
Keesokan harinya, dimana mawar putih yang biasanya tidak berbunga diawal musim dingin kini tampak berbunga walau tidak banyak. Aera duduk ditaman ditemani oleh Olivia. Pelayan itu sedang menceritakan kisahnya saat awal-awal sekolah. Aera baru tahu bahwa sebagian besar pekerja dirumah itu adalah orang-orang yang mendapat bantuan dari yayasan amal milik keluarga Martell.
"Nona, tuan Adolf datang, dia ingin berbicara dengan Anda."
Aera menoleh, Friedrick baru saja tiba dan berdiri disisi kanannya.
"Apa aku boleh menemuinya, Fried?"
Friedrick dan Olivia tampak terkejut, sejak Aera datang kesini lagi, sikapnya memang telah jauh berubah.
"Tentu saja karena dia adalah tamu Anda."
"Hmm? Kamu seolah tidak mengerti apa maksudku."
"Maafkan saya, Nona. Tuan tidak memberi batasan untuk Anda. Beliau membolehkan Anda menemui siapa saja selama tidak keluar dari kediaman."
"Begitu, ya. Kalau begitu aku akan menemuinya."
"Baik, saya akan membawa beliau kesini."
Tidak lama berselang, Adolf datang. Dia hanya sendirian dan sepertinya baru saja selesai menghadiri pertemuan resmi.
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak, silahkan duduk." jawab Aera.
"Kemarin aku tidak bisa bicara banyak karena tidak menyangka Luisa juga datang. Karena itu aku menemuimu lagi."
"Oh, jadi kalian tidak datang bersama?"
"Mana mungkin! Aku bahkan tidak tinggal bersamanya lagi."
"Kenapa? Kalian bertengkar?"
Adolf terkekeh pelan. Olivia yang menunggu Aera di bangku yang sedikit jauh melihatnya dengan waspada. Tampaknya Olivia merasa bertanggung jawab melindungi hubungan Aera dan majikannya.
"Sejak kapan kami akur?" elaknya.
"Jadi, kenapa kamu ingin menemuiku?"
Adolf menatap Aera sesaat. Tentu saja dia merasakan perubahan Aera yang begitu drastis. Dia hanya bisa menebak bahwa perubahan itu terjadi karena kematian neneknya.
"Pembicaraan tadi malam, sepertinya kamu sudah memiliki kesimpulan pelaku yang membunuh nenekmu."
"Hmm, kamu juga tahu kan?"
"Aera, aku datang kesini untuk minta maaf."
"Kenapa? Apa kamu terlibat?"
"Tidak, bukan begitu maksudku." jawab Adolf dengan panik. "Aku tahu rencana Luisa sebelumnya, tapi aku terlambat tahu tentang keputusan dia yang menyerang nenekmu. Aku tidak tahu bahwa dia akan memilih jalan itu untuk menghancurkan hubunganmu dan Audric. Aku gagal melindungi kalian."
Aera yang sejak tadi menatap hamparan bunga, kini menoleh. Menatap mata Adolf untuk menilai.
"Tapi kenapa baru bilang sekarang?" tanya Aera dingin, sama sekali tidak tergerak oleh kata maaf Adolf.
"Itu... Karena aku tidak memiliki kesempatan bertemu."
Aera ingin sekali menyangkal jawaban itu dan mendorong Adolf untuk berkata jujur. Tapi sepertinya Adolf memilih menyembunyikan keinginan egoisnya saat itu. Aera menyadari itu. Adolf akan senang kalau hubungannya dan Audric rusak.
"Aku akan menerima jawabanmu kali ini. Lagi pula kita teman bukan? Harusnya tidak boleh tidak mempercayai teman."
Meski Aera akhirnya tersenyum tipis, tapi Adolf bisa merasakan tusukan tajam dalam kalimat itu.
"Mulai sekarang aku akan lebih jujur, maafkan aku."
"Sudahlah, bagaimana kalau kamu makan siang disini. Apa kamu punya jadwal mendesak?"
