BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Rahasia keluarga yang terungkap


__ADS_3

Aera menatap meja bulat yang di duduki oleh enam orang itu. Pria tua yang bicara tadi, benar-benar telah sepuh. Rambutnya telah memutih semua. Aera yakin umurnya melebihi 70 tahun.


'Bagimana aku harus memulai? Tegas, lemah lembut atau sedikit intimidasi?' pikir Aera. Dia tidak bisa meminta saran Audric, itu akan membuat dia terlihat lemah dimata mereka.


"Asal usulku tidaklah menarik." mulai Aera, dia memutuskan menjadi dirinya sendiri. Masa bodoh dengan pandangan orang-orang ini. "Sebelum aku mengetahui segalanya, aku hanya tahu aku yatim piyatu yang diasuh oleh seorang nenek yang telah lama mendambakan seorang anak. Tapi jika kalian semua ingin mengetahui siapa orang tua biologisku, maka aku akan mengatakannya."


"Silahkan katakan." ujar tetua pertama tadi.


"Ibuku, adalah wanita biasa bernama Larry dan dia orang Jerman juga, selebihnya aku tidak tahu mengenai dirinya. Ayahku baru saja menemuiku beberapa saat lalu di Valencia, dia orang spanyol. Namanya Darwin de franchez."


Seperti dugaan Aera maupun Audric, orang-orang disini telah mendengar banyak rumor mengenai identitas Aera. Sebagian besar dari mereka menunjukkan reaksi yang tidak berlebihan.


"Jadi, setengah bangsawan spayol dan setengah wanita penghibur?" celetuk Abert.


Paman Audric itu duduk di meja yang berada di belakang Isaac. Dia duduk bersama keluarga utama lainnya.


"Paman, itu penghinaan bagi keluarga ini. Paman mungkin sudah tahu, bahwa Aera dan Luisa memiliki ibu yang sama. Menghina ibu mereka sama saja menghina keliarga ini, lagi pula Larry bukan wanita penghibur." balas Audric.


Bukan hanya Abert yang terkejut, semua orang tampak terkejut. Bukan karena mereka baru tahu, tentu saja beberapa dari mereka menduga-duga selama ini karena kemiripan keduanya. Tapi yang tidak bisa mereka duga adalah Audric menyebutkannya secara terang-terangan. Padahal selama ini ia terkenal sangat membenci hal-hal yang merusak citra keluarga.


"Aku tidak... Tentu saja Luisa berbeda. Luisa berdarah Martell meski ibunya rakyat biasa."


"Cukup Paman, bagaimanapun dia adalah kakak tiriku. Tolong jangan hina ibu kami. Ibuku adalah wanita baik yang rahimnya disewa oleh ayah dan ibu untuk mengandungku, jadi dia bukan wanita penghibur, Paman. " Luisa tiba-tiba berdiri.


Meski dia kini resmi anggota keluarga Ackerman, Luisa hadir karena dia termasuk keluarga utama, darah pemimpin Martell terdahulu mengalir di dalam darahnya.


Abert mengepalkan tangannya, meski mereka berada di pihak yang sama, Abert tahu Luisa tidak benar-benar berpihak pada siapapun sejak awal. Dia hanya berada pada sisi yang menguntungkan tujuannya. Padahal Abert yakin Luisa juga membenci ibu kandungnya.


'Dia pasti pura-pura membela gadis itu untuk menyelamatkan wajahnya sendiri. Dasar ular! Padahal dia pasti lebih membenci ibu dan kakak tirinya lebih dari siapapun.' kesal Abert dalam hati.


"Bersiaplah Nona, dia akan memulai serangan." bisik Harald.


Entah sejak kapan pria itu telah berdiri dibelakangnya.


"Luisa, aku tahu kamu adik yang baik. Tapi tetap saja, untuk pasangan kakakmu harusnya wanita yang berkualitas. Bagaimanapun Audric adalah kepala keluarga, wajah Martell dan ketua partai saat ini. Bagaimana pandangan orang-orang tentang asal usulnya?"


