BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Recana Luisa vs rencana Aera


__ADS_3

Audric dan Aera menyapa tamu yang hadir setelah melakukan ucapan selamat dan pidato singkat sebagai sambutan.


Setelah mengamati situasi dengan pasti, Ivon yang menyamar disana memberi intruksi agar mereka segera keluar. Harald yang mendampingi mereka segera memberikan kode pada Audric.


Dengan pengawalan dan pengaturan yang ketat, mereka pamit dan segera keluar. Luisa yang ikut hadir, juga memulai rencananya.


Dia sudah merencanakan ini sejak awal. Membayar orang-orang untuk menghasut pembenci Audric. Mereka telah berkumpul di depan pagar rumah bibi mereka, lalu menyampaikan aksi protes akan perubahan sistem pemerintahan.


Pihak pasukan keamanan khusus kerajaan membuat brikade, melindungi mereka dari semua sisi dan mengamankan mereka untuk masuk ke dalam mobil.


Tapi, sebelum masuk ke dalam mobil, dua buah tembakan mengenai dada Aera. Dia langsung jatuh dan ditangkap oleh Audric.


Setelah peristiwa itu, para pendemo juga langsung bubar. Pekikan keterkejutan undangan yang hadir dan para wartawan masih terdengar ketika Audric membawa Aera masuk ke mobil.


Cairan merah memenuhi baju Aera yang bewarna abu-abu itu, semua orang bisa melihatnya ketika dia diangkat oleh Audric. Mobil langsung melaju kencang menuju rumah sakit.


Luisa ikut masuk ke mobil, bertingkah seolah sangat terguncang. Sementara itu, Adolf yang ikut bersamanya menyusul Audric dan Aera, meliriknya dengan sorot penuh kecurigaan.


"Jangan melihatku dengan pandangan menuduh seperti itu. Kamu kan lihat sendiri pelakunya pengawalnya sendiri. Bukankah kamu selalu mengawasiku?"


Luisa mengatakan bahwa Adolf tidak punya bukti apapun untuk mencurigainya. Sejak kunjungan Luisa ke istana, Adolf memang mengawasi pergerakannya.


"Kita akan tahu setelah infestigasi. Jika itu kamu, aku tidak akan pernah memaafkanmu."


"Hahahaha! Masih menaruh perasaan pada wanita yang menjadi milik orang lain? Tidak kah kamu malu? Sampai kapanpun dia tidak akan pernah menjadi milikmu, walau kamu bersabar sampai kamu mati."


Adolf menggeram, dia mencengkram lengan Luisa dengan kuat. Ejekan itu membuat darahnya mendidih. Meski Adolf sudah lama menerima kenyataan, namun dia tidak suka orang lain meremehkan perasaannya.


"Perhatikan tanganmu, lenganku terbuka dan aku tidak akan repot-repot menyembunyikan bukti kekerasan suamiku."


Luisa menyeringai ketika Adolf langsung melepaskan tangannya. Dia sangat senang karena rencananya berjalan dengan lancar.


.


Sementara itu dirumah sakit, Aera muntah-muntah diruang operasi. Semua tim medis yang biasa menangani operasi berdiri diluar menunggu intruksi.


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku sudah menahannya sejak tadi. Obat penghilang mualnya tidak bekerja maksimal."

__ADS_1


Aera masih mengatur napasnya. Tubuhnya masih berlumuran darah, bau amis itulah yang memicu mualnya semakin parah.


"Ini pakaian gantinya Yang mulia."


Harald masuk bersama seorang perawat yang sudah cukup berumur. Dia memberikan pakaian itu padanya dan segera keluar lagi.


"Bantu istriku membersihkan diri." perintah Audric.


Aera berusaha memeluk Audric yang pakaiannya sudah dilapisi baju pengunjung, sehingga bau amis tidak terlalu tercium darinya. Dia bahkan tidak peduli lagi ketika gaunnya dibuka dan tubuhnya disentuh perawat itu.


"Aku benci bau rumah sakit." rengeknya pelan.


Audric tertawa kecil, lalu mencium sisi wajah yang menempel di lehernya. Setelah pakaian Aera diganti, dia dibaringkan di atas tempat tidur. Seorang dokter masuk dan memasang infus pada Aera.


Semua dibuat seolah Aera baru saja menjalani operasi darurat. Audric juga sengaja tidak berganti baju meski Aera tidak suka bau amis yang masih tercium darinya. Mereka tidak punya pilihan saat ini.


Begitu waktu yang ditetapkan selesai, Aera dibawa keluar dalam keadaan seolah tidak sadarkan diri. Audric juga membuat wajah takut seolah dia akan kehilangan wanita yang dicintainya.


