
Isaac sedang menatap tajam meja panjang ruang rapat yang kosong. Saat ini dia menempati posisi direktur salah salah satu perusahaan Martell. Keadaan saat ini membuatnya diliputi kemarahan dan kekawatiran.
Rahasia yang diungkapkan dari bibi mereka Berta, ternyata adalah rencana Luisa sendiri. Perubahan rencana ini terjadi disaat-saat terakhir ketika Berta tiba-tiba menemuinya.
Tentu saja Luisa tidak mau melewatkan kesempatan. Akan ada dua kubu terbagi jika rahasia ini terbongkar. Hanya menunggu waktu para perdana mentri mengetahuinya.
"Aku tidak yakin Audric memiliki tujuan yang sama, begitu juga para mantan pemimpin sebelumnya yang telah mati." gumamnya.
"Bisakah kita bicara?"
Gilbert, ayahnya masuk dan langsung duduk di salah satu kursi.
"Ada apa ayah kesini?"
"Kamu masih bertanya? Kamu menggali kuburanmu sendiri bekerja sama dengan Luisa. Aku sudah ingatkan sejak awal untuk jangan mengikuti permainannya. Dia hanya menganggap kita semua alat. Wanita ular itu bisa menggigitmu sewaktu-waktu."
"Tidak, aku sudah lama membenci Audric. Pria sombong itu memang harus dihancurkan."
Gilbert tampak frustasi. Tentu saja dia juga membenci Audric, dia juga ingin memiliki kekuasaan. Sayangnya posisinya yang hanya sebagai menantu dan bukan anggota inti keluarga Martell menghalanginya.
Dia juga sempat ragu karena posisi Isaac bukanlah posisi yang bagus untuk merebut kursi Audric. Satu-satunya keuntungan mereka hanyalah, memiliki nama Martell karena Gilbert masih anggota keluarga Martell saat menikah dengan Adriana meskipun garis keturunannya lemah.
"Kita tidak bisa meremehkan Audric. Dia lebih kejam dan lebih perhitungan dari Alvaro. Dia iblis yang tidak mudah dilawan. Aku hanya tidak ingin kehilangan semua milik kita hanya karena mendukung Luisa!"
"Tapi Luisa juga bukan wanita bodoh, Ayah. Meskipun kita rugi sedikit, jika Luisa menang dan Audric jatuh, kita akan mendapatkan banyak keuntungan dari pada berbalik sekarang."
Pemikiran yang tidak matang. Mereka menganggap Luisa dan Audric setara karena Luisa memiliki reputasi otak cemerlang dan licik. Mereka lupa fakta bahwa Luisa saat ini adalah Ackerman.
Luisan sendiri sadar posisinya saat ini sangat lemah. Dia bisa diperhitungkan karena adik dari Audric, anggota inti Martell, keturunan pemimpin sebelumnya.
"Aku punya cara." Isaac melirik ayahnya. "Temui presiden dan katakan rencana busuk Audric. Buatlah seolah-olah kamu pahlawan dan orang baik dari keluarga ini. Lagi pula sebagian besar suara dalam keluarga saat ini tidak memihak Audric."
"Dia kan hanya boneka, apa yang bisa dia lakukan."
"Aku mendengar rumor dari beberapa orang disekelilingnya, bahwa dia sepertinya ingin lepas dan melawan Martell."
"Dia? Tua bangka itu?" Isaac terkekeh.
"Manfaatkan dia, bahkan jika rencananya gagal. Kita hanya perlu menjadikan dia kambing hitam."
Isaac tersenyum lebar, tampaknya ide itu sangat disukainya.
.
Sementara itu, Audric menghubungi perdana mentri dari dua negara bagian sekaligus. Mereka adalah perdana mentri yang memiliki hubungan baik sejak lama dengan Martell dan tidak pernah berseteru. Menyampaikan maksudnya pada siang itu dan membujuk mereka untuk menyetujui rencananya.
Tentu saja awalnya mereka menolak. Namun Audric sangat pandai bersilat lidah dengan memanfaatkan garis keturunan raja terdahulu yang dimiliki Martell. Selain itu tujuan diubahnya sistem pemerintahan disampaikan Audric dengan sangat baik, dimana mereka akan mendapatkan keuntungan dari itu.
Sementara Audric menyusun strategi dalam sebulan ini, Isaac dan Luisa juga menjalankan rencana mereka untuk menyerang Audric dengan membocorkan perubahan sistem. Karena bukti dan data yang kurang, Presiden tidak bisa serta merta mengumumkan pada dunia. Ditambah Adolf yang terlihat tidak mendukungnya.
