BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Tugas untuk Friedrick


__ADS_3

Audric menatap pria yang sepertinya lebih muda dari mendiang ayahnya. Rambut pirang dengan kulit putih, bola mata coklat yang sama sekali berbeda dengan Aera. Mereka sedang duduk di restoran tempat Aera bekerja. Karena ketidak hadiran Aera, Cassian bahkan diintrogasi oleh Igor yang mencurigainya. Aera menghilang tampa kabar dan itu membuat Igor curiga pada Cassian.


"Kamu mengawasi Aera ketika dia tiba disini. Siapa yang memberitahumu keberadaannya?" tanya Audric.


Cassian lupin tentu saja tahu siapa yang duduk dihadapannya ini. Dia juga tahu apa yang dilakukan Audric dalam 24 jam terakhir pada seluruh kota demi menemukan Aera yang kabur.


"Aku tidak memiliki kewajiban menjawab pertanyaanmu, Mr. Martell."


"Aku bersikap lunak padamu karena Aera, jadi aku tidak akan basa basi pada orang sepertimu."


Cassian melirik keluar. Dimana orang-orang Audric berdiri disana dengan waspada. Lalu dia menoleh pada Harald yang duduk tepat disebelahnya. Seolah Harald sedang mengatakan bahwa matanya selalu mengawasinya. Cassian bukannya tidak cemas, dia sudah tahu seperti apa keluarga Martell itu.


"Aku diberitahu oleh seorang pria muda, sepertinya suruhan seseorang. Aku tidak peduli siapa mereka. Yang pasti mereka tahu aku sedang mencari Charlotte."


"Charlotte?"


"Nama lahirnya adalah Charlotte Darwin. Aku sendiri yang menamainya."


"Cassian lupin, jadi Nona bukan anakmu?" tanya Harald.


Cassian meliriknya sedikit, tapi tidak menjawab sesuatu yang sudah pasti bisa ditebak oleh mereka.


"Apa Aera tahu ini?"


"Jika dia mengetahui nama ibunya, harusnya dia bisa mengetahuinya. Walaupun aku kira dia belum menyadarinya."


"Jadi siapa ayah kandungnya?"


"Aku tidak yakin bisa memberitahumu tentang hal ini."


"Kenapa? Apa dia orang yang identitasnya tidak boleh terungkap?" pancing Harald.


"Untuk seukuran sekretaris kamu cukup kurang ajar."


"Untuk seukuran orang biasa kamu cukup angkuh." balas Harald santai.


Cassian menarik sudut bibirnya. Lalu dia beralih pada Audric lagi. Pria itu masih menatapnya dengan datar.


"Tidak ada gunanya kalian mencari identitas asli ayah kandungnya. Orang itu telah membuang ibu dan anak itu tampa belas kasih. Walau kalian mengharapkan pengakuan, dia juga tidak akan bisa melakukannya. Orang-orang seperti kalian yang berlaku seenaknya pada yang lemah, aku sungguh muak."


Cassian bangkit berdiri. Dia meninggalkan Audric yang tidak bereaksi apapun. Dia membiarkan Cassian pergi begitu saja.


"Tampaknya hubungan dia dengan ayah kandung Nona tidak baik." kata Harald, "Anda tetap akan mencari tahunya?"


"Entahlah, aku merasa ada perlunya kita tahu untuk jaga-jaga. Tapi jika Paman dan Bibi tidak berubah pikiran, hal itu tidak diperlukan. Siapapun dia, jika sudah menjadi anak dari mereka, tidak akan sulit menekan para tetua."


"Oh, entahlah, Tuan! Anda tahu Nona Rubelia tidak mungkin bisa dikalahkan dalam segi manapun dimata mereka untuk calon pasangan Anda."


.


Seminggu berlalu, Audric sudah kembali ke Berlin, Aera masih berada dikediaman Fernandes, Adolf juga telah kembali setelah gagal membujuk Alberto mengizinkan Aera menemuinya. Dengan pengaruh dan hubungan baik mereka dengan Audric, Adolf tidak bisa berbuat banyak.


Luisa mendapat peringatan keras dari Audric. Meski pria yang menyusup kedalam pasukan Audric belum ditemukan, tampaknya Luisa memberikan perlindungan, atau dia telah membunuhnya. Entah yang mana, Audric belum bisa memastiknnya.


