BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kesepakatan dengan Adolf


__ADS_3

Sejumlah foto bertebaran di atas meja di hadapan Adolf. Foto-foto itu adalah foto orang-orang yang keluar masuk rumah Luisa. Juga ada foto dari Aera yang pergi kesebuah rumah sederhana bersama Gustav. Ternyata, selama ini dia mengawasi rumah itu sejak Audric memberi keterangan bahwa Luisa pergi.


"Apa yang mereka lakukan dibelakangku?" bisiknya.


Dia menoleh pada pintu ketika seseorang mengetuk dua kali. Adolf sedang berada di dalam ruang kerjanya.


"Masuk!" perintahnya.


Seseorang masuk kedalam, dia adalah sekretaris pribadinya. Pria berkulit hitam yang berasal dari afrika. Dia juga merupakan sahabat dekatnya saat dibangku kuliah hingga sekarang. Pria bernama Harry itu langsung duduk di hadapan Adolf.


"Semua orang-orang yang ada difoto ini adalah pengajar. Begitu juga orang yang ditemui Luisa di rumah itu."


"Untuk apa dia belajar setelah bepergian?"


"Jika kabar sebelumnya dari pelayan lama Luisa itu benar, artinya sesuatu telah terjadi. Apa kamu tidak melihat ada keanehan saat berkunjung tadi malam?"


"Bukan hanya tadi malam, keberadaan Audric dirumah itu saja sudah aneh. Mereka tidak pernah tinggal bersama setelah Luisa memutuskan tinggal sendirian setelah orang tua mereka meninggal. Hubungan mereka tidak sedekat itu."


"Coba lihat ini, aku mendapatkannya pagi ini."


Harry menunjukkan sebuah foto yang di ambil dari luar jendela kamar Luisa. Itu adalah saat pagi hari dimana Audric mengelus puncak kepala Aera sebelum pergi bekerja. Meski gambarnya tidak terlalu jelas, tapi Adolf tahu itu adalah Audric dan Aera. Tentu saja, Aera yang dikira Luisa.


"Sejak kapan Audric selembut ini?"


Adolf mengembalikan ponsel Harry, lalu dia mulai mengingat semua keanehan Luisa yang ditemuinya tadi malam.


"Aku punya dugaan, tapi itu akan dikonfirmasi ketika pesta ulang tahun ibuku. Aku akan memastikannya saat itu."


"Apa? Memastikan apa?"


"Luisa yang sekarang bukan Luisa. Luisa pergi dan aku tidak tahu apakah Audric melakukan ini karena belum menemukannya. Selama setahun ini kita tidak bisa tahu Luisa dimana, bukankah aneh jika dia hanya pergi liburan tapi terlihat menyembunyikan diri?"


"Ya, itu masuk akal setelah keluargamu mendesak pernikahan sebelum pemilihan umum. Jadi kamu akan memastikannya saat pesta?"


Adolf mengangguk sebagai jawaban. Dia menghembuskan napas dengan berat. Menatap foto Luisa yang lama, lalu mengambil foto Luisa yang saat ini sebenarnya adalah Aera.


"Mereka terlihat sama difoto. Tapi saat menemuinya tadi malam, sorot mata mereka terlihat berbeda. Karena jarang bertemu, entah aku salah atau tidak, tapi fitur wajahnya juga sedikit berbeda. Meski hanya beberapa kali bertemu, aku mengingat jelas wajah Luisa. Aku pikir dia melakukan operasi plastik, itu bisa saja kalau perkiraan kita salah. Tapi semua guru-guru ini termasuk guru bahasa Jerman. Bukankah ini sangat aneh?"


Harry melihat kegelisahan dimata itu. Keraguan dan kekecewaan. Sejak mengenal Adolf dan dekat dengannya, Harry tidak pernah menyukai gadis manapun. Meski dia beberapa kali bermain-main, tapi dia tidak mengikat wanita-wanita itu dengan serius. Tapi berbeda ketika dia mengenal Luisa, Harry tidak bisa tidak menduga bahwa Adolf mulai tertarik dengan tunangannya.


"Kamu hanya perlu memastikannya. Aku akan mencari informasi lain. Para pengajar yang Luisa temui dia rumah kecil itu adalah pengajar yang juga mengajar di universitas Humboldt, mereka para profesor terbaik dibidangnya."


"Tapi Luisa telah lulus dua tahun yang lalu. Apa dia ingin mengambil gelar lagi?" Luisa lulus cepat dari teman seusianya karena dia melakukan akselerasi beberapa kali.


