
Aera menatap langit-langit kamar tempatnya berbaring setelah ia membuka matanya. Pikirannya terasa kosong. Dia melirik kiri dan kanan. Matanya terpaku pada jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan lewat sedikit. Masih sangat pagi untuk ukuran negara itu.
Dia mencoba bangun, namun rasa sakit yang menghentak langsung membuatnya meringis. Aera memegang kepalanya dan perlahan kembali duduk.
"Ah... Sial! Apa aku mabuk kemarin? Ini dimana lagi? Kemana Adolf itu membawaku? Ini bukan kamarku dirumah Luisa. Aish! Kepalaku kenapa sakit sekali!"
Tampa sadar dia mengomel menggunakan bahasa Indonesia. Dia menoleh pada pintu yang terbuka. Memperhatikan seorang wanita tua dengan seorang wanita muda yang memakai baju pelayan.
"Anda telah bangun? Tuan Adolf meminta kami melayani Anda. Dia harus pergi pagi-pagi sekali karena pekerjaannya. Saya juga membawakan Anda obat penghilang nyeri dan sarapan untuk Anda."
"Mandi, Aku mau mandi."
Aera sedang berendam ketika terdengar keributan diluar pintu kamar mandi. Meski kepalanya masih nyeri, dia mengambil baju handuk dan memakainya.
Ketika Aera membuka pintu kamar mandi, dia mendapati Audric yang berdiri di dalam kamarnya, beserta beberapa pelayan Adolf dan seorang pria yang tidak dia kenal. Pria itu adalah Harald, dia terpaksa ikut karena mereka memiliki jadwal padat hari itu.
"Kalian semua keluar!"
Audric menutupi tubuh Aera dari penglihatan siapapun. Seluruh orang keluar, bahkan pelayan dan pihak keamanan rumah Adofl tidak berani menentangnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Pikiran Audric sudah kemana-mana karena Aera mandi pagi. Meski memang tidak ada yang salah dengan mandi, tapi momennya membuat ia berpikir berlebihan. Ditambah Aera mencuci rambutnya. Padahal Aera meoakukan hal itu karena dia merasa rambutnya berbau Alkohol, dia tidak ingin Audric tahu kalau dia mabuk.
"Apa terjadi sesuatu tadi malam?"
Pertanyaan yang berbeda namun Aera tahu Audric menginginkan jawaban yang sama.
"Aku menginap disini."
Aera melirik pakaian yang telah disiapkan untuknya diatas kasur, lalu hendak melangkah kesana sebelum Audric mencengkram lengannya dengan keras.
"Akh! Ric!" pekik Aera.
Dia menatap Audric yang ekspresinya telah berubah. Tatapan tajam dan penuh kemarahan.
"Ada apa denganmu?"
Aera takut, dia selalu merinding ketika Audric mengeluarkan aura seperti ini.
"Jawab aku dengan benar, apa yang terjadi tadi malam."
Aera tidak mungkin mengatakan kalau dia mabuk. Dia takut kalau Audric curiga Adolf sudah tahu rencananya.
"Aku... Hanya menginap disini. Aku tidak melakukan apapun."
"Lalu kenapa kamu digendong masuk kedalam rumah?"
"Digendong? Itu..." Aera berusaha mengingat, tapi dia benar-benar tidak ingat. "Aku ketiduran, sepertinya begitu."
"Pada jam segitu? Masih terlalu sore untukmu tertidur."
"Kamu tahu dari mana? Kamu menyuruh orang memata-mataiku?"
Aera mengerutkan dahinya dan balik menatap Audric tajam. Ketakutannya sedikit berkurang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Apa kamu tidur dengannya?"
Aera menjadi murka, dia menarik lengannya dan menatap Audric dengan penuh kekesalan.
"Kamu menuduhku dengan sangat rendah! Kalau kamu penasaran! Ayo pergi kerumah sakit apakah keperawananku telah rusak atau tidak!"
Mendengar hal itu, Audric tercengang. Dia tidak tahu kalau Aera akan mengatakan hal itu. Yang lebih membuatnya lega, bahwa belum ada pria manapun yang menyentuhnya.
Melihat garis wajah Audric yang melunak dan malah menunjukkan rasa bersalah, Aera berkacak pinggang.
"Jadi hanya untuk ini kamu kesini? Memastikan aku tidur dengan Adolf atau tidak?"
"Bukan begitu... Aku hanya takut dia melakukan sesuatu yang akan membuatmu terluka."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak marah padanya tapi malah marah padaku?!"
