
Aera menatap Audric yang terlihat sangat marah. Namun karena dia diam saja, Aera tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah kekawatiran bahwa Audric sudah tahu bahwa Adolf tahu rahasia mereka.
Sesampainya dirumah tadi malam, Audric tidak menyapanya sama sekali. Dia langsung masuk kedalam rumah dan pergi ke kamarnya.
Pagi ini, Audric juga sarapan dalam keadaan marah. Wajahnya sangat dingin dan dia tidak bicara sama sekali. Aera jadi bingung apa yang harus ia lakukan. Belum lagi kekawatirannya tentang perjanjian dengan Adolf itu.
"Tuan, Nona. Tuan Adolf ada di ruang tamu saat ini."
Audric berhenti mengunyah, dia langsung menatap Aera yang juga terkejut.
"Sapa tunanganmu, aku akan berangkat sekarang."
Aera menatap piring Audric yang baru berkurang sedikit. Aera juga menghentikan sarapannya yang tinggal setengah lalu menyusul Audric dengan cepat. Namun karena langkah pria itu yang cepat dan panjang, dia baru bisa menyusul ketika mereka melewati ruang tamu.
"Lui, kamu akan keluar?"
Audric ikut berhenti, menyambut Adolf seadanya sebelum melanjutkan langkahnya.
"Sepertinya kakakmu buru-buru. Pasti banyak pekerjaan menunggunya."
Adolf menghampiri Aera yang masih menatap keluar pintu yang masih terbuka lebar. Dia baru menoleh ketika Adolf berdiri disisinya.
"Kenapa kamu datang pagi-pagi sekali?" tanya Aera.
"Karena aku ingin mengajakmu jalan-jalan seharian ini."
"Apa? Tapi..."
Aera menoleh pada Gustav yang berdiri tidak jauh dari mereka. Gustav menggelengkan kepalanya pelan. Tanda agar dia tidak menolak ajakan Adolf.
"Saya akan mempersiapkan barang bawaan Anda, Nona."
"Tidak perlu, Gustav. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Ini masih musim dingin, ayo lakukan sesuatu yang menyenangkan." ujarnya dengan ceria.
"Aku akan ganti baju sebentar."
Aera kembali masuk ke dalam. Dia baru ingat bahwa dia belum memakai lensa kontak. Dia benar-benar takut kalau Gustav menyadari bahwa Adolf tidak mempertanyakan hal itu.
Beruntung pagi itu Gustav tidak menyadari keanehan itu. Dia sepertinya mengira bahwa sebelum sarapan Aera telah memakainya.
.
Aera melihat dua mobil yang ternyata datang bersama Adolf pagi ini. Satu mobil untuk mereka dan yang lain mobil berisi barang-barang.
"Kamu pasti bingung kenapa aku menyiapkan banyak hal seperti ini." kata Adolf ketika Aera masih menatap mobil di belakang mereka sebelum masuk. "Masuklah, kita akan pergi memancing dan membakar tangkapan hari ini."
'Memancing? Apa sih yang ada dipikiran orang ini?' tanya Aera dalam hati.
Alih-alih menyuarakan isi hatinya, dia hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Audric yang baru saja turun dari mobilnya, mendapat pesan berupa laporan dari Gustav. Dia merasa hatinya akan meledak sebentar lagi karena kesal.
'Kenapa Adolf menjadi lebih agresif? Dulu dia sangat tenang dan menjaga jarak dari adikku.'
Audric menghentikan langkahnya ketika berada diambang pintu lobi, membuat semua karyawan dibelakangnya ikut berhenti dan menatap punggungnya dengan bingung.
'Tidak mungkin kan dia benar-benar jatuh cinta pada adikku? Tidak, sebelumnya dia tidak terlihat seperti itu. Apa karena ini Aera? Dia menyukai Aera? Tapi yang dia tahu Aera adalah Lui.'
"Mr.Ric?"
Audric melirik sekretaris pribadinya yang muncul tiba-tiba. Ketika dia menyadari telah menutup akses jalan, dia melanjutkan langkahnya.
