
Memasuki musim panas, menjadi puncak kesibukan bagi orang-orang yang terlibat dalam lingkaran politik tahun ini. Audric bertemu banyak tokoh politik baik dari kubu lawan maupun bagian dari koalisi. Terkadang makan malam mewah tidak bisa ia hindari, disana Adolf juga akan hadir. Mereka harus terlihat akrab terlepas masalah pribadi masing-masing.
Dalam dua minggu sejak Audric menemukan keberadaan Aera, Setiap malam usai bekerja dia akan menghampiri rumah yang kini ditinggali Aera untuk mendapatkan maafnya. Audric melakukan apapun untuk membuat Aera mau bicara lagi dengannya. Seluruh egoisme dan harga diri yang ia junjung tinggi runtuh ketika Aera mengabaikannya terus menerus.
Adolf juga sama sibuknya. Selain karena pekerjaannya sebagai mentri, dia juga harus menemui berbagai tokoh politik terutama perdana mentri negara bagian. Dia harus menciptakan kesan bagus untuk meraih simpati demi suara.
"Malam ini Anda harus membujuk istri Anda, Tuan Ackerman. Kalau saya berharap bertemu kepala keluarga Martell, Istri saya sangat ingin bertemu adik keluarga Martell yang terkenal cantik. Dia sedang hamil muda jadi saya harap Anda membantu saya kali ini."
Adolf tersenyum lebar, pria dihadapannya ini adalah perdana mentri dari wilayah Bayern yaitu Paul Eisner. Istrinya Paula Eisner sedang mengandung anak ketiga mereka. Permintaan itu tentu saja bukan karena keinginan istrinya semata, siapapun bisa melihat ada bau politik dan kepentingan bisnis di dalamnya.
"Benarkah? Tentu saya akan mengupayakannya. Dia pasti akan senang bertemu Nyonya Eisner yang baik hati." jawab Adolf.
Dibelakangnya, Harry sedang kawatir bagaimana caranya membujuk Aera. Bagaimanapun juga, tidak mungkin membawa Luisa yang asli. Mereka bahkan mencurigai Luisa dikurung disuatu tempat oleh Audric setelah Gustav yang juga menghilang. Adolf harus menemukan cara membujuk Aera agar mau pergi bersamanya.
.
Aera sedang mengurus bunga yang ia tanam di halaman rumah Harry dua minggu yang lalu, dia tampak serius ketika Audric datang dan bergabung bersamanya. Audric memakai sarung tangan dan ikut merapikan tanah dalam pot dan membersihkan daun yang gugur.
"Kamu tidak melanjutkan kuliahmu? Para dosen itu selalu menghubungi Friedrick. Mereka sangat menyukaimu karena kamu pintar."
Seperti biasa, Audric akan diabaikan. Dua minggu ini hanya Audric yang akan terus bicara. Menceritakan segala yang ia alami hari itu seperti sedang melapor pada istrinya. Terkadang Audric juga melaporkan perkembangan kesehatan nenek Aera. Meski begitu, Aera hanya akan mengabaikannya.
"Kamu disini lagi?"
Adolf juga datang berkunjung. Dua pria ini selalu rutin mengunjungi Aera. Tapi karena Adolf terkadang keluar kota, dia tidak bisa setiap hari melakukannya seperti Audric.
"Ini waktu yang tepat, ada hal yang juga ingin aku sampaikan padamu."
Ini pertama kalinya mereka bertemu secara bersamaan. Biasanya Adolf akan kesana setelah Audric pulang. Bukan disengaja, tapi memang sepertinya takdir tak membiarkan mereka datang bersamaan.
Berbeda dengan Audric, Aera masih bicara dengan baik pada Adolf. Mereka seperti teman baik yang akrab. Setidaknya, seperti itulah yang dilihat Aera dari sudut pandangnya secara dangkal, lebih dalam, dia tidak tahu bagaimana Adolf menilai hubungan mereka. Karena Aera tidak ingin mempercayai siapapun lagi disana.
Jadi, mereka duduk diruang tamu Harry. Pemilik rumah yang terpaksa mengungsi karena takut Aera tidak nyaman tinggal bersamanya.
"Jadi, PM Bayern ingin bertemu dengan kalian sebagai syarat dukungan suara mereka. Dia akan berkoalisi dengan partai jika kalian bersedia makan malam dengan mereka."
Keheningan menyambut setelahnya. Adolf tahu ini akan sulit. Dia juga tampak tidak menginginkannya. Dia membenci Audric secara pribadi. Tapi Aera adalah orang yang tentu saja paling dirugikan disini. Dia terlihat sangat memperdulikan Aera dan perasaanya, terlebih setelah fakta yang mereka ketahui bersama.
