
Dini hari, tepat pukul tiga malam, Gustav berdiri di depan pintu apartemen Luisa. Gadis itu dengan kesal membuka pintu yang terus berbunyi. Menatap Gustav dan sedikit terkejut dengan keadaannya.
"Audric memukulmu?"
"Tidak, pengawal yang melakukannya. Dia menebak dengan benar rencana Nona kali ini."
Luisa tertawa kecil. Tampak tidak peduli pada keadaan Gustav yang babak belur.
"Tentu saja dia akan tahu, dia bukan pria bodoh dan kamu juga pasti sudah menduganya. Tapi kenapa kamu tidak pergi dari sana sebelum dia memukulimu?"
"Keadaan menjadi diluar kendali. Tidak seperti dugaan Anda. Tuan Adolf menyembunyikan Nyonya Aera dan bersikap tidak tahu apa-apa."
"Apa kamu sudah memastikan sendiri Adolf tidak membawa Aera kerumahnya?"
"Ya, dia tidak ada disana. Tuan Adolf juga tidak ada dirumahnya saat ini."
"Apa yang dilakukan Audric sekarang?"
"Dia menjadi sangat diluar kendali. Dia..."
Suara langkah kaki menghentikan obrolan mereka. Audric muncul dari balik dinding dan langsung menendang Gustav hingga jatuh. Beberapa orang pengawal ikut bersamanya langsung memegangi Gustav dan memaksanya berdiri dengan benar. Menyeretnya masuk bersama Luisa yang didorong kasar oleh Audric untuk masuk.
Audric mendorong Luisa sampai terjerembab keatas lantai. Begitu juga Gustav yang diperlakukan sama. Audric berdiri dengan aura gelap dan sorot mata penuh amarah.
"Aku mengatakan padamu untuk tetap diam ditempatmu. Tapi tampaknya kamu kini punya rencana sendiri. Apa kamu berencana kembali dan menjadi istri bajingan itu? Kenapa kamu membuat rencana ini jika kamu menghancurkannya pada akhirnya?"
Luisa dipaksa berlutut dihadapannya. Membuat gadis itu harus mendongak untuk menatap mata kakak tirinya itu. Tidak ada raut takut diwajah Luisa. Seolah kemarahan Audric tidak berpengaruh padanya.
"Itu karena ulahmu sendiri. Lihatlah, kamu menjadi harimau yang mengamuk saat dia kabur. Harusnya dia berada dirumah suaminya, aku hanya menempatkannya pada tempat yang benar, Kakak!" Luisa menyeringai.
"Dimana tempatnya, itu bukan urusanmu. Dia milikku dan tempatnya adalah di sisiku!" Audric mencengkram rahang Luisa ketika dia mengatakan hal itu. "Ini peringatan terakhirku karena kamu adikku. Aku tidak akan segan-segan memotong satu tanganmu jika kamu ikut campur lagi!"
Audric menghempaskan wajah Luisa dan bangkit berdiri.
"Tempatkan dia di dalam kamarnya. Jangan biarkan siapapun menemuinya dan jangan biarkan kakinya melangkah keluar." perintah Audric sebelum keluar dari sana.
'Kamu benar-benar jatuh cinta, Kakak? Tampa tahu siapa Aera sebenarnya? Ini akan menjadi permainan yang sangat menarik.' kata Luisa dalam hati.
.
Audric tidak tidur semalaman. Setelah tahu apa yang diketahui Aera, dia benar-benar seperti kehilangan separuh dirinya ketika tahu Aera pergi. Dia hampir membunuh Gustav dengan pistol kalau saja Friedrick tidak menahannya. Kemarahan Audric lebih besar lagi setelah tahu bahwa Luisa juga mempermainkannya sejak awal. Bahwa tidak ada cinta yang diperjuangkan, dia hanya tidak ingin menikahi Adolf. Alasan dangkal yang dikarang Gustav untuk melindungi identitas Luisa dan Aera.
Seminggu berlalu setelah Aera menetap dirumah Harry. Audric belum bisa menemukannya. Adolf juga kembali kerumah keesokan harinya saat Aera kabur. Aera menggunakan rumah Harry di dampingi seorang pelayan dari kediaman Adolf.
Sampai pada akhirnya, ketika Aera mengejar kucingnya yang lari ke luar pagar rumah. Dia bertemu dengan Rubelia yang baru saja menolong tetangga Harry yang mengalami kecelakaan di jalan.
"Luisa?"
