
Adolf sedang berada di dalam mobilnya, dia sedang dalam perjalanan pulang. Namun ketika dia mendapat laporan dari orang yang mengawasi istrinya, Adolf langsung menyuruh Harry memutar arah.
Benar saja, Luisa sedang berada di dalam sebuah restoran yang tidak bisa dimasuki oleh orang biasa. Untungnya orangnya telah memesankan tempat. Jadi dia punya alasan masuk kesana.
Sejujurnya, dia tidak peduli Luisa mau menemui siapapun. Tapi kali ini istrinya itu menemui orang yang menurutnya berbahaya. Wakil presiden MFc, walau identitasnya sulit ditelusuri, tapi Adolf menemukan fakta bahwa dia ada hubungannya dengan Audric. Adolf memiliki beberapa bukti bahwa MFc adalah milik Martell yang disembunyikan Audric, atau itu adalah milik Audric pribadi.
"MFc banyak menanam saham diseluruh dunia, aku sungguh tidak percaya mereka mengadakan pertemuan khusus." ujar Harry.
"Bukankah ini semakin aneh, aku selalu curiga kalau Audric dibalik MFc."
"Tapi kita tidak punya bukti. Lagi pula, kalaupun ada, apa kamu akan mengatakannya pada istrimu untuk hati-hati?" Harry terkekeh sesudahnya ketika melihat kerutan kecil diwajah Adolf dari kaca spion.
"Aku tidak berniat menjadi sekutu wanita itu. Dalang dari kematian nenek Aera."
Mereka sampai disana dalam waktu yang cepat. Adolf berhenti di depan pintu masuk ketika seorang pria dengan tampilan eksentrik mendahuluinya. Itu adalah Ivon yang sedang menyamar, namun karena Adolf tidak mengenalnya, dia hanya heran dengan penampilan orang itu yang sangat aneh bisa masuk ke restoran ini.
Adolf sengaja memilih tempat tertutup tapi dekat dengan posisi Luisa. Dia bersyukur Harry sangat kompeten dalam memilih orang untuk melakukan ini.
"Jadi maksudmu, kamu ingin aku menghianati Audric?"
"Bukankah kamu ingin tahu banyak hal mengenai keluarga Martell? Kamu bilang kamu selalu penasaran bagaimana keluarga ini tumbuh dengan stabil. Aku akan memberikanmu informasi itu."
Adolf membelalakkan matanya, apa yang Luisa katakan tidak lebih dari ingin membeberkan rahasia keluarganya. Tapi, suara tawa tertahan yang didengarnya membuatnya lebih menaruh curiga.
"Bukankah kita jadi sama? Kamu tidak takut pada kakakmu? Atau... Kamu tidak penasaran kenapa aku meminta hal itu?"
'Jadi sama' yang dimaksud Rupert mengarah pada penghianatan Luisa pada keluarganya. Tapi, apa keluarga bearti baginya sekarang? Dia hanya menatap pada kakaknya selama ini. Kakaknya yang ia jadikan panutan sekaligus tempat berlari. Meski Luisa terlihat dingin diluar, dia selalu mematuhi kakaknya sejak kecil. Hal yang sama dilakukan Audric meski perhatian dan menuruti keinginan Luisa hanyalah bentuk tanggung jawab. Tidak ada kehangatan disana karena dia tidak mengerti hal itu.
"Jika kamu menanyakan hal itu, hanya tiga kemungkinan bukan? Dendam pribadi, menghancurkan pesaing atau mencuri taktik. Tapi karena kamu sudah sesukses ini, aku rasa hanya pilihan pertama dan kedua. Karena kedua pilihan itu mengarah pada satu tujuan, jadi sama saja, kan?"
"Mengagumkan, tapi Nyonya Ackerman, apa kamu tahu kenapa aku sangat sukses seperti sekarang?"
Luisa yang tadinya terlihat sangat percaya diri, terdiam untuk beberapa saat. Hanya ada pandangan penuh penilaian diantara keduanya.
"Pastinya karena kerja keras dan kemampuan Anda yang hebat."
Jawaban standar yang sangat umum. Karena Luisa sendiri sudah bekerja keras mengorek informasi pribadi pria dihadapannya. Sayangnya dia tidak menemukan apapun kecuali posisinya dalam MFc.
