
Setelah mendengar bahwa Audric dan Luisa pergi terlebih dahulu, Adolf dan Paul masih terus membahas masalah tentang hak suara. Sampai pembicaraan mereka terpotong karena kedatangan Adriana.
Adolf sengaja meminta izin menggunakan kamar mandi. Dia sengaja pergi, namun menempatkan mata dan telinganya disana melalui Harry yang telah mengatur semuanya.
Ketika dia kembali, Adriana juga sudah pergi. Harry melakukan pekerjaannya dengan baik dan Adolf segera berpamitan setelahnya. Mereka kembali ke hotel yang telah disiapkan. Berkumpul kembali dikamar Audric untuk mendengarkan percakapan Adriana dan Paul.
Aera tidak harus ada disana. Tapi Adolf membawanya bergabung agar Aera tahu apa yang sedang mereka lakukan. Audric juga tadinya ingin memanggil Aera, tapi Adolf sudah lebih dulu berada di depan kamarnya.
Rekaman dimulai ketika Adolf meminta waktu ke kamar mandi. Harry sengaja meletakkan kamera pengintai ditempat yang tak terlihat dengan cara yang sangat halus sehingga sekretaris Paul tidak menyadarinya.
Laptop dibuka diatas meja. Audric duduk di tengah, Adolf dan Aera berada di kiri kanannya, sementara Harry dan Harald berdiri di belakang mereka. Benjamin dan pengawal lain berada di kamar mereka masing-masing.
"Aku tahu kakakmu yang mengirimmu kesini, bukan?" mulai Paul.
"Kamu tahu aku juga tidak ingin melakukannya."
"Hahaha! Hubungan kalian tampaknya jauh lebih dekat. Aku pikir kamu membenci kakakmu, aku terkejut kamu tetap patuh padanya." Kalimat ejekan yang membuat Adriana sedikit kesal.
"Jangan mengejekku, Paul. Jadi, kamu akan membuang kakakku dan menyebrang ke pihak keponakanku?"
"Sebagai bagian dari Martell, kamu pasti sudah tahu apa pilihanku jika melihat dari berbagai sudut, bukan? Meski kamu teman dari istriku tercinta, tapi aku tidak bisa mengenyampingkan kekuasaan Audric, bagaimanapun dia bisa menyebabkan masalah padaku jika aku berada dipihak kalian. Kenapa kamu tidak menyeberang pada tempat yang sama? Aku pikir Audric bukan sesuatu yang bisa kalian remehkan. Dia menjadi kepala keluarga bukan hanya karena anak dari kakak pertamamu, kamu juga pasti tahu hal itu ketika kakakmu terus saja gagal menggulingkannya."
"Audric terlalu mengerikan, bukan hanya aku, bahkan para tetua tahu hal itu. Tapi kakakku tidak sepemikiran dengan mereka. Baginya, Audric hanyalah seorang pembunuh yang tidak layak menjadi pemimpin."
"Itu bukan urusanku, Adriana. Tapi jika kakakmu berniat mengancamku, aku pastikan akan melawannya. Saat ini, pilihanku berada diseberangnya. Jadi maafkan aku. Hadiahnya juga sudah aku kirimkan kembali, mungkin sudah sampai beberapa jam lagi."
Adriana terdiam sesaat. Dia terlihat frustasi. Hal itu juga bisa dilihat oleh Paul yang langsung menunjukkan sedikit kepeduliannya.
"Istriku sangat menghargaimu. Begitu juga aku. Kamu bisa meminta bantuan kami kapan saja."
"Terima kasih, Paul."
Rekaman terpotong karena Harry memang telah mengeditnya. Dia hanya menunjukkan pembicaraam penting itu karena setelah itu, Adriana pergi bersama Paula sebelum Adolf kembali.
"Kamu bisa memastikan bahwa Paul akan berada dipihak kita." kata Adolf, dia pindah posisi ke sofa yang ada di sebelahnya.
"Untuk saat ini, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan pamanku."
