BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
End


__ADS_3

Lima tahun telah berlalu. Pangeran memasuki usia enam tahun. Ulang tahun keenam ini, Aera ingin merayakannya dengan sederhana seperti tahun yang lalu. Henry belum memiliki teman sebaya karena posisinya. Dia juga belum memasuki sekolah resmi karena usia meski telah mampu mengikuti pelajaran, Aera tidak ingin masa kecilnya hanya belajar.


"Yang mulia, Baginda sedang menunggu Anda."


Aera menoleh pada Dimitri. Ajudan sekaligus pengawal pribadinya itu juga telah menikah tiga tahun yang lalu dan istrinya saat ini tengah hamil tua.


"Pangeran, Anda tidak boleh melakukan hal itu. Kalau Baginda dan Yang mulia ratu tahu saya bisa dimarahi. Pangeran...!"


Olivia yang menjadi pengasuh Henry tampak putus asa ketika anak itu memanjat pohon lagi. Ketika Aera melihat mereka dari jauh, dia melihat Audric yang juga sedang tersenyum memperhatikan anak mereka.


"Ric," sapa Aera begitu dia menghampiri Audric yang berdiri disisi lain istana utama dimana pusat pemerintahan dijalankan. Henry suka bermain disana karena ada sarang burung yang selalu ia kunjungi akhir-akhir ini.


"Lihatlah anak itu, dia membuat ulah lagi. Aku harus menambahkan pengawalan untuknya."


Aera tersenyum, sudah ada dua pengawal yang siap sedia menunggu dibawah pohon. Begitu juga dengan Olivia dan seorang dayang baru bernama Aisha.


"Baginda, semua persiapan telah selesai." Ivon datang dan langsung melapor.


"Baiklah, ayo Ratuku. Kita harus bekerja sama untuk satu hal ini." kata Audric.


"Hmm? Memangnya tetang apa?"


Audric tidak menjawabnya. Ketika Aera meminta jawaban dari Ivon, pria itu malah memalingkan wajahnya. Menunjukkan bahwa dia tidak diperbolehkan memberitahu.


"Ini kan ruang pertemuan, memang apa yang ada disana?"


Saat pintu dibuka, Aera melebarkan matanya sesaat. Ada banyak orang dengan sebuah buku ditangan mereka.


"Nah, saatnya kamu memilihkan hadiah untuk pangeran."


"Aku kan sudah beli hadiah." kata Aera.


"Tidak, ini hadiahku. Tahun-tahun lalu aku selalu gagal, jadi saat ini kamu harus membantuku."


"Ffft!"


Aera menahan tawanya. Itu karena dia mengingat tiga tahun terakhir saat Henry selalu memasang wajah tidak suka akan hadiah dari Audric. Anak kecil itu terlalu blak-blakkan ketika mereka sedang bertiga saja. Dia akan mengkritik hadiah tidak masuk akal yang ayahnya pilihkan. Meskipun saat itu dia masih terhitung balita, Henry terlahir dengan kejeniusan yang diturunkan dari Audric, dia sangat pintar bicara.


"Baiklah, jadi ide ini pasti bukan darimu, kan? Siapa itu? Harald?"


"Bukan saya Yang mulia, ini adalah ide jenius Ivon."


"Wah, aku tidak tahu kalau guruku lebih pintar soal anak-anak dari pada kamu yang baru saja menikah Harald. Kamu harus belajar banyak dari Olivia."


Wajah Harald langsung memerah. Entah bagaimana Harald bisa dekat dengan Olivia dua tahun terakhir. Keduanya akhirnya memutuskan menikah sebulan yang lalu. Mereka adalah pengantin baru yang baru saja selesai bulan madu.

__ADS_1


"Mereka berasal dari butik berbeda, toko mainan anak-anak, toko aksesoris pria dan toko buku." kata Ivon.


"Ivon harusnya tidak mengurusi hal ini, tapi aku sangat berterima kasih karena kamu mau membantu Baginda."


Ivon tidak menjawab, dia langsung mundur dan menyerahkan pada Harald pengaturan selanjutnya. Sementara dia berdiri sedikit jauh dan memperhatikan mereka saja.


Audric menghela napas. Dia cukup terganggu akan tatapan Ivon pada istrinya. Tapi dia tidak bisa melakukan hal gila dengan mengusirnya. Ivon sangat berjasa baginya dan dia adalah orang yang hampir mati demi Aera. Jadi, Audric membiarkan perasaan Ivon itu selama dia bisa menjaga jarak dan merahasiakan perasaannya dari Aera selamanya.


Dia masih ingat dengan janji Ivon ketika mereka membicarakan hal itu. Saat Audric tidak nyaman dengan tatapan Ivon pada Aera dan menyuruhnya untuk pergi dengan keras.


Saat itu Ivon memohon padanya untuk tetap tinggal dan melayaninya. Selain karena kesetiaannya pada Audric, Ivon juga berjanji untuk menyembunyikan perasaannya sampai mati.


.


Perayaan ulang tahun Henry akhirnya tiba. Hanya orang terdekat yang hadir. Acara itu juga jauh dari kamera dan sangat privasi. Tidak ada keluarga luar yang diundang. Hanya ada Audric, Aera, Harald, Ivon, Olivia, Dimitri dan istrinya, kepala pelayan istana dan tentu saja pelayan dan pengawal yang mengawasi pangeran selama ini.


"Nah, bukalah hadiah dari Ayah dan Ibu." kata Aera.


"Saya tidak ragu dengan kado Ibu, tapi Ayah... ini bukan mainan anak perempuan lagi kan?"


"Anak nakal ini, kamu selalu meremehkan hadiah dari Ayahmu."


