BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Diserang lagi


__ADS_3

Dua hari sejak pertengkaran mereka. Dua hari itu juga tiba-tiba ayahnya rutin berbicara padanya layaknya seorang ayah yang sedang menghawatirkan anaknya.


Entah bagaimana caranya, Aera merasa Darwin mengetahui hubungannya yang sedang buruk dengan Audric. Padahal hanya Ivon, Friedrick dan Olivia yang mengetahuinya. Dan Aera sangat percaya pada mereka bertiga. Jadi dia tidak yakin dari mana dia tahu.


Seperti sore ini ketika Aera bersiap melatih kemampuan berkudanya. Darwin tiba-tiba datang tampa istrinya dan menawarkan diri untuk melatih Aera.


"Tidak perlu, Ivon bisa melakukannya. Anda sebaiknya istirahat." ujar Aera.


"Tidak apa-apa, aku sudah banyak beristirahat. Kamu akan segera menikah, tidak banyak waktu untuk kita mengakrabkan diri."


Aera tidak bisa menolaknya. Akhirnya mereka berempat termasuk Olivia, pergi ke lapangan pacuan.


"Aku dengar dibelakang mension ini masih ada sedikit hutan, apa kamu mau jalan-jalan disekitar sana?" ajak Darwin. Mereka baru saja sampai.


"Maaf, Nona tidak bisa pergi kesana."


Ivon menyela dengan nada tegas tak terbantahkan.


"Kenapa? Lokasi itu sangat aman. Tidak akan ada hewan buas karena itu hanya hutan kecil diperbatasan kota."


"Apa lokasinya bagus untuk berkuda?" tanya Aera.


"Menurut informasi ada jalan-jalan kecil. Ada sungai juga. Wilayahnya sedikit berbukit dengan pohon yang tidak begitu lebat."


"Sepertinya menarik." sahut Aera, membuat Darwin tersenyum lebar.


"Tapi Nona..." sela Olivia dengan suara pelan.


"Walaupun Anda ingin, kita tidak bisa melakukannya sekarang. Saya perlu mempersiapkan segala sesuatu, Nona. Kita bisa menjadwalkannya besok atau lusa."


Aera menoleh pada Ivon. Pria itu akhirnya memberi penawaran yang sepertinya tak ia sukai. Aera tahu dia sangat tegas pada keputusannya mengenai mana yang boleh dan tidak ia lakukan. Namun kali ini Ivon yang sedikit lunak membuat Aera heran.


"Baiklah, sekalian piknik sepertinya seru!" ujar Aera sedikit bersemangat.


Aera lebih banyak meladeni Darwin dari pada mengobrol dengan Ivon atau Olivia seperti biasanya. Darwin seolah sengaja memonopoli percakapan. Dia terus saja bercerita mengenai penyesalannya pada ibu Aera dan Aera sendiri. Meski tak nyaman, tapi Aera tidak menyelanya. Dia akan membuat kudanya berlari kencang ketika dia malas dan Darwin akan menyusulnya dengan mudah.


"Aku lelah!" ujar Aera setelah turun.


"Anda semakin baik dari hari kehari." puji Olivia.


"Kamu cepat belajar." sambung Darwin.


Aera cukup senang mendengar pujian mereka, namun dia tetap lebih merasa diakui jika gurunya yang memujinya. Namun Ivon hanya diam saja.


"Sepertinya guruku tidak berpikir demikian."


"Bu-bukan begitu!" Ivon terkejut karena tidak biasanya Aera menunggu responnya. "Anda memang semakin baik, tapi Anda masih terlihat kesulitan mengendalikan kecepatan saat kudanya mulai berlari kencang. Anda perlu melatih keseimbangan Anda lagi, Nona." lanjut Ivon apa adanya.


"Kamu guru yang teliti, aku memang kesulitan mempertahankan keseimbanganku. Tadi saja aku hampir jatuh dua kali." jawab Aera.


'Aku tidak memperhatikan, ternyata dia memang berbeda saat berkuda. Dia terlihat senang...'


"Ivon?"


Ivon mengerjap, dia tersadar setelah Aera memanggil namanya dua kali. Darwin dan Olivia juga menatapnya, Ivon tidak sadar bahwa dia menatap Aera dengan intens saat berpikir.


