BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Tertembak


__ADS_3

Kabar kalau Audric terbang ke Valencia tentu saja sampai ketelinga Luisa. Dia juga mendapat laporan kalau Adolf membawa Luisa dan neneknya. Sehingga saat ini Aera berada dibawah kendali penuh Adolf. Tidak ada satupun orangnya yang berada di sekitar Aera.


"Aku harap kamu tidak selemah itu, kalau sampai Audric mendapatnya, pria itu hanya akan menghancurkan martabatnya dan membuat posisiku menjadi sulit."


Luisa menggigit kukunya, dia cukup kawatir. Gustav yang berdiri disampingnya hanya diam. Sejak dia melayani Luisa lagi, Gustav tidak banyak bicara. Dia hanya mematuhi perintah Aera seperti sebuah robot.


Luisa mencoba menghubungi Adolf, tapi pria yang berstatus sebagai suaminya itu tidak mengangkatnya. Dengan kesal dia akhirnya mengirim pesan chat. Luisa selalu tidak bisa bekerja sama dengan baik dengan Adolf. Pria itu kini memegang kelemahannya dan itu cukup mengganggu. Berbeda dengan Audric yang akan menahan diri, Adolf tidak punya kekawatiran untuk mengungkap identitasnya.


"Audric akan mendapatkannya, tidak peduli jabatan Adolf, dia tidak akan menang. Gustav! Perintahkan mereka untuk menemukan Aera. Lalu... Bunuh neneknya dengan menggunakan orang kakakku."


"Ma-maaf, membunuh neneknya?"


"Dengan begitu dia akan membenci Audric selamanya. Perjanjian batal setelah keberadaannya terungkap, itu bukan salahku."


Setelah mengatakan hal itu Luisa menyeringai. Gustav mengerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak ingin melakukannya tapi dia tidak bisa melawan perintah itu.


.


Audric menghubungi Adolf. Mengajaknya bertemu untuk melihat apakah dia bisa mendapatkan petunjuk atau tidak. Meski mereka kini bersatu dalam politik dan telah menjadi keluarga, perang dingin antara keduanya tetap berlanjut.


"Keberadaan Anda di kota ini mengejutkan saya. Anda mengajak bertemu secara tiba-tiba, apakah ada hal mendesak sehingga bertemu ditengah malam begini, Kakak ipar?"


Keduanya tampak tenang, bahkan Adolf menampilkan senyum bisnis yang bisa menipu banyak mata. Tapi Audric seperti biasa, memasang wajah datarnya.


"Aku senang kamu bekerja dengan sangat tekun, ayahmu benar, kamu anak yang sangat berguna. Tapi saat ini, keberadaanmu disekitar wilayah ini sedikit mengangguku."


"Maafkan saya, saya hanya sedang bekerja. Anda tahu tidak ada yang bisa saya lakukan jika pekerjaan saya disini bisa mengganggu Anda, bahkan tampaknya merusak suasana hati Anda, Saya hanya menjalankan tugas negara. Saya juga bersikap baik sejauh ini."


"Bersikap baik, ya? Dengan bekerja sama dengan adikku dan menyembunyikan wanitaku?"


Atmosfir ruang pertemuan itu langsung berubah drastis. Harry dan Harald yang berdiri beberapa meter dibelakang keduanya langsung bersikap waspada.


"Wanitaku?" ulang Adolf, tidak ada kesan ramah lagi diwajahnya. "Sejak kapan?" lanjutnya dengan nada yang sangat angkuh.


"Tampaknya aku telah terlalu longgar akhir-akhir ini, sehingga tikus-tikus yang biasanya hanya mencicit saat malam hari kini berani keluar disiang hari. Apa kamu pikir aku menjadi lemah hanya karena aku lebih lunak sedikit?"


Jujur saja, Adolf bisa merasakan aura Audric yang membuatnya tertekan dan merinding. Namun dia tidak ingin mundur dan diam seperti dulu lagi. Dia ingin bergerak maju setelah ada diposisi ini. Tujuan utama yang membuatnya merangkak sejauh ini, menjatuhkan Audric dan membuatnya mengakui pembunuhan Leonor.


"Apa kamu tidak tahu bahwa seekor tikus juga bisa membunuh manusia?" balas Adolf, melupakan formalitas, dia menatap Audric dengan tajam.


"Benar, tapi jika manusia itu hanyalah sampah yang terbaring ditanah. Berbeda jika dia seorang yang kuat dengan singgasana ditangannya." Audric menyeringai. "Apa kamu pikir, menjalin kerja sama dengan anak tidak sah itu akan menguntungkanmu? Aku hanya tinggal membuka mulut dan kalian akan menjadi sampah yang ditinggalkan. Luisa telah menggali kuburannya sendiri, dia menarik sesuatu yang sangat berbahaya tampa ia sadari. Aera menjadi kelemahannya karna menjadi bukti hidup akan identitasnya, bukan? Karena itu kamu dan dia berusaha membuat Aera pergi dariku demi tujuan masing-masing. Jika aku menjadi Luisa, aku pasti tidak hanya mengirimnya pergi begitu saja, apa kamu berpikir bisa menyembunyikannya dariku?"