"Bukankah kamu bilang kamu akan bekerja sama? Tapi lihatlah! Surat adopsi gadis itu telah keluar! Jika dia diumumkan ke publik! Audric akan mudah mengikatnya! Apa yang kamu lakukan selama ini? Apa gunanya jabatan tinggi itu kalau kamu tidak bisa memakainya dengan benar!" marah Luisa.


Mereka sedang bersitegang di dalam kantor Adolf. Luisa sangat marah ketika kabar adopsi itu ia dengar.


"Apa kamu melihat aku hanya diam saja? Kamulah yang menghancurkan rencanamu sendiri dengan membunuh nenek Aera!" geram Adolf, ikut emosi karena dia memang sangat kesal dengan tindakan jahat Luisa.


"Aku? Membunuh neneknya? Yang benar saja, kamu tidak punya bukti untuk tuduhan itu. Orang kakakku yang melepaskan tembakan." sinis Luisa.


"Kamu pikir aku sebodoh itu untuk mempercayai hal itu? Apa otak jenius itu hanya bualan?"


Luisa menyeringai, wajah angkuhnya berubah seketika. Dia menunjukkan ekspresi penuh kelicikan.

__ADS_1


"Senang suamiku cukup pintar menghadapiku. Permainan ini jadi semakin menarik. Tapi... kalau kamu terus bersikap lunak dan tidak bisa menjadi pionku lagi, aku tidak segan-segan membuangmu," lalu Luisa melirik papan nama dimeja kerja Adolf, "Kanselir boneka." ejeknya sebelum berbalik dengan angkuh.


Adolf mengepalkan tangannya penuh emosi. Semakin lama Luisa semakin menunjukkan taringnya. Menekannya dan mengancamnya. Sementara dia belum menemukan celah untuk menjatuhkan Audric seperti tujuannya semula.


"Sial! Mereka berdua seperti Iblis dan setan!" makinya pelan.


Harry yang baru saja masuk kembali berdiri di depannya. Melihat wajah frustasi Adolf yang semakin hari semakin menghawatirkan.


"Bagaimana penyelidikan kasus itu? Apa kalian mendapatkan buktinya?"


"Tidak ada, tapi... Kami bertemu seorang kakek tua yang dulunya pernah menjadi tukang kebun sekolah. Kabarnya, dia berhenti setelah peristiwa itu. Kami berusaha mengorek informasi, tapi karena terlalu tua, jawabannya tidak jelas. Dia malah terus bercerita tentang kisah anak-anak."


"Aku ingat dia, orang tua yang saat itu sering dikelilingi anak-anak bodoh hanya karena cerita dongengnya. Anehnya, Audric selalu berada disekitarnya ketika dia mulai bercerita. Mendengarkan dari jauh dengan wajah datarnya, dia bahkan pernah mengusir Leonor dengan kasar karena Leo menganggunya yang sedang memperhatikan mereka."


"Apa mungkin dia kaki tangan Audric saat itu?"


"Entahlah, tapi coba korek lebih jauh. Meskipun dia pikun, satu atau dua hal pasti ada yang ia ingat."


"Baiklah." jawab Harry.


.


Audric bersandar di kursi kebesarannya. Menatap semua mata penuh ambisi yang berada di hadapannya. Mata penuh ketamakan dari para perwakilan anggota keluarga Martell.


Wajah para tetua yang berjumlah tiga orang disana juga terlihat penuh ketegangan. Hal itu karena pertemuan ini diadakan atas jawaban dari tuntutan mereka mengenai pernikahan Audric.


Tentu saja semua orang tahu Audric sangat tidak senang dengan tekanan itu. Namun semua sepakat bahwa keturunan Audric harus lahir secepatnya. Kalau tidak, akan ada ancaman yang besar bagi penerus, tentu saja para pendukungnya tidak akan menyukai hal itu.


Walaupun Audric kuat, tidak menutup kemungkinan dia akan diserang kapan saja oleh pihak penghianat atau pihak lawan. Kekacauan untuk menentukan pemimpin dan menimbulkan perpecahan yang lebih besar, para tetua tidak akan menyukainya. Meski Audric banyak tidak menyukai cara mereka, tapi Audric tahu mereka tidak suka pertikaian yang menyebabkan kerusakan besar.


