
Setelah kedatangan yang begitu tiba-tiba, Darwin de franchez, pria yang mengaku sebagai ayah Aera itu, kini berada disebuah ruangan dengan Audric. Mereka duduk berhadapan satu sama lain.
"Bagaimana Anda tahu kalau Aera adalah anak Anda yang telah Anda tinggalkan?"
"Charlotte anakku, tidakkah kamu melihat kesamaan warna mata dan rambut kami."
Darwin menyebutkan nama lahir Aera, seolah menunjukkan membawa Aera pulang adalah haknya sebagai ayah.
"Lalu apa yang akan Anda lakukan kalau dia menolak ikut?"
"Mana mungkin, tidak ada tempatnya kembali saat ini selain aku. Kamu dan seluruh keluarga Martell adalah pisau yang akan membunuhnya kapan saja. Bukankah begitu?"
"Sepertinya ada banyak yang Anda tahu."
Darwin tersenyum kecil. Audric sejak awal jelas menaruh curiga padanya.
"Aku sudah mencarinya, lalu akhirnya bertemu dengan pria yang dulu membawanya saat kecil. Dia memberitahuku bahwa melihatnya bersama anak bungsu Alberto baru-baru ini, lalu aku juga mendengar bahwa kamu juga disini. Apa hubungan Charkotte denganmu? Kamu terlihat seperti seorang suami yang istrinya akan direbut."
"Aera adalah calon istriku. Jangan berpikir untuk membawanya pergi setelah Anda membuangnya."
"Aku tidak membuangnya, pria itu yang membawa pergi anakku dan meninggalkannya ditempat yang tidak aku ketahui setelah dicampakkan oleh ibu Charlotte."
Audric tentu saja tidak langsung percaya. Karena cerita yang ia dengar tentang kejadian saat itu berbeda. Lupin cassian yang meninggalkan Aera di Bali membawa Aera setelah kedua orang tuanya meninggalkannya. Pria yang mencintai Ibu Aera dengan tulus, namun tetap ditinggalkan setelah membuat kontrak dengan orang tuanya.
Tentu saja pria paruh baya dihadapannya ini yang terlebih dahulu tidak peduli kalau ada anak yang lahir dari salah satu wanita yang ia kencani. Saat itu dia juga masih sangat muda dan Ibu Aera lebih tua darinya.
Dengan dalih meminta pengertian padanya karena Aera masih sakit, Darwin akhirnya berhasil disuruh pergi. Namun dia juga mengajukan syarat bahwa Audric juga tidak boleh memaksa Aera ikut dengannya. Harus Aera sendiri yang nantinya akan memutuskan tetap tinggal atau ikut dengannya.
Pada awalnya, mereka memang menyetujuinya. Tapi keesokan harinya, ketika Alberto melakukan pertemuan rutin ke Madrid, dia tidak sengaja mendengar sekretaris perdana menteri sedang membicarakan perihal kerja sama militer untuk melakukan sebuah perebutan wilayah sengketa, pihak rekan meminta jaminan pernikahan putri raja atau setidaknya putri keturunan raja.
Ketika kesempatan itu datang, Darwin mengajukan putrinya sendiri namun dengan syarat sebuah posisi yang ia inginkan. Raja yang tak ingin mengorbankan anaknya sendiri ,tentu saja dengan senang hati menerimanya.
Pembicaraan terkait sengketa wilayah sampai juga pada saat rapat dengan Raja, sehingga Alberto bisa mendengar dengan jelas berita itu. Sayangnya, mereka tidak menduga Darwin akan menyerahkan Aera, putri diluar nikahnya yang sampai saat ini kelahirannya saja tidak diketahui oleh siapapun. Yang mereka tahu anak tertua Darwin adalah Violetta yang berumur tujuh belas tahun.
Audric mengepalkan tangannya setelah menerima kabar itu dari Alberto langsung melalui telepon. Kini dia sedang duduk bersama Nyonya Fernandes, Yohanes dan Aera sendiri.
"Jadi itu alasannya datang kesini, tapi dari mana dia tahu?" tanya Yohanes.
"Dia bilang pria bernama Lupin, pria yang meninggalkan Aera di Indonesia ketika bayi."
__ADS_1
"Lupin? Ah... Pria itu ya. Jadi dia masih hidup"
Aera yang sejak tadi membuang pandangannya kearah lain kini menatapnya. Begitu juga Audric dan Yohanes yang terlihat penasaran bagaimana dia mengenal pria itu.