Adolf sendiri menyadari pergerakan Audric yang telah menemui hampir seluruh perdana mentri negara bagian. Hanya daerah kecil yang tidak ia datangi dan mengandalkan orang-orang terpercayanya.
Gejolak dalam negri tidak terlalu terlihat. Tapi ketegangan di dalam gedung-gedung pemerintahan sangat terasa. Ini karena rumor beredar antar pegawai pemerintahan begitu masif.
"Tuan, orang-orang yang dicurigai bayaran adik Anda semakin banyak di desa."
Audric melakukan hal bodoh seminggu yang lalu karena tidak bisa menahan kerinduannya pada Aera. Sejak saat itu desa itu kedatangan banyak orang yang tidak lain adalah pembunuh bayaran.
Aera yang biasanya bisa berjalan-jalan dengan penyamaran kini terpaksa berdiam di dalam bunker dengan penjagaan khusus dari Ivon dan beberapa pengawal wanita sebagai tambahan.
__ADS_1
"Bagimana pergerakan mereka?"
"Ivon bilang mereka masih terlihat belum tahu mengenai bunker. Tapi tampaknya mereka mencurigai sekolah yang kosong karena sekolah itu milik Martell."
"Jadi begitu, kirim satu tim pasukan dan buat mereka berjaga disekitar sekolah."
Harald mengangkat sebelah alisnya.
"Anda ingin membuat perangkap? Bukankah terlalu kentara? Bagaimana kalau mereka curiga."
"Tidak apa, mau mereka terjebak atau tidak itu tak akan merugikan kita."
Mereka sedang berjalan menuju pangkalan militer jerman. Audric sengaja datang kesana untuk memberi peringatan pada presiden, Isaac dan Luisa bahwa militer negara kini ada dibawah kakinya. Karena semua jendral pasukan unit maupun tim khusus telah memutar haluan padanya.
Ini berkat kerja sama bersama perdana mentri yang berpihak padanya. Selain itu, sudah sejak lama orang-orang Martell yang setia masuk ke dalam angkatan militer Jerman. Martell memiliki sumber informasi disetiap lini. Semuanya ada dibawah kendali Audric secara langsung. Hanya dia, Harald dan Ivon yang mengetahui kekuatan Martell yang sesungguhnya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Keluarga lainnya selama ini hanya hidup nyaman, mereka diberi tanggung jawab mengelola bisnis keluarga tapi dibatasi dalam pergerakannya. Semuanya dikontrol oleh Audric.
.
Ketika pasukan datang, Aera sedang bertanding dengan salah satu pengawal wanita. Selama tidak bisa melakukan apapun, Aera berlatih dengan rajin bersama Ivon dan pengawal lain.
Karena itu, ketika Ivon memberitahu rencana Audric, dia bersemangat untuk ikut. Hal yang tentu saja tidak akan mendapat izin.
"Tidak, Anda tetap disini karena itulah rencananya. Lagi pula saya hanya kesana untuk memberikan arahan. Mereka tidak akan langsung menyerang, mereka pasti akan membaca situasi terlebih dahulu."
"Tapi aku ingin melihat bagaimana guruku memimpin pasukan, siapa tahu muridmu ini akan menggantikanmu suatu saat nanti." kata Aera dengan sangat yakin.
Dua pengawal wanita lain menahan tawa mereka. Bagaimanapun Ivon sangat dihormati dalam pasukan, dan dia bukan jenis orang yang suka bercanda.
"Nona, apa Anda ingin mempersingkat hidup saya?" tanya Ivon.
Lembut tapi tegas. Membuat Aera langsung memasang wajah kesal. Dia mengerti kearah mana pembicaraan ini. Tentu saja Audric, pria itu bisa membunuhnya jika Aera terluka sedikit saja.
"Itu lebih tidak mungkin, Nona." sahut Ivon dengan cepat.
"Ck, aku akan meminta izin sendiri."
Ivon mengangguk, seolah menyetujui. Tapi ketika Aera mulai menelepon, dia langsung bergegas untuk pergi.
"Apa tidak apa-apa? Bagaimana dengan Nona?" tanya salah satu pengawal wanita.
"Itu karena Tuan Ivon sudah tahu jawaban Tuan Audric." jawab rekannya.
Ketika Aera keluar dari kamarnya dan tidak melihat Ivon, dia semakin kesal.
"Guruku benar-benar tidak punya perasaan kan? Dia tahu aku tidak akan mendapat izin jadi langsung pergi." gerutunya.
Ivon tidak kembali sampai dini hari. Aera juga tidak bisa tidur karena cemas. Selain karena menghawatirkan Ivon, dia juga tidak bisa tidak waspada pada kemungkinan tempat itu ditemukan.
