
Ketika sinar matahari memasuki kamar itu melalui celah tirai jendela yang tersingkap. Dua manusia yang masih bergelung dalam selimut masih menutup mata mereka. Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Gustav biasanya menghampiri kamar Aera untuk membangunkannya.
Seperti biasa pula, dia akan langsung masuk setelah tidak ada sahutan dari dalam. Karena itu pertanda, Aera masih tidur. Namun kali ini, ketika dia masuk dan berdiri di sisi ranjang, Gustav perlahan berbalik dan keluar dalam keheningan.
mendengar pintu tertutup, Audric membuka matanya. Lalu ketika kesadaran menghampirinya, mata Aera juga terbuka.
Aera tidak tahu apa yang terjadi setelah dia tertidur dimobil. Dia hanya merasakan sesuatu yang berat menimpa pinggangnya dan kepalanya tidak berada diatas bantal. Kepalanya berada diatas sebuah lengan yang keras karena ototnya. Ketika dia mendongak, dia langsung bertemu dengan tatapan mata Audric.
Tatapan itu seperti biasanya, dalam dan tak tertembus. Seolah memasuki hutan kelam yang lebat, Aera kesulitan menemukan jalan kembali. Pupil hijau itu seolah menariknya kedalam dan mengikatnya dengan sulur tak terlihat.
"Apa tidurmu nyenyak?"
"Huh? Nyenyak..."
"Kalau begitu mandilah, aku akan kembali kekamarku."
Audric menarik tangannya dan duduk ketika mengatakan kalimat itu. Seolah menariknya dari pikirannya yang jauh, Aera terkesiap begitu Audric menurunkan kakinya kelantai.
Aera buru-buru duduk dan menatap tubuh tegap itu dengan heran. Audric sedang mengambil jas dan sedikit memijit lengannya yang tadi dijadikan bantal oleh Aera.
"Kenapa kamu bisa ada diatas kasurku?"
Pertanyaan itu membuat Audric berbalik, lalu kembali duduk di hadapannya.
"Apa kamu punya mimpi buruk akhir-akhir ini?" tanyanya.
"Tidak terlalu, hanya... Kadang-kadang tapi tidak sering."
"Kenapa tidak bilang padaku?"
"Karena itu tidak menggangguku. Tapi... Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa ada disini? Kamu tidur disini!"
"Wajahmu membuatku terlihat buruk. Aku tidak melakukan apa-apa kecuali memelukmu. Kamu gelisah... Aku jadi ketiduran juga."
Wajah Aera terasa memanas. Jantungnya berdetak dengan kencang. Bukan hanya karena jawaban Audric, tapi senyum dan tatapan matanya yang lembut saat ini membuatnya jadi salah tingkah sendiri.
"Aku akan mandi."
Aera cepat-cepat turun dari kasur dan berlari kecil ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Audric yang hanya melihatnya dengan heran.
Aera memegang kedua pipinya, lalu menepuk-nepuknya dengan brutal.
"Tidak! Tidak! Tidak boleh! Kamu tidak boleh menyukainya. Tidak boleh berdebar karena dia. Ingar Aera, kalian hanya kakak adik palsu karena kontrak!" katanya pada diri sendiri.
Dia segera membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Wajahnya masih terasa panas. Dia bahkan melihat wajahnya yang kini seperti kepiting rebus.
"Huuuhh! Bagaimana ini!"
Aera cepat-cepat kumur-kumur lalu menyalakan shower. Dia menyiram tubuhnya dan mulai mandi. Berusaha memikirkan hal lain selain Audric.
.
Berbeda dengan Aera yang heboh sendiri. Audric terlihat sangat tenang. Dia mandi dan bersiap seperti biasanya. Ketika memilih pakaian, barulah ia ingat tentang pakaian baru yang Aera pilihkan.
Aera duduk di kursi biasa untuk sarapan. Audric belum turun dari kamarnya. Sebisa mungkin Aera mengendalikan ekspresinya dengan bermain ponsel. Hari ini dia berniat pergi ke perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas. Dia ingin diberi izin untuk pergi sendiri tampa Gustav. Selain itu, Aera juga ingin membicarakan masalah kartu yang diberikan padanya.
"Gustav? Apakah aku mungkin bisa pergi sendiri kali ini?"
Gustav yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya, sepertinya tidak mendengar Aera. Karena itu, Aera menoleh padanya.
"Gustav?"
"Oh, maaf Nona. Apa ada yang Anda butuhkan?"
"Kenapa denganmu?"
"Tidak ada, saya hanya memikirkan tentang hal biasa. Maafkan saya tidak memperhatikan Nona."
"Syukurlah kalau tidak apa-apa. Aku ingin bertanya..."
Pintu ruang makan terbuka, Aera mengurungkan niatnya mengulang pertanyaan ketika Audric masuk dan duduk ditempatnya biasa. Mereka dipisahkan oleh dua kursi, dimana Audric duduk di ujung meja.
