BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Keraguan?


__ADS_3

Sebulan berlalu terasa seperti ratusan tahun bagi Audric. Dia mencari Aera, namun ketika mereka sudah begitu dekat untuk menemukannya, Audric semakin ragu untuk alasan yang tidak ia mengerti.


Kekecewaan, kemarahan dan perasaan terbuang. Itulah yang ia rasakan. Meskipun dia tahu adiknya berada dibalik semua ini. Tapi fakta yang ia percaya, keputusan akhir tetap ada pada Aera.


"Tuan!"


Harald masuk dengan tergesa-gesa. Melihat ekspresi suram itu selama sebulan terakhir membuat dia ikut frustasi setiap harinya. Audric bersandar, meletakkan penanya dan menatap Harald dengan malas.


"Tuan, Nona Aera telah ditemukan. Dia terlihat berada di kota Valencia di Spanyol."


Audric segera berdiri, dia hendak melangkah keluar sebelum sebuah kekawatiran sebelumnya menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Tuan?"


"Tidak, apa yang dia lakukan disana?"


"Masih diselidiki, tapi... Menurut informasi, Nona Aera dan Neneknya terus berhubungan rutin dengan seorang pria yang dikenal orang-orang sekitar sebagai perwakilan dari sebuah yayasan amal."


"Begitu, terus awasi dia."


Audric kembali duduk di kursinya. menyatukan kedua kepalan tangannya diatas meja dan menyatukannya dengan keningnya.


"Anda tidak akan menjemput Nona secara langsung?" kekawatiran jelas terdengar dalam suara Harald. Dia belum pernah melihat Audric seperti itu.


"Pilihannya untuk pergi... Aku belum tahu alasannya."


'Ah... Jadi dia takut ditolak karena merasa Aera secara tidak langsung meninggalkannya?' tebak Harald.


"Tapi bukankah Anda tahu semua ini permainan adik Anda. Kita tidak pernah tahu apa yang mereka bicarakan sebelum Nona Aera mengambil keputusan itu."


"Bagaimanapun, kepergian itu adalah pilihannya."


"Bukankah neneknya menjadi pertaruhan disini? Jika pria itu adalah..."


"Aku tahu!" potong Audric frustasi.


Harald menghela napas. Sangat mengerti apa yang ditakutkan atasannya itu.


"Anda hanya takut Nona tidak mencintai Anda, kan? Tapi apa Anda tahu, sejauh ini... Saya yakin Nona memiliki perasaan pada Anda."


Audric menatap Harald yang berusaha meyakinkannya.


"Mungkin, bukankah pemikiranku benar? Dia yang memilih pergi."


.


Aera sudah bekerja di kafe tempat ia melamar pertama kali. Setelah sebelumnya ditolak, dia akhirnya dipanggil setelah tiga hari kemudian. Aera tidak tahu apa penyebabnya, tapi ketika dia masuk kerja, dia dengar karyawan sebelumnya tidak memuaskan. Hanya karena alasan itu.


"Hei kamu, bersihkan meja tiga dan segera kembali untuk mengantarkan pesanan meja lima." suruh manager restoran.


Seorang wanita berambut pendek dengan kulit putih pucat dan bermata coklat. Sejak awal dia tidak menyukai Aera. Bahkan pelayan lain dan para koki juga terlihat menghindarinya. Tidak ada yang mau mengajaknya bicara selama beberapa minggu terakhir ini.


Aera menghela napas ketika selesai membuang sampah. Ini adalah pekerjaan terakhirnya dan dia akan segera pulang. Namun, ketika ia akan masuk, seorang pria yang seminggu belakangan ini selalu datang ke restoran berdiri disana. Seorang pelanggan yang hanya terus memesan kopi dan satu kue tar kecil.


Pria paruh baya yang selalu menatapnya diam-diam dan menambah ketidaknyamanan bagi Aera. Karena mata seluruh pegawai akan mulai tertuju padanya ketika pria itu datang.

