
Adolf adalah Mentri keuangan federal. Aera baru mengetahuinya ketika dia membaca papan nama yang berada dimeja kerjanya. Selama mengenalnya, Aera hanya tahu bahwa Adolf bekerja dipemerintahan. Dia tidak pernah benar-benar bertanya apa jabatannya.
"Jadi... Ini alasan mengapa Luisa harus menikah dengannya? Mentri sudah sangat bagus, kenapa masih ingin jadi kanselir? Aku benar-benar tidak mengerti politik disini." gumam Aera.
Cukup lama Aera menunggu sampai dia tertidur di sofa. Ketika terbangun, tahu-tahu dia sudah berada di dalam mobil yang sedang berjalan.
'Kebiasaan tidurmu cukup buruk, Aera. Kamu bisa diculik kapan saja kalau kebiasaan tidurmu seperti ini."
"Kita mau kemana?"
Aera memperbaiki duduknya. Merapikan rambutnya dan melihat keluar jendela yang sudah gelap. Dia mencari tasnya, namun tidak melihatnya dimanapun.
"Dimana tasku? Lalu jam berapa ini?"
"Tasmu ada di depan, ini sudah jam lima malam, kita akan menemui ibuku yang telah menunggu di sebuah restoran. Kakakmu juga ada disana."
"Apa? Tunggu! Dengan penampilanku yang kacau begini?" kagetnya.
"Ya ampun, baby girl... Kamu baik-baik saja dengan penampilan itu. Kamu cantik walaupun dengan tampa make up. Kamu hanya perlu merapikan rambutmu sedikit."
'Tidak masalah kalau aku jadi diriku sendiri, tapi kan aku jadi Luisa!'
" Kamu sudah banyak tahu tentang masakan Jerman bukan?"
"Huh? Oh, sudah. Gustav selalu menjelaskan semua makanan dengan baik bahkan jika kami makan diluar."
"Gustav melakukan pekerjaannya. Dia pelayan Lui yang paling setia, untuk beberapa hal kamu tidak boleh mempercayinya begitu saja."
"Aku tahu, bahkan aku tidak mempercayaimu." celetuk Aera.
Dia melupakan rasa kawatirnya dan mulai merapikan diri.
"Ah... Itu menyakiti hatiku. Aku ini calon suamimu, lho."
Aera tertawa, tapi begitu mengingat Audric yang ada disana juga, membuat dia kembali gelisah.
Melihat perubahan Aera yang tiba-tiba terlihat kawatir lagi, Adolf menebak dengan benar hal lain apa yang ia kawatirkan.
"Kamu kawatir tentang Ric?" Aera mengangguk, lalu menghadap padanya.
"Apakah malam ini aku tidak bisa tidak pulang kerumah Luisa?" Aera memohon.
"Itu akan sulit ketika dia sudah mengambil langkah duluan. Tapi aku akan mencobanya."
Aera langsung antusias. Dia mengangguk dengan cepat dan menyatukan kedua tangannya di dada.
"Terima kasih!" serunya.
Adolf menggenggam tangan Aera dan mengelusnya dengan pelan. Tersenyum simpul pada Aera sebelum tangan itu ditarik kembali. Aera tampak tak nyaman dan hanya tersenyum canggung sebelum meluruskan kembali posisinya.
Adolf tidak bereaksi berlebihan. Tampaknya dia mengerti bahwa Aera tidak nyaman bersentuhan fisik secara intens dengannya. Dia harus memulainya perlahan, bagaimanapun mereka akan menikah. Adolf akan punya banyak kesempatan untuk itu.
__ADS_1
.
Suasana meja makan terlihat hangat. Meski di dalam hati tiga orang diantaranya tidak begitu, tapi ibu Adolf terlihat sangat puas melihat kedekatan Luisa bersama sang anak. Begitu juga kehadiran Audric yang sibuk, menambah kebahagiaan diwajah itu. Mereka berbasa basi sambil menikmati makan malam sejak tadi.
"Kalian terlihat sangat serasi. Aku berharap kedepannya rumah tangga kalian akan berjalan baik dan memberikanku cucu yang banyak."