Harry ikut bergabung setelah menyajikan jus dingin. Dia duduk di samping Adolf yang sedang memandang Aera. Istrinya itu, sejak tadi hanya diam dan menatap kosong ke arah meja.
"Aku tahu ini tidak nyaman, Aera aku minta maaf. Tapi... Bisakah aku minta bantuanmu kali ini?"
Aera tidak bergeming, dia masih diam seperti tadi.
"Aku akan pulang kalau itu bisa membuatmu lebih nyaman," sela Audric, lalu beralih pada Adolf. "Aku akan mengatur jadwal terpisah jika mereka hanya ingin kesan dekat dengan keluarga Martell di hadapan publik. Bagaimanapun, kita butuh mereka. Jangan sampai pihak lawan mengambilnya."
"Kata siapa aku akan setuju dengan idemu?"
Aera akhirnya membuka mulutnya. Menatap tajam Audric yang duduk di sisi lain sebelah kanannya. Tangannya terkepal dengan kuat. Terlepas sebab Aera akhirnya mau menatapnya, dada Audric berdesir senang. Akhirnya dia bisa beradu pandang lagi dengan Aera seperti saat ini.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tidak akan mau berpura-pura lagi! Aku bukan adikmu!"
Lalu Aera mengalihkan pandangannya pada Adolf. Mengabaikan mata sendu yang masih menatapnya.
"Jangan melibatkanku dengan politikmu. Bukankah kalian punya Luisa yang asli? Kenapa kalian tidak memikirkan kesulitanku dan hanya memikirkan kesulitan kalian sendiri?"
Aera bangkit berdiri, "Pernikahan diatas kertas itu atas nama Luisa. Aku bahkan tidak tahu apakah itu sah atau tidak karena akulah yang berdiri disana dan nama Luisa yang ada di buku nikah. Selama ini aku menjadi bodoh karena seseorang. Tapi sekarang tidak lagi, aku bukan boneka kalian!" lalu Aera beranjak dari sana, masuk ke dalan kamar yang ia tempati.
'Bodoh karena seseorang?'
Baik Audric maupun Adolf mengulang kalimat itu di dalam kepala mereka. Kedunya tentu tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Dan ada tidak senang yang dirasakan Adolf. Seolah kalimat itu seperti sebuah pengikraran sebuah perasaan yang dalam, sehingga membuat mata seseorang buta karenanya.
Aera duduk di atas kasur dengan napas yang tidak teratur. Kemarahan yang bergejolak membuat dadanya sesak. Selama dua minggu ia berpikir apakah melanjutkan kontrak demi neneknya, atau membuat kesepakatan baru dengan Adolf sampai neneknya sembuh, membuat perasaanya terus bimbang.
Terutama karena perasaannya pada Audric yang tidak mau pergi. Tapi ketika dua orang itu hanya membicarakan politik dan bisnis di dalam kepala mereka, dia seperti tersadar lagi bahwa keberadaannya disana hanya seperti boneka. Seperti itulah asumsinya saat ini.
Pintu diketuk dua kali, Aera membuka pintu setelah mendengar suara Adolf yang bicara. Aera melirik kearah belakang Adolf, memastikan apakah Audric masih disana atau tidak, tapi dia tidak melihat siapapun. Audric telah pergi.
"Bisakah kita bicara?"
Aera keluar, duduk kembali diruang tamu. Adolf mengikutinya dan duduk di hadapannya.
"Aku pernah mengatakan padamu untuk melawannya, itu bagus. Kamu melakukannya dengan baik sejauh ini. Tapi Aera, tolong jangan salah paham padaku."
"Aku hanya tidak ingin terlibat lagi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Luisa. Aku tidak akan mau menjadi dia lagi."
"Dikurung?"
"Itu yang bajingan itu katakan. Aku sudah bilang padamu hubungan mereka buruk."
Aera bingung, bukankah mereka bekerja sama. Jika mereka merencanakan hal itu berdua, akan mudah bagi Audric atau Adolf bekerja sama dengan Luisa.
"Kamu tahu kenapa Audric tidak menekanmu lebih jauh atau memaksamu menggunakan nenekmu? Bahkan jika aku menjadi dia, aku tidak akan melepaskanmu. Orang yang akan menjadi berbahaya bagi keluarga Martell saat ini."
"Apa maksudmu?"
Entah kenapa Aera merasakan perasaan aneh sekarang. Adolf tampak sedikit mengintimidasinya.