Para tetua tidak menginginkan keturunan diluar darah murni langsung dari ayah Audric yang memimpin keluarga mereka. Karena pamannya adalah saudara tiri ayah Audric dari pernikahan kakeknya yang kedua, sementara keturunan bibinya tidak diakui karena pihak keturuanan wanita sudah menjadi kekuarga milik suaminya.


"Aku telah menerima dan mendengar berbagai kekawatiran kalian." Mulai Audric. "Jadi, aku akan mendengarkan sekali lagi, siapa dan kenapa harus dia yang akan menjadi pendampingku."


"Kami sepakat seperti sebelumnya, putri Duke Sinclair dari Britania, seperti yang kamu tahu, kita sudah berhubungan baik dengan mereka sejak lama, dia adalah calon yang paling tepat sampai saat ini." Akhirnya pamannya, Abert memulai pengaruhnya.


Semua orang langsung berbisik satu sama lain. Tentu saja hal ini menjadi sesuatu yang mereka tidak sukai. Bagaimanapun, pernikahan tampa cinta bagi mereka sama sekali tidak masalah. Tapi disini Audric menyatakan bahwa dia ingin menikahi wanita yang dicintainya.


"Kalau begitu, apa ada calon lain yang kamu persiapkan? Wanita yang kamu cintai?"


Dia adalah sepupu dari ayah Audric, Cendric Martell. Dia adalah pihak yang selama ini sangat loyal dan setia pada pemimpin keluarga Martell. Orang yang telah ditemui Audric secara langsung sehari sebelum pertemuan ini untuk memintanya mendukung rencananya.


Abert tampak menggertakkan giginya, namun dia berusaha setenang mungkin. Lalu dia tersenyum setelahnya seolah berharap Audric memang memiliki calon yang lebih baik.


"Bagaimana aku mengatakannya? Aku baru saja bertemu dengannya baru-baru ini. Aku butuh waktu untuk memberitahu kepastiannya pada kalian semua."


Audric tidak perlu berpura-pura sedang jatuh cinta, karena tampa melakukan itu, saat dia mengingat Aera, wajahnya langsung melunak. Senyum kecil yang jarang ia tunjukkan membuat semua orang yang hadir sangat yakin bahwa Audric memang sudah menemukan wanita yang akan tepat menjadi pendampingnya.


"Aku senang akhirnya kamu bertemu seseorang yang kamu sukai, tidak ada kekawatiran akan penerus kalau begitu. Tapi, apa kamu bisa meyakinkan kami tentang latar belakangnya?"


Suasana menjadi tegang kembali. Audric juga kembali dingin, matanya menatap pamannya dengan tajam.


"Anda meragukan penilaian saya, Paman?"


"Ah, tentu saja tidak. Aku sangat yakin kamu akan menjaga darah Martell tetap bermartabat. Aku hanya kawatir sebagai orang tua. Bagaimanapun kamu seperti anakku sendiri."


"Aku pikir Abert benar, latar belakangnya harus sesuai dengan kehormatan Martell, meskipun aku meyayangkan kamu yang menolak putri Duke Sinclair, tapi setidaknya calon yang kamu ajukan tidak mencederai nama Martell kedepannya." dia adalah salah satu sepupu dari kakek Audric yang menjadi tetua dalam keluarga, Owen Martell.


"Aku mengerti."


Pertemuan itu selesai dengan keputusan dimana mereka harus menunggu untuk beberapa waktu seperti yang Audric sampaikan. Tidak ada yang berani terlalu mendesak kecuali pamannya. Meski begitu, Abert tidak banyak mendapat dukungan, terutama sebagian dari mereka telah tahu bagimana keuangannya, dan apa yang coba ia lakukan dalam perjodohan Audric dengan Rubelia.


"Anda perlu istirahat, Tuan. Sejak kembali Anda terus saja lembur dan juga membawa pekerjaan kerumah." kata Friedrick yang tampak kawatir.


Audric melirik jam dinding, lalu melanjutkan pekerjaannya. Sama sekali tidak mendengarkan nasehat kepala pelayannya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena kepergiannya ke Valencia. Kali ini dia juga ingin menyelesaikan berbagai masalah dan pekerjaan lebih cepat karena dia ingin segera menemui Aera lagi. Dia bertekad untuk menyelesaikan kesalah pahaman mereka.

