang Aku inginkan, aku masih harus mendapatkan pengakuan elit global lainnya."


Rupert memandang punggung tegap itu dalam diam. Begitupun Harald yang berdiri berdampingan dengannya. Sejak kejadian dihotel, belum ada dari ketiganya yang menutup mata hingga pagi ini.


"Kamu pasti sudah mendengar bocoran pembicaraan di dalam ruang pertemuan, bukan?"


Audric berbalik, menatap Rupert dengan tatapan menelisik. Berbeda dengan Audric yang biasanya, saat-saat seperti ini Audric terlihat seperti dia yang dulu. Tidak ada celah untuk bercanda dan santai.

__ADS_1


"Ya, untuk tujuan itu, Anda harus bisa membuat semua mentri negara bagian berada dipihak Anda. Tapi, bukankah itu akan sulit? Walaupun diubah, mereka akan menentang Martell sebagai raja."


"Tentu saja, mana mungkin mereka yang serakah menyerahkan mahkota begitu saja. Ini masih panjang. Tidak perlu terburu-buru, tapi terus bergerak menyebarkan akar kemana-mana."


"Apa Anda berniat menjadi presiden dan merubah sistem pemerintahan saat itu?" tanya Rupert lagi.


"Bagaimana menurutmu?"


Rupert tidak menkawabnya langsung. Dia juga tidak bisa menebaknya.


"Itu terlalu lama untuk situasi saat ini." sela Harald.


"Maksudmu?"


"Keadaan internal Martell saat ini tidak begitu baik, menunda hanya akan membuat cela."


"Kudeta?"


Wajah Rupert tidak baik-baik saja ketika menanyakan hal itu.


"Tunggu, kita tidak bisa melakukan hal itu begitu saja."


Audric membalikkan badannya lagi, menatap gedung Martell di hadapannya.


"Tadinya, aku tidak berniat melakukan hal ini. Aku sudah melupakannya karena aku tidak suka hal yang merepotkan. Jika aku menargetkan perubahan sistem dan membuat Martell menguasai negara ini dengan menjadi Raja, ketika naik kekursi ini aku pasti sudah bergerak. Tapi aku akan sangat kerepotan jika melakukannya. Lagi pula itu hanya keinginan leluhur yang tak aku kenal." kata Audric.


Dia tidak bohong, pada awalnya tujuan leluhur mereka yang telah membuat keluarga ini menjadi kuat hingga sekarang, tidaklah ia pikirkan. Dia menganggap perkataan ayahnya ketika dia remaja hanya dongeng sebelum tidur. Karena penerus sebelumnya, baik dari ayah dan kakek-kakek terdahulu, tidak pernah berusaha mewujudkannya.


"Lalu... Kenapa Anda berubah pikiran tiba-tiba?"


"Hah... Apa lagi," sahut Harald.


Dia menghela napas sambil mengusap wajahnya. Harald adalah orang pertama yang memahami perubahan Audric.


"Apa? Kenapa?" tanya Rupert.


Harald tidak menjawab, dia tahu Audric akan menjawabnya sendiri.


"Tentu saja, untuk menginjak-injak orang yang telah mencoba dan dengan tidak tahu malu berusaha menjatuhkanku. Nama Martell hanya akan bisa dipakai olehku dan keturunanku. Aku akan mengubur kehormatan yang mereka dapat selama ini dengan cuma-cuma. Benalu yang tak pandai bersyukur, aku harus menyingkirkannya bukan?"

__ADS_1


Baik Rupert dan Harald bisa melihat bahwa saat ini Audric tersenyum lebar. Senyum lebar yang sangat menakutkan.


__ADS_2