BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Aera diracun?


__ADS_3

Aera sangat sibuk karena hari pernikahan yang akan digelar hanya dua hari setelah penobatan.


Kontroversi berkembang dimasyarakat karena hal itu. Tapi sebagian yang lain mendukung pernikahan karena Raja harusnya memiliki Ratu disampingnya.


Meski kenaikan tahta Audric sebagai Raja Martell pertama diiringi banyak kontroversi, namun tidak ada yang bisa mengganggu jalannya perubahan besar ini.


Pendukung Audric berasal dari kalangan atas yang seluruhnya terikat dalam kerajaan bisnis Martell. Mereka tidak bisa sembarangan menentang walau bersatu sekalipun. Hal itu karena dimulainya penaklukan pasukan militer oleh Audric.


Aera sedang memilih sepatu yang diantarkan ke kediaman Martell sambil melihat layar ponselnya. Seluruh dunia membicarakan pernikahan ini.


Dalam berbagai kolom komentar, Aera banyak melihat bahwa semua orang mulai membahas sejarah keluarga Martell. Tapi semua spekulasi mereka membuat Aera geleng-geleng kepala.


"Apa yang membuat wanitaku menunjukkan ekspresi seperti itu?"


Aera segera meletakkan ponselnya dan tersenyum ketika Audric berlutut dihadapannya.


"Kamu tidak boleh berlutut begini, duduklah disampingku."


Alih-alih bangun, Audric malah duduk dibawah dan meletakkan kepalanya dipangkuan Aera. Membuat semua orang yang ada disana langsung keluar dengan salah tingkah.


Melihat Audric yang bersikap manja ditengah julukan menakutkan yang disematkan banyak orang, tentu saja membuat beberapa orang terkejut sekaligus malu. Apalagi banyak pelayan baru disana setelah pelayan lama dipindahkan ke istana.


"Aku merindukanmu, tapi para pejabat sialan itu tidak berhenti menggangguku. Mereka benar-benar banyak maunya."


Aera mengelus rambut Audric.


"Bagaimana dengan keluargamu?"


"Mereka?" Audric terkekeh, suaranya membuat getaran yang membuat Aera tidak nyaman. "Sebentar lagi, mereka akan melihat seperti apa raja tiran yang mereka sematkan untukku."


Audric akhirnya duduk di sofa. Lalu memegang tengkuk Aera, mempertemukan bibir keduanya dengan lembut.


"Terima kasih kami mau memahamiku. Terima kasih tidak lari dan bertahan disisiku."


Gejolak dihati Aera yang selama ini telah ia kubur, kembali bergeliat. Meski Audric tidak melakukan banyak keputusan kejam karena mempertimbangkan dirinya, tapi tetap saja ada sedikit banyak darah yang tertumpah dalam proses ini.


"Aku harap kamu menebusnya dengan menjadi pemimpin yang baik." bisik Aera.


.


Pegelaran pernikahan terselenggara dengan baik. Mereka langsung pindah ke dalam istana negara yang ditempati presiden sebelumnya.


Ini sudah berjalan seminggu sejak mereka pindah. Penobatan Ratu juga akan segera dilakukan. Tapi Aera malah sakit sejak mereka selesai melakukan ritual malam pertama.


"Yang mulia, Anda ingin muntah lagi? Pusing?"


Olivia bertanya seperti itu setiap lima menit sekali. Sampai-sampai Aera malas menjawabnya.


Saat ini mereka sedang menyusuri lorong menuju taman istana menggunakan kursi roda.


"Yang mulia Audric harusnya tidak sibuk ketika Anda sakit. Dia bahkan belum kembali dari perjalanan sejak melakukan malam pertama."


"Jangan bicara begitu, jika orang lain mendengar mereka bisa salah paham." tegur Aera.


Aera demam karena kelelahan, stres dan mengalami infeksi ringan. Namun karena kondisi itu menumpuk jadi satu, fisiknya menjadi lebih lemah.


Dalam istana, dia tidak memiliki siapapun tempat bersandar kecuali Audric. Sejak mereka tinggal disana, Aera terpisah dari Ivon, Friedrick dan juga Yohanes yang telah kembali ke negaranya.


"Yang mulia, Yang mulia Raja telah tiba."


Seorang pengawal datang padanya memberi kabar itu. Aera memutar kursi rodanya dan tersenyum lebar ketika Audric setengah berlari kerahnya.


"Aku dengar kamu menolak dirawat dirumah sakit. Kenapa? Karena aku tidak ada?"

__ADS_1


Meski kawatir, Audric lebih ingin menggoda Aera untuk menghiburnya. Lagi-lagi dia meletakkan lututnya di lantai dan menggenggam kedua tangan Aera.


"Aku merindukanmu. Aku sudah meyelesaikan keadaan mendesak, jadi mulai besok aku punya waktu luang denganmu."


Aera melirik Olivia yang masih berdiri di dekat mereka. Wajah gadis itu tampak merasa bersalah. Aera hanya tersenyum simpul, pilihan memercayai suaminya tidaklah salah, dia percaya Audric tidak mengabaikannya. Pria ini hanya terlalu sibuk.