"Ehm! Aku sudah marah padanya! Dia mengangkat panggilanku tadi malam sehingga aku jadi berpikir berlebihan!"
Clek!
__ADS_1
Pintu dibuka dari luar, Harald berdiri di ambang pintu dengan wajah kikuk.
"Maaf, Sir. Saya hanya mengingatkan akan jadwal Anda."
"Keluarlah, aku juga mau berpakaian!" usir Aera dengan galak.
Harald hanya bisa tercengang melihat Audric yang berbalik dan keluar dengan ekspresi canggung.
'Mereka bertengkar seperti pasangan suami istri dan sekarang CEO M.ONE ini menunjukkan ekspresi seperti itu? Wanita ini sangat luar biasa.' kata Harald dalam hati sembari menutup pintu.
"Lima belas menit lagi rapat penting dengan Direktur eksekutif Siemon, lalu..."
"Tunda lima belas menit." potong Audric.
"Tunda? Tapi ini..."
"Aku tidak bisa meninggalkannya disini."
Harald lagi-lagi hanya bisa tercengang. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata dan hanya patuh begitu saja. Mengirim pesan pada sekretaris direktur tersebut dan tentu saja, minta maaf.
Sepuluh menit berlalu, pintu kamar itu terbuka. Aera yang keluar langsung terkejut begitu melihat dua orang pria dihadapannya.
"Kenapa kamu masih disini?"
"Apa-apaan pakaian ini!" seru Audric.
Aera menarik rok pendek itu kebawah. Sesungguhnya dia juga tidak nyaman. Tapi Adolf benar-benar keterlaluan menyuruh pelayan menyiapkan pakaian seperti ini. Jadi pakaian Aera ini memperlihatkan bahunya dan dadanya sangat rendah. Roknya juga sangat pendek.
"Aku sudah membuka lemari dan tidak ada apa-apa kecuali pakaian yang mirip degan ini."
Audric melirik Harald yang langsung membuang pandangannya. Lalu melepaskan jasnya untuk dipakaikan pada Aera.
"Ayo pergi!"
Aera tidak bisa membantahnya ketika tangannya ditarik begitu saja. Melewati para pelayan dan kepala pelayan yang langsung memberikan hormat.
"Bukankah temanmu bilang kamu ada jadwal rapat?" bisik Aera, melirik Harald yang duduk disamping kursi kemudi.
"Saya Harald Nona, saya sekretaris Sir.Audric."
"Dia tahu identitasmu. Dia orang kepercayaanku."
Audric membalas tatapan Aera yang bertanya padanya. Setelah mendapatkan jawaban, Aera melirik supir Audric.
"Dia supir sekaligus pengawal pribadiku."
"Oh... Baiklah. Sepertinya kamu punya banyak orang yang bisa dipercaya."
Aera memperhatikan penampilan Audric yang kini hanya memakai kemeja bewarna hitam dan celana hitam.
"Kenapa pilihan warja pakaianmu selalu terlihat suram?" komentarnya tampa sadar.
Harald yang mendengarnya sudah menebak apa yang akan dijawab oleh Audric. Ini bukan pertama kalinya komentar seperti itu ia dengar dari seseorang yang ditemui Audric. Terakhir, dia ingat Rubelia yang mengajukan hal yang sama. Dan Audric akan menjawabnya dengan nada datar tentang sebuah privasi dan sejenisnya.
"Kenapa dengan pakaianku?"
"Suram seperti wajahmu."
Kokentarnya menohok sekali. Harald dan supir disebelahnya hanya bisa meneguk ludah karena cemas. Audric bukan orang yang lunak.
"Kamu masih marah padaku?"
"Memangnya aku bisa marah padamu?"
"Apanya yang tidak, kamu bahkan pernah meneriakiku, ingat?"
Aera membuat pose berpikir.
"Itu saat petama dulu? Kalau aku ingat, kamu memang sudah sesuram itu sejak awal."
Audric seperti menikmati perdebatan itu, dia menarik senyum simpul. Harald sejak tadi sudah tercengang karena Audric yang melayani ocehan Aera. Sangat tidak seperti dia biasanya.
"Kamu tidak suka? Kamu suka seperti apa? Aku memakai pakaian cerah dan warna-warni?"
Aera tertawa, sangat renyah. Sehingga mata Audric tidak bisa lepas darinya.
__ADS_1
"Tapi wajahmu tidak cocok untuk warna tertentu. Hmm... Mungkin biru tua, atau abu-abu... Hijau tua... Hmmm... Mungkin coklat muda cocok untukmu."
"Begitu? Aku akan memikirkannya." jawab Audric.
