
Kabar dibawanya Aera kerumah utama membuat sang paman langsung bereaksi. Dia langsung mengunjungi rumah itu dan bertemu Aera secara langsung.
Karena Audric belum pulang, Aera dan Friedrick yang menyambutnya. Dia datang bersama sang istri, dengan alibi mengenal calon istri keponakan, Abert jelas-jelas sedang mengintrogasi. Terutama ketika mereka begitu terkejut melihat kemiripan Aera dan Luisa.
Apalagi Abert sempat mendapat informasi bahwa ada dua Luisa ditempat yang berbeda dulu. Walau akhirnya dia tidak mendapatkan kebenaran saat itu, kali ini dia sangat yakin Aera adalah orang yang menyamar sebagai Luisa saat itu.
"Jadi, ini pertama kali kamu dibawa kesini?" tanya Abert.
"Ya, Tuan. Ini pertama kalinya."
Abert baru saja menanyai asal usul Aera, dimana Aera mengakui bahwa kampung halamannya ada di Spanyol bukan Indonesia. Bagaimanapun dia memang lahir disana sebelum dibawa ke Jerman.
" Ngomong-ngomong... Bolehkan aku tahu sejak kapan kamu mengenal keponakanku?"
"Saya baru mengenalnya," jawab Aera pendek.
Sejujurnya dia tidak tahu harus mengarang cerita seperti apa, namun dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Benarkah? Kalau begitu kamu pasti tidak tahu bahwa adik kekasihmu memiliki kemiripan denganmu, kan?"
Aera menelengkan kepalanya, dia berusaha terlihat sepolos mungkin. Berpura-pura tidak tahu apa maksud Abert bertanya demikian. Aera malah mendongak menatap Friedrick yang setia berdiri di sisinya.
"Saya tidak mengerti Fried, apa maksud paman itu dengan mirip adik Ric?" tanyanya dengan wajah polos.
Friedrick tersenyum tipis, sesungguhnya dia sangat bingung dengan Aera yang berpura-pura polos ini, dia bahkan melemparkan pertanyaan itu padanya. Membuat Friedrick cukup kelabakan.
"Saya juga tidak mengerti, walau mungkin sekilas mirip, saya rasa tidak ada masalah dengan itu, Nona."
"Ah... Begitu! Paman, katanya tidak ada masalah apapun. Tapi... Apa saya semirip itu?"
Bahkan Abert dan Ivana sang istri tidak bisa mengatakan apapun melihat tingkah Aera yang berpura-pura bodoh itu.
"Lupakan hal itu, lagi pula ada banyak orang yang mirip di dunia ini." jawab Abert, sebenarnya dia kesal namun berpura-pura ramah.
"Benar! Katanya ada tujuh orang. Apa paman juga pernah bertemu kembaran paman di belahan dunia lain?"
Friedrick hampir saja gagal menahan tawanya kalau saja dia tidak segera menutup mulutnya dan menyamarkannya menjadi batuk. Pertanyaan konyol Aera jelas membuat pasangan suami istri itu terpaksa menyudahi topik itu.
"Aku senang kamu sepertinya wanita yang lembut dan baik. Kalau boleh tahu, siapa orang tuamu?" tanya Ivana.
"Nona Aera selama ini dirawat sebagai anak adopsi oleh kekuarga Fernandes, Nyonya. Presiden wilayah Valencia saat ini. Untuk orang tua kandungnya, saya tidak punya keberanian mengatakannya sebelum mendapat izin Tuan Audric."
Jawaban itu membuat kedua suami istri itu saling lirik satu sama lain.
"Aku tidak tahu mereka punya anak adopsi." kata Abert.
'Tidak tahu apanya, jelas-jelas bajingan ini mengirim orang untuk melukai Nona.' gerutu Friedrick dalam hati.
__ADS_1
"Saya juga baru tahu." jawab Friedrick dengan sopan.