Hanya namanya yang tercatat dalam kepemimpinan MFc, membuat siapapun bertanya-tanya kenapa pemimpin tertinggi yang juga dicurigai sebagai pemilik MFc menyatakan dirinya pada posisi wakil presiden.
Rupert tersenyum lebar. "Aku suka jawabanmu. Ngomong-ngomong, karena ada banyak telinga yang mengawasi, aku akan mengirim jawabanku lewat pesan, jadi kamu tidak keberatan memberikan nomor pribadimu padaku, bukan?"
Adolf segera bangkit dan pergi dari sana. Meski telah ketahuan, dia tidak ingin melakukan interaksi dengan pihak MFc. Adolf cukup berhati-hati untuk tidak berurusan dengannya karena saat ini posisi MFc sudah seperti Martell meski Rupert tidak mencampuri ranah pilitik secara langsung.
Ivon yang juga berada disana, menarik senyum simpul. Meski Rupert mengetahui dia adalah mata-mata. Rupert tidak akan tahu dia dikirim pihak siapa untuk saat ini. Meski tentu saja, Ivon harus harus berurusan dengan orang-orang bayaran Rupert setelah ini untuk meloloskan diri. Karena sudah jelas Adolf ridak menyembunyikan identitasnya. Dia tidak akan jadi sasaran.
.
Aktifitas yang telah lama ditinggalkan Aera kembali berjalan, apalagi kalau bukan pendidikannya. Kali ini Audric memberi izin pada Aera untuk mengikuti pelajarannya seperti mahasiswa lain. Datang ke kampus sesuai jadwal. Perbedaannya hanyalah, Aera ditemani seorang pengawal perempuan yang berpura-pura menjadi anak baru juga disana.
Baik pulang maupun pergi sesuai jadwal, Aera tidak dibiarkan bermain dengan teman-teman sekelasnya. Tiga hari ini, Audric sangat sibuk karena masalah yang ditimbulkan oleh Rupert. Pria itu benar-benar mengacaukan pekerjaannya dengan sengaja seperti perjanjiannya dengan Luisa.
Luisa yang berhasil membuat Martell rugi, mendapat gertakan dari beberapa pihak keluarga. Namun Luisa malah menjadikan itu senjata untuk membujuk mereka agar saat pertemuan keluarga nanti, mereka sepakat menolak Aera. Luisa bahkan telah menyebarkan banyak rumor buruk mengenai Aera.
"Sepertinya namaku semakin buruk."
Monic, pengawalnya yang umurnya hanya beda beberapa tahun dengannya itu meliriknya dengan wajah kaku. Mereka sedang berada di dalam mobil menuju rumah. Aera berkata demikian karena sudah kali ia mendengar mahasiswa lain menyebut namanya dalam pembicaraan mereka.
"Jangan dengarkan mereka." hibur Monic.
"Hehehe, bagaimana menurutmu?"
"Apanya, Nona?"
"Aku! Apa aku terlihat seperti itu? Sinderella miskin yang dipungut Audric dan menjadi wanita sombong karena beruntung."
"Saya tidak berpikir demikian. Anda tidak usah pedulikan mereka."
__ADS_1
Jawaban itu tidak memuaskan Aera. Mereka memang baru saja kenal, tidak seperti Olivia, Monic terkesan kaku dan sedikit sulit di dekati. Sangat jelas bahwa Monic menjaga jarak darinya. Terkadang Aera menjadi sangat tidak nyaman. Apalagi ketika tidak sengaja Aera menangkap tatapan Monic yang seakan menghakiminya.
Sesampainya dirumah, Ivon segera membuka pintu mobil dan langsung memberikannya perlindungan. Saat ini Ivon lagi-lagi dalam penyamaran. Rambut hitamnya berubah hijau dan dia juga memakai masker dan kontak lensa bewarna hijau. Hal ini tidak biasa ia lakukan, sudah pasti ada orang yang harus diwaspadai di dalam sana.
Begitu pintu terbuka, Yohanes tersenyum menyambutnya. Dia langsung berdiri dan menarik Aera untuk duduk di sampingnya. Berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang membuat Aera langsung tidak nyaman.
Darwin, ayah biologisnya duduk disana dengan senyum lebar. Dia datang bersama seorang wanita yang tidak dikenal Aera.
"Aku sangat kawatir padamu, jadi aku sengaja datang dari spanyol untuk melihatmu, Charlotte!" katanya dengan ekspresi hangat yang terlihat tidak tulus.