"Maafkan saya, tadi saya sedang memikirkan hal lain..."


"Ya ampun, aku pikir tadi kamu sedang jatuh cinta pada wajah anakku. Syukurlah hanya ketidak sengajaan karena kamu sedang melamun." sambar Darwin dengan wajah tampa dosa, mengabaikan tatapan semua orang yang mempertanyakan maksud ucapannya yang membuat suasana jadi canggung.


"Tolong jangan salah paham dan membuat kesimpulan yang salah, Tuan." jawab Ivon datar.


"Sudahlah, ayo kembali." potong Aera.


Darwin tersenyum licik ketika Ivon dan Olivia berjalan duluan menyusul Aera yang telah masuk ke dalam mobil.


.

__ADS_1


"Benarkah? Itu bagus. Setelah ini, bawalah dia pergi, ketika Audric menggila, saat itulah Anda harus tampil sebagai ayah yang baik."


Luisa menutup panggilan telepon. Dia sedang berada di dalam lift gedung perusahaannya.


'Rencanaku kali ini harus berhasil. Tidak boleh ada pernikahan.'


.


Musim dingin hampir berakhir. Dimitri, pria kejam yang hampir membunuh Aera ketika itu, kini sedang duduk di belakang kursi kemudi mobil yang dikendarainya.


Penampilannya berubah drastis. Dia menyamar menjadi lelaki tua dengan jenggot dan kumis yang tebal. Ketika sebuah mobil melaju di sisi kanannya diikuti sebuah truk berisi dua kuda, Dimitri yang berkendara dengan pelan, mempercepat sedikit kecepatan mobilnya. Ketika dua mobil berhenti di pinggir bukit, Dimitri ikut berhenti pada jarak yang aman. Dia turun dan masuk kedalam hutan, Hutan ini memiliki pohon yang tidak begitu lebat, sehingga memudahkan memeriksa keadaan sekitar.


'Tiga... Lima... Ah... Ada lima pengawal bayangan dan hanya Ivon dan pak tua itu disisinya.'


Dimitri bersembunyi dibalik pohon. Menghindari mata Ivon dan juga mata pengawal lain.


Mereka tiba disana dengan tiga kuda yang sudah menanti. Perbukitan dan pepohonan yang tidak begitu lebat, membuat Aera serasa menghirup udara yang segar. Meski dingin, dia cukup berkeringat karena menunggang kuda.


"Aera, bagaimana kalau kita kesana? Sepertinya melihat pemandangan dari atas bukit itu lumayan bagus. Ini akan melatihmu menaiki tanjakan saat berkuda."


"Tunggu, itu berbahaya." tolak Ivon.


"Tapi kapan lagi aku berlatih sengan jalur seperti itu." bujuk Aera, dia tertantang untuk melakukannya.


"Anda tidak perlu berlatih dengan medan seperti itu, Anda tidak dalam keadaan berperang dimasa lampau." tolak Ivon.


"Kalau begitu bagaimana kalau Aera bersama ayah. Biar ayah yang memandumu."


"Nah, itu ide yang bagus." sahut Aera.


Tampa aba-aba dia langsung turun dari kudanya dan naik keatas kuda Darwin. Ivon tidak bisa menolak lagi, dia akhirnya mengikuti mereka.


Sayangnya, baru saja mereka berjalan, kuda Ivon diserang hingga kuda itu berlari tak tahu arah. Aera yang terkejut mencoba memanggil dan mengejar, namun Darwin mencegahnya dengan alasan keselamatan.


Ivon berusaha mengendalikan kudanya hingga akhirnya dia berhasil berhenti sebelum menabrak sebuah pohon besar. Ivon sampai terlempar ketanah ketika kudanya menendang pepohonan dengan kaki depannya.


Paha kanannya tertusuk patahan ranting tajam yang entah dari mana. Sementara tangan kirinya terbentur saat dia jatuh.


"Bagaimana situasi Nona?" tanya Ivon ketika dia mendapatkan panggilan.


"Aku sudah menduganya, kepung seluruh hutan dan jangan bergerak terlalu agresif. Biar aku yang menanganinya."


