
Pagi-pagi sekali, Audric telah bersiap-siap untuk pergi. Sarapan pagi ini diramaikan oleh Yohanes. Harald dan Ivon bergabung dimeja yang sama.
"Kamu pasti tahu apa tujuanku datang kesini ditengah-tengah pelatihanku, kan?" ujar Yohanes.
Saat ini dia memang menjalani pelatihan militer yang diperintahkan langsung oleh ayahnya. Sebagai anak presiden dari negara bagian kerajaan, dia seharusnya melakukan hal itu sejak lama. Tapi Yohanes terus saja menghindarinya.
"Ibumu kawatir, jadi segera angkat kakimu dari sini. Memang apa yang bisa kamu lakukan disini. Selain itu, kedatanganmu hanya akan memperbesar rumor yang beredar. Bukankah kamu tahu itu?"
"Rumor apa?" tanya Aera.
"Apa lagi, ayah angkat calon istri Audric Martell diduga menjadi pendukung dan memberi bantuan dalam kudeta. Saat ini ayah dan ibuku diperiksa tim audit kerajaan."
"Apa? Tapi... Kenapa ada rumor... Karena aku? Karena aku anak angkat mereka?"
Aera langsung menunjukkan rasa bersalah.
"Bukan, itu hanya faktor kecil. Faktor utamanya adalah hubungan baik kepala kekuarga Martell terdahulu sampai sekarang. Semua orang tahu hubungan dekat kami dengan orang tua angkatmu." jawab Yohanes.
"Jangan kawatir, mereka akan bisa mengatasinya." tambah Audric.
"Selama tidak ada yang merekayasa bukti, lagi pula kamu adalah keponakan Raja walau anak diluar nikah. Raja akan mempertimbangkan hal itu. Dia Raja yang penuh pertimbangan selama ini." kata Yohan lagi. "Karena itulah aku minta padamu, Ric. Setidaknya awasi musuh-musuhmu agar tidak menyerang keluargaku. Aku datang kesini juga untuk memberimu peringatan."
"Ivon?"
"Saya telah memastikan tidak ada pergerakan dari para tetua atau adik Anda. Paman-paman Anda juga terlihat agak tenang."
"Saya pikir mereka menunggu momen, kita harus tetap waspada, meski saya lebih setuju Anda langsung mematahkan kaki dan tangan mereka dengan cepat." ujar Harald.
"Me-mematahkan kaki dan tangan?" ulang Aera.
"Hanya perumpamaan, Nona." tambah Harald dan tersenyum canggung saat Audric menatapnya dengan tatapan peringatan.
Audric sangat sensitif jika Aera harus mendengar hal-hal yang sedikit kejam. Meski dia tidak menyembunyikannya, tapi membajasnya langsung dengan menggunakan istilah kejam dilarang secara tak tertulis jika di depan Aera.
"Memang apa yang akan kamu lakukan pada keluargamu yang sudah seperti parasit itu?" tanya Yohanes, dia malah memancing lagi.
"Hanya ini dan itu sebagai hukuman."
"Hah! Ini dan itu bagimu itu kan sangat kejam. Aera, sebaiknya kamu ikut aku ke spanyol saja. Dari pada tetap bersama orang-orang bertangan besi seperti mereka."
Kali ini, bukan hanya Audric, Harald dan Ivon memberi tatapan penuh peringatan padanya.
"Ya ampun, tenang saja. Aku tidak akan terhasut olehnya." kekeh Aera. "Guru, kenapa sejak tadi Anda menyingkirkan bawang-bawang itu?" tiba-tiba saja Aera menayakan hal diluar topik ketika Ivon menyingkirkan potongan bawang di dalam atas masakannya.
"Saya tidak suka bawang." jawab Ivon.
__ADS_1
"Lebih tepatnya alergi," tambah Harald.
Aera tidak tahu itu, karena saat di bunkerpun, Ivon selalu makan dengan waktu yang berbeda darinya.
"Benarkah? Wah... Kamu pasti merasa tersiksa, Guru. Tambahan bawang itu kan jadi cita rasa yang enak di lidah."
Audric mengusap kepalanya. Lalu mencium keningnya dengan tiba-tiba.
"Hanya kamu yang suka bawang disini, sayang. Meski kami tidak alergi, rata-rata kami tidak begitu menyukainya."
Harald menyeringai, begitupun Yohanes. Sementara Ivon merasa sebuah batu menghantam kepalanya ketika Audric menatapnya tajam ketika dia menarik dirinya lagi ke posisi semula.
'Cemburunya itu benar-benar tidak tertolong.' kata Yohanes dalam hati.
"Aku turut sedih untukmu Ivon." kata Yohanes. Mengarah pada sikap cemburu Audric.
"Hmm, benar! Aku juga ikut sedih untuk guruku. Lain kali ayo makan makanan yang enak saat kita pergi kuliah. Di kantin juga ada banyak makanan enak yang sepertinya tidak memakai bawang."
"Pfff!"
Yohanes berusaha menahan tawanya, namun pada akhirnya gagal ketika Aera menatapnya tidak mengerti.
"Apa yang kamu tertawakan?"