"Tidak, bahkan jika ada aku akan batalkan." jawab Adolf dengan cepat.
"Hahaha! Jangan jadi pejabat yang seenaknya."
Tawa itu seolah mencairkan suasana. Meski begitu, baik Adolf maupun Olivia yang masih terus memperhatikan, tidak bisa mengetahui apakah saat ini Aera benar-benar baik-baik saja.
Friedrick datang dengan tergesa-gesa. Jelas sekali ada hal yang mendesak yang harus ia sampaikan.
"Nona, maafkan saya. Tapi tuan baru saja tiba. Beliau sedang menunggu di ruang makan."
Keringat dingin membanjiri wajah Friedrick. Olivia juga langsung berdiri dan menghampiri Aera.
__ADS_1
"No-Nona! Sebaiknya Anda langsung keruang makan." katanya.
"Baiklah, ayo Adolf."
Dua orang itu langsung mengeluarkan ekspresi horor diwajah mereka. Meski tidak bisa mencegah, mereka hanya bisa berdoa dalam hati kalau tuannya akan membiarkan mereka kali ini. Jika Audric marah, sudah jelas siapa saja yang akan menerima kemarahannya itu.
Audric mengepalkan tangannya dibawah meja ketika melihat Aera dan Adolf datang. Dia baru tahu bahwa Adolf datang ketika sampai dirumah. Dia bahkan sampai membawakan Aera hadiah sebagai usaha untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi kedatangan Adolf tentu saja menjadi perusak rencana.
"Aku tidak tahu kamu datang, Adik ipar." sapanya. Menatap Adolf tajam.
"Aku hanya datang menyapa temanku. Tapi jika kamu keberatan, aku akan segera pergi."
"Aku yang mengundangnya ikut makan, lagipula kalian akan segera kembali bekerja setelah makan siang, kan? Semakin ramai semakin baik. Lagipula kalian sekarang keluarga, kan." sela Aera.
Kata keluarga membuat Audric merasa tertohok. Bagaimanapun, Luisa adalah dalang dibalik kematian neneknya.
"Jangan menyebut mereka keluarga." kata Audric datar.
Aera meliriknya, namun dia sengaja mengabaikannya. Aera juga melirik Adolf yang hanya terdiam ditempatnya. Terlihat canggung dan merasa bersalah.
Makan siang berlangsung cukup hening. Pembicaraan diawal tadi membuat suasana menjadi rusak. Audric yang menahan diri, Aera yang acuh tak acuh dan Adolf yang diam karena canggung. Setelah mereka selesai, Adolf permisi terlebih dahulu. Meninggalkan Aera dan Audric dalam suasana yang terasa sedikit menyesakkan.
"Aera, aku..."
"Aku akan mulai kuliah lagi mulai besok, boleh kan? Kali ini aku mau menghadiri kelas seperti yang lainnya." potong Aera.
Tiba-tiba saja dia membuat topik baru dan mencegah Audric membahas hal tadi.
"Kenapa tiba-tiba? Selain itu pamanku masih mengawasimu, Luisa pasti sedang merencanakan sesuatu."
Aera juga sebenarnya tahu, tapi dia hanya ingin suasana baru. Jika terus tinggal dirumah dan hanya mengalami kecanggungan setiap kali bertemu Audric, dia merasa tidak nyaman. Ide kuliah seperti mahasiswa pada umumnya muncul begitu saja. Setidaknya dia akan bisa memikirkan hal lain selain Audric dan masalah pernikahan yang tak bisa ia tolak.
"Tapi aku harus melanjutkan kuliah."
"Aku tahu, tapi sebelum pernikahan, sebaiknya lakukan seperti dulu. Aku akan menyiapkan taman atau ruang khusus dirumah ini untukmu belajar. Ada perpustakaan yang lengkap juga disini jika kamu butuh buku, ada Friedrick yang akan..."
"Aku mengerti, lakukan seperti kemauanmu." potong Aera sambil berdiri.
"Tunggu, Aera! Aku..."