Uhuk! Uhuk!
Aera langsung tersedak potongan daging yang baru ditelannya. Adolf yang berada paling dekat dengannya langsung menyuapi Aera air putih dan mengelus punggungnya.
"Sudah baikan?" tanya Adolf.
"Terima kasih, maaf karena aku merusak suasana."
Wajah Aera yang merah sangat kontras dengan kulit putihnya. Matanya juga berair dan tenggorokannya terasa sedikit pedih.
"Kamu pasti terkejut dengan perkataanku. Akulah yang harus minta maaf. Ah! Aku dengar jalan-jalanmu membuatmu sedikit berubah. Apa itu benar?"
"Kenapa ibu percaya rumor... Meskipun Lui sedikit lebih ramah, dia masih Lui yang sama, Ibu." sahut Adolf.
Aera mana tahu rumor apa yang menimpa nama Luisa. Dia tidak tahu apapun dunia luar karena selalu terkurung dengan jadwal belajar dan kuliah.
"Saya minta maaf, Bibi. Tapi saya memiliki urusan lain bersama adik saya. Saya harap Anda memaklumi hal ini."
Audric melepaskan kain kecil dilehernya dan berdiri. Menatap Aera sekilas sebelum berbalik.
"Tunggu Ric, tidak bisakah urusanmu ditunda? Aku berencana ingin membawa Lui kesuatu tempat."
"Tidak, ini juga penting Ibu. Aku sudah berjanji pada Lui."
Audric menoleh, menatap Adolf yang masih duduk. Aera sendiri tidak berkutik. Jantungnya terasa akan melompat keluar.
"Adolf, aku pikir aku memiliki hak penuh atas adikku. Terlebih, aku kepala keluarga Martell yang harus ia patuhi. Sesuatu yang mendesak ini, aku pikir lebih penting dari pada romansa yang kalian bangun."
Dingin sekali, Aera bahkan sampai tidak sanggup menggerakkan jarinya. Matanya memeriksa ekspresi ibu Adolf dan Adolf sendiri. Mereka juga terlihat tidak punya daya apapun untuk membantah hal tersebut.
'Apa hubungan hangat hanya sebatas dimulut dikeluarga ini?' tanya Aera dalam hati.
Aera bangkit berdiri. Memasang wajah datar Luisa meski merasa pasrah dan kalah. Dia tidak ingin kerusak hubungan keluarga yang sudah terlihat tipis ini.
"Aku akan pulang bersama kakakku. Adolf, aku minta maaf. Bibi, selamat malam."
Aera mendahului Audric untuk keluar. Tidak butuh langkah besar untuk mengimbangi langkah Aera. Kaki panjangnya bisa dengan mudah menyusul langkah cepat itu.
Setibanya mereka diluar, Audric dan Aera langsung dikawal menuju mobil yang masih diambil dari parkiran.
"Wah, dunia ini memang sangat kecil ya, Sir. Martell."
Audric menoleh, mendapati segerombol manusia yang beberapa jam lalu membuat Audric cukup terganggu. Dia adalah Zagman dengan orang-orangnya.
Disebelahnya, ada seorang gadis seumuran Aera yang memiliki bekas pukulan dirahang dan dipelipisnya. Bekasnya tampak tak diobati sehingga bengkaknya terlihat jelas. Aera menatap gadis itu dengan prihatin, melihatnya diam dengan pandangan tertunduk, jelas dia berada dalam tekanan.
__ADS_1
"Dia ayahmu?" tanya Aera spontan.
Gadis itu mengangkat pandangannya, bola matanya bergulir pada Aera dan Audric sebelum membuang pandangannya tampa menjawab.
"Anda masih mengingatnya, Nona Martell. Saya merasa bersyukur. Anak saya tidak biasanya berkelahi, mohon maafkan kelakuannya."
Audric maju selangkah, tepat dihadapan Aera dan memblokir pandangan Zagman dan orang-orangnya dengan tubuh tingginya. Menatap Zagman yang lebih pendek darinya dengan dingin.