"Sungguh mengejutkan, tapi berusahalah menyesuaikan diri. Audric dan juga para tetua sangat mengutamakan martabat. Aku harap kamu sesuai dengan martabat keluarga ini, Aera."
"Paman tidak perlu kawatir, calon istriku adalah yang terbaik."
Semua orang menoleh pada asal suara, Audric baru saja bergabung dalam ruang tamu itu dan duduk tepat di samping Aera. Dia langsung menggenggam tangan Aera.
"Apa kamu sudah makan malam?" tanyanya.
"Aku menunggumu." jawab Aera dengan keceriaan yang dibuat-buat.
"Kamu manis sekali, nah Paman dan Bibi, apa kalian akan ikut bergabung atau pulang?" Audric langsung beralih pada keduanya.
"Tentu saja aku tidak ingin mengganggu kemesraan kalian, kami hanya ingin menyapa sebentar."
Jelas Abert sangat menjaga sikap dan bicaranya setelah kedatangan Audric. Dia terlihat tidak ingin membuat banyak masalah yang akan merugikan dirinya.
Setelah kepergian mereka, Aera langsung berdiri dan pergi dari sana. Sama sekali tidak mengatakan apapun lagi dan wajahnya kembali dingin.
Audric menghela napasnya dengan berat. "Apa saja yang mereka katakan?" tanyanya pada Friedrick.
"Menanyakan asal usul Nona, dia juga sedikit menyudutkan Nona, namun Nona berhasil mengatasinya. Nona juga mengatakan kampung halamannya dari Spanyol bukan Indonesia. Lalu..."
"Lalu?"
"Ini tentang kemiripan Nona dan adik Anda... Bukan hanya paman Anda, para pelayan dan staf dirumah ini juga banyak membuat spekulasi sendiri. Lalu bukankah nanti juga pasti ada masalah dari keluarga lain dan publik?"
Keduanya menoleh ketika ada seorang pria dengan seragam pengawal rumah bagian luar masuk kedalam.
"Tuan, Ada Tuan dan Nyonya Ackerman muda diluar."
'Adolf dan Luisa?' sebutnya dalam hati.
"Apa semua orang berniat menyapa malam ini?" sarkasnya. "Aku sangat lelah tapi mereka malah menggangguku. Ck!" Audric segera berdiri. " Antar mereka ke ruang khusus pertemuan. Katakan padanya aku akan mandi terlebih dahulu baru menemui mereka. Friedrick, jaga mereka agar tidak berkeliaran. Terutama adikku!"
"Baik, Tuan."
"Hmm... Maafkan saya, Tuan Audric! Tapi Mereka berkata ingin bertemu No... Nona Aera juga." ujar pengawal itu dengan wajah kawatir.
Audric menoleh, menatapnya dengan tajam. Membuat pengawal itu langsung tertunduk dengan wajah pucat dan keringat dingin.
"Friedrick."
"Ya, Tuan!"
"Perintahkan Olivia menemani Aera dikamar, dua pengawal berjaga didepan jalan masuk kamarku dan jangan biarkan pelayan lain kearea sekitar kamarku selain Olivia dan kamu sendiri."
__ADS_1
"Ya? Anda akan mengurung Nona?"
Audric tidak menjawab, dia meninggalkan mereka begitu saja dengan tangan terkepal erat.
Sesampainya dia di kamar. Aera sedang berada di ruang bacanya. Sedang membaca buku tentang perawatan tanaman musim dingin. Rambut panjangnya terjuntai kebawah dan nyaris menutupi pandangan orang lain.
Audric melangkah mendekatinya, lalu berlutut dan merapikan rambut itu dari depan. Aera tersentak kecil, dia sudah bergerak untuk menepis kedua tangan Audric, namun Audric lebih dulu menarik tangannya. Audric menatapnya dengan lembut sambil memengang kedua lengan sofa.
"Luisa datang kesini, apa kamu ingin menemuinya?"
"Kenapa aku harus menemuinya?"