"Jika ini gagal, kita akan kehilangan banyak suara dan aku bisa saja kalah. Aku tidak terlalu peduli, tapi kamu pasti tidak bukan? Karena itu berusahalah. Kamu yang harus menyelesaikan masalah yang kamu buat dimasa lalu, Ric. Dosamu terus mengikutimu seperti bayangan yang tidak akan membiarkanmu hidup tenang. Aku sarankan untuk pergi ke pendeta." lalu Adolf menyeringai, melemparkan tatapan mengejek. "Aku lupa kamu tidak percaya Tuhan." sambungnya.
Adolf bangkit, lalu mengulurkan tangannya pada Aera.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan... Aku akan kembali sebentar lagi." kata Aera.
Adolf tahu kenapa Aera seperti itu. Pembicaraan yang mengatakan Audric pembunuh tampaknya menganggunya. Tapi Adolf cukup kesal atas rasa penasaran Aera yang kembali seperti itu. Setelah dua minggu ini dia mengabaikan Audric, Adolf pikir dia akan selamanya tidak peduli lagi. Tapi tampaknya dia lagi-lagi salah menilai.
"Kenapa kamu tidak bertanya padaku? Aku juga tahu cerita itu. Aku bahkan sama tahunya dengan pria yang duduk disebelahmu." kata Adolf datar.
"Apa? Ka-kalau begitu aku ikut denganmu." Aera bangkit berdiri.
Aera melirik Audric yang hanya diam menatap layar laptop dengan tatapan datarnya. Tapi meski ekspresi Audric seperti itu, Aera merasakan ada kesedihan disana. Pancaran mata itu seakan memberitahunya bahwa Audric tidak baik-baik saja. Dan itu mengganggunya. Aera benar-benar merasa terganggu.
Adolf meraih tangannya dan menariknya untuk keluar dari sana. Harry mengikuti mereka sehingga hanya tersisa Audric dan Harald.
"Harald," panggil Audric.
__ADS_1
"Ya, Sir!"
"Menurutmu... Aera akan lebih percaya pada cerita Adolf atau aku?"
Harald tidak tahu masalahnya, tapi karena dia dimintai pendapat seperti itu, dia hanya bisa menjawab dari sisinya saja.
"Jika Anda tidak bersalah pada peristiwa itu dan menjelaskannya, saya yakin Nona Aera akan lebih mempercayai Anda. Tapi jika Anda diam saja dan membiarkan kesalahpahaman terjadi, Anda bisa saja kehilangan Nona Aera selamanya."
Audric menghempaskan punggungnya kesandaran Sofa dan menutup matanya. Harald menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan. Dia sudah menduga, dari semua masalah yang memusingkan ini, tidak sedikitpun Audric kawatir akan pihak yang menyerangnya. Yang dia kawatirkan hanyalah pandangan Aera.
"Sepertinya Anda telah menyadari perasaan Anda dengan sangat baik selama dua minggu ini, Sir. Saran saya, mulailah pelan-pelan. Anda tidak bisa memaksanya apalagi menggunakan cara yang biasa Anda pakai pada lawan Anda. Cinta itu perlu ketulusan."
Audric membuka matanya.
"Ketulusan? Seperti apa?"
Harald langsung frustasi. Dia lupa bahwa atasannya itu mungkin tidak mengerti apa itu ketulusan.
"Anda sungguh tidak pernah menyukai seseorang sebelum ini?"
Harald akhirnya duduk dihadapan Audric.
"Pernah, aku menyukai pengasuhku saat aku kecil. Aku juga menyukai tukang kebun disekolah, dia suka menceritakan hal-hal lucu."
"Anda pasti sangat menyukai orang lucu yang membuat Anda tertawa itu." sarkas Harald.
"Tidak juga, aku bahkan tidak pernah tertawa mendengar leluconnya. Aku hanya terus penasaran apa yang membuat anak-anak itu tertawa. Jadi aku terus bergabung dengan mereka saat ada kesempatan. Aku menyukainya karena dia pandai bercerita."
Harald menggigit bibirnya dengan kuat karena frustasi. Dia mengusap wajahnya sebelum memilah kata apa yang akan membuat Audric memahami maksudnya.