"Apa yang Anda pikirkan sehingga terlihat aneh pagi ini, Sir?" tanya sekretarisnya yang bernama Harald itu.
"Bukan apa-apa. Bagaimana pergerakan mereka?"
Audric mengenyampingkan pikirannya tentang Aera dan Adolf. Dia mulai fokus pada masalah beberapa perusahaannya. Mengabaikan fakta bahwa hatinya yang terganggu sejak malam pesta itu. Meski dia sadar dia marah, tapi dia selalu menolak fakta bahwa kemarahannya karena hatinya yang tidak menerima Aera dekat dengan Adolf. Tunangan adiknya yang asli. Dia mulai denial tentang hal itu dan menghubungkannya dengan menganggap Aera seperti Luisa.
.
"Jadi, nama aslimu Aera dan kamu berasal dari Indonesia?"
__ADS_1
Aera mengangguk, mereka masih di dalam mobil menuju tempat memancing yang sudah ditetapkan oleh Adolf.
"Tapi kamu terlihat bukan orang Asia."
Aera merapatkan syalnya sebelum menatap sarung tangannya yang sangat cerah pagi ini.
"Yah, sejujurnya saya juga tidak tahu siapa orang tua kandung saya."
"Aera?"
"Huh?"
Aera menoleh, bingung karena namanya disebut dengan nada seperti menyatakan protes.
"Jangan formal padaku," pinta Adolf.
"Oh, maaf."
"Jadi, siapa yang membesarkanmu?"
Adolf melanjutkan pembicaraan mereka lagi. Menatap wajah Aera yang kini memucat karena udara dingin.
"Saya ditemukan di depan rumah pasangan tua yang tidak memiliki anak ketika saya masih bayi. Saya dibesarkan oleh mereka. Ketika berumur dua tahun, kakek meninggal. Nenek menjadi satu-satunya wali saya sejak saat itu."
Adolf menatapnya dengan lembut ketika mendengarkan cerita itu. Lalu meraih tangan Aera dan menggenggamnya erat.
"Kamu punya aku sekarang, kita akan menikah dan kamu akan menjadi istriku."
Adolf terlihat sangat serius. Aera mengernyit dengan bingung. Bukankah dia tahu bahwa Aera adalah Luisa palsu?
"Tapi... Luisa yang asli belum ditemukan. Bukankah kamu hanya akan menikah dengan Luisa."
"Entahlah, pernikahan ini bertujuan untuk menyatukan dua keluarga jauh untuk memperkuat ikatan keluarga besar. Dua keluarga yang diharapkan akan memperkuat pengaruh politik dan ekonomi dalam dan luar negeri. Aku dan Luisa hanya alat bagi keserakahan kita bersama. Aku pernah tertarik padanya, tapi sejak bertemu denganmu, aku pikir aku harus mengubah rencanaku."
Aera sungguh tidak mengerti. Tapi dia bisa menangkap bahwa situasi saat ini tidak baik untuk dirinya.
"Keluarga jauh... Maksudmu... Kalian masih berkerabat?"
"Ini tradisi yang biasa dilakukan kalangan atas dinegara ini. Menjaga garis keturunan agar tidak melebar. Karena itu, aku dan banyak dari kami tidak bisa memilih pasangan sesuka hati. Termasuk Audric yang menjadi kepala keluarga Martell saat ini."
"Kamu hobi memancing?" tanya Aera.
"Ya, ini adalah caraku untuk lari dari segala aktifitas melelahkan dari kotornya dunia politik."
Aera mengambil alat pancing dari Adolf yang sudah dipasangi umpan. Aera memasukkan mata pancing beserta umpan itu kedalam air danau yang lapisan es-nya sudah dipecahkan.
"Kamu pernah memancing?"
"Ya, saat kecil cukup sering. Ketika mulai dewasa aku jarang melakukannya."
"Kalau begitu kamu tahu caranya memancing. Itu bagus, kita akan sering memancing bersama setelah menikah."