"Ibu kenal dia?"
"Oh, hanya tahu namanya. Aku secara pribadi tidak pernah bertemu. Dia adalah teman dekat dari wanita yang membuat kontrak dengan Hannah dan Alvaro."
Hannah dan Alvaro martell, orang tua Audric. Audric baru ingat, bahwa Nyonya Fernandes pasti lebih tahu hubungan mereka.
"Anda tahu?"
Untuk pertama kalinya, Aera berbicara lagi setelah sekian lama hanya diam saja. Meskipun sorot matanya masih tidak memiliki gairah hidup, menunjukkan ketertarikan pada pembicaraan mereka membuat Audric senang.
"Sebelum mengajukan kontrak, tentu saja Hannah melakukan pemeriksaan latar belakang. Beberapa wanita diketahui mendaftarkan diri mereka secara resmi pada sebuah klinik seorang dokter yang menjalankan program bayi tabung. Klinik itu juga mengelola penyewaan rahim bagi wanita yang memiliki masalah kesehatan." semua orang mendengarkannya dengan serius. "Hannah mendapatkan dua nama, tapi mereka akhirnya sepakat bahwa wanita itu yang dipilih. Alasan kuatnya karena diketahui baru melahirkan empat bulan sebelumnya. Seorang bayi perempuan yang diketahui memiliki darah kerajaan Spanyol. Ikatan itu, entah kenapa menarik mereka. Saat aku mendengarnya dari Hannah, aku pikir dia ingin mengadopsi Aera saat itu, atau setidaknya membesarkannya untuk dijadikan senjata suatu hari nanti, tapi nyatanya aku salah. Mereka membiarkan wanita itu merawatnya. Memberikan dia uang selama hamil dan membayar seluruh uang jasa setelah melahirkan." Dia berbicara seolah bukan tentang Aera yang dibicarakan disana, membuat perasaan Aera semakin tidak nyaman.
'Aneh sekali, jika bibi tahu identitas ayah Aera, kenapa saat itu dia pura-purq tidak tahu padaku?' tanya Audric dalam hati.
Nonya Fernandes meliriknya, lalu tersenyum tipis pada Audric. Memberitahunya untuk tidak membahas kebohongan kecilnya saat itu karena dia punya alasan. Membuat Audric hanya menghela napas.
"Apa mereka selesai sampai disana? Lalu dari mana Luisa tahu identitas Aera?" tanya Audric, melanjutkan pembahasan tampa menyinggung kebohongan itu.
"Oh, itu mungkin karena Hannah membiayai kehidupan Aera dari dana yayasan sosial mereka. Hannah tidak mengatakan apa-apa lagi soal itu. Jadi aku tidak tahu sampai kapan wanita itu menerima uang santunan."
"Aku pikir aku harus membawa Aera kabur." celetuk Yohanes tiba-tiba.
Tampaknya dia berusaha mengalihkan perhatian karena wajah Aera yang semakin muram. Meski begitu Audric menahan rasa terimakasihnya karena perkataan itu membuat kepalanya tiba-tiba menjadi panas.
"Sepertinya aku benar-benar harus mematahkan tangan dan kakimu."
"Ya ampun, lagi-lagi dia mengancamku. Ibu, lihatkan? Ibu, Dia mencoba membunuh anakmu. Apa Ibu masih berada dipihaknya?"
Ibunya hanya memasang wajah tidak peduli dan meminum teh dihadapannya. Terlalu hapal dengan perilaku sang anak, ibunya hanya mengelus dada dalam diam.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa wajahku terlalu bersinar?"
Aera memang menatapnya, tapi bukan tatapan kekaguman seperti yang ia ucapkan. Aera menatapnya karena kata kabur yang ia ucapkan mengingatkannya pada kebohongan yang Yohanes lakukan padanya.
"Wajahmu memang penuh dengan sinar. Sinar kebohongan dan kepura-puraan. Aku tidak tahu berapa banyak topeng yang dipakai semua orang. Aku jadi belajar lagi darimu setelah sebelumnya seseorang juga melakukan hal yang sama padaku. Entah kenapa aku terus tertipu." sindir Aera.
__ADS_1
Aera bangkit dari duduknya, lalu berjalan kearah kamar yang kini ia tempati bersama orang yang dibencinya.