"Maksudmu cinta yang seperti itu? Tidak, Aera adalah yang pertama."
"Jadi pasti anda tulus padanya, kan?"
"Ya."
"Jadi lakukan hal yang tulus padanya, jangan memainkan trik lagi."
"Seperti apa maksudmu?"
"Buat dia nyaman, jangan merekayasa apapun. Jangan memaksa, jangan berbohong dan tunjukkan kesungguhan Anda."
Audric menatap Harald dengan serius.
"Aku mengerti, pergilah."
Harald hampir saja menjatuhkan rahangnya ketika dia diusir begitu saja. Asap imajiner langsung memenuhi kepalanya yang seakan siap meledak karena kesal.
"Sir, tidakkah Anda ingin memulai sebuah ketulusan pada saya sebagai latihan? Apa Anda benar-benar mengerti?"
"Kenapa aku harus menunjukkan ketulusan padamu? Pergi sana!"
Audric bangkit dan berjalan ke arah lemari. Mengambil baju tidur yang telah disiapkan untuknya dan segera mengganti baju.
"Setidaknya ucapkan terima kasih, ck! Apanya yang mengerti." gerutu Harald pelan.
__ADS_1
Audric berbaring di atas kasur. Menatap langit-langit kamar dengan sorot yang menerawang jauh. Apa lagi yang dia pikirkan kalau bukan seorang wanita yang belum bisa ia dapatkan.
"Apa semua orang yang jatuh cinta seperti ini? Rasanya aku benar-benar menjadi berbeda. Aku jadi setengah gila."
Audric diam lagi, lalu tiba-tiba ingatan masa lalu saat peristiwa yang mengguncang internal keluarga Martell muncul dikepalanya. Ingatan tentang sebuah pemakaman ditengah langit gelap yang seakan ingin runtuh.
Saat itu dia menatap datar peti mati yang diturunkan dihadapannya. Dengan para tetua mendampinginya dibelakang, kedua orang tuanya disisi kiri kanannya dan Luisa yang masih kecil digendong oleh sang ayah.
"Orang-orang licik itu... Menimpakan kesalahan pada seorang remaja dan memainkan peran korban dengan tidak tahu malu. Sayangnya aku tidak punya bukti saat itu. Bahkan sampai saat ini ketika peristiwa itu akan sampai pada telinga Aera. Benar-benar sial!" gumamnya.
.
Aera duduk terdiam di dalam kamarnya setelah mendengar cerita dari Adolf. Alasan kenapa pamannya ingin menggulingkan kekuasaan Audric sebagai pemimpin keluarga.
Flasback
Adolf dan Aera duduk di sofa ruang tamu kamar Aera. Aera bisa melihat kemarahan dan rasa benci yang terus tertahan pada Adolf. Seakan terus menyiksanya karena tidak bisa membalas pelakunya secara langsung bahkan saat berada di depan matanya.
"Saat itu... Kami baru mulai memasuki sekolah tingkat atas, tahun ajaran baru. Aku ingat hari itu sangat cerah dan seluruh sekolah sangat antusias ketika dia masuk. Bahkan sepupunya sendiri yang begitu mengaguminya, Leonor Martell. Sahabatku sejak sekolah dasar."
Adolf memulai, Aera bisa melihat kegetiran dalam suaranya. Seolah membangkitkan luka lama yang telah susah payah ia kubur.
"Leo adalah anak ketiga pamannya, Abert. Dalam keluarga Martell, pertemuan keluarga hanya dihadiri oleh orang dewasa. Anak dibawah tujuh belas tahun dilarang hadir. Tapi saat itu, karena Ric adalah calon pemimpin yang telah disiapkan, dia hadir pada usianya yang kelima belas tahun. Saat itu, Leo yang penasaran melanggar aturan dan mengendap-endap pada tempat pertemuan. Melihat wajah Audric yang menjadi buah bibir semua anak perempuan."
Adolf menghela napas. Dia benci mengakui keistimewaan Audric tapi dia tetap harus mengatakannya dengan benar.
