BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Siasat cerdik Harald


__ADS_3

Aera melebarkan bola matanya, mereka memang sempat bicara sebelum keberangkatan Aera saat itu. Tapi tidak menyangka bahwa pria ini akan menghampiri langsung ke depan pintunya.


Seorang pria yang wajahnya muncul setiap hari di layar kaca dan memenuhi surat kabar online maupun cetak setelah kemenangannya. Berdiri didepannya dengan senyum lebar yang sangat cerah.


"Bagaimana kamu bisa ada disini?"


"Bagaimana kabarmu?"


Adolf, pria yang datang itu malah bertanya balik. Aera menghela napas, dia memeriksa jam tangannya.


"Aku harus segera pergi."


"Apa aku datang diwaktu yang salah? Bagaimana kalau aku menawarkan tumpangan?"


Aera tidak bisa menolaknya. Meskipun dia lebih suka naik sepeda sambil olahraga. Tapi pria dihadapannya ini bukan orang yang mudah ia abaikan begitu saja.


"Kamu bekerja disini?" Adolf memperhatikan restoran sekilas dari dalam mobil.


"Ya, melihat penjagaanmu yang semakin ketat dan kamu sangat mencolok, aku harap kamu tidak ikut turun."


Adolf tersenyum, lalu mengusap puncak kepala Aera dengan lembut.


"Aku mengerti, aku tidak akan menyusahkanmu."


"Kalau begitu terima kasih atas tumpanganmu."


"Ah, bisakah kita bicara nanti?"


Sebenarnya ada banyak hal juga yang ingin Aera tanyakan, karena itu dia mengangguk tampa ragu sebelum benar-benar turun.


Ketika Aera masuk, dia langsung menoleh kiri dan kanan. Takut pelanggan yang mengaku orang yang membuangnya datang lagi.


"Apa yang kamu lakukan? Segera ganti baju dan_"


"Aera!"


Perkataan manager terpotong oleh kedatangan Igor yang tiba-tiba muncul. Dia baru saja datang dan belum ganti baju.


"Chef!" sapa mereka bersama.


"Rebeca, tolong atur bagian pelayanan selama Aera aku bawa." perintah Igor.


"Maaf? Anda ingin membawa anak ini kemana, Chef? Kita akan kekurangan orang."


"Hanya satu jam. Ayo Aera!"


Igor langsung mengajak Aera menuju pintu belakang dan keluar dari gedung restoran. Igor berjalan sedikit ke kanan dan masuk ke dalam sebuah toko buku.


"Kita akan belajar, Chef?" bingung Aera.


"Tidak, aku ingin membeli buku untukmu."


Aera hanya bisa tercengang. Meski bingung, dia memilih tidak banyak bertanya. Dia berpikir mungkin saja itu adalah metode belajar yang dilakukan Igor dulu.


"Nah, bacalah buku ini saat senggang. Aku akan bertanya tentang isi bukunya nanti. Sekarang, ayo jalan-jalan."


Jadi, apa yang dilakukan Igor adalah mengetes pengetahuan Aera tentang benda atau apapun yang mereka temui dalam bahasa spanyol. Selama satu jam mereka terus berkeliling disekitar restoran.


Sesekali mereka akan berhenti untuk mengamati tingkah laku orang dan Aera akan menjelaskan apa yang mereka lakukan dalam bahasa spanyol. Aera merasa tidak sedang belajar, ini sangat menyenangkan baginya.


"Wah, Chef! Satu jam terasa sangat singkat. Anda pengajar yang luar biasa. Saya menjadi lebih cepat belajar."

__ADS_1


"Sebenarnya metode apapun akan bisa kamu pakai karena kamu punya daya ingat yang kuat. Kamu bahkan sudah menhapal banyak kata hanya dalam semalam. Kamu sangat pintar."


Semua karyawan menoleh pada mereka ketika mereka masuk. Apalagi mendengar bos mereka yang jadi banyak bicara dan berwajah cerah.


"Ganti bajumu dan kembalilah bekerja."


"Terima kasih, Chef."


.


Siangnya, ketika tiba jadwal makan siang, orang yang kemarin terus datang kini kembali lagi. Dia tidak memesan apapun, tapi langsung meminta waktu pada manager untuk bisa berbicara dengan Aera.


"Pergilah, lagipula sepuluh menit lagi waktunya jadwalmu pulang."


Aera memilih membawa pria itu ke lantai dua restoran. Dimana suasana lebih sepi dan sedikit pengungjung. Lantai dua biasanya memang diperuntukkan untuk tamu yang ingin ketenangan. Karena ada aturan untuk bisa makan disana.


"Kenapa Anda mencari saya?" tanya Aera langsung. Wajahnya menyiratkan kegelisahan dan ketidak sukaan secara bersama.


"Charlotte darwin adalah nama lahirmu." kata pria itu tiba-tiba.


Aera meneguk ludahnya dengan susah payah. Ketika nama yang baru pertama kali ia dengar itu keluar dari mulut pria di depannya, hatinya tiba-tiba merasa sangat berat.


"Itu adalah nama yang diberikan... Padamu sebelum aku membawamu ke Bali setelah ibumu memilih pergi."


Aera tidak tahu kenapa dia terlihat sedikit ragu pada pertengahan kalimatnya. Seakan sedang memilih kalimat yang tepat dan sangat berhati-hati.