"Aku tidak tahu, aku akan memastikannya nanti. Tapi cukup aneh ketika dia kuliah lagi tapi melakukannya ditempat lain, sementara rumahnya adalah tempat terbaik."


"Dapatkan informasi secepatnya." perintah Adolf.


.


Aera tidak menyangka bahwa waktu ini akan datang juga. Dimana dia akan mendatangi pesta ulang tahun calon mertuanya. Audric telah mengajarinya banyak hal tentang mereka, meski begitu dia tetap gugup. Bagaimana tidak, dia sama sekali tidak mengenal mereka. Meskipun telah menghapal orang-orang itu, tentu saja akan berbeda bertemu langsung.


"Kamu siap?"


Aera mengangguk dengan ragu. Memasuki pertengahan musim dingin, udara juga semakin sejuk dan suhu diluar sungguh dingin bagi Aera yang belum terbiasa.


Gaun panjang dengan mantel tebal menyelimuti bahunya hingga telapak kaki, membuat Aera kesulitan berjalan. Mantel itu terasa berat dan gaunnya terlalu ketat untuknya. Meski di bagin bawah memiliki belahan agar ia leluasa untuk berjalan, tetap saja Aera tidak nyaman.


Audric menatapnya, merapikan mantelnya dan memggenggam tangannya. Membawanya pergi menuju kediaman keluarga Ackerman.


"Ini pertemuan ketiga Luisa dengan keluarga ini. Jangan gugup dan bersikaplah dengan anggun."


"Aku mengerti." jawab Aera.


Dalam perjalanan, mata Audric tidak lepas dari Aera yang terlihat tidak nyaman. Wajah cantik yang mirip adiknya itu, semakin lama semakin berbeda dimatanya. Entah bagaimana, Audric tidak melihat kemiripan mereka lagi.


'Mungkin karena cara pandangku dan aku mengetahui kenyataan sebenarnya.' monolognya dalam hati untuk menjawab kebingungnnya.


Begitu mereka sampai, Adolf langsung menghampiri dan mengulurkan tangannya ketika Aera hendak turun dari mobil. Mendahului Audric yang masih berputar dari pintu lain.


"Selamat datang Lui, selamat datang juga untukmu, Audric."


Audric tersenyum tipis dan mengangguk sebagai bentuk kesopanan. Pesta ini hanya untuk kalangan tertentu dan sangat tertutup. Sehingga menguntungkan bagi Audric agar tidak mengekpos Aera ke publik.


"Ya ampun, Inikah Lui yang cantik? Kamu benar-benar sangat cantik, Luisa. Adolf pasti sangat beruntung."


Aera tersenyum tipis, berterima kasih seadanya. Dia ingat fotonya ada di dalan urutan kedua dibawah keluarga inti Martell. Dia adalah Ivana martell. Istri dari adik mendiang ayah Audric.

__ADS_1


"Halo bibi, Anda terlihat sehat."


"Tentu, seperti yang kamu lihat. Apa jalan-jalan membuatmu bahagia? Tapi... Kenapa wajahmu terasa sedikit berbeda? Kamu melakukan operasi plastik? Atau botox?"


Adolf yang mendampinginya sangat tahu Ivana begitu tidak menyukai Luisa. Karena itu, dia mencoba membantunya.


"Maaf Bibi, saya harus membawanya bertemu dengan ibu."


"Tentu, Silahkan." ujarnya. Dia tersenyum lebar ketika Aera melewatinya.


"Adikku terlihat lebih cantik, itu karena dia jauh lebih muda dari anda Bibi. Kenapa Anda selalu saja tidak ingin kalah? Sadarilah usia Anda."


Audric yang sedari tadi sudah geram meluapkan kekesalannya. Dia masih mempertahankan wajah datarnya, tapi sorot matanya terlihat menyimpan amarah. Tampa menunggu respon bibinya, dia pergi untuk menyapa tamu lain. Namun matanya tetap mengawasi Aera yang dibawa oleh Adolf.


Pesta berjalan sangat baik. Sangat meriah dengan acara puncaknya adalah dansa dengan musik yang sangat indah. Aera berdansa dengan Adolf pada awalnya. Namun ketika pergantian pasangan dansa, Audric mengambil alih dan tidak melepaskannya sampai musik kedua selesai.


"Kamu lelah?" tanya Audric.


"Hmm, kakiku sedikit sakit."


"Lui, maukah kamu jalan-jalan sebentar denganku?"


Aera yang sedang duduk di kursi dan Audric yang berdiri di depannya, langsung menoleh ketika Adolf menghampiri mereka lagi.