"Leo jatuh cinta padanya. Dia terus membicarakannya padaku. Karena itu, ketika dia tahu Audric akan dimasukkan kesekolah yang sama dengan kami, dia menjadi lebih terobsesi. Melakukan segala cara untuk menarik perhatian Audric sampai cara yang paling memalukan sekalipun. Sayangnya, Audric adalah pria yang tidak mengenal apa itu belas kasih. Dia sangat dingin dan selalu menganggap orang lain seperti pengganggu. Tapi, kami akhirnya sedikit dekat karena Leo yang terus menempel padanya. Meski diabaikan, Audric menyerah untuk terus mengusir Leo. Leonor sangat keras kepala, bahkan dia tidak peduli ketika Audric merendahkan dan menghinanya."
Aera tahu bahwa mulut Audric sangat beracun. Di awal mereka bertemu, dia juga bisa merasakan aura tidak menyenangkan dan menakutkan darinya. Membuatnya terus merinding. Tapi perubahan sikap Audric sedikit demi sedikit membuat penilaiannya menjadi berubah. Aera pikir, Audric tidak semenakutkan itu.
"Lalu... Peristiwa mengerikan itu terjadi. Leonor mati, dia ditemukan terkapar dilantai dengan luka tusukan dijantungnya. Dan apa kamu tahu siapa yang bersamanya?"
Aera menggeleng pelan walau dia sudah bisa menduganya, orang yang dituduh pembunuh oleh Abert.
"Ric berdiri di depan mayat Leonor yang bersimbah darah. Tampa melakukan apapun, tampa berkedip dan hanya menatap lurus wajah Leonor yang sudah meninggal. Aku... Aku adalah orang pertama yang menemukan mereka setelah mendapatkan pesan dari Ric bahwa Leo dalam bahaya."
"Ta-tapi... Bagaimana kamu yakin Audric yang melakukannya?"
"CCTV yang berada di lorong hanya menangkap mereka berdua, tidak ada siapapun yang masuk setelah mereka. Juga tidak ada yang masuk sebelum mereka. Sebelum aku menemukan mereka. Lorong juga sangat sepi karena kelas sudah dimulai cukup lama. Dan bukti yang paling penting adalah, sarung tangan Audric penuh darah. Dan itu adalah darah Leo."
Adolf mengusap wajahnya, menatap Aera dengan mata merah menahan tangis.
"Dia membunuh sahabatku, tapi dia tidak ditangkap karena kekuasaan keluarga. Ayahnya yang menjadi pemimpin saat itu menghapus semua jejak peristiwa itu. Sehingga hanya segelintir orang yang tahu."
Flasback end_
Aera terus memikirkan cerita itu. Dari sisi manapun ia menilai, tuduhan itu terasa mengambang.
"Apa tidak ada penyelidikan karena orang tua Audric menutupi semuanya? Apa mereka tidak melakukam investigasi menyeluruh sebelum menutup kasus itu?"
Aera menjadi frustasi sendiri. Dia tidak ingin percaya, sungguh dia tidak ingin mempercayainya. Meskipun dia masih marah akan kebohongan yang Audric lakukan, Aera tetap menilai segala sesuatu secara realistis. Apalagi mengingat bahwa Audric sangat marah ketika dia mencoreng nama baik Luisa dengan perkelahian. Dia bukan orang yang menyelesaikan sesuatu dengan tangannya sendiri.
"Audric tidak suka mengotori tangannya sendiri, dia bilang mereka hanya perlu menggunakan tangan orang lain. Apa... Apa saat itu dia menyuruh orang lain tapi orang itu gagal? Tapi... Kenapa tadi dia diam saja? Kenapa dia tidak berusaha menjelaskannya sendiri dan membiarkan aku mendengrnya dari orang lain? Apa karena itu benar?" Aera menghempaskan dirinya ke atas kasur. Lalu pikirannya kembali pada pernyataan Audric saat dimobil. Juga sorot mata Audric terakhir kali. Dalam hatinya, Aera tidak ingin mempercayai cerita itu.
"Aku harus menyelidikinya sendiri. Tapi... Bagaimana caranya?"
__ADS_1