
Paginya, keadaan Aera sedikit membaik. Meski dia masih lemas, sakit kepalanya tidak muncul lagi. Olivia membawakannya bubur dan susu hangat setelah membersihkan tubuh Aera dengan handuk basah.
Sementara itu Audric menerima laporan tertulis dari Friedrick dan Ivon. Bukan hanya terkait Aera, namun juga perusahaan-perusahaan dan pergerakan keluarga.
"Anda akan pergi lagi?" tanya Friedrick.
"Ya, ada beberapa pertemuan lagi. Sampai saat itu jaga Aera dengan baik."
"Saya mengerti."
"Bagaimana dengan dua tamu tak diundang itu?" tanya Audric, mengarah pada Darwin dan istrinya.
"Mereka menghabiskan waktu dengan nyaman, terkadang keluar dan kembali tengah malam. Dia bertemu dengan beberapa orang dan kami sedang menyelidiki siapa mereka. Tuan Yohanes juga pulang pagi kemarin." jawab Friedrick.
"Baiklah, kamu bisa pergi."
Setelah kepala kepala kepala pelayan itu keluar, Audric menatap Ivon yang sejak tadi hanya berdiri disana menghadapnya.
"Kamu tahu pergerakan Luisa bukan?"
"Ya, Tuan."
"Kedatangan bibiku pasti atas suruhan dia juga."
"Saya pikir juga begitu."
"Apa Aera berubah setelah bertemu dengannya?"
"Ya."
"Apa karena hal itu sikapnya juga berubah padaku?" gumam Audric.
Ivon menatap Audric sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke dinding. Berpikir keras apakah dia harus memberitahu Audric tentang pemikirannya.
"Nona... Memang terlihat sengaja mengabaikan Anda. Tapi... Saya pikir bukan karena perkataan bibi Anda saja." pada akhirnya Ivon menyuarakan pendapatnya.
"Saya pikir karena pengaruh depresinya. Bukankah keadaannya sangat buruk saat dia masih di Valencia, saya pikir dia hanya menahannya selama ini."
Harald yang baru saja datang berdiri di samping pintu yang terbuka. Dia bersandar di dinding dan mengamati suasana di dalam.
"Maksudmu aku perlu memanggilkan psikolog untuknya?"
"Itu... Mungkin lebih baik untuk Nona."
Audric menghembuskan napasnya dengan frustasi. Jika menyanhkut masalah Aera, entah mengapa otaknya selalu buntu.
"Panggil Olivia!" perintahnya.
Ivon segera menghubungi Olivia melalui Friedrick. Bersamaan dengan itu, Harald juga masuk dan berdiri di samping Ivon.
"Tuan, penerbangan Anda dijadwalkan 3 jam lagi." lapor Harald.
Terdengar suara orang berlari diluar, lalu dalam sekejap Olivia muncul dan masuk dengan napas tak beraturan. Dia baru saja tiba di dapur setelah Aera selesai sarapan ketika perintah Audric datang padanya.
"Anda memanggil saya, Tuan?"
"Ya, kamu yang melayani Aera. Apa akhir-akhir ini dia jarang tertawa? Apa dia sering menangis?"
Olivia yang mendapat pertanyaan itu segera melirik Ivon. Dia bertanya-tanya dalam hati bukankah Ivon sudah melaporkan segalanya?
"No-Nona memang sering murung. Nona juga jadi jarang bicara seperti dulu. Dia sering melamun... Tapi saat latihan atau akan latihan, Nona terlihat bersemangat, Tuan! Terutama setelah berkuda saat itu. Sepertinya Nona menyukai kuda."
Tiba-tiba Olivia bersemangat saat mengatakan tentang berkuda dan latihan. Membuat Audric dan Harald menatap Ivon.
"Saya tidak yakin. Tapi Nona memang serius saat latihan." ujar Ivon, dia juga tidak yakin apakah Aera saat itu bersemangat atau tidak karena mereka sering berdebat saat latihan.
"Sepertinya kamu jadi guru yang baik, ya, Ivon?"
Ivon merasakan seolah sebilah pisau sedang diarahkan padanya. Perkataan Audric itu seperti sebuah peringatan. Tiba-tiba saja suasananya menjadi begini. Ivon terlihat bingung sekaligus panik.
"Tuan, saya punya kabar baru untuk Anda."
Harald menyela pada saat yang tepat. Ini seperti dejavu baginya. Harald juga pernah dicemburui oleh Audric karena Aera sedikit memperhatikannya. Sifat posesif Audric memang sedikit merepotkan.
"Katakan!"
"Dua tetua yang kita curigai tampaknya kini benar-benar berihak pada adik Anda. Meski dia tidak lagi menyandang nama Martell, tapi dia menggunakan sepupu Anda, Isaac gilbert martell sebagai pion."
"Apa yang mereka lakukan?"