"Aera, aku pikir bajingan itu menyukaimu. Karena itu dia tidak menyakitimu. Dia pria jahat, licik dan akan melakukan apapun demi tujuannya. Kamu pikir kenapa dia malah melakukan hal bodoh dengan terus datang padamu dua minggu ini? Jadi manfaatkan hal itu, toh kamu juga membencinya, bukan?"
Aera tidak tahu kenapa Adolf malah menjelaskan hal itu padanya. Seolah sangat yakin bahwa Aera membenci Audric sepenuhnya. Apa yang ia rasakan saat ini adalah kekecewaan yang mendalam. Bukan hanya pada Audric yang berbohong, tapi pada dirinya sendiri yang jatuh cinta dengan bodoh.
"Aku berjanji akan mengurus perceraian, mengatasi masalah Luisa dan pernikahan ini setelah pemilihan. Jadi sampai saat itu, aku mohon bekerja samalah denganku. Kamu juga harus membiayai pengobatan nenekmu bukan? Kamu juga akan lepas sepenuhnya dari gangguan keluarga Martell."
'Bukan pilihan yang buruk. Bukankah ini jadi seperti simbiosis mutualisme? Ini berbeda dari yang Audric lakukan. Dia tidak menipuku. Aku juga bisa memanfaatkan situasi ini untuk kembali ke Indonesia,' pikir Aera.
"Kapan pemilihan selesai?"
"Akhir musim panas."
__ADS_1
'Musim panas baru dimulai, itu artinya ada sekitar tiga bulan.'
"Tapi, bisakah kamu berjanji satu hal padaku?"
"Katakan."
"Bayarkan pengobatan nenekku, Audric mungkin saja sudah membuang kontraknya, dia mungkin akan melepsakan perjanjian kami. Kamu harus membiayainya sampai dia sembuh, berapa lamapun itu... Kamu harus berjanji."
"Aku berjanji. Bahkan aku akan membantu pendidikan dan pekerjaanmu."
"Kamu tidak perlu sejauh itu, aku hanya ingin jaminan untuk nenekku. Aku juga ingin perjanjian itu resmi diatas kertas." tambah Aera.
.
Setelah dua minggu terkurung, Audric akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk membawa Luisa kembali kerumah utama dengan pengawalan ketat, dia juga tidak diizinkan pergi kemanapun.
Audric duduk dengan kaki bersilang dan memandang Luisa yang berdiri di hadapannya dengan dingin.
"Aku menemukan banyak hal setelah kamu menghancurkan hubunganku dengan Aera. Bahwa kamu sengaja mencarinya, bukan tidak sengaja menemukannya. DNA kalian menunjukkan kalian sedarah. Tapi tidak denganku. Apa yang kamu sembunyikan dariku?"
Luisa menyeringai, dia juga sudah menduga bahwa pada akhirnya Audric akan menyelidiki segalanya. Meski sedikit lebih lambat dari perkiraannya, hal itu tentu saja karena Audric tidak pernah tertarik akan apa yang ia lakukan selama ini. Dia hanya sibuk bekerja dan bekerja sebelum Aera masuk kedalam hidupnya.
"Akhirnya kamu menanyakannya."
"Katakan dengan jelas, aku tahu ayah tidak pernah berselingkuh."
"Kamu yakin? Bagaimana kalau dia saudara tirimu?"
"Dia bukan saudaraku."
"Lalu bagaimana kamu menjelaskannya?" Luisa memberikan pandangan mengejek. Sebelum dia pergi begitu saja dari ruangan kerja kakaknya.
Friedrick masuk kemudian dan berdiri di depannya, menggantikan tempat Luisa tadi. Dia juga membawa Gustav bersamanya.
"Kamu akan menjelaskannya padaku, bukan?" tanya Audric.
"Saya tidak tahu apapun, tapi yang pasti... Nyonya Aera..."
"Panggil dia Nona seperti biasa!"
"Nona Aera adalah saudara Nona Luisa."
Audric tidak ingin percaya, tapi dia juga tidak bisa menjelaskan bagaimana hasil tes DNA itu.
"Tapi dia tidak memiliki hubungan darah denganku. Friedrick, selama kamu melayani ibuku. Apakah ada yang mencurigakan dari hubungan orang tuaku? Apa ayahku melakukan hal kotor seperti itu?"
"Setahu saya tidak ada, Tuan. Saya hanya sebentar melayani mereka setelah ayah saya meninggal. Tapi... Dia pernah mengatakan saat kelahiran anda, bahwa bencana terjadi di pada keluarga utama. Saat itu saya tidak mengerti. Saya hanya sering mendengar ayah saya sering mnemani ibu Anda rutin kerumah sakit selama beberapa tahun sebelum kehamilannya yang kedua."
"Cari tahu riwayat kesehatan ibuku." perintahnya.
__ADS_1