BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kedatangan Calon Mertua


__ADS_3

Musim dingin terasa seperti hembusan angin. Berlalu begitu saja digantikan musim semi yang menyenangkan hati. Bunga-bunga ditaman kediaman Luisa mekar dan menimbulkan suasana baik bagi siapapun yang melihatnya.


Sejak kencan dadakan yang berujung pada perdebatan kecil direstoran, Audric menjadi lebih protektif. Dia melarang Adolf menemui Aera dengan alasan keselamatan. Selain itu, baik Adolf maupun Audric, menjadi sibuk dengan pekerjaan mereka. Aera juga disibukkan dengan kuliahnya. Sampai pada pagi ini, seorang wanita paruh baya yang masih cantik mendatangi kediaman Luisa.


Ibu Adolf yang bernama Wilda itu, datang bersama asisten pribadinya. Aera yang baru saja hendak keluar untuk menemui salah satu profesor yang mengajar mata kuliahnya, terpaksa membatalkan pertemuan.


"Saya tidak tahu Anda akan datang pagi ini. Saya tidak menyiapkan apapun."


Aera berusaha sebaik mungkin untuk bersikap selayaknya Luisa yang tenang dan selalu datar.


"Tidak masalah, aku datang karena pembicaraan pernikahan telah diputuskan."


"Pernikahan? Saya tidak tahu ada pembicaraan seperti itu."


"Tentu, segalanya diurus oleh kakakmu. Lagi pula ini juga kesepakatan dua keluarga. Kamu juga sudah tahu ini akan terjadi. Kita akan mengadakan resepsi dan pemberkatan tiga minggu lagi, karena itulah aku datang kesini. Aku ingin mengajakmu melihat-lihat gaun pernikahan. Adolf terlalu sibuk, anak itu malah keluar negeri pagi ini."


Bagai disambar petir, kabar ini begitu mengejutkannya. Aera jelas tidak ingin menikah.


"Lui? Apa kamu keberatan? Aku pikir kamu dan Adolf sudah semakin dekat, apa aku salah?"


"Tidak, Anda tidak salah. Saya hanya terkejut karena Ric belum memberitahu saya."


"Ya ampun, kakakmu pasti sangat sibuk. Lalu, panggil aku ibu mulai sekarang."


Aera lagi-lagi terkejut ketika disuruh memanggil ibu. Wanita ini langsung berdiri dan berjalan keluar sembari tersenyum lebar.


"Dia mirip sekali dengan anaknya, suka datang tiba-tiba dan seenaknya." gumam Aera.


"Apa sebaiknya saya ikut dengan Anda, Nona?" tanya Gustav.


"Kamu pasti tahu kan? Audric pasti memberitahumu."


Aera menatap Gustav dengan amarah. Namun pria tua itu hanya menunduk lalu minta maaf. Membuat Aera merasa ditipu saat ini. Dengan kesal dia melangkah keluar menyusul Wilda yang telah menunggunya.


"Kamu suka warna apa?"


"Tidak ada yang spesifik, tidak masalah warna apapun." jawab Aera.


Pikirannya tidak ada disana. Kemarahannya terasa akan meluap sebentar lagi namun dengan sekuat tenaga dia menahannya. Bagaimana bisa jadi seperti ini?


Aera tidak ingin menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Dia sudah mengirim pesan dua kali pada Audric tapi pria itu bahkan belum membacanya.


Aera dan Wilda masuk ke dalam sebuah bangunan dengan model eropa zaman dulu. Terlihat sangat tua namun terjaga dengan sangat baik.


Mereka disambut oleh pemiliknya langsung. Aera menduga dua wanita ini berteman dengan sangat baik melihat keakraban keduanya.


"Ya Tuhan... Calon menantumu yang terbaik. Lihatlah betapa cantiknya dia. Tubuhnya juga sangat bagus." celoteh perancang busana yang memperhatikan Aera.


Aera sedang melakukan pengukuran untuk gaun yang akan mereka pesan.


"Tentu saja, keluarga Martell adalah yang terbaik!" seru Wilda.

__ADS_1


"Ck! Kamu selalu menyombongkan hal itu. Kamu Ackerman sekarang Nyonya...!" balas temannya.


Aera tidak tahu, seingatnya nama ibu Adolf ini memang Martell sebelum berubah menjadi Ackerman.