Melewati semua orang menuju ruang rawat khusus yang tidak bisa dimasuki oleh siapapun kecuali atas izin Audric. Satu lantai itu dipenuhi pengawal yang berjaga. Baik dari pasukan kerajaan maupun pasukan khusus Martell.


Paman, bibi dan keluarga Martell yang ikut menunggu termasuk Luisa dan Adolf hanya mendapat laporan dari Harald. Mereka diminta kembali ke rumah masing-masing karena Audric tidak mengizinkan siapapun masuk.


Wartawan juga sudah ditangani oleh juru bicara kerajaan. Sementara Ivon melakukan tugasnya, melakukan infestigasi untuk mencari dalang dari penembakan.


.


Seluruh Jerman gempar, semua media memberitakan hal yang sama. Media luar juga mulai memberitakan hal yang sama. Seluruh dunia dikejutkan oleh peristiwa penembakan itu.


Mereka bahkan mulai membahas kasus yang menimpa presiden Amerika terdahulu. Konspirasi muncul seperti lebah yang berdatangan saat bunga bermekaran.


.


Seminggu berlalu, Luisa tidak bisa duduk tenang lagi. Kabar kematian Aera belum dikonfirmasi juga. Pihak istana juga bungkam. Mereka hanya mengatakan kondisi Aera kritis sekaligus mengumumkan kehamilan yang seolah baru mereka ketahui.


Sementara itu, Aera sendiri sudah berada dalam istana. Berdiam diri di dalam kamar Audric. Apa yang bisa ia lakukan hanyalah membaca buku, menonton film atau sesekali membantu pekerjaan Audric menyangkut perusahaan.


"Dia benar-benar harus istirahat."


Aera menghela napasnya ketika Audric masih bekerja pada jam selarut ini. Audric membawa semua berkas yang perlu ia periksa ke dalam kamar mereka.

__ADS_1


"Kamu tidak lelah? Tinggalkan itu dan kemarilah, Ric."


Audric tersenyum tapi tidak beranjak. Membuat Aera berdecak dan turun dari ranjang. Dia ikut duduk disamping suaminya dan mulai mengambil satu laporan.


"Ini semua laporan perusahaan? Yang di laptop itu juga?"


"Hmm, aku tidak sempat memeriksanya siang hari karena urusan negara."


"Tidak bisakah kamu menyerahkan sepenuhnya pada Rupert dan Harald?"


"Rupert dan Harald memang pintar, mereka nyaris bisa membaca apa yang aku inginkan dan bisa menimbang kemungkinan langkah yang akan aku ambil. Sejauh ini, aku hanya memeriksa hasil akhir dan menerima laporan lengkapnya setelah beberapa hari. Meski begitu, apa kamu tahu bahwa seseorang bisa tersesat ketika berjalan sendirian? Sehebat apapun dia, godaan ditengah jalan bisa membuatnya berbelok ke arah yang salah jika tidak ada seseorang yang memberi peringatan."


"Aku mengerti."


'Intinya kamu tidak pernah mempercayai siapapun di dunia ini kecuali dirimu sendiri.'


"Aku mempercayaimu."


Aera menoleh, terkejut saat Audric kini menatapnya.


'Dia membaca pikiranku ternyata.'


"Aku bisa saja menyerahkan perusahaan padamu. Kamu pintar dan mudah mengerti. Tapi, aku tidak ingin kamu kehilangan waktumu. Aku ingin kamu bisa tersenyum untukku setiap saat."


Aera langsung memeluk Audric dengan erat. Menciumi seluruh wajahnya.


"Aku jadi sangat sangat sangat mencintai pria ini." katanya sambil tertawa-tawa kecil.


"Lihatkan, lelahku tidak terasa sama sekali. Aku bahkan masih bisa membuatmu tidak tidur sampai pagi tampa kehilangan tenaga."


Wajah Aera langsung memerah. Meski sudah menjadi suami istri, Aera masih saja tidak terbiasa dengan godaan Audric tentang yang satu ini.


"Kita harus tidur, kamu butuh tidur."


Aera tetap duduk disana. Melihat Audric yang kembali fokus. Dia bersikeras ingin menemaninya. Namun baru lima menit, dia sudah terlelap. Kepalanya jatuh ke pundak sang suami. Membuat Audric menoleh dan tersenyum hangat.


"Bagaimana bisa kamu begitu manis?"


Setelah meletakkan berkas ditangannya, dia mengangkat Aera dan meletakkannya diatas kasur. Baru saja dia akan kembali, tapi Aera tidak melepaskan tangan Audric. Matanya setengah terbuka ketika dia menarik pelan jari-jari panjang suaminya.

__ADS_1


"Kamu menang."


Audric mengalah, dia meninggalkan pekerjaannya dan naik ke atas kasur. Memeluk Aera dan ikut memejamkan matanya.


__ADS_2