"Tidak, tidak ada adikku yang manis. Bagaimana kalau kita pergi bertiga dengan gurumu ke tempat yang menjual makanan enak."
'Oh, tidak. Dia tidak merasa di asingkan kan?'
Aera jadi cemas sendiri, dia sama sekali tidak bermaksud mengabaikan Audric.
"Audric juga bisa ikut kalau tidak sibuk." katanya.
Audric menyudahi makannya. Lalu menatap Aera.
"Kamu sudah selesai? Bisa kita bicara sebentar?"
"Oh, iya. Tentu saja."
Setelah kepergian keduanya, Yohanes tertawa terbahak-bahak. Membuat Harald menggeleng pelan dan Ivon hanya menghela napas.
Meski begitu, Ivon menyadari perhatian Aera yang membuat Audric cemburu hanya bentuk menghargai dan menghormatinya sebagai manusia dan orang yang banyak mengajarinya bela diri.
Fakta yang sedikit membuat hatinya tercubit. Padahal Ivon telah membatasi dan membangun dinding kokoh selama ini, tapi ketika dalam keadaan seperti ini, entah kenapa dia jadi sedikit terpengaruh perasaan. Hal yang sudah pasti disadari oleh atasannya yang peka itu, karena itu Audric membuat tindakan impulsif seperti tadi.
.
__ADS_1
Mereka berjalan-jalan ditaman. Audric masih diam saja sampai mereka berada di sekitar air mancur. Audric duduk di pinggirannya dan menarik Aera untuk duduk disampingnya.
"Aera, aku minta maaf untuk mengatakan hal ini. Tapi untuk kuliah... Kamu akan melakukannya dengan cara yang sedikit ketat dari biasanya."
Aera cukup terkejut, awalnya dia berpikir Audric akan marah karena dia mengabaikannya sesaat tadi.
"Karena kamu akan memerintah negara ini?"
"Ya, karena kita akan menikah juga. Kamu akan menerima pendidikan tambahan sebagai Ratu."
Aera menunduk, ekspresi keberatan terpampang jelas diwajahnya. Audric memegang sebelah pipinya. Tangan besar itu membuat Aera mendongak, mempertemukan pandangan mereka.
"Kamu keberatan? Apa posisi itu terlalu sulit?"
"Bolehkah aku menjawabnya dengan realistis?"
Audric tersenyum, sangat indah sampai-sampai Aera tampa sadar mengelus wajahnya. Udara pagi masih terasa sejuk, angin juga terasa segar dimusim semi ini. Tapi yang harus dihadapi Aera tidaklah menyegarkan. Dia masih di awal dua puluhan, sangat sulit baginya harus menghadapi banyaknya perubahan dalam hidupnya.
"Aku selalu berpikir ini tidak nyata. Aku merasa aku hanya harus membuka mata. Lalu nenek akan datang dan membangunkanku. Tapi ternyata tidak, ini nyata. Kamu nyata dan semua yang aku alami juga nyata."
Aera menurunkan tangannya. Begitu jug Audric ketika tiba-tiba Aera memeluknya.
"Kamu selalu menjagaku sekarang. Walaupun aku ingin semua berakhir dengan damai, tampaknya itu juga akan sulit. Dengan kepribadian dan cara berpikirku, bukankah aku tidak cocok dengan posisi itu?"
Audric diam untuk beberapa saat. Dia memahami maksud Aera, tapi dia juga tidak bisa untuk tidak egois.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun jika kamu tidak mau. Aku akan membuatnya begitu. Bahkan jika kamu ingin kuliah seperti mahasiswa lain saat posisimu sudah disana, aku akan membuatnya begitu."
Aera menutup matanya.
'Dia selalu melakukan semua hal untuk membuatku tetap disisinya sekalipun dia tidak menyukai keputusan yang ia ambil. Ric, kamu selalu membuatku tidak bisa menolakmu.'
"Aera, aku membutuhkanmu disisiku. Hanya kamu."
"Aku mengerti. Aku juga tidak bisa melepasmu. Aku tertalu gelisah, maafkan aku."
"Tidak, akulah yang egois. Aku juga minta maaf padamu. Juga... Aku berterima kasih padamu. Bahkan setelah kepergian nenekmu, kamu mau memahamiku dan melupakan amarahmu. Bahkan pada Luisa yang menjadi pelaku."
Aera menarik dirinya. Mata mereka kembali bertemu.
"Apa yang akan kamu lakukan padanya? Dia juga sudah melakukan banyak hal padamu."
"Tentu saja menghukumnya. Nanti, saat waktunya telah tiba. Saat aku menduduki tahta, semua akan berjalan seperti air mengalir."
Aera masih merasa ini tidak nyata. Perubahan yang besar dalam negara ini. Dirinya yang bukan siapa-siapa, dia merasa seperti dunia sedang terbalik dihadapannya. Meski begitu, dia bertekat untuk menyesuaikan diri dan berusaha melakukan apa yang dia biasa lakukan untuk melanjutkan hidup.
__ADS_1
'Bisa atau tidak, aku harus melakukannya. Aku tidak bisa lari, karena pria ini sangat memegangku dengan erat.'