Adolf akhirnya sadar jika selama ini rencana mereka telah terbaca. Dia juga baru menyadari bahwa Audric bukannya baru mengetahui keberadaan Aera, dia sudah tahu sejak awal, dia hanya menahan diri selama ini. Tapi kenapa? Adolf tidak bisa menebaknya saat ini.


"Aera pergi atas keinginannya sendiri, lagipula itu adalah hal terbaik baginya. Berada didekatmu hanya akan membahayakannya. Terutama jika paman dan semua musuhmu tahu. Jangan membahayakannya lagi, kamu tidak akan bisa membahagiakannya."


Deg!


Kalimat terakhir itu seakan berhasil memukul Audric begitu kuat. Wajah datarnya tampak terganggu. Siapapun bisa melihat hal itu. Harald yang memperhatikannya dari belakang bisa melihat tangan Audric yang terkepal kuat.


"Lalu kamu pikir kamu bisa? Kamu sudah menikah, kamu ingin membuatnya dipandang rendah!"

__ADS_1


Audric berhasil membalasnya dengan sama kuatnya. Wajah Adolf langsung terlihat kesal.


"Jangan mengancamku dengan pernikahan yang tidak berarti itu. Seperti katamu, adikmu yang dulu berharga ternyata hanya anak tidak sah. Lucu bukan? Kamu pasti sangat kecewa mengetahui adik kesayanganmu menipumu. Bahkan kedua orang tuamu juga menipumu. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk memutus ikatan lemah itu."


"Cobalah, kamu akan langsung kehilangan dukungan dan jatuh dibawah kakiku dengan cepat." Audric mengubah posisi duduknya, meletakkan kedua tangannya yang saling menggenggam diatas meja dan meluruskan dirinya setelah tadi bersandar dengan nyaman. "Jadi sekarang, katakan dengan jelas dimana kamu menyembunyikan Aera. Sebelum kesabaranku habis dan membuka mulutku ini."


"Jika kamu membuka mulutmu, bukankah aku juga bisa melakukannya?" ancam balik Adolf.


"Baiklah, mari kita lihat apakah kamu akan berhasil menyembunyikannya dalam kota yang sudah aku kuasai ini."


Audric bangkit berdiri, dia segera keluar diikuti oleh Harald. Meninggalkan Adolf yang langsung menghembuskan napasnya.


"Aku sarankan jangan menemui Aera sekarang. Dia pasti menempatkan banyak orang disekeliling kita." kata Harry.


"Aku tahu, tapi aku sungguh kawatir. Jika Luisa tahu Audric disini, Aera dan neneknya dalam bahaya. Wanita gila itu bisa melakukan apa saja." sahutnya.


"Aku sudah menempatkan beberapa pengawal terpercaya."


"Ah... Sial! Luisa bodoh itu. Jangan sampai dia melakukan sesuatu pada Aera."


"Tampaknya Tuan Audric masih akan melindungi posisi istrimu. Di harusnya tidak merasa terancam sehingga tidak perlu berbuat terlalu jauh."


"Ya, tapi dia juga memegang aturan tinggi perihal status dalam keluarga itu. Dia tidak akan suka Aera bersama kakaknya. Selain itu, ada kecemburuan yang terlihat selama ini dari perilaku dan cara bicaranya. Dia tidak menginginkan kasih sayang Audric pada wanita manapun. Dia bahkan tidak bersikap baik pada Rubelia, wanita itu terlalu kekanakan dibalik sifat sok dewasanya itu."


"Tapi, apa yang akan Audric lakukan, itu adalah hal yang aku kawatirkan saat ini. Kita harus menjemput Aera dan membawanya pergi. Cepat atau lambat, Audric akan menemukannya disana," lanjut Adolf sembari bangkit berdiri.


.


Audric duduk di depan seorang pria yang cukup tua. Dia sedang berada dihadapan pemilik kekuasaan tertinggi wilayah otonom Valencia. Presiden yang merupakan teman lama orang tuanya. Hubungan mereka cukup baik dan diikat dengan tali yang disebut kesetiaan atas dasar balas budi dari sebuah kebaikan.


Pria itu tampak lelah. Tapi dia masih menyempatkan diri menyambut Audric dengan baik. Mereka sedang berada di ruang pribadinya. Tempat paling privasi setelah kamar dan hanya dimasuki oleh mereka yang diizinkan.


"Maafkan saya mengganggu istirahat Anda. Saya langsung kesini setelah menciptakan sedikit kekawatiran, tapi saya akan menjamin ini tidak akan menyebabkan masalah yang besar." jawab Audric dengan sangat sopan. Tidak ada kesan angkuh apalagi dingin disana.


"Ya ya, aku percaya padamu. Jadi, bolehkah aku tahu siapa yang membuatmu jadi kehilangan kendali ini? Aku dengar seorang wanita. Apa dia calon menantuku?"


Audric sedikit menunduk, dia hanya tersenyum canggung kemudian ketika pria itu terkekeh pelan.


"Aku jadi makin penasaran. Apa adikmu baik-baik saja? Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya. Saat pernikahannya aku juga tidak bisa hadir."