"Aku senang, kalau denganmu mungkin aku mau kerumah sakit. Tapi... Aku pikir itu juga tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja. Aku hanya perlu makan dan tidur lebih banyak."


"Ah... Kenapa kamu sangat manis."


Audric yang tidak tahan langsung menenggelamkan kepalanya keperut Aera.


"Yang mulia, bangunlah. Apa Anda tidak malu bersikap seperti anak kecil? Selamat siang Yang mulia ratu. Maaf mengganggu Anda karena saya butuh tanda tangan beliau. Lihatlah antrian karyawan perusahaan. Meski urusan negara telah selesai, urusan perusahan masih banyak."


"Kamu semakin kurang ajar, Harald." kesal Audric.


Aera hanya tertawa kecil, dia ikut prihatin dengan Harald dan beberapa karyawan yang sedang menunggu. Harald bahkan lebih parah, pria itu seperti sudah tidak tidur berhari-hari.


.


Hari-hari berlalu seperti semua peperangan tidak pernah terjadi. Seolah kudeta yang dilakukan hanya bagian dari perjalanan negara ini dan perlahan orang-orang menerima Raja baru mereka.


Aera juga belajar mengenai negara meski Audric memperbolehkannya tidak melakukan apapun. Tapi, mana mungkin dia hanya akan duduk saja. Itu tidak mungkin ditengah banyaknya mata mengarah padanya.


Tiga bulan berlalu tidak terasa sama sekali. Aera kembali kuliah, tapi dia melakukannya di dalam istana. Audric tidak memberi kelonggaran untuk hal ini karena pergerakan Luisa yang tenang. Ketenangan itu lebih mengganggu Audric dari pada mengetahui Luisa melakukan suatu rencana.


Aera wanita yang cerdas, dia gampang menerima pelajaran, sehingga tidak sulit baginya menyelesaikan mata kuliah dengan cepat.


Dalam tiga bulan dengan jadwal yang padat, dia sudah menyelesaikan materi yang seharusnya dicapai dalam satu tahun.


"Aku sudah lama tidak berlatih, aku harus mengunjungi tempat latihan militer."


"Tidak, Yang mulia Anda hanya bercanda, kan? Tidak boleh! Anda tidak boleh terlalu lelah. Belajar saja sudah sangat melelahkan. Bagaimana Anda bisa ingin berlatih bela diri lagi. Anda sudah cukup kuat."


Olivia mengomel seperti biasa. Aera sedang berjalan menuju ruang perpustakaan. Tapi dia segera berhenti ketika melihat di lantai satu, Ivon bersama dua jendral lainnya. Dia memakai seragam kebesaran kerajaan. Mereka tampak buru-buru berjalan menuju ruang pertemuan.


"Guru!"


Ivon melebarkan matanya. Dua jendral dibelakangnya ikut terkejut dengan panggilan itu sebelum mengikuti Ivon untuk memberikan salam hormat.


"Kalian buru-buru?"


"Ya, Yang mulia memanggil kami." jawab Ivon.


Ivon menurunkan pandangannya. Membuat batasan yang jelas antara anggota keluarga kerajaan dan rakyat biasa. Padahal dia sudah diangkat menjadi bangsawan dan mendapatkan gelar.


"Sudah lama tidak bertemu denganmu, Ivon. Maaf menghalangi jalan kalian. Aku hanya menyapa karena sudah lama tidak melihatmu." kata Aera.


Ivon bisa mendengar nada sedih dalam suara itu. Bukannya tidak mau menyapa, sejak menikah, Ivon memang menghindar jika akan berpapasan, atau menolak beradu pandang jika terlibat pertemuan negara.


Ivon tahu Aera sudah menganggapnya keluarga, tapi dia belum bisa sesantai itu setelah menyadari kalau dia patah hati. Dia sedikit tertekan akhir-akhir ini oleh kekecewaannya sendiri.


"Anda sangat baik Yang mulia. Saya dengar Tuan Panglima adalah guru dan pengawal Anda sebelumnya. Anda sangat bijaksana menyapa beliau terlebih dahulu."


Aera menatap jendral di belakang Ivon. Dia adalah salah satu senior dan merupakan mantan panglima sebelumnya. Sepertinya dia tidak menyukai Ivon.


"Anda benar, Tuan Ithen. Dia adalah orang yang aku hormati. Aku harap kalian juga melakukan hal yang sama."


Wajah pria itu langsung mengeras. Sudah jelas dia adalah bagian dari orang-orang yang hanya menilai orang lain dari garis keturunan. Karena Aera hanyalah anak haram dari Duke kerajaan Spanyol dan ibu rakyat biasa yang gila uang, dia juga diremehkan.


Tapi dia melakukannya dengan cara menyerang Ivon karena posisi Aera yang lebih tinggi, terlebih Audric mencintainya. Siapapun tahu di negeri ini apa yang akan terjadi jika membuat Ratu terluka.


"Maafkan kelancangan saya Yang mulia. Saya tidak bermaksud menyinggung Anda."

__ADS_1


Aera tersenyum, senyum bisnis yang membuat lawannya gugup.


"Senang bertemu dengan kalian, sampai jumpa lagi."