'Tampaknya Abert berperan sebagai penyerang dan Luisa berperan sebagai malaikat tak berdaya' pikir Audric, sudut bibirnya terangkat sedikit.

__ADS_1


"Luisa, pamanmu benar. Tuan Audric, setidaknya dengarkan tetua ini mengajukan pendapat, meskipun Anda adalah kepala keluarga, tapi kami adalah dewan yang berwenang dalam pengesahan."


Dia adalah salah satu tetua yang ikut dalam pertemuan dengan Luisa dan Isaac. Posisinya berada nomor dua tertua dari yang lain.


"Benar, kami berpikir untuk tetap memilih Nona Rubelia. Setidaknya, citra Anda yang buruk akhir-akhir ini bisa diimbangi oleh Nona Rubelia yang dicintai banyak orang. Jika Anda bersama wanita yang terus saja membuat rumor buruk, keluarga ini akan kehilangan kehormatannya."


Kali ini tetua yang ikut membelot kedua, dia adalah yang termuda dari seluruh tetua.


Audric diam, dia sengaja menciptakan suasana hening itu. Meski kepalanya saat ini sedang mendidih, dia tetap terlihat sangat tenang.


"Bagaimana Anda bisa mengatakan hal tidak sopan tentang pemimpin keluarga? Masalah kehormatan dan citra keluarga, harusnya kita melindungi itu bersama. Apapun yang telah diputuskan dimasa lalu. Itu adalah pilihan yang paling tepat diambil saat itu." ujar seorang pria seumuran Abert. Dia adalah sepupu Abert, anak dari tetua tertua.


"Bukankah itu akan jadi kontroversi jika media tahu? Bisnis kita akan terganggu jika nama keluarga ini rusak dan tidak dipercayai. Kebrutalan pemimpin keluarga Martell yang masih muda?" sahut yang lain.


Pada akhirnya sahut menyahut mereka yang pro dan kontra memenuhi aula. Audric tahu hal ini akan terjadi. Dia masih membiarkan dan mendengarkan mereka dengan saksama. Menilai siapa yang sudah membelot dan siapa yang setia.


"Ini menyangkut kemanusiaan, kita sendiri memiliki yayasan kemanusiaan. Jika hal itu fakta, apa yang Anda lakukan bisa menjadi sumber kejatuhan kita. Meski saya bukanlah bagian dari tetua, tapi saya ingin bersuara. Jika kepemimpinan keluarga ini dipimpin oleh orang yang telah melakukan hal kotor, tujuan pangeran membangun keluarga ini tidak akan pernah terwujud."


Audric terkejut sesaat. Bertanya-tanya bagaimana wanita yang dulu berteman dengan ibunya itu tahu. Tidak mungkin ibunya yang memberitahu, karena Audric yakin hanya kepala keluarga yang diizinkan tahu. Ibunya bahkan tidak tahu hal ini.


Namun wanita bernama Berta itu tidak bergeming. Dia hanya berdiri dan menatap lurus pada Audric.


"Jadi_ Kamu ingin aku mundur dengan alasan nama baik dan tujuan itu? Kalau begitu... Siapa yang mungkin bisa menggantikanku? Berta... Kepemimpinan harus diisi oleh keturunan langsung. Jangan membuatku tertawa dengan rencana kalian." Pelan dan mengancam, nada suara Audric telah berubah total.


Tiba-tiba atmosfir disana menjadi sangat mencekam. Bahkan para tetua yang tadi bersuara tidak berani membuka mulutnya. Audric terlihat sangat marah.


"Sa-Saya tidak merencanakan apapun, saya hanya mengajukan pendapat saya." Berta terlihat pucat, tapi dia tampak gigih dalam usahanya.


"Aku terkejut teman ibuku menyerangku."


"Saya tidak menyerang Anda, saya hanya..."


"Ck!"


Berta langsung berhenti bicara ketika Audric berdecak.


"Jangan terlalu otoriter, Kakak. Kakak harus mendengarkan permintaan anggota keluarga lain. Tapi sebelum itu, bisakah Bibi jelaskan apa maksud Bibi dengan tujuan Pangeran? Apa ini rahasia keluarga yang hanya diketahui orang-orang tertentu?"