"Terima kasih, tapi tolong panggil saya dengan nama yang benar, Anda sudah pernah mendengarnya, Tuan." Aera tidak akan memanggilnya ayah, karena Aera tidak pernah mau menerimanya dengan tulus sebagai ayah.
"Sepertinya kamu masih tidak nyaman pada ayah. Ayah kesini karena ingin memperbaiki hubungan kita. Ayo lupakan kenangan masa lalu dan kita perbaiki hubungan keluarga kita." ujarnya tidak tahu malu.
"Saya tidak mengerti, kenangan yang mana? Saya bahkan baru tahu Anda adalah ayah biologis saya." jawab Aera tampa basa basi. Terdengar tidak sopan tapi dia tidak peduli.
"Pff!"
Tawa tertahan terdengar begitu jelas. Aera menoleh ke samping, pada Yohanes yang terlihat sangat menikmati keadaan.
"Bagaimana bisa anak presiden Valencia bersikap sangat tidak sopan begini? Tolong jaga sopan santun Anda, Mr. Vernades muda."
Wanita disamping Darwin akhirnya bersuara. Wanita yang terlihat angkuh dan anggun secara bersamaan. Setelah mengatakan hal itu, dia beralih pada Aera lagi. Meski Aera juga melakukan hal yang kurang sopan, tapi dia tidak membahasnya.
"Perkenalkan, aku adalah ibu sambungmu. Vilette de franchez. Sejak suamiku memberitahukan keberadaanmu, aku sangat ingin bertemu dan mengakrabkan diri, Aera."
Ketika namanya disebut oleh wanita itu, Aera merasakan ketidak nyamanan. Namun dia tetap harus menunjukkan sedikit kesopanan bukan?
Posisi sebagai istri dari sepupu raja saat ini tampaknya ia gunakan sebagai sebuah kekuatan harga diri.
"Terima kasih atas niat baik Anda."
"Tapi, apa kamu selalu diawasi bahkan di dalam rumah, Aera?" tanya Darwin, melirik Ivon dan Monic yang berdiri dibelakangnya. Belum lagi Friedrick dan Olivia yang mengawasi di dekat tangga.
"Sepertinya kamu sangat disayangi, aku sangat bersyukur akan hal itu?" tambah Vilette.
"Itu karena musuh bisa saja ada dari mereka yang berhianat. Semoga kalian tidak terganggu. Aku juga akan minta maaf karena tidak bisa formal dan bersikap bijaksana. Lagi pula ini kan bukan di dalam wilayah kekuasaan kerajaan kita." sahut Yohanes.
Sementara itu, Audric yang juga dalam perjalanan pulang, menerima kabar kedatangan ayah Aera yang disampaikan Harald.
"Sepertinya dia memiliki tujuan khusus." tebak Harald.
"Manusia serakah itu, sudah pasti mereka ingin sesuatu sehingga dengan berani melangkah ke kediaman Martell tampa izinku."
"Saya yakin dia akan menjual nama Nona dengan sangat baik." tambah Harald. Tangannya langsung gatal karena sesuatu.
Pintu terbuka dan keduanya masuk. Dengan langkah panjang dan cepat, Audric langsung menuju ruang tamu. Duduk tepat disamping Aera dan membuat Yohanes terpaksa bergeser dengan terpaksa.
"Saya tidak tahu kalau Anda akan datang, jadi maaf kami tidak menyambut kalian dengan baik."
Meski nada bicara Audric terdengar tenang, namun ekspresi datar dan sorot mengancam dari matanya membuat banyak orang bergidik. Villete yang angkuhpun terlihat mengkerut.
"Aku hanya menghawatirkan anakku, kami baru saja bertemu tapi kamu sudah membawanya pergi." jawab Darwin.
"Maafkan kelancangan saya saat itu, tapi bukankah saya sudah membayar untuk kelancangan saya?"
"Ya ampun, Nak Audric. Tentu saja tujuan kami tidak seperti yang kamu bayangkan. Tolong jangan marah. Suamiku hanya ingin membayar kesalahannya karena baru menemukan Aera sekarang. Benar kan, sayang?"
"Benar, maaf jika kedatangan kami membuatmu terganggu, Audric."
'Mereka benar-benar memiliki tujuan.' kata Harald dengan wajah kesal.