'Ketika rasa cinta berubah menjadi kebencian, ternyata jauh lebih menyakitkan. Rasa sakitnya tidak sama, itu seperti sebuah tali yang mengikatku, aku ingin lepas, tapi aku tidak bisa melepasnya. Karena ada satu ruang kecil yang memanggil-manggil sebuah harapan. Ruang yang harus aku kunci rapat-rapat meski itu terus saja menganga.' monolog Aera.
Dia menyusuri taman, berdiri menatap bunga-bunga yang cantik. Dia tahu ada langkah lain dibelakangnya. Langkah kaki yang menjaga jarak namun tidak menyembunyikan diri.
'Aku pikir aku bisa sedikit berharap kelahiranku diinginkan, tapi harapan kecil itu sepertinya sia-sia. Aku sudah dibuang bahkan sebelum lahir. Tidak ada yang mengharapkan kelahiranku.' Aera menengadah kelangit yang cerah diatasnya. 'Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus bertahan_ atau melawan? Bisakah? Aku yang sudah menjadi layangan ini? Bahkan, apa aku masih diizinkan untuk hidup?'
Hatinya sakit, dia tidak punya apapun yang ingin ia perjuangkan. Alasan untuk terus bernapas, selain rasa sakit hati dan dendam, tidak ada yang tersisa lagi saat ini.
Audric yang berdiri beberapa meter darinya, hanya diam diposisinya. Pria itu memberikan cukup ruang baginya untuk tenggelam dalam pikiran. Meski Aera tahu, itu hanya untuk sesaat, sebelum dia menghampirinya dan mengajukan pertanyaan.
Angin dipenghujung musim panas tidak begitu terasa saat ini. Aera menurunkan pandangannya. Kini menatap pergelangan tangannya yang terlihat lebih kurus.
'Tidak bisa, aku tidak akan bisa melawan dengan tubuhku yang kian lemah ini. Aku harus mulai olahraga dan makan dengan benar, kan?' sorot matanya berubah, sebuah tekat terlihat disana. 'Mau itu untuk nenek atau untuk diriku sendiri, aku juga harus memakai topeng seperti mereka, lalu mencari jalan untuk sebuah kehancuran.'
Sorot penuh dendam yang tadi terlihat kini hilang. Aera menekannya dan menampilkan wajah datar yang biasa. Lalu ia berbalik, menatap Audric yang sejak tadi hanya melihat kearahnya.
'Pria yang terobsesi padaku. Entah itu cinta atau hanya sebuah harga diri. Hatiku selalu sakit ketika melihatnya sekarang.'
Aera berusaha menahan ekspresinya. Tangannya mulai bergetar karena menahan gejolak yang bercampur dalam hatinya. Kebencian dan cinta, memang tidak akan pernah bisa disatukan.
"Apa yang akan kamu lakukan jika aku meraih uluran tangan orang yang mengaku ayahku itu?" tanyanya.
Audric tidak langsung menjawab. Dia sedang menganalisa apa yang sedang dipikirkan Aera saat ini. Meskipun Aera menyembunyikan pikirannya, insting Audric bisa merasakan bahwa Aera mulai memikirkan rencana baru alih-alih berusaha kabur.
"Aku tidak akan membiarkanmu dijadikan alat. Kamu tidak perlu bertanya apapun, kamu pasti tahu aku akan mencegahmu."
"Karena obsesimu padaku?"
"Ini bukan obsesi, Aera."
Entah sejak kapan jarak mereka semakin dekat. Sampai Audric bisa meraih pinggangnya dan membelai pipinya.
Aera mendongak, sorot mata penuh kebencian dan dendam yang terang-terangan ia tunjukkan.
"Iblis tidak memiliki perasaan, Audric. Iblis hanya memiliki keserakahan. Mereka tidak peduli sebuah kehidupan rusak asal dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Kamu tidak perlu menyembunyikan hal itu. Bukankah aku sudah beberapa kali melihatnya?"
Audric sangat paham apa yang Aera tuduhkan padanya. Meski sebagian benar, tapi cintanya untuk gadis yang kini ia bawa dalam pelukannya adalah nyata. Audric sangat percaya diri akan perasaan itu.
__ADS_1
"Bencilah aku semaumu, karena aku tidak akan pernah menyerah padamu." jawab Audric.
Aera mengeraskan rahangnya. Perasaan yang campur aduk kini ia rasakan. Pelukan yang selalu terasa hangat itu kini juga menusuknya sangat dalam. Kebencian sungguh membuatnya menutup rasionalitas yang semula ia pegang teguh. Sampai ia menutup matanya untuk melihat kemungkinan lain pada pelaku yang membunuh neneknya.