Rubelia menatap rumah yang ada dibelakang Aera. Lalu tersenyum dengan ramah. Penampilannya yang elegan dan sangat berkelas membuat Aera canggung. Karena saat ini, dia hanya memakai piyama dan sendal rumahan. Rambut panjangnya tergerai begitu saja.
Yang lebih membuat canggung lagi, saat Aera mengingat bahwa status wanita ini adalah wanita yang dijodohkan dengan Audric. Dia takut Rubelia akan segera memberi tahu Audric tentang keberadaannya.
"Kamu tidak tinggal disini dengan Adolf kan? Maksudku... Rumah ini sedikit kecil untuk orang seperti kalian. Lalu penampilanmu..."
Rubelia ternyata masih berpura-pura tidak mengetahui identitas Aera. Dia masih memperlakukan Aera sebagai Luisa.
"Aku hanya menginap dirumah teman. Jangan pikirkan tentangku, urus saja urusanmu sendiri." sahut Aera dingin.
Dengan cepat Aera berbalik dan masuk kedalam. Meninggalkan Rubelia yang keheranan dengan sikapnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa gadis kecil ini ada disini? Apa Audric melepaskannya? Permainan berakhir?"
Rubelia memang sudah lama tidak bertemu Audric. Jika bukan perkara bisnis, mereka tidak akan bertemu. Jadi dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
Aera sendiri langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Mencari ponsel yang nomornya sudah diganti dan langsung menghubungi Adolf.
"Apa? Diluar kota? Kenapa tidak memberitahuku?" paniknya ketika dia bertanya dimana Adolf sekarang.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku dikejar waktu. Sejak dua hari yang lalu, masa kampanye dimulai. Aku akan sangat sibuk. Jika ada masalah, katakan pada Benjamin, aku sudah memerintahkannya untuk kesana. Sebentar lagi pasti dia akan sampai. Ah, aku harus memulainya. Nanti aku hubungi lagi, sampai jumpa, Aera."
Sambungan dimatikan, Adolf terdengar sangat buru-buru dan ada banyak suara disekelilingnya. Aera menghembuskan napas, berpikir keras bagaimana cara menghindari Audric. Bagaimanapun, dia belum siap menemuinya lagi.
.
Rubelia baru saja sampai di dalam gedung perusahaannya. Dia langsung dihampiri Selena. Wanita yang lebih tua darinya itu langsung menyampaikan beberapa jadwalnya.
"Selena!"
"Ya?"
"Apa kamu mendengar sesuatu tentang pernikahan Luisa? Hal-hal janggal... Rumor yang aneh misalnya?"
Selena yang sedang fokus pada tabletnya menghentikan langkahnya. Rubelia ikut berhenti, mereka masih berada di tengah-tengah lobi.
"Saya tidak mendegar apapun, apa saya perlu mencari tahu?"
"Tidak, aku akan bertanya langsung pada Audric. Aku pikir... Sesuatu telah terjadi."
Rubelia kembali melanjutkan langkahnya. Ketika sampai di dalam ruangannya, dia langsung menghubungi Audric.
Keningnya bertaut kala Audric tidak menjawab panggilannya. Maka dia mengirim pesan karena kawatir mengganggu waktunya. Namun, baru saja dia meletakkan ponselnya, Audric meneleponnya. Membuat dia menarik sebuah kesimpulan dalam kepalanya.
"Aku menghubungimu dua kali tapi kamu mengabaikanku. Begitu aku menyebut nama Aera kamu langsung bereaksi. Jadi aku yakin terjadi sesuatu, benar bukan?"
"Dimana kamu bertemu dengannya? Bagaimana keadaannya? Dengan siapa dia pergi? "
Kekawatiran dan kerinduan, itulah yang bisa ia simpulkan dari nada suara Audric. Membuat dia langsung berdiri dari kursinya. Dia cukup tercengang karena tidak pernah mendengar suara Audric putus asa seperti ini.
"Ada apa dengan kalian? Apa yang telah terjadi? Apa Adolf membuang Aera?"
"Tidak, dia justru menyembunyikannya dariku. Jadi kumohon katakan dimana Aera sekarang."
Lagi-lagi Rubelia tercengang, seorang Audric memohon padanya. Itu adalah suatu keajaiban.
.
Maka, disinilah mereka. Setelah menunda beberapa jadwal mereka, Audric dan Rubelia beada di depan pintu pagar rumah Harry.