__ADS_1
Aera melihat warna baru pagi ini. Audric memakai pakaian barunya. Setelan yang pertama kali mereka coba. Melihat hal itu, seperti ada uforia tersendiri didalam hatinya. Melihat pilihannya digunakan, Aera merasa dihargai.
"Itu terlihat bagus untukmu."
"Anda terlihat sangat baik pagi ini, Tuan." sambung Gustav.
"Terima kasih."
Setelah selesai makan Aera langsung berpindah posisi duduk. Berada tepat disamping Audric yang sudah akan berdiri.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Hm... Ya, Itu... Bolehkan aku pergi ke perpustakaan sendirian? Ada tugas dari profesor yang harus aku selesaikan."
Aera berharap-harap cemas ketika Audric melempar tatapan tajamnya pada Gustav.
"Ini ideku!"
"Aku tahu, yang ingin aku tahu adalah... Kenapa kamu bisa mengatakan ide itu langsung padaku?"
"Maaf?"
Aera tidak mengerti, kenapa Audric tiba-tiba menjadi dingin dan sedikit kasar. Apa dia salah bicara?
"Tentu saja jawabannya tidak, Aera." Audric mengulurkan tangannya untuk membelai sisi kanan wajahnya. "Aku akan menambah satu pengawal selain supir untukmu. Gustav!" Audric berdiri dan menarik tangannya.
"Ya, Tuan!"
"Tetap dampingi Aera kemanapun dia pergi, bahkan jika bersama Adolf sekalipun."
Audric meninggalkan ruang makan begitu saja. Membuat Aera yang masih duduk disana dilanda syok luar biasa. Lagi-lagi, kesan seperti tertampar secara tidak langsung ia rasakan. Bahkan terasa jauh lebih keras dari sebelumnya.
"Nona? Anda baik-baik saja?" tanya Gustav kawatir.
Aera masih duduk ditempatnya. Diam menatap jemarinya.
'Sebenarnya, apa yang aku harapkan? Lagi-lagi aku terbuai dan lupa siapa aku disini.' lirihnya dalam hati.
"Aku akan bersiap untuk keperpustakaan. Mohon kerja samanya dan maaf merepotkanmu."
Ketika keluar, Gustav seorang supir dan seorang pria tinggi besar berpakaian rapi menunggunya. Aera menghembuskan napas, lalu masuk kedalam mobil.
Sesampainya diperpustakaan, dia tidak langsung turun. Bagaimana mungkin Aera masuk dengan tiga pria dewasa disekelilingnya. Satu berpakaian formal kepala pelayan, dua lagi pakaian formal seperti karyawan. Ini sama sekali tidak normal dimatanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" kesalnya pada diri sendiri.
Dia menoleh dan membuat sajah memohon pada Gustav.
"Bisakah kalian tunggu diruang tunggu? Di kafe atau dimanapun asal tidak di dekatku?" pintanya.
"Bisakah kami bicara berdua sebentar?" ujar Gustav pada kedua pria yang duduk di kursi depan. Setelah keduanya keluar, barulah Gustav bicara pada Aera. "Ini perintah Tuan, Nona. Saya tidak bisa membantah beliau."
"Dia tahu nasibku ada ditangannya tapi masih mencurigaiku? Dia sungguh menyebalkan!"
"Bagaimana kalau saya saja yang mendampingi Nona, mereka mengawasi dari jauh?"
Aera tidak punya pilihan, tawaran Gustav terdengar lebih masuk akal dari pada berdampingan dengan mereka bertiga.
Setelah kesepakatan bersama dibuat, Aera akhirnya masuk ke dalam. Melewati berbagai mahasiswa dan anak sekolah yang berlalu lalang, sesekali paras cantiknya akan menarik perhatian. Namun ketika melihat Gustav yang terus mendampinginya, mereka tidak berani mendekat.
Setumpuk buku di depannya tidak membuat Aera bosan. Bahkan tugas itu terasa menyenangkan baginya yang menyukai belajar. Dengan wajah antusias, Aera menyelesaikannya dengan lancar.
"Anda ingin kopi tambahan, Nona?"
"Tidak, terima kasih. Aku ingin buang air kecil."
Ketika Aera bangkit, Gustav ikut bangkit. Membuat Aera melihatnya dengan wajah penuh protes.
"Tidak untuk kamar mandi, yang benar saja."
"Saya hanya akan mengantar sampai depan pintu."
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, Aera memutar bola matanya. Sungguh dia seperti sebuah tahanan. Kenapa Gustav sangat ketat padanya. Padahal Aera benar-benar ingin bebas sebentar saja, dia ingin menikmati kesana kemari sendirian seperti remaja lainnya.
Ketika masuk, ada dua gadis lain di dalam yang sedang mencuci tangan mereka. Seorang lagi sedang memperbaiki make up diwajahnya.
"Oh, Kamu gadis yang tadi selalu diikuti oleh pria tua itu, kan? Siapa dia? Ayahmu? Pelayan?" gadis beranbut ikal itu memperhatikan penampilan Aera dari atas sampai bawah. "Semua yang kamu pakai barang mahal, dia pasti pelayanmu. Apa orang tuamu sedang menghukummu?"