"Setelah ini ayo berbelanja, kamu juga tidak bisa terus memakai pakian ini. Kamu juga terlihat tidak nyaman."
Aera merapatkan jas Audric dan mengangguk dengan cepat.
"Aku tidak pernah pakai baju seksi seperti ini. Ini terasa memalukan!" ujarnya.
Aera menunggu dimobil dan diawasi oleh supir Audric. Dia juga dibelikan beberapa es krim dan cemilan untuk menghabiskan waktu. Aera juga sudah menghubungi Gustav untuk jadwal kuliah yang terpaksa ditunda lagi. Aera jadi merasa sangat malu pada para profesor itu. Dia merasa jadi sangat kurang ajar karena mengabaikan pelajaran.
"Tapi kan ini bukan salahku, ini salah mereka." gumamnya.
Ponselnya berbunyi, Adolf menelepon. Aera segera melirik pengwal diluar pintu mobil sebelum mengangkatnya.
"Halo?"
"Kamu pergi tampa memberitahuku, apa kakakmu itu marah? Dia tidak tahu kamu mabuk kan?"
Aera mengernyit heran karena Adolf menyebut Audric sebagai kakaknya. Padahal dia tahu yang sebenarnya.
"Tidak, dia tidak marah."
Aera hanya malas menceritakan tentang kesalah pahaman tadi.
"Benarkah? Sepertinya aku mendapat laporan yang salah dari para pelayan. Kalau begitu kamu sudah ada dirumah?"
"Tidak, aku sedang menunggu Ric menemui rekan bisnisnya. Kami akan berbelanja baru pulang."
"Berbelanja? Audric denganmu? Dia mengajakmu?"
"Kenapa kamu heran? Ini karena pakaian yang pelayanmu siapkan sangat seksi!"
Nada suar Aera terdengar kesal, sehingga Adolf terkekeh diseberang sana.
"Maafkan aku, itu adalah baju mantanku yang pernah menginap. Aku tidak punya pakaian wanita dirumah. Tidak mungkin aku meminjam pakaian pepayanku."
"Itu lebih baik, tahu! Apa kamu suka wanita seksi? Apa semua mantanmu berpakaian seperti ini?"
"Ya ampun, apa calon istriku wanita pecemburu? Mereka hanya mantanku, bahkan bukan kisah yang istimewa."
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Lagi pula aku tidak peduli berapa banyak mantanmu. Aku juga tidak peduli kamu beriencan dengan siapa, tahu!"
Pembicaraan berlanjut seolah mereka adalah teman akrab yang memiliki banyak topik pembicaraan. Padahal Adolf sendiri sedang berada di kantornya, sedang memeriksa banyak laporan. Tapi bibirnya akan tertawa atau mencibir sesekali ketika merespon perkataan Aera. Harry sampai bingung apakah atasannya benar-benar jatuh cinta atau hanya bermain-main seperti biasanya. Apalagi mengingat Aera bukan Luisa, dia jadi ragu ketertarikan Adolf pada Luisa cinta apa bukan melihatnya saat ini yang begitu berbeda.
Pintu mobil terbuka, Aera menoleh sebentar, lalu kembali berbicara dengan Adolf.
"Hai, aku harus pergi karena Ric sudah kembali."
Audric menoleh ketika namanya disebut. Mengernyit curiga ketika Aera terlihat sangat ramah dan nyaman pada sipenelepon.
"Bukan... Jangan bicara omong kosong lagi. Sampai jumpa, aku akan tutup sekarang."
"Siapa?"
Aera menoleh ketika Audric bertanya. Dia menyimpan ponseonya dalam tas sebelum menjawab.
"Adolf, dia menemaniku ketika kamu di dalam." Aera berkata sambil memilih cemilan sepaniutnya yang ingin ia makan.
"Kalian terlihat sangat akrab."
"Hmm... Kami jadi akrab. Dia teman yang menyenangkan. Dia juga sangat suka bercanda. Dia bilang akan mengobrol denganku ketika aku bosan. Dia benar-benar seperti..."
Aera tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat ekspresi Audric saat mengangkat kepalanya.
'Ada apa dengannya, tadi dia baik-baik saja kenapa sekarang menyeramkan lagi?'
"Kamu menyukainya?"
"Hah?"
Pertanyaan itu membuat Aera tidak mengerti sama sekali. Apa yang membuat Audric melemparkan pertanyaan seperti itu. Suka sebagai teman atau sebagai pria?
Lalu, jawaban apa yang ingin didengarnya? Kenapa jantung Aera ikut berdebar?
__ADS_1