BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Fakta tentang Luisa


__ADS_3

Gustav berdiri di hadapan seorang gadis muda yang memiliki kemiripan dengan Aera. Wanita yang dinyatakan lari oleh Audric sehingga Aera terpaksa menikahi Adolf.


Luisa, telah memotong rambut hitamnya me jadi sebahu. Dia tinggal disebuah gedung apartemen ditengah kota Berlin yang sibuk. Ini pertama kalinya Gustav bertemu lagi setelah satu setengah tahun Luisa pergi. Gustav mengedarkan pandangannya keseluruh ruang tamu, mencari sosok yang membuat Luisa memilih pergi dari rumah.


"Siapa yang kamu cari? Aku tinggal sendirian disini."


Gustav ingin bertanya, namun Luisa memberikan pandangan dingin, yang menandakan bahwa dia tidak ingin jawaban atau pertanyaan keluar untuk saat ini. Maka Gustav menelan lagi setiap kata yang sudah tersusun dalam kepalanya.


"Jadi, kabar apa yang membuatmu ingin menemuiku secara langsung?"


"Tuan Adolf kemungkinan sudah mengetahui identitas Nyonya Aera. Anda harus berhati-hati jika ingin keluar, dia dikabarkan sedang mencari seseorang. Kemungkinan besar dia mencari Anda."


"Jangan kawatirkan dia, Adolf tidak suka keributan."


Gustav tampak tidak yakin, namun dia merasa tidak perlu mengutarakannya saat ini.


"Lalu... Kakak Anda mengajukan syarat dengan menggunakan nama Anda. Bahwa tidak ada anak selama belum ada kesepakatan baru. Nyonya Aera juga tidak diizinkan meninggalkan rumah utama."


Luisa mengangkat kedua alisnya sesaat. Sebuah senyum simpul muncul dibibirnya.


"Wah, Gustav! Kamu pasti punya jawabannya bukan?"


"Saya tidak yakin, tapi kakak Anda sedikit berubah dan lebih posesif akhir-akhir ini tentang segala sesuatu mengenai Nyonya Aera."


"Kakakku?"


Luisa tertawa, jenis tawa penuh penyangkalan dan sarat akan ejekan.


"Audric, Aku jadi ingin menemuinya. Ini sangat menarik walau diluar rencanaku."


Gustav diam saja, selama dia melayani Luisa, gadis dihadapannya ini pada dasarnya tidak menyukai kakaknya. Dia cenderung antisosial dan selalu bergerak dengan langkah tak terduga. Gustav tidak mengerti apa yang ia pikirkan, dia sulit ditebak karena jarang membagi pikirannya pada orang lain. Gustav hanya menjalankan apa yang disuruh tampa tahu apa sebab dan tujuannya. Luisa selalu membuatnya mencari tahu sendiri.


"Nona, jika Anda tinggal sendiri. Lalu perkataan Anda yang tinggal dengan kekasih Anda sata itu..."


"Gustav, duduklah!"


Gustav yang sejak tadi berdiri, akhirnya duduk di hadapan Luisa.


"Kamu ingat dengan wanita yang aku minta kamu selidiki ketika aku berusia enam belas tahun?"


Gustav berusaha mengingatnya, lalu dengan ragu dia mengangguk.


"Wanita yang aku kira adalah selingkuhan Ayahku. Aku menemukan fakta yang menyedihkan." Luisa memberi sedikit jeda, "Bahwa dia adalah ibu kandungku."


Gustav melebarkan matanya dengan terkejut. Saat itu, seingatnya Luisa memang mengurung diri tampa alasan yang jelas. Orang tuanya yang sibuk tidak terlalu memperhatikan perilakunya. Tapi Gustav yang melayaninya, tahu bahwa Luisa berada pada titik dimana dia tampak tidak ingin hidup.


"Aku mengira saat itu Ayahku benar-benar selingkuh. Aku ingin meluapkan kemarahanku malam itu. Tapi aku mengurungkannya ketika mendengar perdebatan mereka."


Flasback

__ADS_1


Luisa baru saja pulang sekolah ketika dia melihat mobil ayahnya terparkir dipinggir jalan. Dia meminta supirnya berhenti agak jauh dari posisi mobil ayahnya.