__ADS_1


Audric mengeraskan rahangnya. Dia melirik Luisa yang menatapnya dengan sama tajamnya.


"Ti-tidak! Itu rahasia yang tidak sengaja aku dengar. Itu... Itu hanya diketahui oleh kepala keluarga yang dikatakan turun temurun. Bahkan para tetua tidak tahu."


Kacau, semua menjadi kacau jika rahasia ini didengar semua orang yang hadir. Yang lebih buruk, Audric tidak bisa mencegah apa yang akan terjadi.


'Jadi ini kesimpulan dari pertemuan mereka? Menjatuhkanku dengan alasan ini.' ujar Audric dalam hati. 'Sejak kapan? Kenapa aku tidak menyadari pergerakan bibi Berta selama ini? Atau, apakah Luisa tidak sengaja mendapatkannya?'


"Katakan, rahasia apa?" tanya tetua pertama dan disusul suara-suara lainnya.


"Mengembalikan... Mengembalikan kerajaan. Dengan Martell sebagai pendiri sekaligus menjadi raja pertama untuk kebangkitan kerjaan yang telah diubah."


Audric menutup matanya sesaat, ruangan menjadi hening sesaat sebelum riuh oleh suara-suara kehebohan karena keterkejutan.


"Ini tidak mungkin! Apa Anda merencanakan kudeta Tuan Audric?"


Pertanyaan-pertanyaan itu menggema. Ditengah kekacauan yang terjadi, Ivon menyebarkan banyak pengawal ke berbagai jalan keluar. Dia sendiri masuk bersama sepuluh anggota. Berjalan ke depan untuk berdiri di hadapan Audric dan Aera.


Max dan Jake juga telah bergabung, mereka mengawal Aera. Seluruh orang-orang menatap mereka dengan kengerian. Bagaimana tidak, mereka dilengkapi senjata yang jelas-jelas diperlihatkan.


"Tolong tenanglah, aku akan menjelaskannya pada kalian."


Sesaat, mereka semua terdiam. Namun Isaac tak tinggal diam. Dia kembali membuat kericuhan. Tidak membiarkan Audric menjelaskan karena akan merugikannya.


"Kami tidak setuju melakukan kudeta, walaupun pasukan Martell banyak, Anda tahu pasukan negara jauh lebih banyak. Selain itu, kita harusnya menjaga kedamaian, bagaimana Anda bisa merusaknya? Apakah perusahaan senjata Martell yang dua tahun lalu didirikan untuk ini? Apa Anda mendukung perang negara lain saat itu dengan tujuan kerja sama mengambil alih pemerintahan?" teriaknya.


"Saya juga mendapat informasi Anda diminta mendanai perang lagi, apakah ini dengan tujuan yang sama?" tambah tetua yang berpihak pada Isaac.


"Jadi... Ini senjata mereka." gumam Audric, dia menggenggam tangan Aera, lalu dengan pengawalan penuh mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.


"Tuan, Anda harus menjelaskan semua ini. Apa Anda akan membiarkan kekacauan ini?" tanya tetua pertama.


Audric menatapnya, tatapan itu masih sama. Tatapan yang memberinya kepercayaan. Audric tahu sejak dulu hanya tetua pertamalah yang selalu mendukung segala keputusannya. Sementara yang lain bergerak sesuai alur keuntungan sendiri-sendiri.


"Tidak, aku hanya ingin kalian menjernihkan pikiran dan pikirkan baik-baik tentang tujuan leluhur kita. Aku akan menunggu pendapat kalian, karena tujuan itu... Aku berencana mewujudkannya suatu hari nanti."


Wajah tetua itu memucat dengan keringat dingin mulai menghiasi wajahnya. Luisa dan Isaac bertukar pandang. Keduanya ikut keluar setelah Audric meninggalkan aula. Meninggalkan kericuhan yang terjadi di dalam untuk melanjutkan rencana berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2