BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Tawaran kabur lagi


__ADS_3

Abert menampar asisten pribadinya. Baik anak dan istrinya terkena imbas kemarahannya. Mereka hanya bisa berdiri dengan diam ditempat mereka.


Abert selalu marah setelah pertemuan keluarga. Dimana rencananya kacau dan usahanya meminta bantuan dana pada Duke juga tertunda. Dia tidak mungkin melangkah lebih dulu sementara Audric ternyata tidak akan menikah dengan Rubelia.


Orang-orang yang biasa bekerja untuknya perlahan juga menjauh. Hilangnya sumber dana dan hancurnya reputasi Abert membuat keuangan mereka merosot tajam. Satu-satunya sumber dana hanya dari tunjangan perusahaan milik keluarga yang dikelola Audric. Semua usahanya dibekukan, tentu saja hal itu atas campur tangan Audric juga.


Audric memanfaatkan kejahatan yang ia lakukan pada perusahaan Perdana mentri Bayern. Dengan begitu, Audric menggunakan kekuasaannya untuk membuat pihak berwenang melakukan penyelidikan menyeluruh pada dua perusahaan besar milik pamannya. Maka, dengan banyaknya hal-hal kotor yang terungkap, perusahaan akhirnya berada pada titik terendah. Akibatnya, pamannya kehilangan dua perusahaan itu setelah semua investor menarik kerja sama. Saham perusahaan anjlok dan mereka terlilit hutang. Akhirnya, Abert terpaksa menjual seluruh sahamnya.


Dia berencana membangun perusahaan baru di Inggris dimana dia akan meminta pihak Duke Sinclair membantunya. Namun keputusan Audric mematahkan langkahnya sebelum dia bisa memulainya. Tentu saja hal itu membuatnya sangat marah. Audric telah memukulnya hingga ia kehilangan banyak hal.


"Pembunuh itu, bagaimana bisa dia terus menghancurkanku setelah membunuh anakku. Aku harus membuatnya mendekam dipenjara." desisnya tajam.


"Ka-kamu telah mencobanya dulu. Bagaimana kalau nanti gagal dan kita menanggung akibat yang lebih parah. Jika Audric marah lebih dari ini, dia benar-benar akan melenyapkan kita." ujar istrinya.


"Kamu pikir semudah itu melenyapkanku! Kenapa kamu terus takut pada anak itu! Dia telah membunuh anak kita!"


"Ma-maafkan aku."


"Tuan," seorang pria baru saja datang, dia adalah orang suruhan Abert.


"Katakan!" perintahnya.


"Pemimpin keluarga Martell dikabarkan membuat sedikit kehebohan di Valencia. Pelayan yang bergosip di kediaman Luisa mengatakan bahwa itu karena seorang wanita."


"Berita bagus, selidiki apa yang ia lakukan disana. Siapa wanita itu? Apakah dia wanita yang dikatakannya akan menjadi pendampingnya? Pastikan itu dan laporkan segera."


"Baik, Tuan."


Setelah pria itu pergi, Abert tampak berpikir keras. Sementara itu, istrinya tampak lega. Wajah tegangnya langsung kembali biasa.


"Aku harus membereskan wanita itu, dengan begitu dia tidak akan memiliki alasan lagi untuk menolak Rubelia." gumamnya.


.


Aera sedang berjalan-jalan ditaman kediaman pribadi Fernandes. Sejak kematian neneknya, Aera terkurung disana atas perintah Audric. Nyonya Fernandes memang mengatakan bahwa dia memiliki keinginan untuk mengadopsinya, tapi Aera belum menjawabnya sama sekali.


"Tuan muda Yohanes, selamat datang."


Aera menoleh pada arah pandang pelayan yang diperintahkan untuk melayaninya. Pelayan itu menunduk dengan hormat kepada seorang pria yang mungkin lebih tua darinya. Pria itu sangat mirip dengan Nyonya Fernandes, berambut hitam dan memiliki pupil mata bewarna hijau seperti ibunya.


Aera tidak menyapanya, dia hanya menatapnya tampa minat. Seperti tidak terganggu atau penasaran sama sekali. Dia hanya membalas tatapan pria itu dengan wajah datar dan sorot mata tampa minat.