Jendela mobil terbuka dan Luisa melihat seorang wanita yang berdiri di trotoar menghampirinya. Dia berbicara sebentar sebelum tersenyum dan menganguk dengan semangat. Wanita itu memutari mobil dan masuk dari sisi lain. Mobil itu melewati mobil Luisa yang terparkir di depan mereka. Luisa yakin ayahnya menoleh padanya, namun dia memilih tidak berhenti. Seolah bukan hal besar apabila Luisa tahu tentang hal yang dilihatnya.


Pikiran buruk langsung menghampirinya. Luisa tidak bertanya pada ayahnya. Tidak juga membahasnya dengan orang lain bahkan Gustav, pelayan setianya. Dia memendamnya sendiri dengan tujuan mencari kebenarannya sendiri.


Hari demi hari berlalu setelah itu. Tidak ada perubahan signifikan pada hubungan kedua orang tuanya. Keduanya masih terlihat baik-baik saja.


Luisa mengenal kemampuan dan kepintaran sang ibu. Kedua orang tuanya sangat mengutamakan nama baik dan akan menjaganya dengan cara apapun. Sehingga Luisa menduga bahwa ibunya bersikap normal untuk menyembunyikan aib itu.


Sang kakak, Audric seperti biasa. Sangat serius dan terkesan acuh. Dia hanya fokus pada belajar dan mempersiapkan diri untuk terjun pada bisnis keluarga. Tidak ada satu haripun kata hangat dan pertanyaan ramah tamah yang keluar dari bibirnya.


Kedua kalinya, Luisa melihat kembali wanita yang pernah ditemui ayahnya. Dari balkon kamarnya di lantai dua, dia melihat wanita itu berjalan menghampiri ibunya yang duduk di bangku taman.


Luisa memperhatikan ekspresi ibunya yang tampak tenang. Terlihat sangat menjaga wibawanya dan begitu anggun. Sangat berbeda dengan wanita yang duduk dihadapannya.


Hal yang membuat Luisa terganggu adalah, wanita itu memiliki garis wajah yang mirip dengannya. Meski wanita itu memakai penutup kepala dan syal yang tebal, Luisa sangat mempercayai penglihatannya.


"Nona, cemilan sore Anda telah disiapkan. Apakah Anda ingin menikmatinya ditaman lagi?"


Gustav menghampirinya, berdiri di belakang Luisa yang masih berdiri pada posisi yang sama.


"Gustav, kemari dan lihat wanita itu."


Gustav mematuhinya, memperhatikan wanita yang sedang berbicara dengan Nyonya rumah ini.


"Kamu tahu siapa dia?"


"Kalau begitu dapatkan identitasnya untukku."


"Baik, Nona. Tapi... Kenapa Nona tidak menanyakan langsung pada ibu Anda?"


"Gustav, aku ingin kamu mencarinya sendiri tampa koneksi orang dirumah ini."


"Baik, Nona."


"Bagus, pergi dan bawa saja cemilanku kesini."


Luisa beranjak menuju ayunannya. Dia duduk disana dan mulai mendorong dirinya dengan kakinya. Sambil membaca buku, dia terus berayun pelan.


Dua hari setelah itu, Luisa menemukan fakta bahwa ayahnya mengirimkan uang setiap bulan pada wanita itu. Luisa mengetahuinya ketika diam-diam masuk ke ruangan kerja ayahnya.


Dengan kepintarannya, dia memeriksa akses perusahaan dan data keuangan keluarga Martell. Kecurigaannya saat itu terhenti karena tidak ada bukti. Tidak ada uang perusahaan atau rekening pribadi ayahnya yang mengeluarkan dana besar untuk sesuatu yang mencurigakan.


Tapi Luisa tidaklah menyerah, dia juga diam-diam masuk kekamar orang tuanya dan memeriksa semua berkas dan penyimpanan surat penting. Di dalam laci di bawah brangkas, dia melihat sebuah buku laporan keuangan dari yayasan yang dikelola sang ibu. Disanalah dia melihat bahwa nama wanita itu ada disana.


"Sial! Jadi dia benar selir ayahku? Ibu juga mengetahui hal ini? Tapi kenapa dia masuk dalam penerima santunan?"


Luisa melirik jam dinding, dia segera merapikan semu berkas dan keluar dari sana. Karena sebentar lagi ibunya akan pulang. Berbahaya baginya jika ketahuan masuk tampa izin.