Ivon mendekati kudanya yang mulai tenang. Dia kembali naik dan segera pergi dari sana. Mengejar Dimitri, orang yang telah membuat kekacauan ini.


Setibanya dilokasi yang dilaporkan bawahannya, Ivon melihat Darwin pingsan dan Aera yang berada dalam cengkraman Dimitri. Pria itu membawa Aera diatas kuda dan menyeringai ketika Ivon tiba. Sebuah pistol ditangan kanannya dan mengarah pada kepala Aera. Sementara satu tangan lain memegang tali kuda.


"Tuan Ivon, senang bertemu lagi dengan Anda. Nah, jika ingin Nona ini selamat, singkirkan orang-orang yang membuat jalan saya terhambat." ujarnya santai.


"Apa tua bangka itu bekerja padamu?"


"Bangsawan itu? Entahlah. Dia saja pingsan sekarang, bagaimana bisa dia bekerja untuk saya."


"Serahkan Nona, sudah cukup kamu membuat kekacauan."


"Bagaimana ya, kan saya begini karena tuan Audric yang merenggut seluruh keluarga saya. Nona ini adalah bayaran yang pas untuk hutangnya."


Ivon menangkap tatapan mata Aera yang menatapnya dengan tenang. Seolah mengatakan bahwa dia percaya padanya. Ivon menghubungi seseorang dan memberikan perintah.


"Turunkan senjata dan biarkan dia lewat." Ivon menyimpan kembali ponselnya dan mengangkat tangannya. Memberikan aba-aba pada para pengawal terdekat untuk menurunkan senjata juga.


Dimitri tidak bodoh, dia adalah mantan bawahan Ivon yang juga tidak kalah berbakatnya. Dia dalam keadaan terjepit, satu-satunya jalan saat ini adalah menjaga Aera tetap utuh bersamanya. Jika dia membunuh Aera sekarang, nyawanya juga tidak akan selamat.


"Turun dari kudamu dan bunuh."


Aera memejamkan matanya ketika Ivon mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan menembak kepala kuda itu dua kali. Ketika Dimitri tertawa kecil, Aera merasa sangat marah.


Dimitri membawanya pergi, tidak ada yang bisa ia lakukan ketika pistol itu masih menempel dikepalanya. Aera melirik ke kiri dan kanan. Melihat beberapa orang dari kejauhan mengawasi mereka.

__ADS_1


Sementara itu, Ivon berlari mengejar mereka. Melewati pepohonan dengan napas memburu karena berusaha mengimbangi kecepatan kuda.


Sebelum Dimitri berhasil mencapai batas hutan menuju mobilnya, Ivon mengambil resiko dengan menembak kaki kuda yang mereka tunggangi.


Kuda itu memekik dan jatuh. Begitu juga Aera dan Dimitri yang terlempar ketanah. Seluruh pengawal yang berada di sekitar mereka langsung berlari menyerang Dimitri dan membuat brikade untuk melindungi Aera.


"Anda tidak apa-apa Nona?"


Aera masih terbaring ditanah. Kakinya sakit dan punggungnya yang menghempas tanah terasa nyeri. Ivon sendiri juga terluka, darah dari pahanya terus mengalir. Melihat darah dicelana Ivon yang menetes ketanah saat dia berlutut, Aera berusaha untuk bangun, namun dia langsung di gendong oleh Ivon menuju mobil mereka.


"Kerumah sakit." ujarnya dengan cepat.


.


Audric yang mendapat kabar penyerangan itu ditengah-tengah pertemuannya dengan mentri pertahanan Amerika, langsung membuat keputusan.


"Aku tidak akan ikut campur dalam perang walau Jerman adalah sekutu kalian."


"Jadi Anda tidak masalah jika kelompok tentara bayaran milik keluarga Anda terungkap ke publik? Akan banyak kerugian jika mereka diketahui milik Anda, Sir."


'Jadi akhirnya cara terakhir kalian adalah mengancamku begini.'


"Itu keputusanku, ancaman itu... Aku tidak peduli."


Pria tua itu jelas terkejut, begitu juga dua orang lain yang ikut rapat bersama mereka. Karena Audric adalah orang yang selama ini bergerak diam-diam. Tidak ada satupun yang tahu mengenai pergerakan keluarga Martell dalam hal-hal yang terlihat seperti kecelakaan, tragedi keluarga atau hancurnya sebuah gedung.