"Aku menyuruhmu menunggu tapi kamu malah pergi duluan, Yohan." Nyonya Fernandes muncul dari arah yang sama. Dia tersenyum hangat seperti biasa, "Aera, kenalkan anak keduaku. Namanya Yohanes dan dia akan menjadi kakakmu setelah kamu resmi kami adopsi."


Aera menoleh pada Nyonya Fernandes, tapi tidak menjawabnya. Dia malah mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga lagi.


"Tampaknya dia tidak ingin jadi saudaraku, Ibu. Bagaimana kalau jadi calon istriku saja?"


Sontak perkataan Yohan yang terdengar sembrono itu mendapat respon dari Aera maupun ibunya. Aera meliriknya dengan pandangan tidak suka, sementara ibunya mengernyit heran dengan sikapnya yang terlihat sedikit berbeda.


"Karena kamu baru kembali, ayahmu juga ingin berbicara. Dia telah tiba. Sebaiknya kita segera menuju taman utama. Ayo Aera!"


Aera mengikutinya dengan patuh. Sementara Yohanes berjalan dibelakangnya. Aera bisa merasakan tatapan pria itu yang terasa akan melobangi kepalanya. Dia tidak tahu apakah pria itu membenci kehadirannya disana atau tidak, tapi yang pasti, Aera merasa harus waspada padanya.


Ketika sampai disana, Alberto tidak hanya sendiri. Dia sedang berbincang bersama seorang pria dan wanita yang seumuran dengan Audric, lalu ada seorang anak laki-laki berambut hitam yang mirip dengan pria itu.


"Kalian sudah sampai? Duduklah." sambut Alberto.


Meja dipenuhi dengan beragam cemilan manis dan buah segar. Ada botol sebotol wine disana selain teh yang telah disajikan. Ketika mereka duduk, Aera tahu untuk siapa wine itu. Pelayan menuangkan minuman bewarna merah itu kedalam satu-satunya gelas yang berbeda didepan Yohanes. Pria itu ternyata tidak meminum teh seperti yang lainnya.


"Bagaimana keadaanmu, Aera? Ini adalah pertemuan kedua kita setelah pembicaran mengenai adopsi. Kamu terlihat lebih segar." ujar Alberto.

__ADS_1


"Berkat Anda, terima kasih atas perhatian Anda dan Nyonya."


"Kita akan menjadi keluarga, jadi jangan sungkan."


Aera tidak menjawab lagi, dia hanya menatap gelas teh dihadapannya dengan datar.


"Sepertinya dia benar-benar keberatan dengan niat kalian, Ayah, Ibu. Gadis ini sepertinya ingin lari secepatnya dari sini."


"Yohan, tolong jangan bicara sembarangan." tegur ibunya.


Yohanes hanya mengangkat bahu dan meminum wine di depannya dengan santai.


"Aera, dia adalah Maxim, anak pertama kami. Lalu dia adalah Catrina, menantu kami."


"Saya Teodor Maxim Fernandes, Umur saya empat tahun, selamat datang bibi cantik!"


Perkataan Nyonya Fernandes dipotong oleh suara cempreng khas anak kecil yang sejak tadi menatap Aera dengan wajah sumringah. Seolah dia sedang melihat teman baru yang asik untuk diajak bermain.


"Oh...Hmm... Saya Aera..." balas Aera dengan canggung. Senyum anak itu membuat wajah datarnya sedikit berubah.


"Teo, kamu tidak boleh memotong perkataan seseorang, bukankah Ibu sering bilang?"


"Hmm? Maaf Ibu, maaf Nenek!"


"Tidak apa-apa, tapi jangan diulangi, oke?"


Teodor tersenyum lebar, lalu ia beralih pada Aera lagi. Dia menyodorkan kue manis berbentuk bunga padanya. Mau tidak mau Aera menerima dan memakannya.


"Aera, bagaimana dengan pembicaraan kemarin?"


Suasana yang hangat berubah sedikit serius ketika kepala keluarga ini kembali meminta jawabannya.


"Saya tidak mau. Saya ingin pulang kenegara saya." jawab Aera dengan tegas.


"Aku sudah mendengar tentang hubunganmu dengan Luisa, apa kamu yakin untuk pulang kenegaramu? Bukankah kamu akan lebih aman disini? "


Aera mengangkat pandangannya, menatap langsung mata Alberto tampa ragu.