Aera tidak mendengarkannya lagi. Dia bejalan cepat keluar. Meninggalkan Audric yang hanya bisa menghela napas. Audric mengeluarkan kotak bewarna biru di sakunya dengan kecewa.
"Bagaimana cara mengembalikan senyumnya yang dulu?" gumamnya.
'Pertemuan kami bermasalah sejak awal.' keluhnya dalam hati.
"Friedrick!"
"Ya, Tuan!"
"Hubungi Harald, untuk sementara aku akan bekerja dari rumah."
"Baik, Tuan."
.
Aera pergi ke perpustakaan. Dia mulai mencari-cari buku yang menarik untuk ia baca. Lalu perhatiannya tertuju pada sebuah lemari kaca yang berisi beberapa dokumen. Dia membaca sebuah dokumen dengan judul silsilah keluarga.
'Silsilah keluarga?'
Karena penasaran, Aera membukanya. Pada awal halaman, Aera menemukan sebuah foto hitam putih yang sudah usang. Seorang pria bernama Edward el pasher. Lalu halaman berikutnya, Aera menemukan foto usang yang sama dengan nama Edmund el pasher.
Aera yang bingung membuka lagi halaman berikutnya. Foto pria dengan nama belakang el pasher. Setelah foto kelima, barulah nama Martell tertulis disana. Namun bukan seorang pria, melainkan seorang wanita. Carletta martell.
"Itu adalah silsilah pertama keluarga ini, dimulai dari nama pangeran yang gelarnya dihapuskan setelah kekaisaran dihapuskan."
Aera menoleh, entah sejak kapan Audric sudah ada disana. Bersandar pada rak buku. Menatapnya yang sejak tadi fokus pada dokumen itu.
"Maaf aku membacanya sembarangan."
Aera sudah akan meletakkannya lagi namun dihentikan oleh Audric. Dia menahan tangan itu dan mengambil dokumen itu. Menarik tangan Aera untuk duduk bersebelahan dengannya.
"Aku akan menjelaskannya padamu. Ini hanya catatan berisi nama-nama pemimpin keluarga sampai sekarang."
Maka, mulailah Audric memperkenalkan nama-nama itu pada Aera dan bagaimana mereka bisa terpilih menjadi penerus.
"Jadi, pada generasi kelima, tidak ada anak laki-laki?"
"Ya, saat itu terjadi sedikit kekacauan dalam keluarga. Suara terpecah karena nama El pasher sangat dijunjung saat itu. Nama yang melambangkan kehormatan. Namun karena penerus terpilih saat itu wanita, terjadi sedikit kekacauan."
__ADS_1
"Apa nama keluarga suami pemimpin sebelumnya Martell?"
Audric tersenyum lembut dan mengelus puncak kepala Aera.
"Benar, nama keluarga sekaligus nama sebuah organisasi rahasia. Nenek buyut sangat pintar mencari pasangan. Penerus organisasi yang saat itu sangat ditakuti karena pengaruh mereka dibelakang layar. Meski adanya perdebatan sengit, seluruh el pasher akhirnya berganti nama menjadi Martell. Penyatuan dua kekuatan yang sampai detik ini bertahan dengan kuat."
"Apa organisasi itu masih ada?"
Audric tidak langsung menjawab. Dia menutup dokumen itu dan meletakkannya kembali ke tempatnya.
'Tentu saja, karena itu dengan mudah aku menguasai Valencia dalam semalam.' jawab Audric dalam hati.
"Martell ada kesatuan."
'Jadi masih ada, ya.' kata Aera dalam hati. Meski Audric menjawabnya dengan ambigu begitu, dia mengerti apa yang dimaksudkannya.
"Aera, mengenai permintaanmu tadi..."
"Tidak apa, aku mengerti." potong Aera.
Nadanya mengindikasikan bahwa dia tidak ingin membahas hal itu lebih jauh. Hanya Aera yang bisa membuatnya merasa bersalah seperti ini. Audric merasa dunianya jungkir balik jika berhadapan dengan Aera. Meski sebelumnya berniat mengekang Aera karena kemarahannya, saat ini ketika dia melakukannya, hanya rasa bersalah yang terus muncul.