"Tidak ada hal yang perlu dikawatirkan, dia baik-baik saja."


"Ya, Aku harap demikian."


Audric jelas bisa melihat pria dihadapannya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Audric yakin dia tahu mengenai identitas Luisa karena dia adalah teman orang tuanya. Meski begitu Audric tidak ingin mengusiknya saat ini dengan masalah itu.


"Aku juga mendengar tentang para tetua yang sangat ketat akhir-akhir ini tentang pernikahanmu. Jika mereka mengetahui hal ini, bukankah akan menjadi sebuah masalah bagi gadis yang sedang kamu cari ini?"


"Karena itulah saya menemui Anda."


"Hohoho... Kamu ingin orang tua ini menjamin keselamatannya disini dari pada kamu membawanya ke Jerman?"

__ADS_1


"Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan. Menempatkannya disisi saya, atau menyembunyikannya dalam genggaman saya, hanya akan membuatnya dalam bahaya. Saya tidak ingin dia disentuh sedikitpun."


Pria tua itu menatap Audric untuk sesaat. Tampaknya sedang membaca emosi dan situasi yang saat ini Audric hadapi.


"Jika kamu berbuat sejauh ini, bisakah aku menyimpulkan bahwa gadis ini hanya rakyat biasa?"


"Anda benar, walau saya belum memeriksanya secara menyeluruh."


"Dia yatim piatu?"


"Ibunya sudah meninggal, tapi saya belum menemukan informasi terkait ayahnya."


"Baiklah, lalu bagaimana dengan anak Duke itu?"


"Itu masalah yang berbeda."


Pria tua berambut pirang itu menghembuskan napasnya dengan berat. Seolah sedang melihat anaknya yang sangat tidak peka.


"Aku sudah memperhatikanmu sejak kecil. Orang tuamu benar-benar payah dalam mendidik anak jenius sepertimu. Meski mereka cukup datar dan dingin, aku berharap kamu lebih hangat, bukan lebih parah begini?" nada bicaranya sedikit lembut tapi terkesan mengomel.


Audric tidak mengerti. Dia seperti sedang menghadapi Harald mode menyebalkan saat ini.


"Dengar, Ric." Audric hanya menatapnya dengan tenang, seperti seorang anak yang bersiap mendengarkan petuah orang tua. "Bagaimanapun juga aku menyayangi dan menghormatimu. Tapi, Ric... Kamu adalah puncak tertinggi keluargamu, hal yang tidak bisa kamu abaikan begitu saja demi seorang wanita. Walau hubunganmu baik dengan putri duke, kamu tetap harus memikirkan dampak pada penilaian duke yang menjadi bagian penting monarki disana. Jika kamu membatalkan perjodohan begitu saja, maka akan ada keretakan yang tidak diinginkan. Selain itu, para tetua itu juga tidak akan membiarkanmu menikahi kalangan biasa."


"Karena itulah saya membutuhkan Anda, Paman."


Jika Audric sudah memanggilnya paman, sudah jelas, itu tandanya dia benar-benar sedang memohon.


"Kamu ingin aku melindunginya disini, lalu apa rencanamu?"


"Bukan hanya melindungi, saya ingin Paman mengadopsinya."


Pria tua itu terdiam beberapa saat. Sejujurnya, dia memang tidak memiliki anak perempuan. Dia memiliki dua orang putra. Anak pertama yang telah menikah dan berada di wilayah berbeda meski masih bagian otonom Valencia, anak bungsunya sedang menyelesaikan gelar sarjananya saat ini.


"Aku perlu mendiskusikan ini dengan istriku."


"Terimakasih, Paman."


.


Aera tidak bisa tidur. Mereka hanya berdua di dalam villa dan beberapa penjaga yang diam-diam mengawasi diluar. Dia sungguh kawatir, apalagi baru saja Luisa mengiriminya pesan yang menyatakan bahwa Audric sangat marah.


Aera tahu seperti apa kemarahan Audric, apalagi dia pergi begitu saja tanpa penjelasan. Sesungguhnya Aera juga sangat takut akan kemarahan Audric padanya. Meski begitu, dia lebih menghawatirkan keadaan neneknya yang saat ini terus saja menanyakan banyak hal. Keadaannya juga menjadi sedikit memburuk.


Brak!


Aera terperanjat, dia langsung menyingkirkan selimut dan perlahan membuka pintu. Ada perkelahian diluar kamarnya. Tampaknya orang-orang Audric berhasil menemukan mereka.


"Tidak, Nenek!"


Aera berlari untuk melindungi neneknya yang keluar dari kamarnya. Namun belum sempat Aera mencapai posisi sang nenek, seorang pria yang tadi melawan pengawal milik Adolf melepaskan tembakan yang mengenai dada neneknya.

__ADS_1


Aera berlari dengan kencang menghampiri neneknya, seluruh perkelahian terhenti bersamaan dengan kedatangan Audric yang sedang memahami keadaan.


Pria yang tadi melepaskan tembakan menyelinap diam-diam dari kekacauan disana. Karena semua mata menatap pada arah yang sama, tidak ada yang melihat kepergiannya.


__ADS_2