"Kenapa Anda sangat berbelit-belit? Kenapa Anda tidak langsung mengatakan bahwa saya tidak punya pilihan selain berada disini karena permintaan Audric? Tampa izin darinya, saya tidak boleh kemana-mana bukan?"


Terdengar kikikan tertahan dari sebelah kanannya. Dimana Yohanes sedang duduk dengan menopang kepala kearahnya, menatapnya dengan bibir yang ditutup dengan sebelah tangan.


"Aku suka gadis seperti ini." Dia memperbaiki duduknya dan menatap Ibunya dengan wajah penuh keceriaan. "Ibu, jadikan dia istriku." ujarnya dengan ngawur. Membuat semua orang meliriknya dengan kesal.


"Yohan, pergilah ajak Teo bermain." perintah ayahnya dengan tegas.


"Ya ampun, aku akan diam saja mulai sekarang." sahutnya.


Dia memang tidak jadi pergi, tapi tatapannya yang mengarah pada Aera membuat Aera kesal.


"Audric meminta kami menjagamu, kami tidak berhak menahanmu disini. Tapi jika terjadi sesuatu padamu, Audric bisa mengacaukan seluruh kota. Karena itu aku akan minta maaf padamu, Aera. Aku mohon meminta kerja samamu untuk hal ini." lanjut Alberto.


Aera bisa menangkap ketegasan yang disertai paksaan dalam kalimat yang diucapkannya. Meski keluarga ini terlihat santai dan baik padanya, Aera yakin mereka akan langsung mengekangnya terang-terangan jika dia mencoba memberontak dan lari secara terang-terangan.


"Surat adopsinya akan selesai lusa. Selamat datang dalam keluarga Fernandes Aera." ujar Maxim.


"Selamat datang juga untukmu, Aera. Aku akan sangat senang kalau kamu menjadi istriku dari pada adikku." sambung Yohanes.


Semua orang mengabaikan ucapannya, mereka lebih memilih minum teh untuk menghilangkan kecanggungan.


"Aku harus segera pergi. Untuk selanjutnya akan kuserahkan pada istriku. Selain itu, Audric sedang dalam perjalanan. Mungkin dia akan datang saat makan malam."

__ADS_1


Alberto meninggalkan mereka setelah mengabarkan kedatangan Audric.


"Kami juga harus pergi, Ibu. Kami mingkin akan mengunjungi kalian saat pesta ulang tahun Yohan. Nah, Yohan! Jangan terlalu mengganggu adik kita." ujar Maxim dan mengelus puncak kepala Aera sebelum pergi bersama istri dan anaknya.


"Ah, dia selalu sok akrab." gerutu Yohanes.


Aera kembali ke paviliun tempat dimana ia tinggal untuk sementara. Pelayan yang mengikutinya selalu mengawasi dan membatasi pergerakannya. Dia selalu mengatakan bahwa ada beberapa wilayah yang tidak boleh ia datangi. Tentu saja dia hanya melaksanakan perintah. Nyonya Fernandes menjaganya dengan ketat agar tidak bisa keluar dari tempat ini.


Aera melirik ponsel di atas nakas sebelah kasurnya. Ponsel yang sama sekali tidak ada gunanya ditempat itu. Seluruh kawasan yang bisa ia datangi tidak memiliki sinyal. Mereka sengaja membuat Aera tidak bisa menghubungi siapapun.


'Mereka benar-benar menahanku disini. Dan pria yang telah membunuh nenek akan datang kesini. Apa aku harus mati dihadapannya saja? Apa yang akan dia lakukan jika aku mati?'


Aera berjalan menuju jendela kamar itu, menatap keluar. Dari tempatnya, dia bisa melihat jalan raya dikejauhan. Wilayah ini dibatasi oleh tembok batu yang kokoh. Namun karena paviliun tempatnya tinggal berada dikawasan yang lebih tinggi, dia bisa melihat jalanan dari sana.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.


Aera akhirnya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur setelah tak menemukan jawaban. Dia tidak bisa memikirkan cara apapun saat ini. Dia tidak punya siapapun yang bisa ia andalkan. Dia juga bukan orang yang bisa melukai orang lain hanya karena mereka jahat padanya.