__ADS_1
"Kita akan tahu dengan pasti saat pesta perayaan. Mereka sangat senyap, saya belum bisa membaca kemana arah permainan. Tapi kemungkinan besar, melihat pertemuan mereka dihadiri Isaac..."
"Mereka ingin menggoyangkan posisiku dengan anak itu? Aku penasaran apa senjata mereka kali ini." potong Audric.
"Boleh saya menebaknya, Tuan?"
Audric tidak berkata apa-apa, tapi sorot matanya menunjukkan bahwa dia mengizinkan.
"Menyerang Anda dengan sikap otoriter dan pelanggaran HAM. Seorang pemimpin harusnya memiliki tangan yang bersih. Kita sedang berada di era modern bukan era pertengahan lagi. Cara kuno yang kejam harusnya dihapuskan. Lalu mereka mungkin akan menyebutkan beberapa hukuman berdarah yang telah Anda lakukan. Bukankah adik Anda sedang mengangkat hal itu ke permukaan? Sekali lempar batu dua burung yang coba ia jatuhkan."
Audric menyeringai, tebakan Harald tentu saja bukan sesuatu yang asal. Audric juga tahu hal itu melihat pergerakan Luisa yang menggunakan orang-orang. Harald hanya memperjelasnya mengingat Ivon juga harus tahu hal itu.
"Nah, jika kalian sudah tahu. Kalian pasti sudah tahu apa langkah selanjutnya bukan?" tanya Audric sembari berdiri.
"Tentu, Tuan."
Ivon menoleh pada Harald setelah Audric keluar.
"Kenapa? Kamu tahu apa yang harus dilakukan, kan?"
"Jadi, siapa dulu?" tanya Ivon.
"Hmm... Bagaimana dengan keluarga bibinya dulu? Terutama tuan Isaac. Para tetua adalah selanjutnya."
"Semuanya? Tidak dua orang yang membelot itu saja?"
"Siapa yang bisa menjamin yang lain setia? Termasuk keluarga lain, kita harus kumpulkan semuanya untuk jaga-jaga jika mereka menyerang. Kamu kan hanya tinggal menggali data yang ada. Minta Friedrick untuk membantumu."
"Aku mengerti."
"Ah, Ivon!" panggil Harald ketika Ivon telah berbalik hendak pergi.
"Apa lagi?"
"Aku lihat penilaianmu pada Nona sudah berubah dari hari ke hari."
Deg!
"Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa, mungkin aku hanya terlalu sensitif saat membaca pesan-pesanmu yang berisi laporan tentang Nona."
.
Aera sedang memeriksa e-mail yang dikirim teman-temannya terkait tugas kuliahnya ketika Audric masuk.
"Kamu sedang apa?"
Audric langsung duduk di sampingnya dan mendekatkan kepalanya pada layar laptop.
"Kamu sedang sakit, apa harus sekarang?"
Audric memperbaiki anak rambut Aera dan mengelus rambut Aera dengan lembut.
"Besok aku harus tampil."
"Aera... Bisakah kita bicara sebentar?"
Aera meliriknya sebentar, lalu meletakkan laptop yang tadi di pangkuannya keatas meja. Dia menggeser posisinya sehingga menghadap pada Audric.
"Kamu terlihat kurang tidur. Apa pekerjaanmu sangat berat?"
Aera bisa melihat mata sayu dan lingkar hitam dibawah mata Audric.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak karena menghawatirkanmu. Menunggumu dan berharap mendapat balasan pesan dengan segera. Boleh aku tahu kenapa kamu mengabaikanku akhir-akhir ini? Apa ada yang membuatmu marah?"
"Tidak, aku hanya tidak suka selalu memegang ponsel. Lagi pula kamu sudah mendapat laporan, kan?"
Audric tahu Aera hanya membuat alasan. Dia ingin sekali marah, tapi entah kenapa dia tidak bisa meluapkannya. Melihat wajah datar dihadapannya, dia malah tidak bisa berkutik.
"Aku hanya ingin menjaga komunikasi yang baik denganmu, selain itu aku juga merindukanmu, jadi..."
"Maafkan aku, nanti aku akan membalas semua pesanmu." potong Aera.
Meski dia mengatakannya seperti itu, tapi nada dan ekspresinya yang datar membuat Audric merasa sakit hati.
"Kamu marah padaku, kan?" Nada bicara Audric ikut tidak enak didengar.
"Tidak."
__ADS_1
"Aera, katakan jika kamu marah. Jangan bersikap seperti ini!"
"Seperti apa? Aku tidak marah. Aku baik-baik saja. Bukankah saat ini kamu yang terlihat marah?"
Audric mengerutkan keningnya. Bingung, kesal dan frustasi menjadi satu. Dia tidak tahu mengapa Aera bersikap seperti itu padanya.
"Apa yang dikatakan Bibi Ivana padamu? Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman? Apa dia mengatakan hal buruk?"
"Kenapa kamu jadi menyalahkan orang lain?"