Setelah selesai berbincang ringan, mereka pergi menuju toko perhiasan. Disini, Aera benar-benar kelabakan. Dia sama sekali tidak memahami tentang perhiasan. Sehingga dia harus berpura-pura memuji Wilda dan mempercayai pilihannya.


Wilda tampak senang, mereka keluar dari sana lalu menuju sebuah restoran mewah untuk makan siang. Tepat ketika mereka akan masuk, mereka berpapasan dengan Audric yang keluar bersama seorang wanita cantik di sampingnya.


Aera menatap mereka bergantian. Tidak tau harus apa, dia hanya berdiri diam disana.


"Tidak menyangka bertemu kalian disini. Apa kalian baru saja makan siang?"


Wilda menyapa duluan, menatap Audric dan wanita itu bergantian. Sepertinya Wilda mengenalnya dengan baik.


"Kami baru saja akan kembali ke kantor masing-masing." jawab Audric dengan sopan.


"Apa kabar Luisa, lama tidak bertemu."


Wanita itu menyapanya, Aera tidak pernah diberitahu tentang wanita ini sebelumnya. Jadi dia tidak mengenalnya sama sekali.


"Baik."


Tidak ada kalimat sapaan balik darinya membuat suasana sedikit canggung. Aera tahu itu dan dia tidak ingin berusaha memperbaikinya. Rasa marahnya hanya kian bertambah ketika melihat Audric sibuk dengan seorang wanita dan mengabaikan pesannya.


"Ibu, sebaiknya kita masuk. Tidak baik berdiri lama disini dan jadi pusat perhatian."


"Ah, kamu benar. Kalau begitu sampai jumpa Rubelia."


Aera melewati Audric begitu saja tampa menyapa sama sekali. Perasaannya tidak baik-baik saja. Semuanya terasa menyesakkan saat ini. Jika dia tidak berada di depan umum, sudah pasti Aera akan menangis. Dia bahkan harus menggigit bibirnya sengan kuat. Mengalihkan rasa sesak didadanya pada rasa sakit dibibirnya.


.


Audric menghentikan tangannya ketika akan membuka pintu mobil. Wajah marah dan dingin itu melekat jelas diingatannya.


"Rubel, maafkan aku. Bisakah kamu kembali sendirian? Tiba-tiba ada sesuatu yang harus aku lakukan. Supirku akan mengantarmu."


"Hmm? Tidak apa-apa. Ada taksi didepan. Aku akan naik taksi saja. Sampai jumpa pada pertemuan minggu depan."


Pertemuan yang dimaksud Rubelia adalah pertemuan bisnis mereka. Audric mengangguk singkat lalu masuk ke dalam mobilnya. Dia memeriksa ponselnya dan baru mengetahui kalau Aera mengirim pesan.


Seluruh isi pesannya mempertanyakan tentang pernikahan. Juga terselip kalimat kemarahan.


"Pulang kerumah Luisa." perintahnya pada sang supir.


Audric mendapatkan telepon ketika dia sampai dirumah. Dengan kesal dia mengangkatnya.


"Kenapa?"


"Aku ingin identitas baruku segera dibuat. Aku ingin pergi dan tidak ingin tinggal dinegara ini lagi."


Seorang wanita, suaranya begitu datar saat berbicara.

__ADS_1


"Jangan meminta terlalu banyak. Aku tidak yakin bisa mengatasi Adolf jika semua ini terbongkar. Bukan hanya aku, kamu akan menerima kemarahannya lebih dari siapapun."


"Kamu takut padanya? Aku tahu bukan itu alasannya bukan? Kamu memiliki kekuatan dalam bisnis dan politik lebih besar, apa yang membuatmu ragu? Ah... Gadis itu? Wanita yang menggetarkan hati kakakku?"


Audric menatap Gustav yang berdiri di ambang pintu. Menyambut kedatangannya seperti biasa. Pria tua yang juga merupakan sumber informasi Luisa.


"Hah... Tidak bisakah kamu kembali? Kamu tetap bisa berhubungn dengan kekasihmu setelah menikah."


"Aku tidak mau, aku lebih suka lepas dari Martell dan hidup bahagia dengan kekasihku."


Sambungan diputus begitu saja. Audric merutuki keegoisan adiknya itu. Meski begitu, dia tidak menyalahkannya sama sekali. Meskipun hubungan mereka terlihat tidak dekat, pada dasarnya Audric peduli pada Luisa. Belum lagi aset Luisa sepertiganya akan menjadi miliknya. Alasan dia melakukan ini semua selain membantu kisah cinta adiknya itu.