.


Harald tidak berbicara sepatah katapun ketika mereka buru-buru pulang kembali ke Berlin. Ekspresi Audric sangat buruk. Dia sendiri merasakan ketegangan disekujur tubuhnya ketika aura Audric seperti saat ini.


Setibanya mereka bandara, Audric langsung menaiki helikopter menuju rumah sakit. Hanya dalam lima menit, mereka tiba di atas gedung rumah sakit. Audric disambut pemilik rumah sakit dan diantarkan langsung menuju ruang rawat dimana Aera berada.


Aera baru saja selesai menerima suntikan antibiotik ketika pintu terbuka lebar dan Audric masuk dengan tergesa-gesa. Seluruh orang keluar dan menunggu diluar pintu, kecuali Harald yang berdiri tidak jauh dari ranjang pasien.


"Maaf karena lagi-lagi aku tidak bisa melindungimu."


Aera masih merasakan keinginan untuk menjaga jarak dari Audric. Namun melihat ekspresi kawatir diwajah itu, Aera sadar bahwa pria ini mencintainya.


"Aku hanya terluka sedikit." jawab Aera.


Sedikit apanya, sekujur tubuhnya terluka. Ada memar disana sini karena sebelum berhasil disandra, Aera melakukan perlawanan terhadap Dimitri. Dia bahkan merutuki Darwin yang membawanya keluar jalur dan sulit dikejar oleh pengawal. Seolah Darwin sengaja membawanya kesana. Tapi saat Dimitri berusaha membunuhnya, Darwin yang terkejut melakukan perlawanan hingg ia yang terkena peluru dan jatuh ketanah sampai kehilangan kesadaran.


"Bagaimana keadaan mereka yang terluka?" tanya Aera.


"Mereka tidak perlu kamu kawatirkan. Tapi, apakah ayahmu terlibat? Ivon bilang pengawal melihat dia membawamu kelokasi yang salah."


"Entahlah, tapi dia melindungiku ketika pria itu akan membunuhku." jawab Aera.


Dia melihat ekspresi Audric yang tidak baik-baik saja. Pertanyaan itu untuk memastikan apakah Darwin layak menerima pengampunan atau tidak. Karena itu Aera menjawabnya demikian. Dengan artian, bahwa Darwin tidak berniat mencelakakannya sejak awal, dia dimanfaatkan karena keserakahannya.


"Apa yang akan kamu lakukan padanya?"


Audric menatap matanya, pria ini menimbang-nimbang dalam kepalanya tentang apa yang akan ia lakukan.


"Sesuai keinginanmu." jawab Audric pada akhirnya.


'Bagaimanapun aku ingin mendorongnya menjauh, menentang dalam hati apa yang ia lakukan. Pada akhirnya aku tetap akan berada dalam genggamannya. Bukan hanya karena apa yang bisa ia lakukan, tapi hatiku yang lemah, menginginkannya.' monolog Aera.


"Aera_ Tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentangku saat ini, aku tidak ingin membuatmu dalam posisi memilih. Karena aku ingin mengabulkan semua keinginanmu. Namun aku tahu aku tidak akan bisa. Bukan karena aku tidak ingin, tapi aku sungguh tidak bisa. Jadi, maukah kamu memaklumiku dimasa depan?"


Sorot mata itu penuh permohonan, cinta dan rasa sakit. Aera tidak sanggup menatapnya lama-lama. Kenyataannya, dia juga menyadari bahwa keadaan dan posisi Audric yang membuatnya menjdi tiran. Dan dalam hal itu, tidak mungkin baginya melepaskan diri.


'Jadi, pada akhirnya akulah yang akan melangkah kelingkaran itu.'


"Aku akan mencobanya." jawab Aera.


Audric tersenyum tipis, meraih tangan Aera dan mencium punggung tangannya. Tapi, meski Aera menjawab demikian. Masih ada pertentangan besar dalam hatinya. Kekawatiran dan ketakutan berputar-putar dikepalanya. Tekanan itu membuatnya membuang pandangannya kearah lain. Berharap kedepannya akan lebih mudah.

__ADS_1


__ADS_2