BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Pangeran!


__ADS_3

Aera meneteskan air matanya ketika dia melihat anaknya untuk pertama kali. Wajah mungil itu terlihat sangat lucu dan manis. Matanya menatap Aera dengan polos. Bola matanya sama dengan Audric, begitu juga warna rambutnya. Seolah memberitahu dunia bahwa Audric kecil telah lahir.


"Dia, seperti dirimu. Aku jadi ingin melihat foto bayimu." kata Aera.


Audric hanya menatap bayi di gendongan Aera dengan datar. Entah kenapa rasa marah tiba-tiba merasukinya. Dia sadar bahwa apa yang ia lakukan saat ini salah, tapi dia tidak bisa menolak dorongan perasaan itu.


"Ric?"


Panggilan itu menyadarkannya. Dia buru-buru merubah raut wajahnya ketika mata mereka bertemu.


"Coba gendonglah." pinta Aera.


"Tidak, aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Dia... Anak itu yang membuatmu menderita."


Mendengar itu Aera akhirnya paham rasa tidak nyaman yang ia rasakan sejak kemarin. Dia memberikan bayinya pada Olivia sebentar sebelum mengacungkan tangannya sebagai isyarat agar suaminya itu mendekat.


"Duduklah disampingku dan peluk aku."


Audric melakukan apa yang diminta Aera, Harald dan Ivon segera keluar. Keduanya tersenyum dengan lega begitu melihat Aera memahami apa yang terjadi dan membuat semua orang kawatir.


"Ric, aku tidak menderita. Semua ibu akan merasakan sakit saat melahirkan. Saat aku tidak sadarkan diri, aku tidak merasakan apapun. Aku hanya bermimpi. Ketika aku bangun aku melihat wajah orang yang aku cintai. Jadi dimananya aku menderita? Aku bahagia, anak kita dan kamu membuatku bahagia."


Aera melepaskan pelukannya, lalu meminta bayinya pada Olivia.


"Sekarang pegang tangannya."


Dengan ragu Audric mengulurkan jari telunjuknya yang langsung digenggam oleh tangan kecil bayi mereka. Perasaan-perasaan benci dihatinya perlahan memudar. Apalagi ketika tangan bayinya bergerak-gerak membawa jarinya keatas dan kebawah.


"Hahahaha! Dia lucu sekali. Kita harus segera memberinya nama yang cantik."


Audric ikut tersenyum melihat tawa istrinya. Lalu dia mencium kening Aera dengan lembut.


"Maafkan aku karena melakukan hal bodoh." katanya.


Masalah terselesaikan dengan baik. Meski terkadang Audric masih diliputi rasa tak enak ketika perhatian Aera lebih besar pada anak mereka. Tapi perkataan kepala pelayan suatu hari menyadarkannya bahwa itu rasa cemburu yang wajar karena dia sangat mencintai istrinya. Meski begitu, Audric tahu dia tidak membenci anaknya sama sekali. Justru semakin hari dia semakin mencintai mereka.

__ADS_1


Hingga pada bulan kesebelas umur pangeran kecil itu. Suatu bencana yang tidak pernah mereka prediksi terjadi ditengah kebahagiaan.


Henry August Martell, pangeran kecil pertama kerajaan menghilang. Bersamaan dengan itu, Luisa yang berada di penjara khusus istana juga menghilang.


Tentu saja pencarian besar-besaran dilakukan. Aera bahkan ikut terjun kelapangan dan ikut dalam penyelidikan karena tidak ingin hanya duduk diam dan menunggu.


Meski berita kehilangan pangeran masih dirahasiakan, tapi berita pelarian Luisa disebarkan secara besar-besaran. Penghianat yang membantu Luisa kabur juga sudah ditangkap. Mereka mengakui bahwa mereka dibayar oleh orang tak dikenal.


"Ivon, bagaimana pergerakan paman Albert?" tanya Aera.


"Belum ada Yang mulia. Tapi bibi Anda terlihat masuk kedalam sebuah penggadaian. Perdana mentri Adolf juga mengatakan bahwa ada yang masuk kedalam kamar mantan istrinya. Perhiasan yang tertinggal disana juga menghilang."


"Tampaknya kita harus membersihkan mereka semua sekaligus. Aku terlalu lunak hanya karena mereka memiliki darah Martell."


Audric muncul dibelakang mereka. Saat ini mereka sedang berada disebuah salah satu bangunan kosong dimana Luisa terlihat disekitar tempat itu melalui cctv toko yang ia lewati.


"Kalau terjadi sesuatu pada anakku, aku tidak akan pernah memaafkannya." desis Aera. Kemarahan menggelegak dalam dirinya.


Sementara pencarian berlangsung diam-diam dan terang-terangan, Luisa ternyata bersembunyi disebuah ruang bawah tanah rumah yang telah dipersiapkan oleh Albert.


Saat ini, dia memegang sebuah ponsel dan menghubungi Albert yang duduk dengan gelisah dirumahnya. Tindakan berbahaya ini ia setujui setelah menerima surat rahasia dari Luisa. Bahwa Luisa menjanjikan kepemilikan aset miliknya yang berada diluar negri.


Perhiasan yang diambil secara diam-diam dari kamarnya dirumah Adolf digunakan bibinya untuk membayar penghianat yang telah tertangkap itu dan membiayai pelarian Luisa.


