BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Aera terluka


__ADS_3

Ivon berdiri di depan meja kerja Audric dalam posisi siap. Harald juga ada disana, seperti biasa sibuk memeriksa berkas yang harus ditandatangani oleh Audric. Pagi ini, salah Karena masih pagi, Aera masih berada di kampusnya bersama Monic.


"Jadi, Rupert terlihat mencurigakan?" ulang Audric setelah Ivon selesai dengan laporan pengintaiannya tiga hari terakhir.


"Alat ini sedang dalam tahap proses uji coba tapi banyak terjadi kesalahan dalam hasil pemeriksaan. Data alat lain dan data alat yang baru memiliki perbedaan tiga sampai empat angka. Ini perbedaan yang sangat buruk dari yang terburuk. Tim satu dan dua sedang meneliti bahan baku seluruh reagen. Tim tiga sudah menyatakan tidak ada masalah dengan software maupun sensor lain."


Harald menjelaskan dengan singkat. Vilatex bekerja sama dengan tim peneliti yang berada dibawah perusahaan Martell. Mereka sedang menciptakan alat medis dalam bidang laboratorium dimana Vilatex yang akan memproduksinya.


"Ayo temui CEO Vilatex, aku perlu bicara dengannya."


Audric segera bangkit, namun langkahnya langsung terhenti ketika Friedrick masuk dengan wajah tegang.


"Ada apa, Fried?"


"Maafkan saya, Tuan. Tapi Nona dalam perjalanan kerumah sakit."


"Apa yang terjadi?" jantung Audric langsung berdetak tak karuan.


"Ada insiden dan Monic melaporkan Nona terluka."


Audric marah, semua orang tahu itu. Kata terluka membuat seluruh kewarasanya sirna. Audric nyaris berlari saat itu juga, namun melihat Ivon dia langsung berjalan kearahnya.


"Ivon."


Suara rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.


"Saya akan mengurus mereka yang terlibat." jawab Ivon, menahan ringisan ketika sebelah bahunya dicengkram kuat oleh Audric.


"Ya, tentu saja. Kamu juga harus menghukum keteledoran pengawal yang kamu pilih itu," Audric menambah kekuatan tangannya pada cengkraman itu, membuat Ivon langsung berlutut dibawah kakinya. Sebuah tindakan yang menunjukkan permohonan pengampunan. "Jika Aera terluka parah, kamu juga akan menanggung kemarahanku." desis Audric ditengah emosi yang hampir meledak.


Flasback


Aera sedang berjalan menuju ruang perpustakaan ketika seorang anak perempuan menghampirinya. Dia teman sekelas Aera, anak yang terkenal karena popularitasnya diantara murid laki-laki.


"Ada apa, Irene?" tanya Aera.


"Kemana pengawalmu itu? Kenapa kamu berjalan sendirian?"


Aera menghela napasnya, dia sangat malas meladeni sikap kekanakan anak ini.


"Dia temanku, bukan pengawal." jawab Aera malas.


"Ah... Teman? Maaf kalau aku salah mengira. Nah, hati-hatilah dalam perjalanan." ujarnya, lalu pergi begitu saja.


Aera merasakan firasat buruk. Dia langsung menghubungi Monic yang izin ke kamar mandi, tapi ponselnya tidak aktif. Menyadari ada yang tidak beres, Aera langsung berlari menuju kamar mandi. Namun Monic tidak ada disana, dia malah berhadapan dengan seorang pria yang selalu ia ingat dibenaknya. Pria yang melepaskan tembakan pada neneknya.


"Kamu!"


"Ya, Nona, Ini saya." jawabnya datar.


Pintu tertutup dan dikunci dari luar, pelakunya adalah Irene. Namun Aera tidak bisa melihatnya karena tadi ia membelakangi pintu. Kini, dia hanya bisa memegang tali tasnya dengan erat.


"Kenapa kamu melakukan itu? Bukankah kamu bekerja pada Audric?"


Aera berusaha tenang, dia mencoba berbicara dan mengulur waktu. Sebelah tangannya merogoh tas dan mencoba melakukan panggilan pada kontak terakhir yang masih tertera dilayar, karena sejak tadi dia berusaha menghubungi Monic.


"Karena saya bukanlah orang Tuan Audric. Saya bekerja untuk orang lain." Mata pria itu melirik tangan Aera, lalu tersenyum kecil. Dia masih berdiri santai bersandar pada dinding.


"Apa Nona tahu apa yang harus saya lakukan agar saya bisa hidup normal setelah kekasih Anda menghancurkan keluarga saya?"


Aera tidak menjawab, dia hanya menunggu agar pria ini melanjutkan bicaranya. Dia harus bersiap kapanpun jika nanti diserang.

