BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Adolf pemain cinta yang tampan


__ADS_3

Setelah semalaman menangis, paginya Aera tidak ingin keluar kamar. Matanya bengkak dan pipinya juga ikut bengkak. Dia mengunci pintu dan menolak sarapan. Sampai-sampai Audric mendatanginya dengan kunci cadangan.


"Aku akan keluar kota pagi ini dan akan kembali besok siang. Kamu tidak akan mengantarku?"


Aera bergulung di dalam selimut. Dia tidak ingin menunjukkan wajahnya.


"Pergilah, aku tidak harus mengantarmu." sahut Aera.


"Benarkah? Bagaimana kalau aku ternyata lama?"


"Aku tidak peduli."


Audric tertawa kecil. Sebuah panggilan telepon mengalihkan perhatiannya. Tampa keluar, dia mengangkatnya.


"Kenapa, Rubel? Ada masalah?"


Aera mengintip sedikit begitu nama itu diucapkan oleh Audric. Mata mereka akhirnya bertemu satu sama lain.


"Aku akan tiba dalam setengah jam. Kita bertemu di bandara dan katakan pada mereka untuk menyiapkan laporan resmi."


Telepon ditutup, Aera menurunkan selimut dan duduk dengan benar.


"Kamu akan pergi dengan wanita kemarin? Apa dia mengenal Luisa? Gustav tidak menyebutkan namanya dalam daftar orang-orang yang aku kenal."


Audric terlihat sangat enggan memberi penjelasan tentang Rubelia. Namun dia tetap menjawab pertanyaan itu karena Aera memang harus mengetahuinya. Dimasa depan, kemungkinan mereka bertemu cukup sering.


"Dia seorang putri Duke dari Inggris. Sejak remaja, kami telah dijodohkan oleh para orang tua. Dia pindah kesini untuk menangani bisnis keluarganya yang menjadi rekan dari perusahaan keluarga Martell sejak lama. Luisa secara pribadi tidak begitu menyukainya. Tapi dia tidak pernah membuat kesalahpahaman melebar. Jadi sikapmu kemarin cukup mirip seperti yang Luisa lakukan."


Ada denyut samar yang terasa di dadanya. Aera mencengkram selimutnya tampa sadar. Keterkejutan akan fakta ini seperti menamparnya entah karena apa. Aera tidak mengerti, mengapa dia menjadi merasa sangat kecil saat ini.


'Kenapa aku jadi membandingkan diriku dengannya?' gerutunya dalam hati.


"Oh... Jadi kalian akan menikah? Kalau begitu kenapa kalian belum menikah dan malah adikmu dulu yang menikah?"


"Itu karena politik dalam negeri. Pernikahan ini akan sangat mempengaruhi pemilihan Adolf untuk menjadi Kanselir. Dia adalah tokoh politik dengan usia termuda yang sangat diharapkan oleh partai."


Audric ingin mengelus kepalanya seperti biasa, namun Aera menepisnya pelan. Dia buru-buru turun.


"Pergilah, kamu harus pergi bukan? Aku mau mandi."


Aera buru-buru masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintu. Dia tidak langsung mandi, bahkan tidak punya keinginan untuk melakukannya. Dia hanya ingin lari dari kecanggungan yang ia rasakan sendiri.


"Jangan gila, sadarlah kamu disini karena kontrak. Sebentar lagi kegilaan ini akan berakhir dalam pernikahan. Kamu hanya sebuah boneka disini." bisiknya pada siri sendiri.


Aera berjalan kedepan westafel dan mencuci wajahnya. Mata biru itu mulai berair dan memerah lagi. Dengan sekuat tenaga dia menahannya. Lalu mencuci wajahnya berkali-kali sampai baju bagian depannya basah semua.


"Tapi kenapa... Kenapa terasa lebih sakit saat mengetahui bahwa Audric akan menikahi Rubelia itu? Kenapa? Aku tidak menyukainya kan? Tidak kan?" lirihnya.


Sementara itu, Audric yang berjalan keluar juga merasakan ketidak nyamanan ketika Aera menepis tangannya. Ada rasa kecewa di dadanya ketika Aera malah menghindari perhatian kecilnya.


"Kamu akan pergi?"


Audric menghentikan langkahnya ketika dia baru saja menuruni tangga menuju halaman depan dimana mobilnya telah menunggu. Adolf baru saja tiba dengan sebuah kotak hadiah dan bunga ditangannya.


"Sudah lama aku tidak menemui calon istriku, apa kamu juga akan menghalangiku kali ini?"


Nada menantangnya membuat Audric kesal. Namun karena dikejar waktu, dia hanya pergi begitu saja tampa mengucapkan apapun. Membuat Adolf tersenyum penuh kemenangan.


"Sial!"


Audric mengumpat ketika sudah di dalam mobil. Membut supirnya meliriknya dengan bingung.


Sepanjang perjalanan, kosentrasinya terganggu. Kedatangan Adolf memberi dampak besar baginya. Dia jadi membayangkan hal yang tidak-tidak. Sederhananya, dia berpikir mereka akan melakukan hal-hal intim mengingat predikat Adolf selama ini.


