BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Aera yang menangis


__ADS_3

Hari ketiga kepergian Audric, dia sedang menuju kelokasi yang telah ditentukan untuk menemui presiden. Namun Audric dalam suasana hati yang tidak baik sejak Friedrick dan Ivon memberi laporan yang sama, yaitu kedatangan Ivana.


Bukan kedatangan wanita itu yang membuat Audric gelisah, tapi karena sejak pagi pesan dan panggilannya diabaikan.


"Tuan, Anda yakin akan menemui presiden dengan ekspresi seperti itu?" tanya Harald, dia melirik Audric yang duduk disampingnya.


"Kenapa dia mengabaikanku? Apa dia marah?"


Harald menggeleng pelan. Prihatin sekaligus geli dengan tingkah atasannya itu.


"Anda kan bukan anak remaja lagi. Kenapa Anda gelisah hanya karena hal itu? Anda kan tahu pagi ini Nona kuliah."


"Aku tahu, memangnya sesibuk apa sampai tidak membaca pesanku!"


'Ya ampun... Dia mulai lagi kalau sudah menyangkut Nona, Anda benar-benar sudah tak tertolong. Dia sudah menjadi budak cinta.'


Harald mengirim pesan pada Ivon. Bagusnya Ivon langsung membalasnya dengan cepat. Ivon tampaknya juga waspada akan panggilan Audric karena ponsel Aera tertinggal. Ivon juga telah menyuruh bawahannya untuk mengantarkan ponsel Aera namun belum sampai.


"Kata Ivon Nona meninggalkan ponselnya dirumah. Sekarang Nona sedang di perpustakaan bersama teman sekelasnya."


"Kenapa dia meninggalkan ponselnya?"


"Seseorang telah membawakannya untuk Nona."


"Ah... Ini gila. Lain kali aku akan membawanya bersamaku." gumam Audric.


Harald mengernyit, lalu membuat ekspresi meminta tolong dengan frustasi. Berharap tuannya tidak melakukan hal gila itu. Tidak peduli dia mencintai Aera atau merindukannya, Aera kan juga punya dunianya sendiri.


"Anda tidak boleh terlalu mengikatnya, Tuan. Jika dia bosan dan lari dari Anda bagaimana? Berilah dia sedikit ruang."


"Bukankah aku sudah melakukannya? Aku membirkan dia kuliah, membiarkan dia latihan bela diri dimana hanya ada laki-laki disana. Memberikan apa yang dia inginkan."


"Yah, Anda benar sih. Tapi jangan terlalu mendorong perasaan Anda terlalu jauh, Tuan. Itu bisa membebaninya. Dia bisa tidak nyaman. Apalagi Anda tahu kan? Saat ini Nona terlihat membuat dinding, Nona juga terlihat banyak pikiran sejak penyerangan itu."


Audric tahu apa yang dimaksud Harald. Bahwa Aera tidak terbiasa dengan dunianya.


"Apa dia akan meninggalkanku jika tahu caraku memperlakukan musuh-musuhku? Sejak awal kan dia tahu sifatku. Apa menurutmu dia terpaksa menerimaku karena dendamnya saja?"


"Saya tidak melihatnya demikian, saya rasa Nona menyukai Anda juga. Tapi Nona karena bisa meninggalkan Anda demi neneknya saat itu, bukan tidak mungkin dia akan melakukan hal yang sama jika ada pencetus lain. Anda harus mengikat hatinya lebih dalam sebelum dia tahu rahasia-rahasia kekejaman Anda. Bagaimanapun, Anda tidak akan bisa menjaga rahasia Anda selamanya. Apalagi melihat pergerakan adik Anda, tampaknya dia sedang menggerakkan pion-pionnya."


"Penghianat itu dan bibi Ivana, aku tahu Luisa pasti membantu keinginan mereka. Dia selalu mengambil kesempatan apapun yang dia lihat."


"Nah, Anda tahu itu. Jadi apakah Nona akan lebih percaya pada Anda atau pada mereka, apa Anda tidak ingin melihatnya?"


"Jadi maksudmu aku harus menonton saja mereka melakukan hal itu?"


Harald tersenyum, namun mendapat lirikan tajam dari Audric.


"Aku tidak akan bermain-main dengan perasaan Aera, sialan!" kesal Audric.


'Seperti dugaanku, dia akan mengatakan hal itu. Tapi mau tidak mau Anda tidak akan bisa berbuat banyak kali ini. Tangan yang telah dipenuhi darah musuh itu tidak semudah itu dicuci.'