__ADS_1


"Saya merangkak padanya, saya harus berpura-pura melayaninya. Merendahkan harga diri_ Lalu, adiknya yang licik membuat permintaan yang lain lagi. Seolah keluarga itu tidak cukup menghancurkan kami." pria itu tertawa rendah, sangat menakutkan.


Dari sini Aera tahu bahwa orang ini sudah menaruh dendam lama pada Audric, tapi Luisa yang tahu latar belakangnya dan menyadari tujuannya, memanfaatkan itu dan menggunakannya.


"Rencana saya sedang berjalan, tapi wanita sialan itu mengacaukannya. Jadi saya tidak punya pilihan selain Anda, Nona. Setelah bertahun-tahun saya menunggu, Anda akhirnya datang dan menjadi kelemahannya. Ini seperti keberuntungan bagi saya."


Aera mengepalkan tangannya. Dia juga ikut marah setelah mendengar perkataan pria ini.


"Harusnya kamu mengincarku sejak awal, kenapa Nenekku!"


"Oh, itu? Karena permintaan itu membuat saya sedikit kaya. Menunda rencana tidak masalah jika itu menguntungkan." jawabnya santai.


Aera reflek mundur begitu pria itu melangkah mendekatinya. Sampai dia terhalang dinding, Aera tidak bisa mundur lagi.


"Ketakutan Anda menjadi hiburan bagi saya." ujar pria itu, lalu mengangkat tangannya untuk meraih leher Aera.


Aera menepisnya kasar dan melayangkan tendangan ke depan, namun pria itu berhasil menghindar dengan mudah. Dengan cepat Aera langsung diserang dan posisinya terkunci dalam posisi berdiri. Lehernya dicekik dan kedua tangannya dicengkram diatas kepalanya.


"Lihatlah, wajah cantik ini akan segera kehilangan sinarnya. Jangan kawatir, aku akan memotongnya dengan rapi dan mengirimkannya sebagai hadiah."


Pria itu menyeringai dengan senang ketika Aera berusaha meronta. Cekikan dileher Aera menguat dan dia nyaris kehabisan napas kalau saja tidak terdengar suara orang yang kini berdiri dibalik pintu.


Samar-samar Aera mendengar suara seorang pria, mempertanyakan pintu yang terkunci dan tulisan toilet rusak yang ada di pintu. Dia terdengar menelepon rekannya Aera bisa menduga dia adalah petugas kebersihan. Dia pasti tahu kalau toilet ini baik-baik saja sebelumnya.


Saat perhatian pria ini teralih, Aera berhasil menyerangnya dengan lututnya. Cengkraman pada lehernya terlepas tapi sebelah tangannya masih dicengkram dengan kuat.


Mereka terlibat perkelahian, namun Aera bukan apa-apa baginya. Pria ini jauh lebih kuat.


Ketika mereka mendengar suara obrolan dua orang dan suara pintu yang sedang dibuka, dengan cepat dia menyeret Aera ke salah satu bilik kamar mandi. Tapi Aera lagi-lagi melawan dengan sisa tenaga yang ada. Sayangnya, pria itu dengan mudah menghempaskan tubuh Aera ke pinggiran westafel, tubuh Aera merosot dan kepalanya terbentur pinggiran westafel.


Pintu terbuka, dua petugas yang masuk tentu saja sangat terkejut melihat mereka. Pria itu langsung menyerang mereka dalam sekali serangan dan kembali mengunci pintu.


Aera yang kepalanya terbentur merasakan pusing luar biasa. Napasnya masih tersengal, dia berusaha bertahan dan berdiri saat pria itu melumpuhkan kedua petugas kebersihan itu.


Pria itu mengeluarkan pistol, lalu mengarahknnya pada Aera. Tapi, sebelum pelatuk ditarik, pintu didobrak dari luar dan perhatiannya sekali lagi teralih.


Aera bersyukur melihat Monic masuk bersama seorang petugas keamanan kampus. Setelahnya Aera tidak tahu apa yang terjadi lagi, dia pingsan setelah samar-samar menyadari ada darah mengalir dari pelipisnya.


Flasback end_


Aera membuka matanya setelah 24 jam tidak sadarkan diri. Audric tidak pernah meninggalkan kamar rawat inapnya sedetikpun.


"Syukurlah, bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?"


Aera baru saja menyesuaikan penglihatannya pada cahaya yang masuk, tapi suara Audric sudah berisik ditelinganya. Kepalanya mulai berdenyut ringan.


"Air..." lirihnya.


"Air? Tunggu."


Audric segera menuang air dalam gelas dengan tangannya sendiri meski ada Olivia disana.


