
Suasana tegang dalam ruang rapat bisa dirasakan ketika Audric menyeringai. Luisa sebagai pemilik saham terbesar dalam perusahaan teknologi ini unggul dalam perang ide yang akan dipakai dalam produk baru Vilatex. VG yang baru saja mengambil alih saham Villar langsung mendapat keunggulan.
MFc adalah perusahaan investasi milik Audric secara pribadi diluar nama Martell. Dia adalah pendiri dan satu-satunya pemilik dari perusahaan itu. Dia menginvestasikan seluruh dana pribadinya yang ia dapat dari pembagian dana seluruh perusahaan Martell dan gajinya sebagai pemimpin, sehingga dia tidak membutuhkan suntikan dana manapun saat mendirikan perusahaan tersebut. Dia telah membangunnya selama 7 tahun terakhir dan perusahaan itu tidak pernah goyah sekalipun. Hal itu tentu saja karena MFc punya pondasi yang kokoh dan dikelola oleh orang yang berkompeten.
Audric menguasai 90% saham dan sisanya dimiliki oleh wakilnya sebagai hadiah karena jasanya selama ini. Pria bernama Rupert green, adalah jenius muda yang telah bekerja dengannya setahun setelah berdirinya MFc. Dia bekerja pada umur 19 tahun hingga sekarang.
Saat ini, sebagai presiden direktur dari group Martell, Audric memilih tidak banyak bicara. Group Martell sendiri posisinya dalam Vilatex berada pada urutan keempat pemegang saham tertinggi. MFc sendiri selama ini selalu menggunakan perwakilan dan menyembunyikan identitas pemiliknya. Perwakilan yang bahkan sampai saat ini belum memasuki ruangan setelah perdebatan yang beradik kakak itu lakukan membuat semua orang tegang.
Brak!
Semua mata tertuju pada pintu yang terbuka secara kasar. Rupert masuk dan menunjukkan wajah malas. Penampilan yang sedikit berantakan dan ada keringat dipelipisnya. Perwakilan MFc yang terkenal bermulut lancang dengan kepribadian mirip preman. Wakil presiden direktur MFc.
Berambut merah, memiliki beberapa tindik ditelinga dan memakai anting panjang berbandul permata. Matanya hitam dengan wajah campuran Asia dan Eropa. Untuk ukuran pria, dia memiliki wajah yang cantik, berbanding terbalik dengan tubuh tegapnya yang berotot. Rambutnya panjang dan dia selalu mengikatnya.
"Apa aku terlambat? Jalanan cukup macet." ujarnya tampa rasa bersalah. Tampa meminta maaf, dia duduk tepat di depan Audric dan langsung menatapnya dengan angkuh. Sandiwara permusuhan yang selalu ia tampilkan di depan publik. Lalu dia beralih pada Luisa dengan mimik yang berubah drastis, dia tersenyum dengan ceria untuknya.
"Karena Anda sudah datang, maka saya hanya akan menyampaikan kalau karya pada produk baru Vilatex, telah diputuskan akan menggunakan penelitian dari tim..."
"Tunggu sebentar, kenapa terburu-buru?" potong Rupert, dia berubah menjadi serius.
"Bolehkan aku tahu hasil suaranya?"
CEO Vilatex yang memimpin rapat mengulang kembali hasil perolehan suara. Dimana Audric tidak menggunakan hak suaranya dengan alasan apa yang ia dukung tidak mungkin menang, karena hak suara pemilik saham terbesar memiliki poin lebih dan itu membuat mereka kalah dalam perolehan suara.
"Begitu ya, tapi MFc kan belum menentukan pilihan. Bagaimana bisa kalian menghitung anak ayam sebelum telurnya menetas?"
Semua orang saling pandang. Dalam logika semua orang, percuma MFc menambah poin pada tim lawan saat ini. Luisa yang duduk dua kursi darinya mengepalkan kedua tangannya karena menyadari firasat buruk untuk rencananya.
"Tuan, Anda tahu itu tidak berguna, kan?" tanya salah satu dari mereka.
"Saham Martell telah dijual padaku pagi ini sebanyak 15% dari total milik mereka 21%. Jadi... Tentu saja hak yang kalian duga milik VG itu milikku." Inilah senjata Audric dibalik sikap tenang dan diamnya sejak tadi. Sikap yang sejak tadi mengganggu Luisa.
Sekretaris Rupert langsung menunjukkan dokumen sebagai bukti. Luisa langsung menatap kakaknya dengan berang. Namun dia tidak bisa melakukan apapun disana. Dia tidak boleh menunjukkan kelemahannya. Luisa sendiri, tidak pernah tahu bahwa MFc adalah perusahaan milik kakaknya. Tidak ada satupun dari keluarga tahu akan hal ini, yang tahu hanya Audric, Harald, Friedrick dan Ivon.
Rapat selesai dengan kemenangan MFc dan sekutunya. CEO Vilatex yang ikut tinggal disana setelah semua orang pergi langsung melirik Rupert yang masih beradu pandang dengan Audric.