"Ric? Apa yang kamu pikirkan? Sedari tadi kamu hanya menatap lembar yang sama."

__ADS_1


Rubelia yang duduk disampingnya dalam pesawat menegurnya setelah ikut terganggu dengan perilaku aneh Audric.


"Entahlah," sahutnya tak jelas.


"Ayolah, kita teman sejak lama dan kamu akan menyembunyikan sesuatu dariku?"


Audric memijit kepalanya, sejujurnya hanya Rubelia yang menganggap mereka berteman, baginya mereka tidak lebih dari sekedar rekan bisnis. Wanita anggun disebelahnya itu selalu mengucapkan hal yang sama ketika ingin mengorek informasi pribadinya.


"Aku hanya memikirkan pernikahan Luisa."


"Gadis muda dirumah Luisa itu?"


Audric menoleh dengan cepat. Menatap Rubelia dengan tajam.


"Singkirkan wajah itu. Kamu seolah akan membunuhku. Aku bertemu Luisa tadi malam. Luisa yang asli."


Audric menutup matanya sesaat, lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Rubelia tertawa kecil melihat reaksinya.


"Adikmu itu tidak mematuhimu, ya? Dia pergi kebioskop bersama seorang pria tampan. Tapi sepertinya dari kelas menengah, penampilannya sangat biasa."


"Apa yang dia katakan padamu?"


"Tidak banyak, hanya... Jangan berani membongkar rahasiaku. Bekerjasamalah dengan kakakku karena kamu juga akan menjadi kakak iparku. Dia bilang begitu."


"Anak itu langsung mengakuinya, si bodoh itu!" kesal Audric.


"Dia hanya terlalu naif dan tulus terhadap cintanya. Apa yang kamu harapkan dari adikmu yang tidak memiliki keserakahan sepertimu."


Audric tidak menanggapi ucapannya itu. Sehingga Rubelia menoleh padanya. Audric sedang menutup matanya. Seolah sedang berusaha menenangkan diri dari pikiran yang memenuhi kepalanya.


'Aku ingin tahu, apakah gadis itu akan membuat keangkuhan dan keserakahanmu jatuh, Ric.' ujarnya dalam hati.


"Jadi, apa kamu berpikir bisa membohongi Adolf dan kekuarga itu selamanya?"


"Kamu pikir sesederhana itu?"


"Tentu saja tidak."


Rubelia melihat seringai itu, perasaannya menjadi tidak enak. Dia takut hal ini akan berakhir dalam sebuah perpecahan yang mempengaruhi bisnis mereka. Rubelia tidak akan membiarkan usaha yang telah ia bangun dengan susah payah hancur.


"Jangan kawatir, aku tidak akan membiarkan kita rugi."


Seolah menjawab kegelisahannya, Audric mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan. Meski begitu, Rubelia tampak tidak yakin. Dia percaya, jika hal ini sampai ke publik, nama keluarganya akan terkena imbasnya karena mereka selalu dirumorkan akan menikah. Meskipun kemungkinan menikah dengan Audric itu selalu ada, tapi rumor berkembang terlalu cepat akhir-akhir ini.


.


Aera duduk di hadapan Adolf dengan wajah bengkak dan mata sembab. Membuat Adolf begitu terkejut mengetahui keadaannya yang tidak baik-baik saja.


"Aku harus mengikuti kelasku. Tidak bisakah kamu pulang saja?"


"Dengan keadaanmu yang begini? Tidak! Batalkan kelasnya, lagi pula Gustav tidak akan membiarkanmu pergi ketika aku ada disini."


Aera menghembuskan napasnya. "Karena itu... Pergilah!" usirnya.


"Wah... Kamu benar-benar mengusirku? Sepertinya keberanianmu meningkat akhir-akhir ini."


Aera meletakkan kepalanya diatas lengannya yang menjukur diatas meja. Membuat Adolf lagi-lagi takjub dengan sikapnya.


"Aku tidak peduli lagi. Aku tidak punya harapan lagi. Aku terjebak dalam skenario ini. Kalaupun aku mati akibat kemarahan seseorang, aku tidak peduli lagi. Setidaknya aku sudah melakukan sesuatu untuk nenek yang membesarkanku."


Perkataan putus asa deri gadis berumur 19 tahun di hadapannya, membuat Adolf terdiam. Dia adalah tokoh politik. Dia juga menangani beberapa bisnis keluarga. Sepanjang hidupnya, Adolf selalu dikelilingi manusia serakah.


Tidak peduli jika itu keluarganya sendiri, mereka semua selalu memiliki topeng disetiap wajah. Adolf hanya percaya pada kedua orang tuanya, selebihnya tidak ada yang dia percayai. Karena itu, sebuah ketulusan adalah hal yang langka dalam hidupnya.