"Berhenti berdebat, Henry cepat buka." sela Aera kala keduanya mulai saling ejek satu sama lain.


"Wah... Ibu memang yang terbaik. Ini adalah buku langka yang kita bicarakan terakhir kali kan? Dimana ibu mendapatkannya?" Henry tampak antusias ketika dia membuka hadiah kecil dari Aera.


"Dua bulan terakhir ibu bersusah payah mencarinya. Berterima kasihlah pada Dimitri karena dia yang membantu Ibu."


"Terima kasih Paman!" kata Henry cepat.


Lalu Henry mulai membuka kado ayahnya. Dia menatap kotak yang bungkus kadonya telah ia buka. Ketika ia melihat apa yang ada disana, dia terdiam sesaat. Itu adalah foto Ibu dan Ayahnya, sedang menggendongnya yang saat itu masih bayi berumur enam bulan. Dibingkai dengan sangat mewah, terbuat dari emas putih dan dihiasi permata dan rubi.


"Ini sangat cantik." katanya, lalu dia memeluk Audric yang duduk disampingnya, sepertinya dia sangat terharu. "Terima kasih Ayah, Saya mencintai Ayah dan Ibu." tambahnya.


Acara berjalan dengan sangat baik. Tapi Audric tidak bisa berlama-lama disana, dia punya pekerjaan yang harus ia selesaikan. Karena itu dia meninggalkan Aera dan Henry yang berencana memeriksa seluruh hadiah yang dikirimkan padanya.


Malamnya, Aera berbincang ringan ditemani sebotol anggur. Mereka sedang bersiap-siap untuk tidur. Membicarakan hadiah yang diterima Henry dari para bangsawan yang kini semakin banyak.


"Mereka menunjukkan dukungan, tapi tidak ada dukungan tampa imbalan kalau kita membicarakan para bangsawan. Henry masih kecil tapi mereka sudah ingin menjalin hubungan melalui anak mereka sebagai teman bermain. Sudah ada lima permintaan, Henry terlihat antusias saat dia tahu, tapi aku sangat kawatir." kata Aera.


"Jangan cemas, Henry anak yang pintar. Aku sendiri yang melatihnya menjadi penerus. Jadi jangan risaukan apapun." jawab Audric.


Keduanya berciuman dengan sangat mesra. Awalnya Aera pikir hanya ciuman sebelum tidur. Tapi ternyata dia salah. Suaminya menyerang dengan luar biasa menggoda, sampai-sampai Aera tidak bisa berkutik.


Paginya, Auric dikejutkan dengan Aera yang menghilang dari sisinya. Saat dia mencarinya, ternyata Aera sedang muntah-muntah dikamar mandi.

__ADS_1


Tentu saja dia langsung panik. Audric segera membantunya dan menenangkannya. Setelah Aera selesai muntah, pelayan yang biasanyanya melayani pagi mereka masuk. Mereka langsung memanggil dokter dan membantu Aera mandi.


"Bagaimana?" tanya Audric ketika dokter telah memeriksanya.


"Saya tidak yakin, tapi sepertinya Yang mulia ratu sedang mengandung Baginda."


"Apa? Hamil?"


"Kita perlu memastikannya." kata Aera dengan tenang.


"Kamu tidak memakai kontrasepsi lagi?" tanya Audric ketika urine Aera diperiksa.


"Hmm, maaf... Aku menghentikannya lima bulan yang lalu."


"Kenapa?"


"Karena aku ingin."


"Tapi, Aera... Saat kamu melahirkan Henry..."


Aera menggenggam erat tangan Audric. Dia tahu apa yang dikawatirkan suaminya itu. Kejadian pasca lahirnya anak pertama mereka menjadi trauma bagi Audric. Karena itulah dia tidak ingin memiliki anak lagi. Tapi Aera tidak ingin hanya satu, akhirnya dia diam-diam melepas alat kontrasepsinya.


"Aku jauh lebih kuat sekarang, jadi jangan kawatir. Aku mohon percaya padaku." kata Aera.


Ketika hasil pemeriksaan keluar, Aera sangat senang. Dia diperiksa lebih lanjut dan kondisinya sangat baik. Hal itu membuat Audric sedikit lebih tenang.


.


Mereka menjalani hari-hari seperti biasa hingga kehamilan Aera makin besar dan tiba saatnya untuk lahiran. Kekawatiran yang selama ini menghantui Audric sirna saat lahiran anak kedua mereka berjalan sangat lancar.


Mereka mendapatkan seorang putra lagi. Kali ini bayi tampan dengan bola mata yang sama dengan ayahnya, begitupun rambut dan warna kulitnya. Sekali lihat, siapapun akan bisa melihat dia sangat mirip dengan Audric nantinya.


Meski gejolak dalam pemerintahan selalu ada, tapi keluarga itu sangat harmonis satu sama lain. Tentu saja perdebatan akan selalu ada, hal itu menjadi bumbu dalam hubungan cinta pasangan itu. Namun keduanya memahami satu sama lain, mencintai dengan tulus sehingga masalah selalu bisa diselesaikan dengan baik.


Aera menatap langit malam dengan senyum tipis dibalkon kamar mereka. Audric datang dan memeluknya dari belakang.


"Ric, entah kenapa aku teringat saat pertama kali kita bertemu."


"Hmm? Kafe itu?"


"Ya. Kamu sangat menakutkan. Aku tidak menyangka akan mencintai orang yang menculikku saat itu."


Audric mencium puncak kepalanya. "Aku sangat mencintaimu, sayang." bisiknya.


Aera tersenyum lebar, dia berbalik dan memeluk Audric dengan erat. "Aku juga sangat mencintaimu."

__ADS_1


...


__ADS_2