"Saya tidak menyangka Anda akan melakukan langkah ini, Tuan Green. Saya kira Anda selalu berseberangan dengan Tuan Martell."
"Ah, soal itu... Semuanya adalah ide Tuan Martell kita. Aku meraih kemenangan dan berjanji memilih tim yang telah ia siapkan. Kami memiliki tujuan yang sama dengan keuntungan yang besar, mana mungkin saya menolak. Lagi pula, Anda yang lebih senior dalam bisnis ini pasti tahu tidak ada musuh abadi dalam bisnis." Rupert menyeringai setelah mengatakan jawabannya.
Audric hanya memasang wajah datarnya. Apalagi ketika Rupert mengalihkan pandangannya dan menatap Audric seolah dia adalah pengemis dan dirinya adalah pahlawan yang baik hati.
"Saya hanya menggunakan cara yang mudah dan efesien." jawab Audric singkat.
"Tapi, Anda tentu tahu VG dan pihak Villar tak akan tinggal diam, kan? Apa Anda akan melawan mereka? Bagaimanapun semua tahu VG milik adik Anda dan Group Martell berada dalam kekuasaan Anda." pancing Rupert yang sebenarnya adalah pertanyaan untuk langkah bagi MFc selanjutnya.
"Wanita itu cukup licik. Dia pasti akan memanfaatkan adikku. Tapi, tidak peduli apapun. Villar harus jatuh. Jika Anda berniat memberi mereka kesempatan dan mengabaikan hasil hari ini, Anda tahu apa yang mungkin saya lakukan bukan? Masalah Villar yang akan melakukan sabotase atau sejenisnya seperti yang pernah mereka lakukan, saya akan mengatasinya sendiri. Jadi Vilatex cukup melakukan hal yang perlu dilakukan."
'Aku harus menghancurkan satu-persatu pendukung adikku.' lanjutnya dalam hati. Namun Audric tentu saja tidak bisa menunjukkan permusuhannya dengan Luisa secara terang-terangan. Karena hal itu bisa dimanfaatkan pihak luar.
"Saya mengerti." jawab CEO Vilatex dengan cepat.
.
Audric berjalan cepat untuk kembali menuju ruangan dimana Aera menunggunya. Namun ketika sampai di depan pintu, dia menghela bapas dan berbalik. Menatap Rupert dengan tajam karena pria itu mengikutinya sampai disana.
__ADS_1
"Aku tahu tujuanmu mengikutiku, tapi aku tidak akan mengabulkannya. Pergi dan lakukan pekerjaanmu!" ujarnya.
"Eeii... Tuan! Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan."
"Anak ini, jadi kamu terlambat karena menemui Nona dulu?" tebak Harald dengan tepat.
Wajah Audric langsung menjadi suram, dia sudah akan mencengkram kerah Rupert kalau saja pintu di sampingnya tidak terbuka.
"Aku mendengar suaramu, apa sudah selesai? Oh! Orang itu...!"
Rupert melambaikan tangannya. Lalu membungkukkan badan untuk menatap wajah Aera lebih dekat. Namun Audric dengan cepat mencengkram bahunya dan menariknya kebelakang.
"Ayo pergi," ajak Audric.
Dia menarik tangan Aera dan meninggalkan Rupert yang hanya berdiri dengan senyum liciknya.
"Sangat menarik, Anda berperan sebagai musuh sekaligus teman kakakku, Tuan Green."
Rupert yang sudah tahu keberadaan Luisa beberapa detik yang lalu segera berbalik. Tersenyum pada Luisa dengan sangat buruk. Dia menunjukkan senyum palsu yang sangat kentara.
"Nona... Bahkan saya menyukai Anda diluar urusan bisnis. Anda sangat tahu itu, kan?"
"Benarkah? Kalau begitu Anda pasti tidak keberatan untuk meluangkan sedikit waktu untuk saya, bukan?"
Rupert tersenyum lebar, dia memperpendek jarak dan meraih rambut Luisa. Dengan gerakan ringan mencium rambut pendek itu dan berbisik pelan.
"Tentu saja, aku selalu punya waktu untuk wanita cantik." jawabnya, lalu kembali keposisi semula.
Rupert tersenyum tipis. Sejak mengetahui identitas Luisa sebagai CEO VG dan adik dari Audric, dia langsung menaruh perhatian lebih. Terlepas statusnya sebagai istri kanselir saat ini, Rupert menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa. Sulit memahami jenis ketertarikannya, namun dia selalu tergerak saat mendengar nama Luisa. Karena itu, dia sangat penasaran begitu tahu wanita Audric disebut-sebut sangat mirip dengan Luisa.
.
Aera menghela napas, setelah selesai memilih dan melihat-lihat, kini mereka hanya tinggal berdua disana. Dengan segelas kopi dan beberapa cemilan.
"Ric, aku lelah."
"Kamu mau pulang sekarang?"
"Aku lelah menghadapi sifat barumu ini, kamu jadi seperti anak kecil saat ini."
