
Aera meremas tangan dipangkuannya. Seluruh tetua, termasuk mereka yang kemarin menyerang Audric duduk dihadapannya.
Mereka sengaja datang bersama untuk menemuinya ketika Audric sedang memimpin pertemuan besar yang diadakan hari ini.
Pertemuan bersama parlemen, anggota militer yang diwakili para jendral pasukan dan tentunya seluruh perdana mentri negara bagian turut hadir.
Baik mereka yang pro pada Audric maupun yang kontra, menerima undangan yang sama dari Audric. Adolf sebagai kanselir yang berada disisi Audric, turut hadir. Kudeta telah berhasil dilakukan dan seluruh pasukan militer berhasil dikuasai oleh Audric.
Dikediaman Martell, Aera gugup dan kawatir. Ini pertama kalinya dia menghadapi para tetua tampa Audric. Ivon, Pria itu berdiri dengan waspada dibelakang Aera. Seperti biasa saat Audric tak disisinya, hanya Ivon yang dipercaya pria itu untuk menjaganya.
Saat ini mereka sedang ada di dalam ruang pertemuan yang telah diatur oleh Friedrick. Aera duduk di ujung meja panjang dengan para tetua yang duduk dihadapannya berjejer kiri dan kanan.
"Kamu pasti terkejut, Kami tiba-tiba datang tampa pemberitahuan." ujar yang paling tua.
Tentu saja terkejut, Ivon dan Friedrick awalnya ingin menolak mereka. Tapi Aera merasa itu keputusan yang kurang pantas. Jadi dia memilih menemui mereka.
"Tidak apa-apa, Tuan. Tapi... Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Mereka tampak ragu, tapi sepertinya hanya satu yang akan berbicara mewakilkan semuanya.
"Kami telah berdiskusi, seluruh tetua dan kepala keluarga akan menyatukan suara dan mendukung keputusan kepala keluarga. Kami juga menyesalkan apa yang terjadi pada pertemuan pertamamu dengan keluarga Martell. Aku secara pribadi tidak tahu kalau Isaac dan Luisa mengatur rencana seperti itu untuk memecah persatuan kita. Aku minta maaf atas itu secara pribadi dan mewakili mereka yang merasa bersalah."
Ivon yang berdiri disana mentap dua orang yang berkomplot sebelumnya dengan Luisa dan Isaac. Dia menatap keduanya dengan tajam seolah tak percaya pada ekspresi menyesal disana.
"Jika masih bisa, maukah kamu membujuk Audric membatalkan rencana merubah pemerintahan? Dia bisa menjadi presiden tampa merubah sistem parlemen."
Aera terkejut, dia semakin gelisah atas permintaan berat yang diajukan para tetua. Ivon segera mengambil tindakan, menurutnya Aera butuh dukungan.
"Nona, izinkan saya bicara." ujar Ivon.
"Tentu, silahkan."
Bunyi kursi ditarik membuat semua mata tertuju pada Ivon yang kini duduk disamping Aera. Menatap mereka semua dengan tajam.
"Jika Tuan mendengar perkataan Anda, dia akan sangat kecewa. Bukankah Anda tadi berkata mendukung keputusan kepala kelurga?" Ivon menatap langsung tetua yang tadi berbicara. Tetua yang selama ini memang mendukung Audric.
"Aku tahu maksudmu, tapi bagaimanapun aku tetap harus mendengarkan suara seluruh nggota keluarga. Begitu juga seharusnya kepala keluarga. Aku mengerti kemarahan Audric pada perlakuan sebagian besar keluarga yang memantik amarahnya melakukan rencana leluhur. Tapi keputusan ini bisa menghancurkan keluarga. Jika sistem kebangsawanan dikembalikan, sebagian akan berada pada tingkat rendah meski menyandang nama Martell."
Aera melihat kekawatiran dari mata semua tetua. Namun bukan hanya kekawatiran yang ada disana, namun juga keserakahan yang besar, termasuk tetua yang paling tua ini.
"Sayang sekali, aku tidak bisa membantu kalian tentang masalah itu." kata Aera, secara ajaib dia merasa keoercayaan dirinya meningkat.
"Kenapa tidak? Kamu akan menjadi istrinya, itu artinya kamu akan memiliki kewenangan dibawah Audric. Dia sangat menyayangimu, kan? Jadi kami mohon..."
__ADS_1
"Hentikan, biar aku yang bicara." sela tetua yang tadi ketika tetua nomor dua langsung menyela dengan emosi.
"Tidak perlu bicara lagi, aku juga tidak akan menentang Audric. Selain itu, apa yang kalian harapkan jika sudah sampai pada tahap ini? Jika kedudukan rendah yang kalian kawatirkan, bukankah harusnya kalian menunjukkan banyak kebaikan pada Audric? Menemuiku secara terpisah begini hanya akan memancing kemarahannya. Terutama aku belum menjadi siapa-siapa bagi keluarga ini. Jadi, sebaiknya kalian pulang. Aku benar-benar minta maaf." kata Aera.
Suaranya tegas tapi tenang dan penuh kesopanan. Ketika dia berdiri, Ivon ikut berdiri, dia menarik senyum tipis. Mengagumi Aera yang pada akhirnya menguasai keadaan.
Seperti dugaannya, Aera mendapatkan kepercayaan diri jika dia sedikit memprovokasi dengan ketidak sopanannya pada mereka. Menunjukkan keserakahan mereka adalah cara yang paling cepat merubah suasana hati Aera.
"Jawaban yang bagus Nona," kata Ivon setelah mereka diluar. "Friedrick, antar mereka kedepan." lanjutnya pada Friedrick yang sejak tadi menunggu diluar.