Audric tersenyum, "Karena dia pasti akan membuka mulutnya setelah tidak berhasil memisahkanmu dariku."
Aera mengernyit, namun memilih diam dan menunggu.
"Atau mungkin dia akan semakin menprovokasiku sebagai dalang kematian nenekmu."
"Jadi kamu bukan dalangnya begitu? Kamu ingin melempar tanggung jawab atas orangmi itu?"
"Aera_ apa tidak ada sedikitpun kepercayaan untukku? Aku tidak mungkin melakukan hal buruk padamu dan nenekmu."
Aera bisa melihat mata Audric yang penuh luka dan juga penuh permohonan itu. Bola mata dengan sorot dalam seperti biasanya, namun kali ini begitu sangat mengganggu.
"Kalaupun bukan dari tanganmu, bahkan tampa perintahmu, yang membunuh nenekku tetap orang-orangmu. Dia bergerak atas perintahmu yang menyerang kediaman kami."
"Mau mendengar penjelasanku?"
Audric yang melihat pertahanan Aera mulai runtuh. Semakin mendorongnya agar tidak menutup mata lagi. Setelah dia membiarkan Aera melepaskan emosinya beberapa minggu terkhir, Audric berpikir sudah saatnya mengakhiri kesalahpahaman.
"Kamu adalah hal paling berharga bagiku, Aera. Sejujurnya, kepergianmu tampa berkompromi denganku setelah mendapat ancaman dari Luisa membuatku sangat kecewa. Padahal aku akan bisa mengatasinya jika kamu percaya padaku. Tapi kamu memilih mengatasinya sendiri."
Aera mengalihkan tatapannya kearah lain, dia mulai merasa terganggu dengan ungkapan perasaan itu. Saat pergi dia juga sangat penasaran akan apa yang Audric pikirkan. Namun dia tetap memutuskan pergi dan menjauh darinya demi neneknya.
"Aku memang marah dan ragu untuk beberapa waktu. Lalu ketika aku mulai menerima keputusanmu, aku tetap tidak berani menemuimu." Audric memberi jeda, lalu dia menggenggam kedua tangan Aera dan menumpukan keningnya disana.
"Aku juga ingin memberi harapan palsu pada Luisa yang merasa menang, jadi aku tidak langsung menjemputmu. Tapi keputusanku ternyata salah, ketika kecemburuan merasukiku saat mendengar Adolf menemuimu... Aku tidak bisa menahannya. Tapi dia malah membantumu kabur lagi, orang-orang saat itu... Bukan hanya orangku dan pengawal Adolf. Luisa berhasil memasukkan penyusup pada pasukan pengawalku sejak lama, dia adalah orang yang menembak nenekmu. Aku sudah mencarinya tapi pria itu tidak ditemukan. Aku ingin membawanya langsung kehadapanmu tapi tidak berhasil. Maafkan aku... Aku tidak bisa menepati janjiku untuk melindungi dan menyembuhkan nenekmu."
"Bagaimana aku bisa percaya?"
Audric mendongak, dagunya masih tertumpu dalam genggaman tangan mereka yang menyatu.
"Aku pasti akan menemukan pria itu dan membuktikannya padamu. Tapi, aku juga bisa membuat Luisa mengakuinya padamu. Mana yang kamu pilih?"
Aera bingung, namun dia juga ingin tahu apakah Audric benar-benar tidak bersalah. Harapan kecil dalam hatinya yang telah ia kubur, kini menyeruak dan berusaha menembus dinding pertahanannya. Dendam ini, apakah dia mengarahkannya pada orang yang salah?
"Baiklah, buat Luisa mengakuinya."
__ADS_1
Pilihan yang membuat Audric tersenyum dalam hati. Dia segera berdiri, dan menarik tangan Aera untuk bangun. Dia tidak jadi mandi, itu hanya alasan agar dia bisa berbicara dengan Aera sebelum menemui mereka.
'Sudah saatnya kamu tahu tempatmu, Lui.' kata Audric dalam hati.