"Kakinya sakit, aku pikir sebaiknya dia istirahat disini."


Adolf menatap kaki Aera lalu beralih pada Audric. Dia tersenyum tipis sambil membuat jarak lebih dekat lagi.


"Kalau begitu, aku akan mengantarnya keruangan lain. Dia bisa istirahat sementara disana sampai acara selesai."


Audric mengangguk setuju. Meski didalam hati tidak setuju, dia tidak bisa menunjukkannya begitu saja. Bagaimanapun, Adolf adalah tunangan Luisa.


Aera menatap Audric sebelum meraih uluran tangan Adolf. Gerakan-gerakan kecil mereka tentu saja selalu diperhatikan oleh Adolf sejak tadi. Dia sudah merasa sangat curiga dan terganggu oleh sikap Audric yang terkesan posesif pada adiknya.


Aera dibawa ke sebuah rumah kaca tidak jauh dari sana. Ada tempat duduk yang nyaman untuk dia beristirahat. Seorang pelayan datang dan menyuguhkan teh hangat untuk mereka.


"Sebulan lebih setelah pertemuan terakhir kita, bukan? Aku tidak sabar untuk berdiri di altar bersamamu."


"Ya?"


"Aku tidak terkejut, aku hanya tidak menyangka mereka akan melakukannya secepat ini."


Adolf tersenyum, "Tidak cepat, Lui. Kita sudah bertunangan cukup lama. Sekarang ceritakan, bagaimana jalan-jalanmu."


Aera tidak tahu kenapa Adolf memintanya bercerita. Padahal dia tahu bahwa Luisa wanita yang cukup dingin dan tidak banyak bicara.


"Tidak ada yang ingin aku ceritakan. Semua hanya hal yang biasa."


"Begitukah? Karena apa yang kamu lakukan telah membuat kita menunda pernikahan selama setahun, aku pikir kamu ingin melakukan hal-hal yang bearti sebelum terikat pernikahan."


Jadi ini maksudnya?


Aera memahami bahwa Adolf sedang menyindirnya bahwa lari dari pernikahan tidak akan ada gunanya. Karena semua telah ditetapkan untuk mereka.


"Aku tidak berusaha menunda ataupun lari dari pernikahan. Aku hanya ingin jalan-jalan saja untuk menyegarkan otak."


"Aku tidak menuduhmu lari, aku tahu kamu tidak bisa walau ingin."


Deg!


'Sial! Apa aku salah bicara? Apa sih maksudnya?'


Aera yang kebingungan akhirnya memilih diam. Mengedarkan pandangannya kearah tumbuhan yang terlihat beku diselimuti salju. Sepertinya itu adalah bunga-bunga, Aera tidak tahu jenis bunga apa, dia pernah melihatnya dirumah Luisa tapi tidak benar-benar mencari tahu jenisnya.


"Aku dengar kamu suka bunga, jenis bunga apa yang paling kamu sukai?"


'Kenapa dia menanyakan hal seperti itu? Kenapa Gustav tidak memberitahuku bahwa Luisa suka bunga. Dari mana juga pria ini tahu?'


Aera melebarkan matanya, dia langsung menatap Adolf dengan wajah terkejutnya yang biasa. Sangat berbeda dengan Luisa yang selalu datar.


'Apa dia memata-matai tunangannya selama ini?'


Aera yang sibuk dengan pikirannya tidak sadar bahwa Adolf menatapnya dengan heran sekaligus takjub. Bagaimana lucunya wajah Aera saat ini adalah hal yang tidak pernah Adolf lihat.


"Lui?" sapanya.


"Huh? Oh... Ya, bunga kan? Bunga itu cantik."

__ADS_1


Adolf tidak bisa menyembunyikan tawanya. Dia merasa sangat terhibur dengan tingkah lucu wanita dihadapannya ini.


"Apa ini sifat aslimu? Dulu kamu sangat dingin dan terlihat membenciku. Aku senang saat kamu mulai bersikap santai."


"Maaf, jika kamu tidak nyaman."


Adofl menatapnya lagi dengan saksama. Seperti sedang menilai dan meneliti, lalu tersenyum kemudian.


"Kamu yang seperti ini sangat mudah membuat orang jatuh cinta."


"Aku tidak tahu, aku pikir berubah menjadi lebih baik itu bagus."


"Sepertinya jalan-jalan membuat sifatmu jadi ramah."


"Sepertinya begitu, apa ini tempat favoritmu dirumah ini?"