"Friedrick!"
"Ya, Tuan!"
Friedrick langsung mendekat dan berdiri di sisi kiri Audric.
__ADS_1
"Siapakan kamar untuk tamuku. Antarkan mereka sekarang agar bisa istirahat."
Perkataan itu membuat rahang Darwin mengeras, namun dia berusaha menahannya dan tetap tersenyum ramah.
"Terima kasih atas perhatianmu, kalau begitu kami akan istirahat dulu." ujar Darwin sambil berdiri dengan istrinya. Mereka langsung pergi begitu Friedrick meminta mereka mengikutinya.
"Rasanya aku ingin memukul kepalanya." kata Yohanes asal.
Aera tidak menggubrisnya, dia menoleh pada Audric yang tampak lelah. Lalu memutar kepalanya kebelakang, dimana Harald berdiri.
"Apa kamu juga akan menginap lagi? Apa kalian akan lembur lagi?"
"Sepertinya hanya saya yang lembur, Nona. Tuan benar-benar harus istirahat kalau tidak ingin masuk rumah sakit." jawab Harald.
"Kenapa? Ada yang ingin kamu lakukan bersamaku?" tanya Audric, tangannya reflek meraih pipi Aera agar menatapnya.
"Ya, aku ingin bicara."
"Katakan saja sekarang. Aku akan mendengarkan."
Aera melirik Ivon, membuat semua orang menatap Ivon juga. Tapi hal itu malah membuat Ivon langsung berkeringat dingin. Bukan apa-apa, tapi tatapan Audric seolah ingin melubangi kepalanya saat ini.
"Apa dia membuatmu marah?"
Harald langsung teringat bahwa Ivon memang belum menerima Aera. Dia juga ikut curiga kalau Ivon sudah melukai Aera secara mental.
"Bu-bukan! Aku ingin diajari olehnya."
"Ajari apa? Aku juga bisa Aera!" sela Yohanes.
"Tidak bisa! Ivon lebih berpengalaman dan dia kepala tim keamanan."
Audric menghela napas setelah tahu maksud Aera.
"Kamu ingin belajar bela diri? Bukankah kamu sudah mengusai satu?"
"Tidak, aku sangat buruk. Aku ingin belajar banyak. Ingin belajar menembak juga, ingin belajar berkuda, ingin belajar tinju dan melanjutkan taekwondo sampai sabuk hitam."
"Itu terdengar sangat banyak, Nona." kata Harald.
"Kalau untuk perlindungan, aku punya banyak..."
"Aku tidak suka menjadi beban. Aku ingin melindungi diriku sendiri kedepannya." potong Aera.
Semua orang disana sudah menduga bahwa Audric tidak akan setuju. Audric itu sangat posesif. Memilih Ivon sebagai guru bukanlah hal yang akan disetujui olehnya.
"Aku akan mencarikan guru lain." jawaban Audric seperti dugaan mereka.
"Aku dengar dia sangat bagus dalam semua seni bela diri. Dia juga menjadi kepala keamanan karena kemampuannya, kan? Jadi kenapa harus cari yang lain."
"Kamu tidak memperhitungkanku?" kesal Audric.
"Apa hubungannya denganmu? Jadi boleh tidak?"
"Tidak boleh!"
Aera mengerutkan keningnya karena kesal. Lalu melipat tangannya di dada. Menatap Audric dengan keras kepala.
"Kenapa? Kenapa tidak boleh?"
"Aera, dia cukup jadi pengawal saja. Atau kamu bisa belajar dari Monic, dia juga bagus sebagai guru."
Monic langsung terbelalak. Apalagi ketika Aera menatapnya bergantian dengan Ivon.
"Aku tidak mau, aku tetap ingin Ivon yang jadi guruku. Bahkan jika kamu menawarkan diri, aku tetap akan memilih Ivon."
Ivon merutuki setiap kata yang keluar dari mulut Aera. Dia menjadi dapat masalah besar karena saat ini Audric menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Aera menyeringai tipis. Bukan tampa alasan dia melakukan hal kekanakan ini. Sejak pertama bertemu, dia sudah merasakan tatapan Ivon yang tidak begitu menyukainya. Jadi, dia ingin melakukan sesuatu untuk menguji kepercayaan orang itu terhadapnya. Karena Aera tahu, dimasa depan dia akan banyak menggunakan jasa orang ini.