"Saat kebimbangan dan rasa kecewa menyelimutiku saat itu... Aku menaruhmu di depan pintu sebuah rumah. Tapi... Ketika kesadaran mengahantamku keesokan harinya, penghuni rumah itu telah pergi. Aku mencarimu nyaris sepanjang hidupku. Tapi aku tidak menemukan petunjuk apapun."


Aera tidak mengerti, kenapa cerita neneknya berbeda dengan pria ini. Tapi melihat matanya, Aera yakin bahwa orang ini tidak berbohong.


"Lalu mengapa Anda yakin saya adalah anak itu?"


'Mataku bewarna biru, orang ini berwarna coklat, jika ibuku tidak biru. Apa aku mengikuti mata nenek atau kakekku?'


"Dimana kamu tinggal? Maukah kamu pindah kerumahku?"


"Tidak jauh dari sini, tapi saya akan menolak permintaan Anda. Saya punya nenek yang harus saya jaga."


"Ah, maafkan aku. Tiba-tiba mengajakmu pindah tiba-tiba. Aku hanya merasa sangat bersalah padamu dan ingin menebusnya."


"Setelah mendengar cerita Anda, saya merasa sedikit lega karena saya tidak benar-benar dibuang."


Meski bicara begitu, tapi nada sarkas Aera begitu jelas. Sehingga pria itu menunduk dengan senyum penuh kesedihan.


"Maafkan aku. Aku tahu begitu berdosa padamu. Aku sungguh minta maaf."


"Tidak apa-apa, saya tumbuh dengan baik. Jika tidak ada lagi, bolehkan saya pergi?"


"Ya, tentu saja."


"Kalau begitu saya..."


"Bisakah kamu menyebutkan nama yang kamu pakai sekarang?"


"Saya pikir Anda sudah tahu."


"Maaf, aku hanya ingin mendengar langsung darimu."


'Kenapa sikapnya sangat aneh? Dia terlihat seperti orang yang takut dihukum dari pada seorang ayah yang takut dibenci anaknya.'


"Aera," jawab Aera singkat.

__ADS_1


"Kamu bisa memanggilku Casian Lupin."


'Nama keluarganya Lupin?'


Kening Aera mengernyit, namun karena ia tidak ingin terlibat dengan pria ini lagi, dia hanya mengabaikannya dan pergi dari sana.


Aera sudah memutuskan malam kemarin, bahwa dia tidak ingin terlibat dengan keluarga aslinya. Baginya keluarganya hanya sang nenek. Dia tidak ingin terlibat dengan orang yang membuangnya.


.


Audric meletakkan penanya diatas meja dan memijit kepalanya pelan. Sejak selesainya pemilihan dengan segala kendala yang berhasil diatasi, dia tetap memiliki segudang pekerjaan yang tak habis-habis.


Kepergian Aera menimbulkan efek besar padanya. Dia menjadi mudah kehilangan kosentrasi dan sering terjebak dalam pikirannya sendiri.


"Sir, pembicaraan tentang penerus keluarga kembali dibicarakan. Terutama dari paman anda. Tampaknya, dia ingin anda lebih terikat dengan pihak kerajaan Inggris."


"Hah, jadi dia ingin menggunakan aku setelah menyerangku?"


"Saya rasa begitu, beberapa usaha yang menjadi aset pribadi mereka mengalami kerugian besar. Saya rasa mereka terlalu banyak mengalokasikan pada penyuapan dalam usaha menjatuhkan Anda."


"Tentu saja, aku juga ikut andil dalam kebangkrutannya. Tua bangka yang serakah, dia bodoh tapi licik."


"Apa yang akan Anda lakukan?"


"Aku harus bertemu Rubelia. Pihak ratu begitu memperhatikannya karena jasanya dimasa lalu. Dia akan menggunakan pernikahan cucu ratu sebagai jalan cepat untuk meraih banyak investor. Tampaknya dia ingin memulihkan keuangan pribadi dengan cara itu."


Harald tahu bagaimanapun caranya, Audric tidak akan mau menikah dengan Rubelia. Mungkin jika pernikahan dibicarakan sebelum pertemuan dengan Aera, itu akan menjadi berbeda. Selama ini Audric tidak peduli dengan cinta. Pernikahan bisnis tidak masalah baginya. Dia hanya akan menjadikan hal itu sekedar status diatas kertas.


Masalahnya, saat ini atasannya itu sudah sangat berbeda. Mungkin dia akan bersikap sama pada wanita lain, tapi tidak untuk Aera.


"Lalu, bagaimana dengan Nona Aera?"


Audric tidak langsung menjawab. Dia malah mendesah dan semakin terlihat tidak baik.


"Kamu bilang dia bekerja direstoran?"


"Ya, Sir! Tuan Kanselir yang baru juga terlihat berdiri di depan pintu rumahnya pagi ini."


"Apa?"


Audric menggertakkan giginya tampa sadar. Urat-urat ditangan dan wajahnya yang menonjol menandakan betapa marahnya ia.


"Bagaimana bajingan itu bisa..."


Brak!


Kursi terhempas ke dinding dibelakangnya ketika dia berdiri.


"Siapakan penerbangan sekarang." perintahnya dingin.


"Sir, bagaimana dengan pembahasan pernikahan oleh para tetua yang..."


"Kamu tidak mendengarku?"


"Baik, saya akan langsung siapkan."


Harald segera keluar dari sana. Dia tersenyum tipis setelah berada di luar ruangan Audric.


"Dia butuh melemaskan uratnya, hubungannya harus lancar kalau mau pekerjaanku jadi ringan." gumam Harald sambil mencari kontak di ponselnya.


.

__ADS_1


__ADS_2