Audric meliriknya sebentar, lalu menghela napas kesal. Sejak tadi dia juga tidak mau menatap Aera secara langsung.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu sangat marah padaku?"
"Aku tidak marah padamu."
'Ya, kamu memang tidak marah padaku, tapi terlihat ada hubungnnya denganku, tahu!' kesal Aera dalam hati.
"Lalu karena apa? Pria cantik tadi?"
"Pria cantik?" Wajah Audric bertambah gelap. "Apa kamu sekarang memujinya?" Suara Audric sangat ketus.
'Ah... Apa aku salah bicara?'
"Maksudku orang yang tadi datang bersamamu, di depan pintu setelah rapat." Aera segera mengoreksi perkataannya.
__ADS_1
"Jadi kamu suka pria cantik?"
"Tidak!"
"Lalu seperti apa tipemu?"
"Kenapa tiba-tiba...?" Perkataan Aera terhenti ketika dia terpikirkan sesuatu. Namun dia tidak yakin apakah pemikirannya benar, karena itu dia tidak mengarahkan pembicaraan kearah sana. "Aku tidak punya tipe khusus, tapi bukan itu masalahnya. Kamu terlihat waspada pada orang itu. Dia juga tiba-tiba datang keruangan tempatku menunggu sebelumnya dan mengatakan hal aneh, dia seoalah sudah mengenalku. Apa dia musuhmu? Apa aku harus waspada padanya?"
"Ya, dia orang yang sedikit... Berbahaya."
'Kalau Audric yang mengatakan berbahaya, itu artinya dia bukan seseorang yang bisa aku hadapi, kan?'
"Aku akan menghindarinya, tapi aku pikir kami juga tidak akan bertemu lagi."
Audric menarik Aera dalam pelukannya lalu menghela napas sekali lagi.
"Aku harap juga begitu." jawabnya.
'Anak itu berbahaya dengan cara yang berbeda. Aku harap kamu tidak dekat dengannya.' harapnya dalam hati.
Pintu ruangan terbuka, Harald muncul disana membawa tumpukan berkas yang telah ia periksa saat Audric sibuk berbelanja tadi. Dia hanya perlu tanda tangan Audric saat ini.
"Maaf, Sir. Anda tidak lupa pada tumpukan penting ini, kan? Saya sudah sangat berusaha hanya menyelesaikan yang darurat saja." ujar Harald.
Aera tertawa pelan, lalu melepaskan diri. Dia minum kopi yang ia pesan dan makan cemilan dengan santai. Membiarkan Audric menyelesaikan berkas itu.
"Aku tidak memprediksi Rupert akan jadi gangguan. Selidiki apa yang ia lakukan dibelakangku. Ivon harus bergerak sendiri karena dia cukup pintar untuk menyadari sedang dicurigai." perintah Audric.
"Entahlah, dia mungkin hanya ingin bermain-main. Anda kan tahu sendiri dia seperti apa. Bukankah akan memicu masalah jika dia tahu Anda mencurigainya?" respon Harald.
"Aku tidak boleh mengabaikan kemungkinan. Bajingan kecil dirumahku bisa kita gunakan untuk menjaga Aera. Dia sepertinya cocok dengan Rupert jika anak itu ingin bermain-main denganku." Bajingan kecil yang dikatakannya tentu saja Yohanes.
"Anda kan bisa membuangnya jika dia berbahaya." komentar asal itu mendapat delikan tajam, membuat Harald terkekeh. "Saya hanya bercanda, Sir!"
"Dia akan jadi sangat berbahaya jika berada dipihak musuh."
Tentu saja Harald tahu hal itu, karena itu Audric tetap memegang tangan Rupert sejauh ini. Terutama setelah dia menunjukkan ketertarikan pada Luisa baru-baru ini.
"Jadi... Pria bernama Rupert itu apa yang tadi itu?"
Keduanya menoleh pada Aera yang sejak tadi terlihat acuh. Harald tersenyum paksa dan Audric mengelus kepalanya dengan lembut meski hawa yang keluar darinya sangat suram.
"Ya, dia adalah pria yang aku katakan berbahaya tadi." jawab Audric.
"Ah... Begitu."
"Bagaimana pergerakan paman dan bibiku?"
Audric mengalihkan pembicaraan setelah menarik tangannya kembali. Jelas sekali tidak suka jika Aera penasaran pada pria lain.
"Seperti dugaan Anda, Bibi Anda menutupi hilangnya pelayan itu dari suaminya dan orang-orang. Saat ini dia bergerak diam-diam untuk mencarinya."
"Dia pasti sangat takut." Audric menyeringai.
"Ada apa dengan bibimu? Bibi yang mana?" tanya Aera.
__ADS_1
"Isri pamanku, Abert. Dia adalah dalang dari kematian anaknya sendiri."
Seketika Aera langsung menutup mulutnya. Dia syok luar biasa mendengar kabar itu. Bukan hanya itu, kepalanya langsung teringat dendam Adolf yang selama ini berusaha mencari bukti pembunuhan, dimana dia sangat yakin bahwa Audric adalah pelakunya.