"Stella, jangan buat kekacauan, ayo pergi," Ujar teman satunya lagi yang berkacamata.
"Kamu kuliah dimana?"
Gadis bernama Stella itu tidak memperdulikan peringatan temannya. Gadis berkaca mata itu terlihat kawatir berurusan dengan Aera.
"Kenapa kamu diam saja? Bisu?"
Aera menghembuskan napasnya. Sejak tadi dia hanya mendengarkan tampa menjawab Stella ini. Bukannya tidak bisa, dia tidak ingin mencari keributan.
"Aku tidak punya kewajiban menjawab semua pertanyaanmu, kan?"
Brak!
Pintu toilet di samping Aera terbuka dengan keras. Seorang gadis pirang yang lebih tinggi darinya keluar dari sana. Mencuci tangannya sebentar sebelum menatap Aera dengan remeh.
"Jenis gadis baik yang disayang mommy." ejeknya.
Stella tertawa bersama gadis ini. Mengetahui mereka adalah teman, Aera berusaha tidak memancing mereka. Dia tidak jadi mencuci wajahnya, lebih baik menghindari masalah karena dia tidak ingin Audric lebih marah padanya.
Sayangnya, dua gadis ini sepertinya tidak suka diremehkan. Dia menghalangi jalan dan mendorong Aera mundur sehingga membentur westafel.
"Tolong jangan keterlaluan." kesal Aera.
"Tolong jangan keterlaluan? Kalau begitu turunkan pandanganmu dan cium kakiku."
"Yang benar saja!" Aera semakin kesal.
Gustav memandang pintu kamar mandi yang tidak terbuka sejak Aera masuk. Dia hendak kengetuk pintu sebelum seorang gadis keluar dan berteriak dengan heboh.
Gustav masuk kedalam sebelum petugas perpustakaan datang. Melihat Aera sedang mengunci seorang gadis dilantai dan satu gadis lain terduduk dengan memegang perutnya, keduanya jelas terlihat kesakitan.
Ketika Aera mendongak, dia langsung melepaskan tangannya dan bangkit berdiri. Memberikan pandangan mata anak rusa pada Gustav yang tidak bisa berkata-kata. Seumur-umur, dia belum pernah melihat Luisa yang asli memukul orang.
"Aku hanya membela diri, sungguh!"
Aera bahkan mengangkat dua jarinya sebagai tanda keseriusannya. Gustav yang tidak bisa berkata-kata hanya menariknya keluar ketika petugas keamanan datang bersama gadis berkacamata yang tadi berteriak.
.
Audric sedang memimpin rapat ketika menerima kabar dari Gustav. Dia langsung berdiri dan keluar dari ruangan begitu saja.
"Kita tidak punya pilihan kecuali membungkam mereka. Jangan katakan apapun sebelum aku datang."
Audric kembali masuk kedalam dan melanjutkan rapatnya. Dengan cepat dia menyelesaikan rapat itu dalam waktu sepuluh menit, lalu segera berlari keluar menuju lantai dasar.
.
Aera tertunduk dengan wajah penuh rasa bersalah. Dia tidak tahu kalau akan sampai berurusan dengan polisi. Apalagi melihat siapa yang datang untuk menangani tiga gadis tadi. Membuat ia langsung beringsut dan mendekat pada Gustav.
Orang tua gadis berambut pirang itu ternyata pemilik kasino dan cukup memiliki pengaruh. Meski yang datang hanya perwakilan ayahnya, namun sosoknya yang menakutkan membuat Aera takut.
"Jangan kawatir Nona, kakak Anda akan segera kesini."
"Memangnya siapa kakaknya? Katakan padanya untuk membayar ganti rugi kalau tidak ingin adiknya aku masukkan kedalam penjara."
Petugas polisi yang menangani perkara mereka tampak acuh tak acuh. Meskipun ada dua pengawal lain yang menyertai Aera, sosok perwakilan geng wilayah tersebut membuatnya terlihat tidak peduli. Dia seperti menikmati drama dihadapannya, seolah sudah terbiasa dan yang kuat yang akan menang.
Ketika Audric masuk, jelas atmosfir langsung berubah. Bahkan tangan kanan ayah gadis itu langsung melebarkan matanya.
"Maafkan saya, tapi kami tidak tahu kalau Anda adalah kakak gadis ini, Sir." ucap petugas itu dengan ramah.
Audric tidak menjawab, dia memperhatikan Aera yang juga langsung berdiri. Siku yang lebam, sedikit goresan bekas kuku di lengan dan lebam dikaki. Dia menatap tajam kedua gadis yang kini langsung tertunduk. Sepertinya mereka juga mengenal siapa Audric.
"Harald!"
__ADS_1
Harald mengangguk dan langsung berhadapan dengan petugas polisi.
Audric langsung meraih pergelangan tangan Aera dan membawanya pergi. Menyisakan Gustav sebagai saksi dan Harald yang akan menyelesaikan semuanya.