BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Akhirnya baikan...


__ADS_3

Luisa meradang dan melempar ponselnya begitu menerima laporan bahwa Dimitri gagal dan tertangkap.


"Orang tua sialan! Kalau saja aku tidak mempercayainya!" geramnya dengan kemarahan yang tak terkontrol.


Dia sedang berada di dalam kamarnya dirumah Adolf. Gustav berdiri di samping pintu yang terbuka sedikit. Menyadari suara langkah kaki, pria tua itu menoleh sedikit. Adolf berdiri disana, menatap Luisa yang terlihat kacau. Gustav mengangguk sekali padanya sebagai isyarat, sebelum Adolf pergi lagi tampa kata.


Adolf masuk ke dalam kamarnya dan langsung menghubungi Harry. Menyuruhnya melihat keadaan Aera secara diam-diam dan memeriksa keadaan Darwin. Menyuruh beberapa orang untuk mengawasi kamar ayah Aera itu.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, setidaknya aku bisa sedikit berguna sebagai teman." gumamnya.


.


Dimitri dibuat berlutut dihadapan Audric dengan tubuh yang penuh dengan bekas pukulan. Tangan pria itu bergetar, meski sorot matanya tajam dan penuh dengan dendam, tubuhnya tidak bisa menahan pengaruh dari besarnya rasa tunduk dan takut yang diciptakan oleh Audric.


Bekerja selama bertahun-tahun dibawah perintahnya, sejak kecil dididik untuk patuh pada pemimpin keluarga ini, membuat Dimitri merasakan aura intimidasi yang menakutkan dari kemarahan sosok yang ia takuti sekaligus ia benci itu.


"Aku dengar kamu masih menutup mulutmu itu dengan rapat. Apa aku perlu memotong lidahmu sekalian?"


Audric berdiri di depan pintu penjara bawah tanah, menatap Dimitri yang dipaksa mendongak dengan tatapan seorang predator yang siap mencabik-cabik musuhnya.


"Bunuh saja aku, seperti Anda membunuh seluruh keluargaku!" desis Dimitri, "Selamanya aku akan mengutukmu, membawa dendam ini ke neraka dan menunggumu disana!"


"Apa kamu tahu kejahatan kedua orang tuamu yang menyeret kakakmu bersama mereka? Mereka pantas mati. Kamu beruntung karena saat itu tidak ada disana dan tidak tahu apa-apa. Kamu adalah bentuk belas kasihanku yang terakhir pada mantan pelayan ayahku. Sayang sekali darah penghianat mengalir sampai kenadimu, dan otak kecilmu tidak belajar dari kesalahan mereka." sahut Audric dengan tenang.


"Bajingan sialan! Orang tuaku bukan penghianat!" teriak Dimitri. "Kamulah yang memfitnah mereka untuk ketidak sukaanmu pada ayahku! Kamulah yang menghianati orang tuaku!"


"Jadi itulah yang dikatakan mereka pada anak kesayangan mereka? Sayang sekali mereka membuatmu jadi seperti mereka. Jadi, siapa yang membayarmu untuk membunuh nenek calon istriku?"


Dimitri tidak menjawabnya, membuat ia terkena tendangan pada perutnya sebanyak dua kali dari salah satu pengawal Audric.


"Apa Luisa yang memberikanmu sokongan dan perlindungan dalam pelarianmu? Apa dia juga yang menyuruhmu membunuh Aera?" tanya Audric sekali lagi.


"Uhuk! Uhuk! Aku akan membunuh orang-orang yang berharga bagimu!" desis Dimitri sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Mark!"


"Ya, Tuan!"


"Jika dia memilih bungkam sampai akhir, tidak ada gunanya lagi aku mengasihani nyawanya. Aku akan mendapatkan kesaksian dari orang lain."


"Saya mengerti." jawab pria besar yang tadi menendang Dimitri.


Audric keluar dari sana dengan perasaan tidak puas. Orang-orang merasa tercekik ketika berpapasan dengannya. Seketika mereka berharap Aera cepat pulih dan pulang kerumah agar suasana disana tidak suram.


.


Dirumah sakit, Harry berpapasan dengan orang-orang Audric ketika dia baru saja keluar dari kamar Darwin. Satu orang mengenalinya sebagai sekretaris kanselir. Namun tentu saja identitas itu tidak membuatnya dibiarkan pergi begitu saja.