__ADS_1


Dia terus saja kawatir sejak laporan Nyonya Fernandes sejak pemakaman itu. Aera dikabarkan menjadi sangat tenang dan penurut. Dia tidak banyak bercerita tapi tidak juga terlalu menutup diri.


"Friedrick, tetap awasi pergerakan para pelayan dan pengawal disini. Laporkan jika kamu mencurigai adanya mata-mata paman ataupun Luisa."


"Anda akan pergi lagi, Tuan?"


"Aku akan berusaha membawa dia kembali. Aku akan meninggalkan rumah cukup lama."


"Bagaimana dengan Tuan Harald?"


Tampaknya Friedrick berharap bahwa Harald akan tinggal. Karena Harald adalah orang kepercayaan Audric, dia adalah orang yang bisa mengendalikan situasi apapun dengan baik ketika Audric tidak ada.


"Dia harus ikut denganku, aku akan menambahkan orang terpercaya untuk mengawasi keadaan dan bekerjasama denganmu."


"Maafkan saya, saya hanya kawatir tentang paman Anda yang akhir-akhir ini selalu mencari celah Anda"


Audric menghentikan pekerjaannya, lalu menatap pelayannya itu dengan serius.


"Friedrick."


"Ya, Tuan?"


"Kamu ingat tentang kematian Leonor?"


"Tentu saja, Anda dijadikan sasaran tuduhan oleh seluruh keluarga, tapi saya yakin bukan Anda pelakunya. Bahkan sanpai saat ini, saya masih mempercayai itu."


Audric menarik sudut bibirnya. "Kamu satu-satunya orang yang mendukungku saat itu, bahkan kedua orang tuaku tidak berusaha menyangkal mereka. Orang tua yang harusnya mendukungku, hanya melakukan tindakan pencegahan berita tidak bocor dan semua bukti yang mengarah padaku dilenyapkan. Tapi... Apa kamu tahu kenapa saat itu aku juga tidak melakukan pembelaan?"


Friedrick tersentak, tiba-tiba dia merasakan tekanan akan rasa takut pada apa yang telah ia yakini selama ini.


"Tuan... Anda tidak mungkin..."


"Tentu saja tidak, meski aku tidak memiliki penyesalan pada kematiannya."


Deg!


Jantung Friedrick berdetak kencang. Takut dan kawatir, wajah Audric saat ini membutnya ketakutan.


"Adolf sedang menggunkan kekuatan yang aku berikan padanya untuk menjatuhkanku."


"Tu-tuan Adolf memang sangat dekat dengan Nona Leonor."


"Tidak, bukan hanya dekat. Pria itu mencintai sepupuku. Bahkan hingga saat ini."


"Tapi bukankah dia tertarik dengan Nona Aera sekarang?"


"Entahlah, bagaimana menurutmu?"


"Lalu, apa yang akan Anda lakukan?"


Audric tersenyum kecil, "Itu adalah tugasmu selama aku pergi, Friedrick. Dapatkan informasi yang telah mereka dapatkan. Lalu carilah bukti apapun terkait kematian Leonor saat itu. Kamu pasti akan menemukan rahasia yang selama ini disembunyikan seseorang. Karena kamu berada diantara mereka ketika aku remaja."


"Ke-kenapa Anda mempercayakan ini pada saya? Bagaimana mungkin saya yang hanya pelayan ini bisa menghadapi mereka yang berada jauh diatas saya, Tuan?"


"Friedrick."


"Ya, Tuan."


"Hanya kamu yang akan mengerti dan bisa memecahkannya. Selain itu, aku mempercayaimu."


Mendengar kalimat yang sangat jarang diucapkan Audric itu, Friedrick langsung menunduk dalam dengan sebuah tekat yang kuat.


"Saya akan berusaha menemukan pelaku sebenarnya dan membersihkan nama Anda."


"Bagus, sekarang pergi dan istirahatlah. Aku akan istirahat sebentar lagi."

__ADS_1


Malam itu, Audric nyaris tidak tidur. Dia baru beranjak kekasurnya menjelang fajar. Dia hanya tidur satu jam dan bangun lagi dengan cepat untuk segera ke perusahaan.


__ADS_2