.


Aera mengabaikan pesan Audric meski dia telah melihatnya. Aera terlalu sibuk jika meladeni sikap Audric yang menurutnya tidak masuk akal.


"Nona, apa Anda tidak akan menjawab pesan Tuan lagi?" tanya Ivon.


Mereka telah pulang dan saat ini Aera sedang melakukan peregangan. Mereka sedang ada di lapangan samping gedung latihan. Penjaga kandang juga telah membawa kuda yang akan dipakai Aera latihan untuk pertama kalinya.


"Kamu dan Friedrick kan sudah melaporkan jadwal dan seluruh apa yang aku lakukan. Dia hanya mengulang pertanyaan itu padaku. Apa aku anak kecil yang harus di test? Atau dia kurang kerjaan? Kenapa dia bertanya tentang hal yang sudah ia ketahui?" omel Aera.


"Anda bukannya sedang menghindari Tuan, kan?"


"Cih! Buat apa aku melakukan hal itu?"


Aera mengelus kepala kuda itu dan dia tersenyum karena kuda itu terlihat ramah padanya.


"Sejak penyerangan itu, Anda memang terlihat menjaga jarak."


Aera tersentak, dia tidak menyangka Ivon menyadari sikapnya.

__ADS_1


"Wah, aku terkejut kamu mengatakan hal itu. Aku pikir kamu tidak suka ikut campur."


Ivon memberi isyarat agar meraih tangannya karena dia akan membantu Aera untuk naik keatas kudanya.


"Saya adalah kepala pasukan keamanan keluarga Martell, terutama kepala keluarga. Tuan adalah prioritas utama saya. Segala hal, termasuk kestabilan emosi beliau harus saya perhatikan."


Aera menunduk sedikit karena posisinya. Mata mereka bertemu, Ivon seolah mengatakan lewat pandangannya bahwa Aera harus menjaga sikapnya.


"Aku baru tahu kamu tidak menyukaiku, Ivon."


Ivon ikut melompat naik keatas kuda, tepat dibelakang Aera.


"Pegang talinya dengan erat dan pastikan pijakan kaki Anda pas." kata Ivon, lalu memegang tali yang sama tepat dibelakang tangan Aera.


"Tarik seperti ini." Ivon mencontohkannya dengan baik, kuda mulai berjalan pelan. "Saya bukannya tidak menyukai Anda, Nona. Menurut saya, pendamping Tuan haruslah memahami beliau, mendukungnya dan jadi sandaran yang tepat saat beliau butuh sandaran. Setidaknya, dia harus kuat saat Tuan menunjukkan sisinya yang lain."


Tiba-tiba Ivon kembali pada pembahasan mereka tadi.


"Apa maksudmu? Apa kamu ingin mengatakan sisi kejam Audric yang harus aku maklumi?"


"Entahlah, Anda bisa menilainya sendiri. Karena dunia dan cara pandang kalian yang berbeda, saya menjadi kawatir. Karena itulah saya mengatakan hal itu."


Aera mendengus, dia tahu maksud Ivon. Bahwa Aera bisa menjadi batu sandungan bagi Audric suatu hari nanti. Entah kenapa dia merasa kesal mendengarnya walaupun dia sadar bahwa Ivon mengatakan hal yang benar.


Meskipun sikap Ivon kaku padanya, tapi Aera akui dia adalah pelatih yang hebat. Hari pertama saja Aera sudah mengerti dengan baik meski Ivon belum memberinya izin menaiki kudanya sendirian. Namun pria itu tidak segan-segan memuji kemampuan Aera yang mudah belajar setelah selesai latihan.


.


"Nona, apa yang Anda pikirkan?"


Hari sudah malam, Aera duduk di bangku taman kesukaannya. Ivon sedang berbicara dengan beberapa orang yang tampak melapor padanya.


"Tidak ada apa-apa, Olivia."


"Apa Nona merindukan, Tuan? Karena itu Nona banyak diam hari ini?"


'Rindu ya, entah sejak kapan aku tidak memikirkan hal itu lagi. Hubungan kami terasa hambar dan menyebalkan. Kenapa aku merasakan hal seperti ini?'


"Nona, Anda belum makan malam..." Olivia akhirnya mengalihkan pertanyaan tadi karena Aera malah terlihat semakin murung.


Melihat Olivia yang kawatir sejak tadi, Aera tersenyum kecil.