"Ini belum waktumu, Zinovic. Jangan terlalu berani dan bersikap kurang ajar. Seharusnya kamu ingat bahwa aku bukanlah pria yang bermurah hati." Audric tersenyum tipis ketika orang-orang mulai memperhatikan. "Memprofokasiku ditempat seperti ini, kamu hanya memperjelas asal usulmu. Jika kamu berniat naik kelas, mulailah merubah isi kepalamu."
Zacman zinovic adalah mantan pemimpin gengster dari Rusia yang pindah ke Jerman untuk memulai bisnis kasino. Sejak saat itu dia meninggalkan identitas lamanya dan bersikap seperti para pengusaha kasino kelas atas diwilayah ini. Meski begitu, usahanya kerasnya tidak bisa diremehkan begitu saja. Dia berkembang cukup pesat dan mampu bersaing dengan pengusaha lain. Tentu saja, itu tidak bisa dibandingkan dengan keluarga Martell. Karena itu Audric melihatnya seperti serangga pengganggu setiap kali Zagman berani menyapanya.
Audric meraih pinggang Aira dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka untuk mereka. Meninggalkan Zagman dengan wajah menahan amarah.
Sementara itu, Adolf menatap kepergian Audric dan Aera dengan penuh selidik. Melihat interaksi mereka, juga gadis yang penuh luka yang disapa Aera, dia langsung memiliki dugaan dalam kepalanya.
"Ayo, Adolf."
Ibunya yang baru saja keluar setelah kembali dari kamar mandi, mengalihkan perhatiannya. Dia langsung meraih tangan sang ibu dan mengalungkannya dilengannya. Mereka pulang bersama kali ini.
.
Sepanjang perjalanan pulang, Aera diam saja. Begitu juga Audric. Tidak ada yang bicara diantara mereka sampai Aera menyadari bahwa mereka memasuki kawasan yang tidak pernah dilaluinya.
Aera memperhatikan jalanan asing yang mereka lewati. Sampai mereka melewati jembatan pendek dari sebuah parit besar. Mereka memasuki kawasan yang ditata dengan sangat indah. Mata Aera membesar ketika dia melihat bangunan didepannya.
'Ini bangunan apa? Rumah? Tidak! Ini mirip kastil. Apa mungkin ini bangunan bersejarah di Berlin? Tapi aku belum pernah lihat fotonya di buku sejarah yang aku baca.' monolognya dalam hati.
Begitu mobil berhenti, Aera segera turun ketika seorang pengawal membuka pintu mobil untuknya.
"Ini bangunan apa? Kenapa kita kesini?"
Aera berani bertanya setelah para pengawal itu memberi jarak. Suara rendahnya nyaris seperti orang bergumam.
"Ini rumah utama. Tempat dimana aku dan Luisa dibesarkan. Tempat yang dibangun oleh keluarga Martell berabad yang lalu setelah gelar kebangsawanan dicabut usai perang dunia dan kastil bangsawan kami dihadiahkan pada negara sebagai monumen bersejarah."
Para pengawal telah sepenuhnya berhenti berjalan ketika mereka berada di depan pintu masuk.
"Mulai sekarang, kamu akan tinggal disini."
Pintu terbuka, Seorang pelayan tua, pria dengan alis tebal dan mata coklat terang. Rambutnya mulai memutih disana sini, sangat kontras dengan rambutnya yang berwarna coklat terang, menyambut mereka selayaknya pelayan menyambut tuannya yang baru pulang.
"Selamat datang Tuan dan Nona. Air hangat telah disiapkan untuk Anda berendam. Apakah Tuan dan Nona ingin makan malam disiapkan segera?"
"Tidak perlu, Friedrick. Antar Aera kekamarnya. Pastikan pelayan tidak mengetahui apapun. Siapkan seorang pelayan terpercaya untuk melayaninya. Jangan biarkan pelayan lain masuk ke kamar Aera kecuali yang telah kamu pilih. Dan pastikan dia bisa menutup mulutnya rapat-rapat."
"Saya mengerti, Tuan."
Audric meninggalkan Aera yang masih kebingungan.
'Apa-apaan ini? Kenapa dia tiba-tiba membawaku kesini?' panik Aera dalam hati.
__ADS_1