
Adolf tinggal disana selama tiga hari. Dan selama itu pula Audric cukup diam. Walau keduanya sudah saling tahu rahasia masing-masing, tapi belum ada pembahasan sejauh apa permainan ini akan berjalan.
Malam ini, Adolf memutuskan akan kembali kerumahnya. Hal yang tidak ditentang Aera apalagi Audric. Namun, Aera memiliki firasat buruk akan ketenangan dua orang ini.
"Sampai jumpa Aera, aku akan sering mengajakmu keluar untuk membuat opini publik." lalu Adolf beralih pada Audric, "Aku harap kamu tidak keberatan. Walaupun aku tidak peduli juga." lanjutnya.
Adolf sudah akan pergi ketika Aera menahannya.
"Bisakah aku bicara sebentar?"
"Tidak, masuklah Lui."
"Tapi... "
"Lihatlah, bagaimana bisa kamu terus patuh padanya padahal saat ini kamu istriku?"
Deg!
Aera mengerjapkan matanya dua kali ketika sesuatu seperti memukul kesadarannya. Benar, bukankah dia memerankan Luisa. Tapi kenapa saat ini mereka bersikap seolah dia bukan Luisa.
"Jangan lupakan kalau kalian hanya menikah diatas kertas." sela Audric.
"Ck, pernikahan kami sah walau itu hanya perjodohan untuk bisnis keluarga."
"Aku akan mengantarmu ke mobil!"
Aera buru-buru menarik tangan Adolf dan berjalan cepat-cepat. Adolf tersenyum dan menoleh sedikit kebelakang, mengejek Audric yang kini mengepalkan tangannya.
"Pelan-pelan istriku, kamu bisa jatuh dari tangga ini."
"Ish! Diamlah. Kenapa kamu selalu mencari gara-gara dengan Ric!" Aera melepaskan tangannya begitu mencapai tangga terakhir.
"Aera, aku pikir kakakmu sudah tahu kalau aku tahu kamu bukan Luisa." ujar Adolf ketika mereka di samping mobil.
"Aku... Aku pikir juga begitu. Tapi sejauh ini dia diam saja... Kadang aku sangat kawatir."
"Kenapa tidak pindah kerumahku? Bagaimanapun kita suami istri tahu."
"Aku tidak mempercayaimu. Lagipula Ric tidak akan memberikanku izin."
"Hah... Kenapa juga harus izin darinya. Apa aku menculikmu saja saat tengah malam?"
"Hahaha! Dasar gila. Pergilah, lagi pula kamu harus mematuhi perjanjian. Sampai jumpa suamiku!" canda Aera sambil tersenyum, lalu berlari menaiki tangga untuk kembali kedalam.
"Sial, kenapa terdengar sangat manis sekali."
Adolf merasa pipinya jadi memanas, mendengar kata suamiku walaupun hanya candaan semata, membuatnya sangat malu. Namun, senyum itu memudar ketika dia menatap pada kejauhan, Audric masih berdiri di tempatnya tadi. Menatap dengan sorot matanya yang dingin kearahnya.
Aera juga berhenti di hadapannya, menunggu Audric yang akhirnya masuk dalam diam ke dalam rumah baru mengikutinya dibelakang.
"Ric!"
Audric berhenti, mereka masih berada di depan pintu. Aera menatap punggung tegap dihadapannya dengan perasaan kawatir.
__ADS_1
"Aku ingin..."
"Ikuti aku." potong Audric.
Audric membawanya ke lantai tiga. Dimana kamarnya berada. Namun Audric tidak ke kamarnya, dia membawa Aera masuk ke dalam ruangan penuh dengan buku-buku. Aera kira perpustakaan hanya ada di lantai satu. Tapi ternyata tidak, disamping kamar Audric juga ada. Tapi kenapa Aera merasa ini sedikit berbeda?
"Ini ruang kerjaku."
Aera akhirnya paham mengapa ruangan itu terasa berbeda. Meski besar dan dipenuhi buku-buku, ada sebuah meja dan kursi. Di sisi lain ada sofa panjang dan dua sofa untuk satu orang.
"Kenapa kamu membawaku kesini?"
"Hanya ingin."
"Lagi pula, ada yang ingin kamu katakan bukan?"
Aera meneguk ludahnya dengan berat. Kekawatiran dan ketakutan itu menyeruak lagi dalam dadanya. Dia sangat yakin Audric marah tiga hari ini. Namun dia tidak mengatakannya. Sikapnya yang diam dan cenderung dingin membuat Aera malah semakin kawatir. Ini sama seperti sebelum Audric keluar kota. Ketika Audric mengatakan alasan sikapnya saat itu adalah hukuman untuknya. Dia jadi kawatir ini juga hukuman.
"Aku... "
Aera bingung memulai dari mana. Audric juga tidak membantu sama sekali. Pria itu hanya menatapnya datar.
"Ini tentang... Kejadian tiga hari yang lalu. Apa karena keteledoranku... Kamu bersikap dingin lagi? Kamu sedang menghukumku?"
"Keteledoran?"
"Ma-maafkan aku."
"Kenapa kamu minta maaf? Apakah Adolf akhirnya tahu kamu bukan Luisa?"
"Maaf... Maafkan aku. Aku tidak bermaksud merahasiakannya darimu. Aku takut... Aku takut kamu marah dan nenekku..."
"Apa aku sejahat itu dimatamu?"
"Ti-tidak."
"Berapa lama?"
"Huh?" Aera belum mengerti.
"Berapa lama kalian sudah membodohiku?"
"Tidak! Aku sama sekali tidak..."
"Aku merasa terhianati selama ini. Jadi sejak kapan?"