Aera diam sesaat sebelum menjawab. Dia tidak mengerti kenapa Adolf mengambil keputusan mengikuti permainan Audric ketika tahu dia ditipu. Apalagi kata menikah terus saja keluar dari mulutnya, membuat Aera tidak nyaman. Dia tidak mau menikah, kontraknya dengan Audric tidak sampai menikah.
'Tapi, bukankah ceritanya berbeda sekarang?' pikirnya.
"Bisakah aku bertanya padamu?"
"Tentu saja, tanyakan apapun."
"Kenapa kamu tetap melanjutkan sandiwara ini sementara kamu tahu aku bukan Luisa. Bukankah akan berdampak pada keluargamu juga jika semua orang tahu?"
Adolf menyeringai kecil.
"Aku tidak dirugikan apapun. Dukungan Martell adalah yang utama. Sederhananya, kami berdua adalah ujung tombak sebuah kesepakatan. Luisa hanyalah alat, seperti sebuah simbol. Meski tidak terlihat penting, tapi cukup penting untuk sebuah penobatan."
Aera tidak begitu memahaminya. Sungguh, penjelasan Adolf malah membuatnya semakin tidak mengerti alasan dia diam saja setelah tahu apa yang dilakukan Audric.
"Kamu tidak mengerti?" tanya Adolf.
Aera menggeleng pelan. "Hmm, sama sekali tidak mengerti." jawabnya.
__ADS_1
Adolf tertawa, melihat wajah pucat Aera yang kebingungan terlihat lucu dimatanya.
"Aera, kamu benar-benar unik. Aku akan memberi tahu alasan sebenarnya. Tapi beritahu aku dulu mengapa kamu menerima tawaran Ric, kamu tahu bahwa kamu memilih keputusan yang sangat beresiko. Aku bisa saja marah dan memutuskan membunuhmu saat itu sebagai akibat ikut menipuku."
"Me-membunuh?"
Aera spontan berdiri, menatap Adolf dengan mata penuh ketakutan.
"Duduklah kembali, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu."
Tapi Aera tidak percaya begitu saja. Dia dengan polosnya malah tidak sengaja membuat pandangan mata anak rusa yang minta dikasihani. Dia takut, dia sadar bukan hanya Audric yang harus ia waspadai, tapi pria dihadapannya ini juga.
Adolf yang tidak tahan melihat wajah Aera yang ketakutan itu menahan senyumnya. Meski terlihat lucu, tapi dia tahu Aera takut. Terlihat air mata sudah mengenang dipelupuk matanya. Dia meletakkan pancingnya dan bangkit berdiri.
"Jangan kawatir, aku berjanji tidak akan menyakitimu. Tenang saja, asal beritahu aku alasan kamu melakukan ini." bujuknya.
Adolf menggunakan syalnya untuk menghapus air mata Aera yang belum sempat jatuh. Jarak umur mereka yang cukup jauh, membuat dia memperlakukan Aera seperti anak kecil. Adolf seumuran dengan Audric, mereka berumur 32 tahun sekarang.
"Ya ampun, apa aku menakutimu? Maafkan aku." ujarnya lagi. Kali ini benar-benar dengan nada menyesal.
Aera belum dewasa sepenuhnya. Keputusannya menerima tawaran Audric adalah keputusan gila yang ia ambil karena neneknya. Sifatnya kekanakannya masih sering mempengaruhinya. Bahkan jika Audric tidak membujuknya dengan kontrak, Aera tidak yakin apakah dia akan dilepaskan dari rumah itu dan menemui neneknya. Lalu sekarang, dia bahkan tidak bisa menahan air matanya ketika merasa takut. Dia bisa saja dibunuh ditempat itu dan tidak akan ada yang mencarinya dinegara itu.
"Aku... Aku takut pada kalian. Kenapa semua orang disini menakutkan! Huaaaa!"
Aera melempar pancingnya dan berjongkok. Dia menangis ketika merasakan kakinya jadi gemetaran.
