
Adolf langsung berlari masuk ke dalam kediaman Harry begitu dia mendapat informasi bahwa Aera telah kembali. Dia sangat senang sampai langsung masuk kemobil Harry dan ikut pulang bersamanya. Meninggalkan para pengawal yang harus bersusah payah mengejar.
Begitu pintu dibuka oleh Benjamin, Adolf langsung menghampiri Aera yang sedang bermain dengan Coco. Ikut duduk diatas karpet dengan wajah sumringah.
"Kamu menang undian ya?" tebak Aera dengan asal.
Harry hanya tertawa tampa suara sambil berlalu ke kamarnya. Adolf tersenyum lebar, ikut mengajak Coco bermain.
"Aku hanya senang kamu kembali."
"Hmm? Memangnya kapan aku bilang mau pergi?"
"Karena kamu pulang dengan Ric, aku pi... Tunggu!"
Adolf menyadari ada bekas memar kecil dirahang Aera. Dia mempersempit jarak mereka dan memeriksanya lebih teliti.
"Siapa yang melakukan ini?"
"Jangan berlebihan, ini ha..."
"Luisa menyakitimu, kan? Ini bekas kuku. Siapa lagi dirumah itu selain Audric yang bisa menyentuhmu! Apa yang dia lakukan padamu?"
Aera bangkit dan berjalan ke arah sofa. Meninggalkan Coco yang akhirnya bermain sendiri. Hari sudah mulai gelap dan Aera tadinya bersiap untuk makan malam diluar. Dia ingin makan dengan uangnya sendiri dan tidak bergantung dari pelayanan orang-orang milik Adolf lagi.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." katanya setelah Adolf duduk disampingnya.
"Mulai besok, aku akan kuliah lagi. Aku akan pindah dari sini dan menyewa tempat sen..."
"Apa Ric yang menyuruhmu?" potong Adolf, wajahnya telah berubah, tidak ada senyum dan kehangatan lagi disana.
"Tidak."
"Lalu kenapa tidak pindah kerumahku?"
"Tidak bisa kan? Akan ada dua Luisa. Itu akan menimbulkan kecurigaan. Lagi pula, aku merasa lebih bebas seperti itu, aku tidak ingin menjadi pionnya lagi."
"Bagaimana kalau itu malah membahayakanmu?"
"Aku yakin Audric akan melindungiku. Aku hanya..."
"Aku mengerti, jadi keputusanmu ini karena Audric! Aku pikir karena keberanianmu sendiri. Apa kalian masih mempertahankan perjanjian itu? Lalu, bagaimana denganku? Kita juga punya perjanjian. Kamu bahkan kembali percaya padanya setelah dia menipumu." kata Adolf bertubi-tubi.
Aera melihat kemarahan di wajah Adolf saat ini. Tapi Aera tidak mengerti kenapa dia harus marah.
"Aku minta maaf."
"Aera, Luisa tidak semudah itu tunduk meskipun Audric menggunakan kekuasaannya. Dia gadis cerdas yang tidak mudah dipengaruhi. Dia akan rela menghancurkan rencana kita dan tidak akan peduli pada harga diri Martell jika dia sakit hati. Tinggal sendiri dan membiarkan dia keluar, hanya akan menghancurkan kita."
'Kita? Apa jika kami ketahuan, aku akan terkena imbas kemarahan semua orang? Tentu saja, bagaimana mungkin aku akan baik-baik saja.' pikir Aera.
Aera terpaku sesaat, mengingat pembicaraan singkatnya dengan Luisa dan menyadari sesuatu.
"Tidak, dia tidak akan menghancurkan rencananya sendiri. Tapi, mungkin saja dia akan menempatkanmu dan aku dalam posisi yang sulit."
"Apa maksudmu?"
"Dia mengancamku menggunakan nenekku."
"Apa tindakan Audric?"
Aera menggeleng pelan.
"Aku... Belum tahu. Tapi, selama dia menjalankan isi kontraknya, aku yakin dia akan melindungi nenek. Dia sudah berjanji padaku, akan melakukan apapun untukku."
"Tunggu, Audric apa?"
Aera tersentak, karena pikirannya bercabang kemana-mana. Tampa sengaja dia mengatakan perkataan Audric sebelum mereka berpisah di depan pintu.