"Jadi, ada apa bawahan ipar tuan kami berada disini? Persekongkolan suami istri dengan ayah Nona Aera?" tuduh pria berambut hitam.


"Jangan salah paham, aku bisa menjelaskan keberadaanku, tapi bukan pada kalian."

__ADS_1


"Bajingan ini, kamu pikir_" Pria berambut hitam itu menghentikan rekannya yang marah. Dia langsung menghubungi Harald karena Ivon masih istirahat di ruang inapnya.


"Baik, saya akan membawanya pada Anda." pria itu menatap Harry datar. "Ikut denganku." suruhnya, lalu menyuruh dua rekannya yang lain menunggu di depan pintu ruangan Darwin.


Harry dipersilahkan masuk. Harald juga baru saja tiba disana. Itu adalah ruangan rawat inap Ivon. Pria itu menatap Harry dari ranjangnya dengan datar.


"Jadi kenapa tangan kanan tuan Kanselir ada disini? Apakah tuan Adolf meminta Anda membungkam Darwin?" tanya Harald.


"Aku rasa bukan, tapi untuk memastikan keselamatan pak tua itu." sela Ivon sebelum Harry membuka mulut.


"Ya, Aku sudah mengirim tiga orang disekitar ruangannya. Luisa bisa saja membahayakannya. Dia tertembak di punggungnya karena melindungi Aera."


"Jadi?" sahut Harald.


"Darwin pada awalnya memang bekerja sama untuk penculikan anaknya dengan imbalan uang yang besar untuk modal bisnisnya. Atau seperti itulah yang ia percayai. Dia tidak tahu bahwa tujuan Dimitri adalah membunuh Aera. Luisa, setuju dan memberikan dana pada Dimitri dan menjadi perantara Darwin dan Dimitri. Sehingga saat Adolf menghubunginya dan memberikan peringatan akan apa yang sebenarnya terjadi, Darwin memilih melindungi anaknya."


"Kamu punya bukti? Bisakah kami memiliki bukti itu?" tanya Harald lagi.


"Saat ini tidak ada bukti. Tapi seorang yang pernah melayani Aera ketika dikediaman Luisa bisa menjadi saksi suatu saat nanti."


"Maksudmu Gustav?" tanya Ivon.


"Bukankah orang yang paling setia dengan Luisa?" tambah Harald dengan heran.


"Ya, tapi dia sepertinya memiliki sedikit kasih sayang untuk Aera. Dia tidak ingin Aera mati, karena itu dia memberitahukannya pada Adolf dan memintanya menolong Aera."


Ivon dan Harald bertukar pandang. Keduanya memikirkan hal yang sama.


"Kecuali mereka yang tak memiliki nurani." sambar Harry.


.


Audric mengunjungi Aera sebelum berangkat ke kantornya. Gadis itu sedang bersama Olivia seperti biasa. Sedang membaca buku sambil memakan buah.


Olivia langsung keluar ketika Audric masuk, memberi privasi pada keduanya seperti biasa.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja." Aera meliriknya sesaat dan kembali fokus pada bacaannya.


"Aku sudah memilih psikiater untukmu, dia akan datang sebentar lagi."


Aera mengerutkan keningnya, lalu meletakkan bukunya dengan kasar.


"Apa maksudmu? Apa kamu pikir aku bermasalah dengan penyakit mental?"


"Mana mungkin aku berpikiran begitu. Aku hanya takut kamu memiliki trauma. Aku tidak berpikir kamu..."


"Ini bukan yang pertama kali. Aku baik-baik saja." potong Aera dingin.


Audric tidak ingin membuat suasana semakin buruk, dia tahu Aera mungkin depresi meskipun dia terlihat kuat.

__ADS_1


"Maafkan aku, tapi cobalah berbicara dengannya sekali saja. Aku mohon... Aku hanya kawatir kamu tertekan." pintanya dengan lembut dan hati-hati. Audric menggenggam tangan Aera lalu menciumnya dengan penuh sayang.


"Aku hanya kawatir, aku tidak memikirkan hal-hal seperti yang kamu bayangkan. Berbicara dengannya akan membuatmu lebih rileks." tambah Audric.


Sebelah tangannya menangkup pipi Aera dan mengelusnya pelan. Memberikan afeksi yang membuat Aera melunak. Perlahan, tangan itu bergeser ketengkuk Aera, lalu dengan gerakan pasti, Audric memajukan tubuhnya dan mencium Aera dengan lembut.