"Ini minumlah pelan-pelan."


Setelah sadar sepenuhnya, Aera melihat sekeliling ruangan. Tidak ada Monic, padahal dia ingin tahu apa yang terjadi. Dia berharap pria itu ditangkap.


"Berapa lama aku pingsan?"


"Satu hari."


Aera kembali mengarahkan perhatiannya pada Audric yang duduk di sisinya. Pria itu terlihat berantakan, kawatir dan tidak tenang sama sekali.

__ADS_1


'Dia sangat kacau, apa dia setakut itu aku mati?'


Aera tersenyum kecil, entah kenapa dia malah senang melihat Audric seperti itu. Perasaan yang sangat besar, entah kenapa itu seperti tidak memberatkannya lagi.


"Kamu kawatir?"


"Kamu masih bertanya?"


"Hehehe..."


"Kamu masih bisa tertawa?"


'Aku harus membuatnya sedikit tenang agar bisa membahas masalah penyerangan itu.' pikir Aera.


"Aku baik-baik saja sekarang. Lukanya sudah tidak sakit. Dokter disini pasti sangat hebat."


"Kamu sungguh baik-baik saja? Lihatlah seluruh lebam itu, belum lagi tengkorakmu ada yang retak, lho!"


Sangat blak-blakan dan tampa filter. Siapa lagi kalau bukan Yohanes. Pria itu duduk di sofa. Menatap punggung Audric dengan kesal karena tidak pernah membiarkan siapapun mendekati Aera dalam jarak dua meter sejak Aera terbaring disana.


"Jangan berlebihan! Tapi... Apa-apaan mereka yang berjejer diluar itu?"


Aera baru menyadarinya karena pintu dibiarkan terbuka lebar. Ada tiga pengawal yang bisa ditangkap oleh matanya, Aera yakin ada lebih dari itu disana.


"Pengawalanmu diperketat." jawab Audric.


"Jadi, dimana Monic?"


Akhirnya dia bisa menanyakan pertanyaan itu. Mengawali pembahasan yang mungkin akan jadi sedikit panjang dan membuat amarah Audric kembali lagi.


"Dia dalam masa hukuman. Jangan tanyakan orang yang telah lalai dalam tugasnya itu, kamu akan mendapat pengawal baru."


"Tapi pada akhirnya dialah yang menyelamatkanku. Sesuatu pasti terjadi padanya juga, kan? Karena itu dia terlambat datang padaku."


"Entahlah, tapi membiarkan bajingan itu lolos begitu saja bukankah sangat mencurigakan?"


"Jadi pria itu berhasil kabur?"


"Dia pasti suruhan Luisa, wanita itu pasti tahu dimana dia sekarang." kata Yohanes.


"Aku tidak berpikir begitu." sahut Aera.


Audric menatap Aera yang kini larut dalam pikirannya.


"Apa yang dia katakan padamu?"


Aera yang tadi menatap selimut kini beralih pada Audric. Pria disampingnya ini, entah kenapa seperti ingin mengintrogasinya. Aera yakin, Audric sudah menyelidiki identitas pria itu. Apakah dia tidak menemukan kebenarannya?


"Bolehkan aku tahu siapa pria itu? Kenapa dia bisa menghianatimu?"


Audric tidak langsung menjawab. Dia menatap bola mata Aera, seakan menimbang sesuatu yang boleh dan tidak ia ketahui.


"Kamu memutuskan kalau aku bisa menggunakan orang-orangmu, tapi saat ini, bukan hanya Luisa yang harus aku hadapi, kan? Musuhmu mulai menargetkan aku."


Audric menunduk, dia meraih kedua tangan Aera dan menggenggamnya dengan erat. Sorot matanya berubah, menjadi sedikit bersalah dan menyesal.


"Maafkan aku membuatmu berada dalam situasi sulit. Aku baru mengetahuinya beberapa jam yang lalu, bahwa dia ternyata adalah anak yang selamat pada penghancuran total satu keluarga karena berhianat padaku."


Mendengar hal itu, Aera tidak bisa menutupi keterkejutannya. Dia bahkan langsung menarik tangannya dan menolak menatap Audric.


"Apakah penghianatan harus dibayar dengan nyawa seluruh anggota keluarga bagimu?"

__ADS_1


Aera memeriksa reaksi semua orang dalam ruangan itu. Yohanes membuang pandangannya dan Olivia menundukkan kepalanya.


'Seberapa tidak tahunya aku tentang keuarga ini?' tanya Aera dalam hati. Kini keraguan menghantamnya dengan kuat. Meskipun dia mencintai Audric, berada dalam keluarga yang penuh darah ditangan mereka bukanlah keinginannya.


__ADS_2