Adolf yang tadinya akan mengangkat gelas teh, menghentikan geraknnya sesaat. Dia menarik sudut bibirnya sebelum meminum tehnya.


"Kamu sepertinya lupa, ini ketiga kalinya kita bicara disini dan aku pernah mengatakan bahwa aku membuat rumah kaca ini karena dirimu."


Aera terdiam, dia tidak tahu tentang hal ini. Dia merutuki pilihannya menyetujui kontrak ini, namun karena tidak ada pilihan dan demi sang nenek, Aera berusaha menghadapinya.


"Mungkin karena aku sudah lama tidak kesini." sahutnya.


"Tentu saja bukan itu alasannya, kamu memang tidak tahu, bukan?"


Deg!


Aera yang sedari tadi menghindari tatapan Adolf, kini menatap mata pria itu dengan wajag kakunya.


'Apa aku tertangkap? Secepat ini?'


"Apa kamu tahu? Aku pernah menyatakan perasaanku pada Luisa. Bahwa aku tertarik dengannya. Karena itu aku tahu seperti apa dia walau kami sangat jarang bertemu. Jadi... Kenapa tidak kamu katakan siapa kamu sebenarnya? Karena aku tidak bisa menemukan identitasmu. Audric bekerja dengan sangat baik."


Jantung Aera terasa akan melompat keluar. Dia menggigit bibirnya tampa sadar. Lalu menunduk dengan wajah tertekuk. Selayaknya anak kelinci yang tertangkap, Adolf tidak tahu mengapa dia tidak bisa terlalu marah padanya. Aera terlalu lucu dimatanya, sehingga membuatnya penasaran seperti apa dia sebenarnya.


"Aku tidak akan marah padamu. Jadi ayo bekerja sama."


Ini adalah keputusan mendadak yang tiba-tiba datang begitu saja padanya. Adolf tersenyum begitu Aera mengangkat kepalanya lagi.


"Be-bekerja sama?"


Aera bingung, meski begitu ketakutannya sedikit berkurang.


"Jangan beritahu Audric aku sudah tahu tentang dia yang menipuku dengan Luisa palsu. Maka aku akan bersikap seoalah tidak tahu apa-apa. Ayo lanjutkan saja sandiwara ini sampai Luisa yang asli muncul."


Aera tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apa yang harus ia pilih dan putuskan. Dia butuh Audric untuk neneknya. Tapi dia juga butuh Adolf saat ini untuk tetap menjaga rahasia ini.


"Aku..."


"Bukankah kamu tidak punya pilihan selain setuju?" potong Adolf.


Aera menunduk, mereka mendengar suara langkah mendekat. Dengan cepat Aera menoleh, melirik kearah luar rumah kaca. Disana, beberapa meter dari tempat mereka, Audric terlihat sedang mencari sesuatu.


"Berdirilah, kakak palsumu sedang mencarimu."


Mau tidak mau Aera berdiri. Ketika Adolf mengulurkan tangan, dia menyambutnya dengan terpaksa.


Tampa di duga, Adolf menariknya kedalam pelukannya. Tepat ketika Audric menemukan keberadaan mereka. Mata Aera bertemu dengan mata Audric. Mereka saling menatap dalam kerisauan masing-masing. Sementara itu, Adolf membisikkan kalimat yang membuat Aera terkejut.


"Jika Audric tahu rahasia kita, maka aku akan mengumumkan pada dunia bahwa kepala keluarga Martell menipu keluarga Ackerman."


"Aku mengerti." jawab Aera.


"Lui, acara telah selesai. Adolf, aku dan adikku akan segera pulang. Maaf jika mengganggu waktu kalian."


Adolf melepaskan pelukannya, lalu tersenyum dengan ramah seperti biasa.


"Tentu saja, Lui! Istirahatlah dengan baik. Aku akan mengunjungimu besok. Mulai sekarang, aku akan sering menemuimu karena kita akan segera menikah."


"Aku mengerti." jawab Aera.


"Selamat malam, Lui." tambah Adolf lagi, lalu mencium pipinya.


Hal itu membuat Aera terkejut. Namun sebisa mungkin dia bersikap biasa. Dia tidak ingin Audric menyadari wajahnya yang ketakutan.


Adolf menatap kepergian mereka dengan tangan terkepal. Antara marah dan tidak. Dia marah pada Audric dan Luisa. Tapi entah mengapa hatinya mengasihani Aera yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya. Seolah dia tidak diizinkan untuk membencinya. Dia hanya harus mencari tahu, alasan gadis itu mengikuti permainan yang dua beradik kakak itu buat.

__ADS_1


__ADS_2