__ADS_1


Aera menelan ludah dengan susah payah. Jujur saja dia takut. Tapi dia juga sangat penasaran. Alasan pria itu selalu muncul hanya pada shif dirinya. Apakah itu hanya kebetulan atau dia sebenarnya suruhan seseorang.


Luisa, Audric dan Adolf muncul dalam kepala Aera. Nama-nama itulah yang mungkin akan mengirim orang untuk mengawasinya. Meski begitu, dia sendiri tidak begitu yakin.


Setelah beberapa menit hanya menatap satu sama lain dari jarak beberapa meter, pria itu tampak akan pergi. Dia memutar tubuhnya dan berjalan menjauh.


"Tunggu!" panggilnya.


Aera berjalan dengan cepat ketika pria itu berhenti, namun dia tidak bergerak dan hanya membelakangi Aera.


"Siapa Anda? Apakah ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?" tanya Aera.


Pria itu menatap Aera dengan sendu, terlihat raut penuh penyesalan diwajahnya.


"Bisakah... Kita bicara ditempat lain?"


"Saya tanya... Siapa Anda dan kenapa Anda bertindak seperti ini? Anda mengenal saya atau suruhan seseorang?" tanya Aera tegas.


"Aku..." dia tampak ragu, tapi Aera menatapnya dengan tajam dan penuh ketegasan, seolah mengatakan tidak akan mau bicara jika dia tidak menyebutkan nama. "Aku adalah orang yang membuangmu di depan sebuah rumah kecil di Bali 19 tahun yang lalu."


Aera melebarkan matanya, tubuhnya menjadi kaku sesaat dan dengan reflek dia mundur kebelakang bersamaan ketika pria itu berbalik.


Aera tidak tahu kenapa dia malah berlari alih-alih meminta penjelasan. Dengan air mata yang terus menetes, dia berlari masuk ke dalam restoran menuju ruang ganti. Namun sebelum dia benar-benar mencapai ruangan itu, tubuhnya jatuh ke lantai karena menabrak dada seseorang.


Aera mendongak dengan cepat, dia melihat pemilik restoran yang masih memakai seragam kerjanya di dapur. Sepertinya dia juga akan menuju ruang ganti pria.


"Chef, ma-maafkan saya."


Wajah Igor yang biasa kaku kini tampak berbeda melihat air mata di wajah Aera. Dia menunduk dan mengulurkan tangannya. Setelah bekerja disana, ini adalah kedua kalinya Aera bertatap muka dengannya. Pria ini tidak berada di garis depan restorannya, dia hanya memantau dari belakang dan fokus dibelakang layar. Dia terkenal sangat pendiam dan juga sedikit sensitif. Dia tidak pernah bercanda dan terkesan menakutkan.


"Kenapa kamu menangis?"


Aera berhenti, dia berbalik dan menatap wajah penasaran itu dengan bimbang.


"Saya..."


"Ambil ini dan ikut aku."


Aera bingung, Igor menlukurkan sapu tangannya lalu menyuruhnya mengikuti langkahnya. Mereka kembali memasuki area dapur.


"Duduklah disana."


Para karyawan yang baru selesai bersih-bersih bingung dengan kedatangan Igor kembali. Mereka hanya memberi sapaan sebelum meninggalkan mereka dengan canggung.


Aera duduk di kursi yang ada disana. Memperhatikan dapur yang memang jarang ia masuki. Mata merah, wajah sembab dan peluh dikeningnya membuat wajahnya terlihat berantakan. Tapi tentu saja hal itu tidak mengurangi kecantikan alami yang ia miliki.


'Sebenarnya apa yang dia lakukan? Kenapa dia malah membuat adonan?' pikir Aera. Dia ingin bertanya tapi juga takut melakukannya.


"Aku pikir, kamu harus belajar bahasa spanyol. Tidakkah kamu terganggu karena hanya bisa menggunakan bahasa Inggris? Orang-orang juga kesulitan berkomunikasi denganmu."


"Ah... Maafkan saya. Sa-saya akan mencari guru les untuk itu."


"Itu bagus, tapi kamu bisa belajar dariku jika kesulitan menemukan waktu untuk bimbingan berbayar."