"Senang berjalan dengan baik. Silahkan beristirahat. Terima kasih juga untukmu, Ivon." kata Friedrick.
Pria tua itu dengan percaya diri masuk kedalam dan mempersilahkan para tetua untuk bangun dan mengikutinya untuk diantarkan kemobil masing-masing.
.
Ini sudah malam, tapi Audric belum juga pulang. Aera sudah mengirimkan pesan, tapi jangankan dibalas. Tanda pesannya dibaca saja tidak ada.
"Apa yang terjadi, apa ada masalah disana?" tanyanya pada diri sendiri.
Brak!
Pintu kamarnya dibuka secara brutal. Aera yang sedang berdiri di balkon langsung waspada. Dengan gerakan waspada dia berjalan masuk ke dalam kamar, berhenti di ambang pintu ketika dia melihat Yohanes berdiri disana dengan raut cemas. Ivon dibelakangnya tampak frustasi, mengangkat bahunya ketika Aera memberinya pandangan bertanya.
"Memangnya aku tamu yang dilarang masuk sampai kamu harus minta maaf!" sewot Yohanes.
Dia langsung menarik tangan Aera dan memaksanya duduk di pinggir kasur. Lalu dia berdiri dihadapan Aera dengan kedua tangan di pinggang.
"Aku tahu Audric itu gila! Apalagi Luisa! Dia lebih gila lagi! Wanita gila itu ingin membunuhmu. Lalu apa ini, saat aku mendengar kabar gila lainnya dua minggu yang lalu. KUDETA!" teriak Yohanes diakhir kalimatnya. "Pria gila itu mau apa sih! Kalau saja aku bisa kabur lebih cepat, aku pasti sudah mengajaknya duel!"
"Kapan kamu sampai?"
"Tidak usah menanyakan hal tak penting itu! Katakam saja apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Audric melakukan kudeta? Apa kamu tahu ayah dan ibuku hampir pingsan?"
Aera tidak tahu harus menjawab apa, jadi dia hanya menunjukka wajah polos. Membuat Yohanes mengusap wajahnya dengan kasar.
"Nona, Tuan sudah memasuki gerbang utama. Beliau akan segera tiba."
Friedrick muncul disana, membuat semua orang langsung tegang. Kedatangan Audric setelah pembahasan perombakan sistem dan aturan negara sudah ditunggu-tunggu. Terutama karena kedatangan para tetua yang menemui Aera siang tadi.
Aera segera berlari kecil keluar, menuruni tangga dengan cepat sampai-sampai Friedrick memperingatinya untuk hati-hati.
Begitu pintu utama terbuka, Aera berlari lebih kencang. Dia langsung memeluk Audric yang juga menyambutnya dengan hangat.
__ADS_1
"Apa ini, kamu merindukanku atau apa?"
Audric mengangkat tubuh mungil itu dalam gendongan koala.
"Hmm, aku juga sangat kawatir. Kamu tidak membalas pesanku."
"Maafkan aku, suasananya dari pagi sampai malam begitu tidak kondusif. Aku baru bisa sedikit bernafas satu jam yang lalu. Tapi..." Audric menelengkan kepalanya, menatap Yohanes dengan pandangan tidak suka. "Kenapa pengganggu itu muncul lagi disini?" lanjutnya dengan sangat sinis.
"Hahaha! Dia hanya kawatir karena apa yang kamu lakukan." jawab Aera.
Audric menurunkan Aera yang bergerak hendak turun. Lalu menggenggam tangannya dan berjalan melewati Yohanes begitu saja.
"Kita perlu bicara, sialan! Kamu mau mengabaikanku?" kesal Yohanes.
"Ck, kamu juga baru sampai, kan! Istirahatlah karena aku juga butuh istirahat!" balas Audric sambil lalu.
"Sampai jumpa besok pagi, Yohan!" tambah Aera.
"Wah, dia benar-benar telah tertular iblis itu." Yohanes ikut pergi dengan kesal.
Tinggal lah Harald, Friedrick, Ivon dan sejumlah pelayan termasuk Olivia yang kebingungan.
"Kalian bisa istirahat juga." kata Harald.
Dia berjalan menuju kamar yang biasa ia tempati apabila menginap disana. Sentara itu Ivon tak memberinya jeda. Dia langsung mengikutinya.
"Jangan sekarang, aku juga lelah." kata Harald dengan malas.
"Setidaknya beritahu aku secara haris besar!"
Harald berhenti berjalan, mereka ada ditengah-tengah lorong menuju daerah belakang yang memang memiliki banyak kamar. Kamar Ivon dan Friedrick juga dekat dengan Harald.
"Penobatan akan dilakukan dua hari lagi. Lalu Tuan berencana menikah segera setelah pengaturan posisi disahkan. Undang-undang pembaharuan telah disepakati tadi, tapi mungkin ada beberapa perubahan dan penambahan kedepannya. Kamu, akan menjadi kepala pasukan militer khusus. Martell akan resmi menjadi pasukan kerajaan sebagai pasukan khusus dibawah perintah raja secara langsung."
"Lalu kamu?"
"Aku? Apa lagi, tentu saja sekretarisnya."
Mereka berdua tersenyum. Bukan jenis senyum licik atau bahagia. Tapi senyum lega karena rencana Audric berjalan seperti yang diperkirakan.
"Tuan benar-benar jenius. Dia memprediksi semua gerakan mereka dengan baik. Juga memahami apa yang diinginkan para pejabat. Dia menguasai mereka dengan sangat mudah." ujar Harald.
"Karena itulah aku sangat setia padanya. Karena jika tidak, aku tahu aku hanya akan tinggal nama." canda Ivon.
__ADS_1
Mereka terkekeh, berjalan beriringan menuju kamar masing-masing.