"Ini adalah rumah Harry, sekretaris pribadi Adolf. Hanya beberapa tetangga yang mengaku mengenal Harry, selebihnya mereka mengenal Harry dengan karyawan sebuah perusahaan." lapor seorang pria yang lebih dulu tiba dan menyelidiki wilayah tersebut.
"Aku dengar Adolf memiliki jadwal di luar kota. Kamu yang mengaturnya?" tanya Rubelia. Mereka telah turun dari mobil.
Audric tidak menjawab, karena bukan dia juga yang mengaturnya. Adolf murni pergi karena urusan politiknya sendiri. Dia juga tidak bisa berpikir jernih akhir-akhir ini. Yang ada dipikirannya hanya menemukan Aera dan membawanya kembali.
"Dia benar-benar tak tertolong."
Harald melirik Rubelia yang baru saja mengatakan hal itu. Dia sendiri juga tidak menyangka efek kepergian Aera akan berdampak sebesar ini pada bosnya itu. Meski dulu dia pernah memprediksinya, bahkan bersumpah tidak akan peduli saat Audric menyesali sikapnya, tetap saja saat melihat Audric kehilangan arah seperti ini membuatnya prihatin. Belum lagi selama seminggu ini semua pekerjaan terasa lebih berat untuknya karena Audric.
"Maaf, siapa yang Anda cari?"
Benjamin, pria yang ditugaskan Adolf menjaga Aera yang membukakan pintu. Pria itu terlihat seumuran dengan Aera, membuat kerutan muncul di perempatan kening Audric.
"Dimana pemilik rumah ini?"
"Keluar kota, maaf Anda siapa?"
"Wanita yang tinggal disini, aku ingin bertemu dengannya."
Benjamin melirik Rubelia, Harald dan Selena yang muncul di belakang Audric.
"Wanita? Tidak ada wanita yang tinggal disini, Tuan."
Audric mengepalkan tangannya. Dia nyaris melakukan kekerasan dan kehilangan pengendalian dirinya lagi kalau saja seekor kucing jantan bewarna putih tidak mengendus-endus kakinya.
Audric tersenyum tipis, dia mengambil kucing itu dan menggendongnya dengan benar.
__ADS_1
"Katakan padanya aku akan membawa Coco pergi kalau dia tidak mau menemuiku."
"Ya ampun, apa menurutmu ancaman itu akan mem..."
Rubelia mengedipkan matanya karena tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Hanya selang beberapa detik setelah Audric berkata begitu, Aera menyeruak dan mengambil paksa Coco dari tangan Audric. Menatap Audric dengan tajam dan tentu saja, penuh dengan kebencian.
"Pergi! Aku tidak mau bicara dengan orang jahat sepertimu!"
"Wah, kamu perlu bekerja keras. Perlu bantuanku?" tanya Rubelia.
"Kembalilah, terima kasih atas bantuanmu. Aku akan mengabulkan permintaan investasi pada perusahaan kosmetik barumu."
"Ya ampun, kamu baik sekali. Itu baru teman baikku. Ayo Selena, kita harus menemui Nyonya Anna."
Rubelia tampak sangat senang. Inilah tujuannya mau repot-repot membantu mengurusi masalah asmara Audric. Begitu dia melihat peluang, dia langsung menangkapnya dengan sangat baik. Sebelumnya Audric selalu menolak karena kosmetik sama sekali bukan hal yang menarik minatnya.
"Anda akan tetap disini, Tuan?" tanya Benjamin.
Benjamin masih berdiri dihadapan mereka. Dia bukannya tidak tahu siapa Audric. Tapi dia bukan atasannya, sehingga dia harus menemukan cara untuk membuatnya pergi.
"Harald."
Harald maju dan memberikan senyum khas dirinya jika ingin membuat seseorang mematuhi perintahnya. Tapi Benjamin malah membalasnya dengan sama baiknya. Membuat Harald terpaksa menggunakan kekerasan.
Audric masuk kedalam, mencari kamar yang mungkin di tempati oleh Aera. Dia mengambil vas besar di atas meja riah, lalu menjatuhkannya dengan santai ke lantai. Membuat vas itu hancur berkeping-keping.
Aera yang duduk di kasur dengan cemas, reflek berdiri saat mendengar suara yang dibuat Audric. Harald memukul keningnya setelah berhasil melumpuhkan Benjamin. Ketika pintu terbuka dan Aera muncul dengan raut cemas, seketika Audric memasang wajah tak tahu apa-apa.