Setelah Aera pergi, Ivon tidak kunjung bergerak dari tempatnya. Perlahan dia menoleh sedikit kebelakang, wajah dinginnya langsung membuat bawahannya merinding.


"Aku tahu kamu begitu meremehkanku, tapi menunjukkan ketidak sopanan pada Ratu dan membuatnya terlihat rendah, aku tidak bisa mentolerir itu, Tuan Ithen. Anda akan mendapatkan hukuman kedisiplinan untuk ini."


.


Aera mengetuk-ngetukan jarinya ke meja. Dia mengirimkan pesan pada Audric. Memintanya melakukan sesuatu. Tapi Audric belum membalas pesannya.


"Apa rapatnya belum selesai?"


Olivia yang baru datang membawa kopi pesanan Aera langsung menyingkir secepatnya dari hadapan Aera begitu melihat kedatangan Audric.


"Apa aku membuatmu menunggu lama?"


Aera langsung berdiri, dia berbalik dan tersenyum. Seperti permintaannya. Audric datang bersama Ivon.


"Aku cemburu kamu memintanya datang bersamaku, Ratu. Tapi aku setuju untuk tidak memanggilnya sendirian. Orang-orang bisa berspekulasi miring karena sebelumnya Ivon mengawalmu."


"Kenapa kamu cemburu, jangan berlebihan. Ivon adalah guruku dan selamanya akan begitu. Dia juga sudah seperti keluarga kita."


"Duduklah, Ivon." suruh Audric.


Ivon duduk dihadapan mereka. Berusaha bersikap biasa, namun Audric tahu Ivon menyembunyikan perasaannya. Hal itulah yang mengganggunya selama ini. Fakta bahwa dia menyadari bawahan setianya menyimpan perasaan pada istrinya.


Tentu saja Audric marah, tapi dia tidak bisa menyingkirkan Ivon begitu saja. Dia adalah orang yang setia dan sangat berguna untuknya.


"Jadi Guru, apakah kamu mengalami kesulitan dengan orang-orang itu meski kamu atasan mereka?"


"Yang mulia, tolong panggil sa..."


"Tidak mau, aku muridmu jika hanya kita bertiga." potong Aera.


Ivon tersenyum kecil, tapi begitu menyadari tatapan Rajanya, dia segera memperbaiki ekspresi wajahnya.


"Hal yang wajar, karena selama ini mereka berasal dari keluarga perdana mentri negara bagian yang saat ini menjadi bangsawan tinggi. Meski aku telah memberikan gelar padamu, mereka tidak akan semudah itu menerimamu." kata Audric.


"Tolong jangan kawatir, saya bisa mengatasi mereka Yang mulia."


"Tentu saja, kamu adalah kepala pasukan Martell sekaligus panglima tertinggi pasukan kerajaan. Dua pasukan yang sangat berpengaruh di negri ini. Menghadapi tikus seperti mereka tidak akan sulit. Kamu hanya harus menunjukkan sedikit taring. Aku juga mengizinkan kamu menggunakan sedikit kekerasan jika_ Akh!"


Aera mencubit pahanya. Audric yang terkejut langsung menatap istrinya, menunjukkan ekspresi seperti anak anjing yang polos meski dia tahu alasan sang istri mencubitnya.


"Jangan menyuruh hal yang tidak baik. Selagi bisa jangan pakai kekerasan."


"Aku kan hanya bilang saja. Lagi pula kamu pikir dia anak polos? Dia sudah membu_ hmm!"


Kali ini Audric langsung mengunci mulutnya ketika melihat ekspresi kesal istrinya. Lalu dia terkekeh kemudian.


"Ivon, jangan membunuh jika bukan seorang narapidana dengan hukuman mati."


'Kamu sangat baik dan naif Aera, ini malah membuatku kawatir.' kata Ivon dalam hati.


"Saya mengerti."


Obrolan mereka berlanjut, meski terlihat ringan, sesungguhnya itu obrolan yang cukup berat karena membicarakan keluarga Martell yang kini hanya diberi gelar bangsawan biasa. Nama Martell tidak berpengaruh selama mereka tidak memiliki garis keturunan langsung dari kepala keluarga seperti Audric dan Luisa.


Harta kekayaan keluarga juga sudah dibagikan sesuai peran mereka selama ini. Audric melepaskan diri dari aturan lama setelah memberikan hak milik pribadi atas perusahaan pada masing-masing kepala keluarga. Mengontrol mereka dengan cara menguasai sebagian besar saham masing-masing perusahaan. Sehingga mereka tidak akan bisa menyerang meski kepemilikan perusahaan berpindah.


"Aera?"

__ADS_1


Pembicaraan terhenti ketika Aera membuat ekspresi ingin muntah. Olivia segera menghampirinya dan langsung mendampinginya menuju kamar mandi.


Audric yang panik tentu saja mengikutinya. Aera muntah sangat banyak. Baik Audric maupun Ivon, berpikir bahwa Aera mungkin saja diracuni. Ivon langsung melakukan penyelidikan sementara Audric menemani Aera menuju kamarnya untuk diperiksa.


__ADS_2