"Gustav, beritahu aku kalau Aera kembali. Aku akan ada di kamarku."


"Baik, Tuan."


.


Aera tiba dirumah setelah ia diantar oleh Wilda satu jam setelah Audric tiba. Dia tidak menyapa Gustav yang menyambutnya dan langsung berlari kedalam kamarnya.


Dia mengunci pintu dan duduk dengan kepala yang terasa penuh. Pikirannya saat ini hanya ingin lari. Kembali pada negara asalnya. Namun mengingat neneknya, dia menjadi luar biasa sedih. Sehingga pada akhirnya hanya air mata yang bisa ia tumpahkan sebagai bentuk rasa frustasi akan nasibnya.


Ketika pintunya diketuk, Aera tidak ingin membukanya. Dia tidak ingin menemui siapapun saat ini. Tidak Gustav atau pelayan. Tapi saat suara Audric memanggil namanya, dia berhenti menangis, lalu dengan amarah memuncak, dia menghampiri pintu dan membukanya dengan kasar.


Mata merah itu menatap Audric dengan sorot penuh kemarahan dan kebencian. Audric menipunya dengan pernikahan yang tidak ada sama sekali dalam perjanjian. Audric berjanji akan menemukan Luisa sampai hari pernikahan ditetapkan, tapi sampai saat ini, tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaan adiknya.


"Katamu tidak ada pernikahan! Kamu membohongiku! Kamu melanggar kontrak yang kamu buat sendiri!" bentak Aera.


Tidak ingin didengar pelayan, Audric mendorong pelan Aera untuk masuk dan mengunci pintu.


"Aku tidak punya pilihan. Adolf yang minta pernikahan kalian dimajukan. Para orang tua setuju dan aku tidak bisa menolaknya. Ini kesepakatan lama, akan sangat mencurigakan jika aku menolaknya. Maafkan aku Aera. Kamu hanya melakukan pernikahan bisnis. Kamu bisa menolak jika Adolf menyentuhmu. Bahkan kamu tetap bisa tinggal disini."


Aera tidak percaya lagi pada Audric. Hatinya semakin terasa sakit ketika Audric dengan mudah membiarkannya menikah dengan orang lain.


'Tentu saja, itu bukan masalah baginya. Itu masalahku sendiri disini. Dia bukan siapa-siapaku selain seorang kakak palsu. Aku hanya orang yang terikat kontrak. Tapi kenapa? Kenapa rasanya sangat sakit!'


Aera mengepalkan tangannya dengan kencang. Mata penuh luka itu menatap Audric dengan kemarahan. Tapi seolah pasrah, dia berbalik. Rasa sesak hanya terus bertambah saat dia menatap mata itu.


"Kenapa harus mengikuti perkataanmu? Aku hanya harus tinggal dan menjadi istrinya, kan? Adolf tidak terlalu buruk juga. Aku hanya harus mengikuti permainan ini sampai aku menemukan batasku."


Aera menatap hamparan bunga yang mekar dibalik jendelanya. Air matanya semakin deras begitu merasakan sebuah tangan besar memeluknya dari belakang.


"Tolong jangan tinggal dengannya. Tetaplah disini, Aera. Kumohon lakukan saja pernikahan ini tapi buatlah sebuah keinginan. Aku akan mengabulkan keinginan itu dihadapan semua orang."


Betapa egoisnya permintaan itu. Aera ingin sekali memberontak. Tapi jiwa dan raganya cukup lelah hari ini, dia juga tidak punya kekuasaan untuk menolak. Dia berbalik, lalu masuk kedalam pelukan Audric yang semakin erat. Merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menolak dan jatuh dalam genggaman tangan pria ini. Satu hal yang Aera sadari, dia harus menyusun rencana untuk dirinya sendiri.


"Aku akan berusaha menemukan solusi, tolong bersabar sebentar lagi." bujuk Audric.


"Solusinya adalah menemukan adikmu sebekum hari pernikahan. Kenapa sangat sulit menemukannya?" isak Aera.


Kemeja depan Audric telah basah oleh air matanya. Tapi Aera tidak peduli, dia sedih dan putus asa. Dia hanya ingin dipeluk seperti sang nenek memeluknya ketika menangis. Tidak sadar bahwa Audric adalah sumber rasa putus asanya itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2