__ADS_1


Malam harinya, Luisa ingin berbicara langsung dengan ayahnya. Tapi ketika dia akan mengetuk kamar mereka, Luisa mendengar suara keras ibunya.


"Kamu gila! Jangan pernah lakukan itu! Bagaimanapun kita menghabiskan uang untuknya, dia tidak boleh mati." Itu suara Ibunya.


"Dia sudah tidak berguna, apa yang kamu harapkan?"


"Bagaimanapun dia ibu kandung putri kita! Kamu ingin Lui menderita suatu saat ketika dia tahu kebenarannya? Lui akan membenci kita. Aku tidak ingin Lui membenciku!"


Terdengar isakan ibunya, Lui juga mendengar ayahnya berusaha menenangkan ibunya. Luisa yang kini berdiri dengan kaki gemetar, mundur perlahan sebelum berbalik dan berjalan dengan cepat. Pergi dari sana dengan gemuruh yang menyesakkan dadanya.


Kemarahan, kebingungan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Sesampainya di dalam kamarnya, dia tersungkur ke lantai dengan air mata menetes. Luisa menangis tampa suara, bahkan tampa isakan. Air matanya hanya terus jatuh dengan sorot mata yang kosong.


Flasback end.


Luisa menatap Gustav yang menatap meja diantara mereka. Kebingungn dan kerisauan terpancar dari ekspresinya sekarang.


Gustav ingat saat itu dia baru bisa mendapatkan informasi terkait identitas wanita itu seminggu setelah itu. Setelah mendapatkan nama, latar belakang dan alamatnya, Gustav tidak tahu apa yang dilakukan Luisa setelahnya.


"Kamu ingat wajahnya? Bukankah dia sedikit mirip denganku?"


"Maksud Anda... Tuan...?"


"Tidak, ayahku tidak selingkuh dan aku anak kandungnya. Ibu memiliki gangguan kesehatan reproduksi setelah melahirkan kakakku. Intinya, mereka menginginkan seorang anak lagi dengan memakai rahim dan sel telur wanita lain."


"Bayi tabung? Tapi dari mana Nona tahu semua ini?"


Luisa tidak menjawabnya. Seperti biasa, Gustav harus menemukan jawabannya sendiri.


"Tugasmu saat ini, membuat Adolf merubah nama Aera pada buku nikah mereka, sehingga kakakku benar-benar menjadi perwakilan dari Martell. Dengan begitu, aku bisa kembali menjadi Luisa."


"Ka-kakak? Apa maksud Anda Nona?"


Luisa menatap Gustav dengan seringai tipis dibibirnya.


"Apa kamu pikir kemiripan kami tidak memiliki arti apapun, Gustav? Jangan bodoh seperti kakakku. Meskipun aku tidak yakin apakah dia tidak menaruh curiga. Tapi kakakku itu pasti sangat penasaran akan asal usulnya. Sayang sekali, anak yang ditinggalkan di depan pintu rumah orang saat itu tidak mempunyai petunjuk apapun tentang asal usulnya bagi siapapun."


"Maksud Anda... Wanita yang dipinjam rahimnya itu... Ibu kandung Anda... Memiliki anak yang ia buang sebelum menerima tawaran orang tua Nona?"


"Aku senang kamu mengerti dengan cepat. Usia sepertinya tidak mempengaruhi kemampuanmu."


Cara memuji yang penuh sarkasme seperti itu memang ciri khas keluarga Martell. Gustav sangat mengerti, semua orang dalam keluarga itu sangat sulit mengucapkan kalimat pujian yang tulus. Kalaupun ada, itu sangat langka dan pastinya hanya untuk orang tertentu.


"Saya pikir akan sulit, Nona... Maksud saya Nyonya Aera sepertinya telah memiliki perasaan pada kakak Anda."


"Apa maksudmu?"


"Maafkan saya... Tapi seperti itulah pengamatan saya selama ini."


"Itu tidak boleh terjadi, itu akan merusak rencanaku."

__ADS_1


Gustav kembali dengan lensa kontak yang baru. Dia langsung menyerahkannya pada Aera. Olivia telah membuang yang lama. Sehingga skenario mereka tidak diketahui oleh Aera.


__ADS_2