__ADS_1
"Huh? Oh... Itu... "
Aera tidak tahu harus menjelaskan bagaimana pada Adolf tentang pengakuan Audric. Dia juga tidak ingin perasaannya pada Audric diketahui orang lain. Meski tentu saja, Adolf bukan pria tidak peka yang tidak akan menyadarinya.
"Kamu sudah makan malam? Ayo makan diluar. Aku ingin makan diluar."
Adolf tidak suka saat Aera mengalihkan pembicaraan. Sangat jelas dia menyembunyikan sesuatu. Meski begitu, Adolf tidak memperpanjangnya. Dia akan berusaha mencari jawabannya sendiri nanti.
"Baiklah, ayo makan diluar."
.
Seperti rencananya kemarin, Aera kembali kuliah. Dia juga sudah menemukan tempat tinggal dengan harga sewa yang biasa saja. Tempatnya tidak terlalu luas dan cukup nyaman.
"Rasanya... Aku kembali menjadi diriku sendiri." gumamnya.
Dia baru saja menyelesaikan kelasnya hari itu ketika sore menjemput. Tempat pertemuan dengan semua dosen juga diubah oleh Audric. Pria itu menempatkan pertemuan disebelah gedung perusahaanya. Sehingga setiap pagi mereka akan berangkat bersama. Sungguh rencana yang cerdik, bahkan Adolf menjadi kesulitan mengatur waktu pertemuan dengan Aera.
Aera berjalan menuju dapur sederhananya, dia baru saja akan memasak makan malam ketika bel pintu rumahnya berbunyi.
"Ric? Kenapa kamu ada disini..."
"Boleh aku masuk?"
Aera memeriksa siapa lagi yang ikut dengannya, tapi tampaknya Audric datang sendirian. Tidak ada Harald yang selalu bersamanya kemanapun dia pergi.
"Kamu sungguh sudah selesai bekerja?"
Aera membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Audric masuk. Lalu menutup pintu dan mengikuti pria itu.
"Ruang tamuku hanya seperti ini. Jangan berharap aku akan menyambutmu dengan nyaman seperti di istanamu."
Audric tertawa kecil. Dia berbalik dan langsung memeluk Aera dengan erat.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku."
Aera menghembuskan napasnya. 'Dia seperti sudah mengalami hari yang berat.' kata Aera dalam hati.
"Kemarin kamu bilang ini hari pertemuan keluarga, bukan? Sekaligus membahas apa yang dilakukan pamanmu tiga hari yang lalu saat kita di Bayern?"
"Benar," sahut Audric, lalu melonggarkan pelukannya.
Audric mengusak wajahnya ke leher Aera yang tertutupi rambut. Membuat wajah Aera memerah. Audric yang menjadi manja akhir-akhir ini membuat jantungnya tidak baik-baik saja.
"Sa-sampai kapan kamu akan begini?"
"Aku merindukanmu."
"Kita bertemu tadi pagi. Ceritakan tentang hasil pertemuannya, apa aku masih perlu menjadi adikmu?" jawab Aera, wajahnya mulai datar.
"Dia melakukannya dengan baik, setidaknya paman menutup mulutnya, tapi dia terus memojokkanku seolah ingin membuat suara para tetua terpecah." Mereka telah duduk di sofa.
"Aku tidak mengerti."
"Singkatnya, Luisa berusaha menjatuhkan posisiku, tapi bukan untuk pamanku. Melainkan dirinya sendiri."
"Dia ingin posisimu?"
"Entahlah, tapi aku pikir bukan itu. Pembicaraan kami sebelumnya membuatku mengambil kesimpulan yang berbeda."
"Apa itu?"
"Dia ingin melindungi status darahnya. Lalu mengokohkan posisinya dibawahku. Menjadi matahari kecil lain yang memiliki kekuatan menggerakkan seluruh kekuasaan keluarga Martell tampa perlu izin dariku."
Dari semua penjelasan, Aera penasaran akan maksud status darah yang dikatakan Audric.
"Status darah..."
__ADS_1
Audric tampak menimbang sesuatu sebelum menjawab penasaran Aera.
"Aera, aku telah lama menyelidiki asal usulmu, tapi aku tidak menemukan apapun tentang orang tuamu. Luisa menutupinya dengan sangat rapat. Tampa meninggalkan jejak apapun."
Tiba-tiba Aera menjadi sangat takut mendengar perkataan Audric selanjutnya. Entah kenapa wajah Audric menyiratkan bahwa sesuatu yang akan ia katakan tidaklah baik untuknya.