Seluruh gadis yang pernah ia kencani juga hanya untuk bersenang-senang. Dalam hidupnya, dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Meski begitu, ia selalu merasa hampa, seolah semua kesenangan itu tidak bearti. Karena itu, bertemu dengan gadis seperti Aera yang hanya memikirkan neneknya, terjebak dalam permainan orang lain, begitu naif dan tidak memiliki keserakahan dalam hatinya, membuat ia selalu penasaran.

__ADS_1


"Kenapa kita tidak jalan-jalan? Makan es krim, nonton film atau menonton pertunjukan kembang api?"


Aera mengangkat kepalanya sedikit, melihat senyum Adolf yang tampak tulus, dia meluruskan duduknya.


"Aku bukan remaja labil."


"Huh?"


Setelah terkejut dengan jawaban Aera, Adolf tertawa keras. Sampai-sampai Gustav yang mengawasi mereka dari jauh terkejut.


"Yah, kamu sudah dewasa, bukan remaja labil. Jadi, apa yang dilakukan wanita dewasa saat kencan? Apakah kita harus melakukannya juga?"


Karena kultur Asia dan eropa yang berbeda, Adolf seperti sudah bisa menebaknya. Karena itu, Aera hanya berdecih.


"Kamu pria tua yang menyebalkan."


Adolf memegang dadanya, berpura-pura merasakan sakit hati.


"Aku dikatakan tua padahal masih 32 tahun, aku juga tampan dan memiliki tubuh yang bagus."


Aera meringis lalu tertawa geli mendengar betapa narsisnya pria dihadapannya itu. Adolf tersenyum, menatap kedalam mata Aera.


"Lihat kan, kamu jauh lebih cantik saat tertawa."


Jadi, sikap konyol Adolf sedari tadi untuk menghiburnya?


Aera ikut tersenyum, lalu menghembuskan napas kemudian.


"Hei, pernah melihat warna matamu yang asli sekali. Warna biru yang cantik, aku tidak sabar kita tinggal bersama dan bisa menatap matamu setiap hari."


Karena Adolf tiba-tiba menyinggung hal itu, Aera menjadi ingin membicarakannya.


"Tentang menikah... Apa kamu benar-benar ingin menikah?"


"Bukankah kamu tahu alasannya? Kakak palsumu itu pasti sudah menjelaskannya juga."


Entah kenapa Aera merasa Adolf sedikit kesal ketika dia menanyakan hal itu.


"Aku tahu, tapi... Apakah aku boleh mengajukan syarat?"


Adolf tidak menjawabnya. Seolah dia sudah menduga permintaan ini akan keluar dari bibir Aera. Karena Adolf tidak kunjung menjawab, Aera memilih melanjutkan perkataannya.


"Bisakah... Kita membuat perjanjian untuk jangan saling menyentuh? Aku... Aku tidak ingin memberikan diriku pada orang yang tidak aku cintai. Aku minta maaf... Aku... Aku..."


Aera tidak melanjutkan perkatannya, dia menunduk dan mengalihkan pandangannya ketika Adolf menunjukkan wajah datar sebagai tanggapan awal.


"Wajar bagimu meminta hal ini, bahkan jika Luisa yang asli yang aku nikahi, aku yakin dia akan meminta hal yang sama. Karena ini pernikahan yang tidak didasari cinta. Jangan merasa bersalah, meskipun aku tidak menyukai hal itu keluar dari dirimu."


Aera menelan ludahnya dengan berat. Bertanya-tanya alasan Adolf tidak suka jika dia yang bicara seperti itu. Apa jika Luisa dia akan bisa menerimanya?


"Lupakan hal itu, ayo kita kencan hari ini. Setidaknya kamu harus menghibur hatiku yang telah kamu patahkan."


"Apa sih! Kamu bicara seolah kamu jatuh cin..."


Aera berhenti bicara, matanya membelalak dan terdiam menatap Adolf yang terlihat santai.


"Ekspresimu imut sekali. Aku pernah bilang tidak kalau kamu adalah orang yang gampang disukai? Jadi, bagi hatiku yang lemah ini... Rasanya sangat sakit kamu menolakku sebelum cintaku berkembang."


"Kamu bicara apa sih! Jangan main-main!"


Adolf terkekeh. Dia memang tertarik dan penasaran pada Aera, namun baru sampai tahap itu. Dia belum yakin bahwa hatinya telah jatuh. Tapi siapa yang tahu, dia yang selalu bermain-main dengan wanita, pada dasarnya tidak pernah benar-benar jatuh cinta selama ini.


"Tenang saja, aku akan membuat cinta bersemi diantara kita. Bahkan jika rahasia ini terbongkar, aku tidak akan menyesal menikahimu."


Adolf tersenyum dengan percaya diri. Aera benar-benar tidak mengerti bagaimana cara pria dihadapannya menilai sebuah hubungan. Baginya yang menganggap cinta penting dalam pernikahan, sama sekali tidak setuju dengan prinsip yang Adolf pegang. Dia seperti sedang bermain-main dan sama sekali tidak kawatir akan kegagalan dalam hubungannya.

__ADS_1


__ADS_2