"Aera!"
Tampa sadar Audric meninggikan suaranya. Sebelum dia sadar akan sikapnya Aera sudah berdiri.
"Tidak, maafkan aku. Aku tidak berniat membentakmu."
"Aku tidak apa-apa, kamu bisa bersikap sesukamu. Tapi sekarang aku harus mengerjakan tugasku."
Aera keluar setelah membawa laptopnya yang masih menyala. Di berhenti ketika Harald dan Ivon berdiri di lorong, keduanya menoleh ketika Aera keluar.
"Ivon, bisakah kamu membantuku?"
"Ya, Nona."
"Aku mau keperpustakaan, bisakah kamu membantuku menemukan buku yang aku butuhkan?"
Ivon tahu harus menurutinya, namun ketika Audric muncul dari dalam kamar, Ivon tidak bisa membuka mulutnya.
"Tidak bisa? Apa karena diluar pekerjaanmu?"
"Bu-bukan, saya akan membantu Anda."
"Nona, Anda masih sakit." sela Harald.
"Aku baik-baik saja sekarang." jawab Aera acuh, meski begitu dia sadar tubuhnya tidak baik-baik saja.
"Nona, kami akan berangkat sebentar lagi." pancing Harald.
"Kalian sepertinya sangat sibuk. Hati-hati dijalan." balas Aera tidak peduli, nadanya masih datar.
Audric yang tidak tahan lagi segera mendekat dan mengambil paksa laptop ditangan Aera. Memberikannya pada Harald dan menarik tangan Aera untuk masuk kembali kedalam kamar.
Baik harald dan Ivon tentu saja terkejut. "Apa sebenarnya yang disampaikan wanita itu pada Nona." gumam Harald.
"Entahlah, tapi apapun itu, bukankah perubahan Nona terjadi setelah penyerangan itu?"
"Kamu benar, penghianat itu pasti tidak hanya mengatakan satu dua kata saja." gerutu Harald.
Keduanya menunggu dengan cemas. Sementara Audric mengunci kamar sebelum melepaskan tangan Aera.
"Tidak bisakah kamu mengatakan apa masalahnya?"
Tangan Aera bergetar, Audric menjadi merasa bersalah. Namun dia tidak bisa membiarkan keadaan seperti ini saat dia harus pergi lagi.
"Katakan!" suruh Audric sengan tegas.
Aera yang semula menatap lantai, kini meluruskan pandangannya. Lalu dengan perasaan penuh frustasi, dia mendongak untuk menatap mata Audric. Sorot kelam itu terlihat tajam namun juga penuh permohonan. Membuat perasaannya campur aduk.
"Aku dan kamu... Bukankah kita sangat berbeda, Ric? Setiap aku mengetahui apa yang terjadi dirumah ini, atau apa yang telah dan sedang kamu lakukan dengan tanganmu yang memegang kekuasaan, rasanya aku seperti tidak mengenali diriku lagi. Aku tidak ingin sepertimu! Aku tidak ingin menjadi manusia yang dengan mudah menghancurkan dan menghabisi nyawa orang lain. Berdiri pada tempat yang sama, bukankah aku menjadi sama?"
Audric tidak bisa menjawabnya. Jangankan menjawab, dia bahkan tidak bisa membuka mulutnya. Yang bisa ia lakukan hanya menatap wajah menahan tangis dihadapannya, sambil merutuki adik tirinya yang membuat hubungan mereka menjadi seperti ini.
Luisa benar-benar memahami karakter Aera dan menyerangnya. Membenturkan mereka berdua dengan kuat seperti ini. Masalahnya adalah, apa yang dituduhkan padanya adalah kebenaran yang telah ia lakukan dimasa lalu. Sehingga ia tidak bisa melakukan pembelaan apapun.
"Maafkan aku, semula aku pikir kita akan menjadi sama karena kamu juga memiliki dendammu sendiri. Jadi aku tidak menutupi apapun yang sedang aku lakukan. Tapi jika itu mengganggumu..."
"Ya! Itu sangat menggangguku!" potong Aera.
Aera melewati Audric dan membuka pintu kamar. Dia berlari melewati Harald dan Ivon begitu saja. Terus menuju arah timur melewati lorong panjang dan berbelok ke arah kamar yang dulu ia tempati.
"Tuan?" panggil Harald. "Kita harus segera bersiap-siap..."
"Ivon, jaga Aera. Tambahkan orang yang mengawasinya dari jauh. Biarkan dia pergi kemanapun asal dia bisa bersenang-senang. Suruh Olivia menghiburnya."
"Baik, Tuan."
"Ayo, Harald!"
Mau tidak mau Audric terpaksa membiarkan keadaan mereka seperti ini sementara. Dia juga tidak ingin menekan Aera dengan pertengkaran. Menyelesaikan masalah besar harus ia utamakan terlebih dahulu. Itulah keputusannya saat ini.
__ADS_1