Membuat gadis itu menutup matanya ketika bibir Audric menyentuh kening, mata, pipi dan berakhir dibibirnya. Sebuah kasih sayang tampa nafsu. Aera membuka matanya ketika merasakan nafas Audric diwajahnya. Kedua mata itu bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Kini, kedua tangan Audric telah berada disisi kanan dan kiri wajahnya.


"Aku mungkin bukan orang baik, aku penuh dengan ketamakan dan kesombongan sejak dulu. Tapi sejak aku mengenalmu dengan baik, aku mengerti bahwa semua yang aku miliki tidak lebih berharga dari dirimu, kamu dunia dan segalanya bagiku. Aku juga ingin menuruti semua keinginanmu, melakukan sesuai keyakinanmu, aku ingin Aera, tapi kamu tahu aku tidak bisa. Aku terikat dalam keluarga ini dan mengakar didalamnya sejak aku lahir. Bahkan jika aku memutus semua akar itu dan melepaskan diri, aku tidak akan bisa membersihkan tanganku. Yang ada, aku hanya akan membuatmu dalam bahaya. Karena itu... Aku memohon padamu untuk menggenggam tanganku, menarikku dalam pelukan ketika aku terlalu jauh. Kumohon... Genggam aku dalam kekuasaanmu. Karena aku akan selalu berbalik untukmu."


Deg deg deg!


Jantung Aera terasa akan melompat ketika kata demi kata yang terlontar dari mulut Audric menerjangnya seperti badai. Seolah pria ini sedang menyerahkan hidupnya dan menyuruh Aera memegang kendali atas dirinya.


"Ric..."


Audric menggeser ibu jarinya kebibir Aera yang terbuka. Menatap bibir itu sesaat sebelum kembali menatap bola mata Aera, menunggu jawaban darinya.


"Apakah kamu mencintaiku sebanyak itu?"


"Ya."


Jawaban Audric terdengar seperti bisikan lembut, suaranya serak namun tampa keraguan.


Pikiran-pikiran buruk yang menghantui Aera sejak kematian neneknya terasa melebur. Aera merasa sangat buruk meragukan Audric selama ini. Audric yang dibesarkan pada lingkungan yang tidak bisa ia tolak. Melakukan sesuatu yang terkadang tak ia inginkan. Aera tidak pernah memikirkan hal itu. Dia hanya bisa menuduh dan menghakimi tampa bisa memahami keadaan.


Meski mungkin dia akan menyesali keputusannya saat ini, Aera kini yakin harus bagaimana. Bagaimanapun dia melihat masa depan, hal yang pasti adalah pria disisinya ini. Aera tidak akan bisa mendorongnya lebih jauh. Karena dia juga mencintainya.


"Mari saling menggenggam." katanya.


Audric langsung mencium Aera lagi, kali ini lebih intens dan disertai perasaan yang menggebu. Mereka melakukannya cukup lama sampai Aera merasa sesak dan mendorong dada Audric.


Audric mengusap bibir Aera yang membengkak, membersihkan jejak liur disekitarnya lalu memeluknya dengan penuh perasaan.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." bisiknya.


Keduanya bisa merasakan detak jantung masing-masing yang saling menggebu. Seakan melompat-lompat karena bersuka cita. Sampai sebuah ketukan terdengar dan Audric terpaksa melepaskan pelukannya. Menoleh ketika pintu terbuka, memasang wajah muram ketika Harald masuk kesana.


Menyadari dia masuk pada saat yang salah, Harald berdehem pelan. "Maaf mengganggu, Tuan. Tapi saya punya sesuatu yang harus saya beritahu pada Anda." ujarnya.


"Pfff!"


Aera menahan tawa ketika melihat ekspresi Audric saat ini. Sangat lucu karena dia menahan kesal atas kehadiran Harald yang mengganggu momen bahagianya.


Cup!


Aera mencium pipi Audric dengan kilat, membuat pria itu terkejut dan terdiam beberapa detik. Dia bahkan bersemu tampa disadarinya. Ketika dia menoleh pada Aera, wajahnya semakin memerah karena Aera sedang tersenyum manis padanya.


"Ah... Sial!"


Audric menutupi wajahnya dengan satu tangan, merutuki keberadaan mereka dirumah sakit dan kehadiran Harald yang mengganggu.

__ADS_1


Melihat betapa frustasinya Audric, Harald ikut menahan tawa. Dia senang hubungan keduanya telah membaik.


__ADS_2