Henry memang sangat tenang. Sejak lahir dia juga sangat jarang menangis. Olivia sampai memcatat waktu buang air besar dan buant air kecilnya. Karena jika Olivia terlambat menyadarinya, bayi itu tidak menangis. Sehingga mereka harus memeriksanya dengan teliti.


"Kamu mirip sekali dengan Kakakku. Apakah kamu juga akan membenciku seperti Ayahmu?" Luisa menatap mata polos Henry yang juga menatapnya. Tampa ekpresi, tampa kasih atau kebencian. "Sayang sekali, kamu akan segera mati."


Luisa berbalik, membelakangi bayi Kakaknya yang ia baringkan di atas dipan kayu tampa alas. Hanya selimut bayi yang melindungi Pangeran dari udara lembab dan dingin ruang bawah tanah itu.


"Bagaimana? Apakah semuanya sudah siap?" tanya Luisa.


Dia menghubungi pembunuh bayaran yang ia sewa. Rencana yang ia susun adalah membuat Audric dan Aera menyaksikan kematian anak mereka sementara dia akan kabur keluar negri dibantu Albert.


.


Harald masih bersama Audric menyusuri seluruh kota Berlin. Sementara Aera bersama Ivon mendatangi satu tempat yang sengaja dimanipulasi oleh Luisa.


Luisa sengaja menunjukkan dirinya. Melewati sebuah jalan yang bisa ditangkap cctv. Dia hanya mengulur-ngulur waktu mereka agar dia punya waktu untuk mempersiapkan rencananya.

__ADS_1


"Ini tempat ketiga yang dia datangi. Disekitar sini juga tidak ada." ujar Ivon.


"Dia sengaja membuat kita berputar-putar." kata Aera yang disetujui semua pengawal yang mengikutinya.


Lalu, sebuah panggilan dari Harald membuat Ivon membelalakkan matanya. "Aku mengerti." katanya lalu sambungan terputus.


Sebuah rekaman terkirim dan dia buru-buru membukanya sambil memberikan perintah menyiapkan mobil.


"Silahkan lihat ini, Yang mulia. Lokasi vidio sedang dilacak." kata Ivon.


Ketika Aera melihat tubuh anaknya terikat sebuah tali tambang dan dibawahnya berisi drum cairan kimia, Aera tidak bisa menahan air matanya. Ivon sampai harus memapahnya masuk kedalam mobil.


"Ap-Apa yang dikatakan Luisa ketika mengirim ini? Apa yang dia inginkan?" tanya Aera, air matanya masih mengalir deras.


"Harald mendapatkannya dari nomor tak dikenal. Kemungkinan dia bukan Luisa tapi orang yang bekerja untuknya. Dia tidak mengatakan apapun." jawab Ivon.


Bukannya tidak ada. Pesan itu ada tapi Audric meminta Harald untuk tidak memberitahu Aera. Luisa menyertakan sebuah vudio dimana dia sedang menggendong Hendry sebelum dia memberikannya pada pembunuh bayaran.


"Kakak, Aku menyesali apa yang terjadi antara kita. Tapi kebencianku padamu menjadi sedikit berkurang karena anak ini akan mati. Bukankah ini kabar baik? Aku memaafkan kesalahanmu yang mengabaikanku. Padahal Kakak adalah satu-satunya orang yang aku pedulikan di dunia ini."


Itu adalah pesan Luisa dimana dia tersenyum lebar sebelum vidio berakhir. Audric mengepalkan tangannya. Mereka saat ini sedang menunggu pelacakan lokasi. Seluruh pasukan dikerahkan untuk mencarinya.


Lalu, sebuah panggilan vidio diterima Harald dari nomor yang sama. Seorang pria yang memakai topeng dan sarung tangan hitam sedang menatap mereka dalam diam. Dibelakangnya, Henry terikat sambil menangis kecil, seakan menyadari bahaya mendatanginya.


"Yang mulia raja Audric martell, lihatlah kematian bersejarah abad ini. Aku sangat senang mendapat pesanan ini. Sungguh menggairahkan bukan?" kata pria bertopeng itu.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Audric, dia berusaha untuk tenang.


"Hahahaha! Ini sangat menyenangkan! Aku tidak menginginkan apapun. Melihat bayi itu direbus dalam cairan yang akan menghancurkan tulangnya adalah pemandangan yang sangat indah."


"Psikopat gila." desis Harald yang berada disamping Audric.


Seseorang membisikkan sesuatu pada Harald sementara Audric masih berbicara pada penculik itu. Audric berusaha mengulur waktu. Mereka berhasil melacak lokasinya dan pasukan sudah bersiap mengepung lokasi.


Harald segera menyiapkan mobil dan Audric duduk dengan tenang sambil mendengarkan ocehan pria gila itu.


"Aku akan memberikan apa yang kamu minta. Lepaskan anakku."


"Ah, tidak bisa. Saya sudah menerima uangnya. Tidak boleh dikembalikan. Permintaan saya hanya untuk menambah masa hidup bayi lucu itu." ujar pria gila itu.

__ADS_1


"Harald, kirim uangnya pada rekening yang disebutkan tadi." perintah Audric.


Sementara itu posisi Aera saat ini berada didepan pintu gerbang pabrik tak terpakai yang dijadikan lokasi penyandraan anaknya. Aera duluan sampai karena posisi sebelumnya mereka yang lebih dekat.


__ADS_2