"Lepaskan Benjamin, Harald! Kamu! Apa yang kamu lakukan, sih!" marah Aera, menatap vas yang hancur lalu Audric setelah Harald melepaskan Benjamin.
"Ayo pulang, sudah cukup seminggu ini kamu pergi."
Aera benar-benar tak percaya akan apa yang di dengarnya.
"Pulang? Kalau aku akan pulang, hanya ada satu tempat pulang untukku, yaitu rumah nenekku. Jadi pergilah dan jangan menggangguku lagi. Aku tidak mau terlibat dengan kalian lagi! Bawa adikmu pulang dan selesaikan sendiri masalah kalian! Kenapa kalian malah mengorbankan hidup orang lain!"
Audric tidak menjawabnya. Pria itu tetap berdiri diam ditempatnya dan hanya menatap Aera dengan pandangan minta maaf.
"Bagi kalian sepertinya hidup orang lain tidak penting kan? Bahkan kamu memaksaku dan memanfaatkan penyakit nenekku!" Aera terus meluapkan amarahnya. "Apa sikapmu selama ini juga palsu! Yang mana dirimu yang sebenarnya?" Aera mendengus keras, "Hah! Sial! Untuk apa aku bertanya pada pria yang punya banyak wajah sepertimu!"
Aera masuk kembali ke dalam kamarnya, mengambil dompet dan memasukkan kucingnya dalam tas kucing yang telah ia beli. Aera telah mengganti piyamanya pagi tadi dengan dres selutut. Dia ingin pergi dari sana untuk menyegarkan otaknya.
Tapi sayangnya mereka tidak membiarkannya sendiri. Audric mengikutinya dibelakang, berjalan dua meter dibelakangnya. Harald mengendarai mobil dan mengikuti mereka dengan pelan. Sementara Benjamin mengikuti Aera dan berjalan dengan kikuk dibelakang Audric.
Kemanapun Aera pergi, bahkan menggunakan transportasi umum. Audric mengikutinya dalam diam. Membuat Aera jengkel dan akhirnya berhenti di salah satu gang kecil.
"Berhenti mengikutiku!" bentaknya.
"Aku tidak bisa, ada banyak mata yang sejak tadi ingin menerkammu. Aku tidak mungkin meninggalkan anak rusa sendirian ditengah kawanan serigala."
Lihatlah, Audric tersenyum. Demi Tuhan seorang Audric tersenyum seperti orang bodoh dihadapannya. Jenis senyum yang belum pernah Aera lihat. Tapi mengingat kebohongan Audric dan hidupnya yang dipermainkan, senyum itu terasa sedang mengejeknya.
"Apa maksudnya si brengsek ini tersenyum seperti itu?" gerutunya dalam bahasa Indonesia.
Entah kenapa segala ketakutannya pada sosok Audric hilang begitu saja. Sikap Audric yang seperti itu membuatnya kesal dan ingin terus marah padanya. Bahkan sampai detik ini, pria dihadapannya itu tidak mengucapkan maaf sama sekali.
"Ayo pulang, aku akan menjelaskan segalanya. Ayo buat kesepakatan dan kamu boleh meminta apapun. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu." bujuk Audric.
Harald yang menunggu di seberang jalan hanya memijit kepalanya dengan keras. Semua jadwal hari itu kacau dan dia terpaksa menyusunnya kembali. Meminta maaf pada beberapa orang dan menerima kemarahan beberapa rekan bisnis mereka.
"Sialan! Mereka hanya berani marah padaku. Kalau di depan Audric langsung mencicit seperti tikus!" gerutunya kesal.
Dia membuka jendela dan mengeluarkan rokok. Setidaknya dia bisa menikmati kebodohan yang dilakukan Audric saat ini. Harald bahkan terkekeh melihat kelakuan Audric hari ini yang menurutnya sangat menggelikan. Jika orang lain tahu, harga dirinya akan langsung tercoreng sebagai kepala keluarga Martell.
"Aku tidak pernah jatuh cinta dengan benar juga, tapi setidaknya tidak sebodoh dia." ejeknya pada Audric. "Aku harus memberikan Aera penghargaan nanti," lanjutnya. Menghembuskan asap rokoknya keluar lalu mendengarkan musik dengan hikmat.
Dia yakin saat ini Aera sedang marah-marah dan Audric hanya mendengarkannya seperti orang bodoh. Di memang sudah menjadi bodoh seminggu ini di mata Harald.
__ADS_1