.
Harald datang setelah matahari terbenam. Dia langsung menuju ruang kerja dimana Audric sedang berada. Ketika dia masuk, dia berhenti mendadak di depan pintu ketika melihat Aera yang sedang membaca buku tebal. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapnya datar. Dia duduk disofa panjang disana.
"Saya akan kembali nanti."
"Tidak perlu, masuk saja." perintah Audric.
Harald masuk dan berdiri di depan meja Audric. Memasang posisi siap dengan ekspresi tegas.
"Villar menjual sahamnya pada VG, sehingga saat ini saham MFc lebih rendah dari VG di Vilatex, Sir. Besok adalah akan ada pemungutan suara akhir tentang dua diantara produk baru. Jika VG menang, anda kita terpaksa membatalkan bahan baku yang telah jadi dari pabrik. Para ilmuan juga mengancam akan mundur dari kerja sama jika hal itu terjadi."
'Jadi masalah bisnis, aku pikir masalah para tetua atau ayahku.' pikir Aera. Mengabaikan mereka dan fokus pada bukunya.
"Kenapa Villar tiba-tiba menyerahkan sahamnya?"
"Villar baru saja berganti CEO."
"Ah... wanita itu?"
Deg!
Mendengarkan kata wanita itu membuat Aera yang tadi tidak peduli tiba-tiba menghentikan bacaannya. Kini fokusnya jadi terbagi.
"Ya, sepertinya ini terkait perkataannya kali lalu. Selain itu, beberapa kali dua tetua keluarga Anda telah didatangi olehnya."
"Temui dia besok. Awasi terus para tetua itu. Ada laporan dari Madrid?"
Harald melirik Aera sebelum menjawab. "Dia menerima tawaran Anda dengan syarat pelunasan hutang dan sejumlah uang. Presiden Alberto mengatakan raja sedikit marah pada Anda karena hal ini, namun akhirnya kembali tenang setelah Presiden memberikan solusi lain untuk wilayah perbatasan itu."
"Aku berhutang banyak pada paman."
"Apa orang yang mengaku ayahku itu memerasmu?" tanya Aera, kini dia sudah sepenuhnya teralihkan.
Audric tersenyum kecil, "Jangan kawatir, dia tidak akan membuatku miskin. Aku masih bisa mengendalikannya."
"Tetap saja! Dia tidak punya hak melakukan itu, apa aku ini barang!" marah Aera. Dia benar-benar terlihat kesal karena merasa telah dijual.
Audric memberi kode agar Harald keluar terlebih dahulu sebelum dia menghampiri Aera. Menggenggam tangannya dan mentap kedua bola mata bewarna biru itu.
"Anggap saja aku membayar mahar. Dan tidak ada yang menganggapmu barang. Kamu sangat berharga. Lupakan orang tua bodoh itu, lagi pula secara hukum saat ini kamu anak keluarga Fernandes. Aku mau memberikan apa yang dia minta karena nanti aku akan membutuhkannya."
"Untuk apa?"
"Bukan hal yang rumit. Sekarang ayo turun dan makan malam."
Audric menarik lembut tangan Aera dan menggenggamnya dengan erat.
"Harald, temui Ivon dan Friedrick. Ini terkait kasus itu. Aku ingin itu segera diselesaikan sebelum pernikahan."
"Kenapa tidak membahasnya sambil makan malam. Ayo makan malam bersama." kata Aera tiba-tiba.
"Apa?" sahut Audric. Ekspresinya jelas menunjukkan tidak suka.
"Kenapa? Apa salahnya makan bersama bawahanmu?"
"Mereka semua laki-laki." jawab Audric dengan frustasi.
__ADS_1
"Kamu tidak mau? Apa aku tidak boleh tahu apa yang kalian biacarakan bahkan kalau itu tentang aku?"
Audric menatap Aera dengan bingung. Beberapa saat yang lalu dia masih bersikap acuh tak acuh. Tapi kenapa sekarang dia seperti ingin ikut terlibat?