Menyadari kelemahannya, Aera kembali mengingat kenangannya dengan sang nenek. Hari-hari mereka dirumah yang sederhana. Menjalani kehidupan normal kebanyakan orang disana. Aera merindukan Indonesia dan neneknya. Tampa sadar, dia meneteskan air matanya lagi, lalu tertidur dalam keadaan menangis.


.


Samar-samar Aera mendengar suara-suara. Lalu kembali sunyi ketika terdengar suara pintu ditutup. Perlahan, Aera mencium bau parfum yang amat dikenalnya. Kelopak matanya yang terasa berat terbuka dengan pelan.


Ketika retinanya menangkap cahaya yang masuk, Aera melihat sosok pria tampan yang kini dibencinya, duduk dihadapanya dengan sangat tenang. Tangan pria itu mengelus lembut rambutnya.


Meskipun hangat dan sangat ia rindukan, Aera segera menepisnya dengan kasar. Lalu duduk dengan cepat diatas kasurnya. Ia menatap tajam pada Audric yang juga menatapnya.


"Apa kamu mau mandi? Jam makan malam sudah lewat. Aku memerintahkan pelayan membawa makanan untukmu kesini." tukas Audric.


Aera mencengkram selimutnya dengan kuat. Emosinya yang tertahan sangat terlihat diwajahnya. Tapi Audric mengabaikannya. Mengikuti kemauan Aera, bersikap tulus dan lembut telah ia lakukan seperti saran Harald. Tapi Aera malah lepas dari genggamannya. Hal itu menjadi pemicu keputusan Audric saat ini.


Dimana dia hanya akan mengabaikan keinginan Aera dan melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan. Baginya, keselamatan Aera adalah hal terpenting. Keberadaan Aera dalam jarak pandangnya adalah suatu keharusan.


"Kenapa kamu tidak membunuhku juga? Bunuh aku saja Audric! Kenapa kamu terus menahanku seperti budak!"


"Aku hanya menjaga keselamatanmu. Dan lagi, aku tidak membunuh nenekmu. Bukan aku, Aera."


Aera semakin terlihat emosi, dia tidak percaya Audric tidak mengakuinya setelah dia menyaksikan secara langsung.


"Kamu tahu, ini pesis seperti kematian Leonor saat itu. Aku selalu menjadi tersangka atas apa yang tidak aku lakukan."


"Siapa yang bisa menjamin itu? Kamu memiliki kekuasaan untuk menghapus semua bukti. Kamu bahkan bisa memerintah penguasa Valencia seenakmu. Kamu pikir aku akan percaya? Orangmu menembak nenekku!"


"Ya, dia memang orangku. Tapi aku tidak memberi perintah untuk membunuh siapapun malam itu."


"Lalu kamu pikir aku akan percaya?"


"Aku tidak memintamu mempercayaiku sekarang. Karena aku belum menemukan pria itu. Saat aku menemukannya, aku akan membawanya langsung kehadapanmu."


Aera cukup terkejut dengan pernyataan itu. Tapi dia tetap tidak mempercayai Audric. Meskipun dia membawa orang yang menmbak neneknya. Bisa saja dia diperintahkan untuk tidak mengakui bahwa Audric adalah orang yang memberi perintah.


"Aera, saat ini kamu harus tetap disini. Tidak ada tempat lain untuk kamu pergi saat ini. Aku sudah menyebutkan dirimu pada seluruh anggota keluarga Martell. Kita akan menikah secepatnya."


Mendengar itu, Aera melebarkan matanya. Terkejut, marah dan benci memenuhi dirinya. Hingga rasanya ia ingin memukul wajah angkuh yang kini menatapnya dengan sangat tenang itu dengan sekuat tenaga.


"Aku akan pergi sebentar, aku harap kamu telah menghabiskan makananmu sebelum aku kembali."


Aera tidak bisa mengatakan apapun. Bahkan ketika pintu kamarnya terbuka lagi setelah beberapa menit Audric pergi, Aera masih berada pada posisi yang sama.


"Mau kabur? Aku bisa membantumu."

__ADS_1


Aera menoleh dengan cepat, Yohanes berdiri diambang pintunya. Bersandar dengan tangan dilipat didada. Menatap Aera dengan sorot yang sulit untuk dijelaskan. Aera tidak tahu, apakah pria ini benar-benar ingin membantunya, atau berusaha mendorongnya pada jurang yang lain.


__ADS_2