Adolf yang terkejut ikut berjongkok. Dia berusaha menenangkan Aera yang malah semakin menangis. Menatap keempat pria lain disana dengan kebingungan.
"Aera, ayo masuk ke tenda dulu oke. Ayo bicara baik-baik. Aku tidak akan melakukan apapun! Sungguh!" katanya dengan nada yang sangat meyakinkan.
"Sungguh? Kamu tidak akan menyakitiku?"
"Aku janji! Lihat, aku tidak membawa senjata apapun kesini."
Aera berhenti menangis, dia menoleh ke kanan, dimana para karyawan Adolf berdiri dengan kayu bakar, alat pancing, alat masak dan sebuah penjepit daging ditangan masing-masing.
Menyadari kebodohannya yang telah berpikir berlebihan, Aera segera berdiri. Dia kembali duduk di kursi dan mulai memancing lagi. Adolf yang semakin bingung hanya mengikutinya, melanjutkan kembali memancing. Namun, diam-diam dia tertawa karena merasa sangat konyol dengan keadaan mereka saat ini.
"Oh! Umpanku dimakan!" teriak Aera dengan girang.
Karena terlihat kesusahan, Adolf membantunya dari belakang hinga keduanya terpeleset bersama begitu ikannya berhasil ditarik.
"Wah... Ikannya besar!"
Aera yang tidak sadar menduduki perut Adolf berdiri begitu saja dan memeriksa ikan yang sedang dilepaskan oleh salah satu karyawan Adolf. Sementara itu, Adolf meringis karena terhempas ke atas permukaan ketika melindungi Aera. Sementara gadis itu malah mengabaikannya dan lebih peduli pada ikan.
"Benar-benar gadis yang unik." gumamnya sembari bangkit.
"Adolf, lihat!"
Aera mengangkat ikan itu di depan wajahnya. Ikan yang cukup besar, membuat wajahnya tertutupi sepenuhnya. Aera bahkan terlihat keberatan letika mengangkatnya.
"Aku akan memberimu hadiah nanti karena berhasil dapat ikan lebih dulu dariku. Sekarang ayo lanjutkan." ajak Adolf.
"Oke! Aku akan mengalahkanmu lagi."
Percakapan mereka menjadi jauh lebih santai. Adolf tidak lagi membahas masalah serius diantara mereka. Sepertinya dia harus hati-hati agar Aera tidak menangis lagi. Adolf cukup kesulitan mengatasinya, dia juga tidak suka melihat Aera ketakutan seperti itu.
Ketika hari telah siang, mereka makan bersama setelah mendapatkan tangkapan begitu banyak. Saat ini, Aera tertidur di dalam tenda. Adolf masih diluar menikmati minum wiski bersama empat orang-orangnya. Sampai ponselnya berbunyi, wajahnya lebih serius menatap nama si penelepon.
"Ya, Harry?"
"Nama Aera yang kamu katakan memang terdaftar disini. Sebagai mahasiswa pindahan dan dia mendapat perlakuan khusus atas perintah keluarga Martell. Tapi universitas menutupi ini dengan baik. Hanya orang dalam dan segelintir pengajar yang mengetahui hal ini."
"Pastikan tidak ada yang mencurigaimu, jika Audric tahu pihakku mencari informasi tentang Aera. Gadis ini akan berada dalam bahaya. Audric bisa saja melenyapkannya."
"Aku mengerti, tapi... Kenapa kamu menghawatirkan gadis itu? Bukankah wanita yang kamu sukai itu Luisa?"
"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Cukup sampai disitu. Kamu tidak perlu menyelidikinya lagi. Aku akan mendapatkan informasinya langsung dari gadis ini." tutup Adolf.
Dia menoleh pada tenda yang masih tertutup. Lalu memeriksa jam tangannya.
__ADS_1
"Cari hotel disekitar sini." perintahnya pada salah satu dari orangnya.
'Aku tidak ingin mengantarnya pulang begitu saja. Aku perlu memastikan sesuatu.'