"Ya?"

__ADS_1


Igor menoleh sesaat setelah memasukkan adonannya kedalam oven.


'Kenapa dia tiba-tiba menawarkan kebaikan?' curiga Aera. Dia mulai memikirkan kemungkinan niat jahat.


"Karena aku sama sepertimu saat mulai datang kesini. Kamu juga pasti kesulitan." jawab Igor seolah bisa membaca pikirannya.


"Anda juga pendatang?"


"Ya, Aku berasal dari Inggris."


Beberapa menit mengobrol Aera jadi melihat sisi lain dari bosnya itu. Ternyata dia tidak sedingin yang terlihat. Dia ternyata juga seorang duda yang dicampakkan oleh mantan istrinya ketika ia jatuh miskin. Dia bilang dia baru membuka restoran itu lima tahun yang lalu setelah bekerja di dapur selama dua tahun. Dia mendapatkan pengakuan setelah ikut kompetisi dan memenangkan posisi pertama.


"Wah... Anda hebat sekali Chef!"


Aera bertepuk tangan dan menatap Igor dengan pancaran kekaguman akan kisahnya. Tampa sadar bahwa Igor telah menyajikan sebuah kue kecil yang cantik.


"Ambil ini dan makanlah."


"Huh? Ini apa?"


"Hmm... Entahlah, aku belum memberinya nama. Aku baru menciptakan menu itu hari ini. Aku tidak yakin apakah itu akan laku."


Aera mencobanya, kue yang rotinya terasa sangat lembut dengan krim yang terasa sangat segar dan manis. Bahkan Aera yang tidak terlalu menyukai makanan manis, sangat menyukai cita rasa kue itu.


"Ini sangat enak. Jangan ragu mengeluarkan menu ini, Chef!" seru Aera.


Igor menarik senyum tipis, lalu ragu mengelus kepalanya seperti seorang kakak pada adiknya.


"Aku akan mengantarmu pulang, ini sudah terlalu larut untukmu pulang sendirian."


"Apa tidak apa-apa?"


"Tentu saja..."


Karena jarak reatoran dan rumah yang ditempati Aera tidak terlalu jauh, mereka sampai dengan cepat.


"Apa kamu sudah memiliki kamus bahasa? Kamu perlu menghapal kata. Aku hanya akan berperan sebagai teman ngobrol untuk memperlancar dialekmu."


"Sudah, Saya juga sudah menghapal beberapa kalimat."


"Mengingat kamu sudah menguasai tiga bahasa, aku pikir kamu orang yang cerdas."


Aera hanya tertawa dengan malu. Dia suka mempelajari bahasa apapun, tapi selama ini tidak benar-benar serius. Bahasa Jerman juga tidak terlalu sulit baginya karena ada beberapa kemiripan dengan bahasa Inggris yang telah ia kuasai.


"Tidak... Saya tidak sebagus itu." jawabnya.


Setelah saling mengucapkan selamat malam, Aera masuk ke dalam rumah. Neneknya telah tidur seperti biasa di depan televisi yang menyala. Neneknya memang akan menunggunya pulang. Tapi dia selalu berakhir ketiduran jika Aera kedapatan jadwal siang.


Baru saja Aera akan membangunkan neneknya, berita di televisi membuatnya terpaku ditempat.


Wajah itu, wajah yang setiap malam selalu muncul dalam ingatannya, yang terus mengikutinya kemanapun, muncul disana.


Dia berdampingan dengan Adolf sebagai pemimpin partai pengusung yang mencalonkan Adolf. Mereka meraih kemenangan. Meski Aera sudah mendengar berita ini pagi tadi, tapi dia memilih mematikan televisi dan fokus berkebun.


"Yah, mereka sepertinya berhasil. Itu bagus, mereka tidak akan membutuhkanku lagi." gumamnya.

__ADS_1


Sayangnya, perkiraannya sangat salah. Paginya, ketika ia hendak berangkat kerja, dia dijejutkan dengan kehadiran seseorang di depan pintu rumahnya.


__ADS_2