Terdengar langkah-langkah kaki diatas mereka. Sangat jelas karena Aera dan pengawalnya tepat berada dibawah pintu masuk. Sepertinya ada perkelahian diatas.
"Saya akan mengintip..."
Dor! Dor!
Terdengar bunyi tembakan dua kali. Lalu suasana menjadi hening beberapa detik sebelum sebuah langkah kaki terdengar lagi.
Pintu bunker terbuka dan Ivon turun kebawah dengan lumuran darah dibaju dan celananya. Bau amis juga memenuhi tubuhnya.
"Kamu terluka? Apa mereka masih diatas?"
__ADS_1
Aera langsung menghampiri Ivon yang menghindari tangan Aera ketika gadis itu ingin memeriksa dimana ia terluka.
"Nona, tenanglah. Ini bukan darah saya dan langkah diatas adalah orang-orang kita." jawab Ivon.
Dia menghindar karena tidak ingin mengotori tangan Aera dengan darah, selain itu penampilannya yang buruk membuat Ivon kawatir membuat Aera takut padanya. Tangannya baru saja menusuk banyak orang dan menembak dua orang. Ivon juga takut Aera merasa jijik padanya.
"Saya akan membersihkan diri terlebih dahulu. Anda bisa istirahat sekarang karena keadaan sudah aman."
Aera menatap punggung Ivon dengan kawatir. Meskipun Ivon berkata bukan darahnya, tapi Aera bisa melihat beberapa robekan pada bajunya bekas sayatan benda tajam.
"Apa kalian terbiasa mendapat luka seperti itu dan mengatakan tidak apa-apa?" tanya Aera pada dua pengawal lainnya.
"Karena luka seperti itu ringan bagi kami. Bahkan saat latihan seseorang bisa mendapatkan luka lebih parah. Jangan kawatir, Nona."
Aera duduk dibangku, menunggu Ivon karena dia ingin mendengar apa yang terjadi.
Begitu Ivon keluar dengan rambut basah dan handuk dikepalanya, Aera langsung menatapnya dengan sorot yang menuntut penjelasan.
"Lukamu perlu diobati!"
"Saya sudah membalutnya, itu hanya sayatan-sayatan yang tidak dalam. Pakaian saya cukup tebal sehingga cukup melindungi."
Aera menghembuskan napas. Tidak bisa berkata-kata lagi.
"Jadi, apa mereka benar-benar mengira aku ada di sekolah?"
"Ya, karena kami menangkap semuanya, jadi tempat ini masih aman."
"Ap-Apa ada yang mati?"
Ivon tidak langsung menjawab, dia mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Ada ya? Pasti karena tidak bisa dihindari kan?" kata Aera pelan.
Sesuatu seperti membunuh dan mati masih sangat mengganggunya. Dia tidak bisa terbiasa dengan itu.
"Bukan dari pihak kita. Lagi pula mereka adalah pembunuh bayaran. Bahkan jika mereka tidak mati ditangan kami, mereka tetap akan menerima hukuman mati dipengadilan jika kita membawa kasus penyerangan ini pada hukum."
Aera diam saja karena tahu Ivon benar kali ini. Mereka adalah pembunuh yang dikirim untuk membunuhnya.
"Terima kasih, kalian jadi repot karena aku."
"Apa yang Anda katakan, Nona! Kami sangat senang melindungi Anda." sahut pengawal wanita secara bersamaan.
Aera mendongak, lalu tersenyum dan berterima kasih.
Ivon bersyukur Aera sudah terlihat baik-baik saja. Keputusan tidak mengizinkannya ikut adalah pilihan yang tepat.
"Saat ini, Tuan sedang menyusun kekuatan. Mungkin dalam dua atau tiga hari kedepan, kita akan melihat huru hara terjadi di seluruh wilayah negara ini."
"Apa karena perubahan yang ingin dilakukan Audric?"
"Ya, Nona pasti sudah diberitahu oleh Tuan, kan? Bahwa beliau..."
"Ya, dia juga memberitahuku alasan dia berubah pikiran dan mengambil jalan ini. Tapi bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau dia yang akan dalam bahaya?"
"Nona tenang saja, Tuan tidak pernah salah prediksi. Langkahnya selalu matang dan terorganisir." jawab Ivon.
'Entahlah, aku tidak yakin dia harus melakukan ini hanya karena ingin menghukum seluruh keluarganya yang tak patuh. Bukankah ini berlebihan?'
__ADS_1
Sejak awal Aera memang tidak sepenuhnya memahami pemikiran Audric yang seperti ini.