"Sejak awal, saat pertemuan kedua pada hari ulang tahun ibunya."
Audric mengepalkan tangannya. Dia akhirnya memahami mengapa saat di rumah terapung , Adolf selalu memotong pembicaraan Aera dengan Lucas. Pria itu sedang melindungi Aera saat itu.
"Jadi kalian mempermainkan aku selama ini. Wah! Ini sangat lucu. Aku... Kepala keluarga Martell bisa dipermainkan seperti ini."
"Ric, aku tidak bermaksud... Tolong jangan salah paham. Saat itu aku juga tidak punya pilihan! Aku takut Adolf mengatakannya pada semua orang, jadi..."
__ADS_1
"Jadi kenapa dia setuju bekerja sama dan tetap diam sampai saat ini?"
"Itu... Aku tidak tahu. Dia hanya bilang dia pernah tertarik dengan adikmu, tapi kemudian dia bilang dia berubah pikiran dan ingin bekerja sama denganku."
Audric yang mendengar jawaban itu semakin yakin akan pikirannya. Bahwa Adolf sungguh-sungguh tertarik dengan Aera. Hanya itu alasan yang masuk akal kenapa Adolf mengikuti permainannya. Tiga hari ini, Audric mencari tahu alasannya, dan dia sama sekali tidak menemukannya. Adolf tidak keluar dari jalur dan tidak melakukan hal-hal yang merugikannya.
"Jangan dekat-dekat dengannya," kata Audric tiba-tiba.
Nada suaranya juga berubah, mirip seperti rajukan dari pada nada perintah seperti biasanya. Membuat Aera melongo. Dia sudah kawatir akan menerima kalimat penghinaan seperti dulu karena statusnya.
"Kemari."
Audric merentangkan tangannya. Aera mendekat dua langkah dan tubuhnya langsung masuk kedalam pelukan pria itu.
"Aku merindukanmu tiga hari ini. Kamu selalu tersenyum pada Adolf tapi terlihat ketakutan terus padaku. Itu membuatku merasa terganggu."
Lihat, Aera terkadang kesal dengan sifat Audric yang seperti ini. Dia selalu bingung akan perlakuan Audric yang selalu berubah-ubah padanya. Selain itu, dia juga merasa takut sendiri. Audric akan selalu apapun yang ia sembunyikan cepat atau lambat.
Semua mata dirumah ini adalah matanya. Tentu saja, Aera tidak bisa melakukan apa-apa. Juga tidak bisa membantahnya. Tapi, ada keinginan besar dalam dirinya untuk lepas. Meski hati kecilnya selalu menolak karena perasaan bodoh yang ia miliki.
Audric melonggarkan pelukannya, menarik satu tangannya dan mengangkat dagu Aera sehingga mendongak menatapnya. Melihat gerakan halus itu, jantung Aera berdetak dengan kencang. Hati kecilnya ingin tapi otaknya menolak dengan keras.
"Ja-jadi ini ruang kerjamu? Bolehkah aku melihat-lihat?"
Aera menunduk dengan cepat dan melepaskan diri.
"Apa itu tidak membuatmu nyaman?"
Sungguh, pria ini sangat tidak peka. Aera menjadi semakin gugup karena bingung bangaimana menjelaskannya.
"Bu-bukan, tapi sekarang aku istri orang lain. Aku tidak seharusnya menerima perlakuan intim dari orang lain. Lagi pula... Aku tidak tahu alasanmu melakukannya. Kamu kan tidak menyukaiku."
Aera berdehem dengan kikuk. Dia melirik pintu keluar. Kakinya sudah ingin berlari dari sana. Dia tidak tahan dengan tatapan Audric saat ini. Apalagi Audric tidak membantahnya.
"Aku... Aku akan kembali ke kamarku. Aku akan berhati-hati dengan identitasku lain kali. Selamat malam!".
Aera berjalan dengan cepat dari sana. Setelah keluar dia langsung berlari melewati lorong pendek di depan kamar Audric dan menuruni tangga menuju lantai dua. Dia langsung berlari ke arah kamarnya dan langsung menutup pintu.
Napasnya terasa sesak. Dia merosok jatuh kelantai dan bersandar pada pintu. Memegang dadanya yang terasa begitu sesak.
"Kamu melakukan hal yang benar, Aera. Jangan larut dalam perlakuan lembutnya. Kamu hanya akan semakin jatuh dan sakit sendiri. Dia tidak menyukaimu." gumamnya.
"Ya, dia yang menjebakku dalam permainan ini. Sadarlah! Sadarlah! Mari selesaikan ini dengan baik dan kembali pulang ke tempat nenek!"
Aera meyakinkan dirinya sendiri. Menguatkan hatinya yang selalu terombang ambing. Sama sekali tidak sadar, bahwa pengaruh Audric sudah terlalu kuat padanya.
.
Audric masih berdiri di tempatnya. Sama sekali belum beranjak dari sana. Tatapan matanya tidak seperti biasanya. Audric terlihat kebingungan. Kata-kata Aera terus berputar di dalam kepalanya.
"Itu benar, aku tidak menyukainya."
Meski mengatakan hal itu, tapi hatinya memberontak dengan penolakan yang keras. Membuat dia merasa kesal sendiri.
__ADS_1
"Hah... Apa Harald benar? Apa perasaan tidak rela itu tandanya aku menyukainya? Yang benar saja. Dia hanya gadis biasa yang terlalu naif dan lemah sehingga gampang dipengaruhi."
Audric menolak kata menyukai yang terus muncul dalam kepalanya. Tapi semakin menolak, semakin sangkalan itu terus muncul dalam hatinya.