"Lalu?"
"Kamu tahu kenapa kamu mirip dengan Luisa?"
Aera menggeleng, jantungnya mulai berpacu dengan kencang. Mata mereka saling menatap, seakan berusaha menarik satu sama lain untuk masuk kedalam ruang tersembunyi yang gelap.
"Luisa, ternyata hanya saudara tiriku."
Pernyataan itu membuat kedua bola mata Aera melebar, terkejut dan kawatir secara bersamaan.
"Ba-bagaimana bisa?"
"Hasil DNA, Kamu dan Luisa bersaudara."
Aera langsung berdiri tegak. Dia seakan tidak menerima kenyataan itu.
'Jika aku dan Luisa bersaudara, itu artinya... Aku dan Audric, tidak!'
"Tidak! Jadi kamu dan aku...!"
Audric bergeser dan meraih tangan Aera. Menariknya kembali duduk dan memegang kedua sisi wajahnya.
"Jangan berpikir terlalu jauh, Aera. Kamu dan aku tidak memiliki hubungan darah. Aku tidak akan ada disini dengan tenang jika kita ternyata bersaudara. Dan aku sangat bersyukur akan hal itu." Aera terdiam sejenak sebelum merespon lagi.
"Jadi... Jadi..." kelegaan menghampirinya meski dia masih sangat penasaran.
"Jadi, kemungkinan kalian memiliki ibu yang sama. Aku tidak punya petunjuk apapun. Saat itu aku masih kecil dan sibuk belajar. Aku hanya tahu ibuku hamil tapi aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Aku mencurigai sesuatu. Tapi semua pelayan yang bekerja saat itu tidak tahu apapun."
"Kamu sama sekali tidak punya petunjuk?"
Audric menarij tangannya, lalu berbaring dengan paha Aera sebagai bantal.
"Aku juga penasaran, tapi apapun yang terjadi pada masa lalu dan apa yang dilakukan orang tuaku. Faktanya adalah Luisa hanya saudara tiriku dan kamu saudara tiri Luisa. Sedikit membingungkan bukan?"
Audric menatap wajah Aera yang kini menunduk menatapnya. Lalu tersenyum dengan hangat. Membuat Aera menjadi jauh lebih tenang. Kekawatirannya perlahan mereda dan berganti kelegaan ketika melihat Audric.
.
Adolf berhenti diruang tamu rumahnya begitu dia melihat siapa yang duduk disana. Dia langsung menghampirinya. Dengan wajah tenang langsung duduk disana dan menatap tamunya dengan datar.
"Lama tidak berjumpa, kamu pasti senang bertemu istrimu yang asli, bukan?"
Luisa tersenyum tipis, mengejek ekspresi Adolf yang saat ini langsung menunjukkan kekesalan.
"Apa maumu?"
"Mauku? Kamu pasti bisa menebaknya, bukan?"
Adolf menatap tajam Luisa yang hanya tersenyum dengan sinis. Seolah segalanya berada dibawah kendalinya. Meremehkan Adolf yang saat ini terjebak dalam permainannya.
Tapi, itu adalah pemikirannya sendiri bukan?
Adolf ikut menarik senyum tipis, membuat Luisa sedikit tersentak. Menyadari bahwa Adolf tampaknya memiliki rencana matang untuk mendorongnya.
"Luisa, wanita cerdas yang pernah aku kagumi. Jangan lupa ibuku juga dari darah Martell. Dalam diriku ada darah Martell. Apa kamu pikir aku hanya pionmu juga? Kalau kamu memiliki keyakinan itu, aku menyesal mengatakan ini." Adolf bangkit berdiri, lalu mengeluarkan selembar foto dan melemparnya keatas meja. "Statusmu tidak sebagus itu untuk menggunakanku dalam rencanamu."
Luisa mengambil foto itu dan ikut berdiri. Mentap Adolf tajam dengan tangan meremas foto itu hingga menjadi gumpalan dan membuangnya kelantai.
"Aku pikir ini akan menjadi menarik. Aku akan kembali lain kali."
Luisa pergi setelah mengatakan hal itu. Meninggalkan Adolf yang menatap foto yang kini berada di unjung kakinya. Dia membungkuk dan mengambil foto itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar. Mengabaikan pelayannya yang tampak cemas.
__ADS_1