"Aku tidak apa-apa Olive, aku juga tidak lapar. Kamu bisa istirahat di dalam, aku akan disini sebentar lagi."


Olivia melirik Ivon yang berjalan kembali ke tempat mereka. Olivia tahu perkataan Aera itu bearti dia ingin sendirian, jadi dia memilih pergi. Karena Ivon juga hanya akan berdiri diam disana jika Aera tidak mengajak bicar, jadi Olivia tidak memberikan tanda apapun.


Benar saja, Ivon hanya berdiri disana. Memperhatikan sekeliling dan sesekali memeriksa ponselnya untuk melihat pesan Harald yang berisik sejak tadi.


Ivon melirik Aera, menghela napas ketika tahu lagi-lagi Aera meninggalkan ponselnya dikamar.


"Nona, apa Anda masih mengabaikan Tuan?" akhirnya Ivon membahas hal ini lagi.


"Aku sudah membalas pesannya tadi."


"Hanya satu kali?"


"Memangnya aku harus membalasnya tiap detik, yang dia tanyakan hanyalah hal yang sudah ia ketahui."


Terdengar datar dan tidak tertarik. Ivon yang peka, tentu saja tahu ada sesuatu yang mengganggu wanita dihadapannya ini.


"Sebenarnya apa yang dikatakan Nyonya Ivana pada Anda?"


"Duduklah, aku risih hanya mendengar suaramu dibelakangku." suruh Aera.


Ivon mau tidak mau duduk dihadapannya, menatap Aera tampa ragu. Sorot matanya masih sama seperti tadi saat mereka latihan berkuda. Aera bisa melihat ketidak sukaan disana. Tapi yang menarik adalah, Aera juga yakin tidak ada kebencian disana. Ivon hanya tidak mempercayainya sampai detik ini.


"Menurutmu apa yang bibi Audric itu inginkan dariku?" tanya Aera.


Ivon tidak langsung menjawab, sorot mata Aera membuatnya tidak nyaman. Sorot mata yang menantangnya untuk menemukan kebenaran itu sendiri.


"Saya harap Anda tidak melakukan hal yang bisa menghianati Tuan."

__ADS_1


"Ck, mana mungkin. Aku masih sayang pada nyawaku. Bukankah dia akan melenyapkan siapapun yang menghianatinya?"


'Hah... Jadi karena itu?'


Ivon mulai menemukan hal yang mungkin membuat sikap Aera aneh akhir-akhir ini.


"Dia hanya melakukan itu pada mereka yang telah melakukan kesalahan tak termaafkan."


"Kesalahan tak termaafkan, jadi apa yang dilakukan Luisa, membunuh nenekku masih termaafkan baginya. Itu kan maksudmu?"


Deg!


Ivon tidak menyangka Aera akan mengajukan pertanyaan yang menghubungkan hal ini dengan neneknya.


"Anda bisa menanyakan langsung pada Tuan untuk hal itu. Tapi saya yakin bukan seperti yang Nona pikirkan. Tuan pasti punya rencananya sendiri."


Ivon lagi-lagi terkejut, kali ini Aera tampak sedih. Aera menunduk sesaat lalu membuang pandangannya kearah lain.


"Mengenai nenek Anda..."


"Jangan bahas lagi."


Suara serak menahan tangis itu membuat Ivon terbelalak. Aera menghapus air matanya lalu berdiri dengan cepat. Ivon yang bingung karena Aera yang tiba-tiba menangis hanya bisa mengikutinya, karena dia harus terus mengawal kemanapun Aera melangkah.


Ivon baru berhenti ketika dia berada di depan pintu kamar yang tertutup. Aera masuk kesana dengan air mata yang terus turun.


Suara langkah kaki tergesa-gesa membuat Ivon menoleh ke kiri. Yohanes yang datang.


"Aku melihatnya menangis ketika naik tangga. Apa yang terjadi?"


"Saya juga tidak tahu." jawav Ivon cepat.


Yohanes berdecak kesal, dia hendak membuka pintu tapi Ivon menahannya.


"Apa yang kamu lakukan?" kesal Yohanes.


"Nona ingin sendirian, jadi biarkan dia sendirian." jawabnya.


Yohanes menarik tangannya dan menatap Ivon dengan penuh kecurigaan.


"Kamu! Apa yang telah kamu lakukan padanya?"


"Saya tidak melakukan apapun."


"Jangan mengelak, sejak awal aku sudah tahu kamu tidak menyukai Aera!"


"Saya tidak begitu, Tuan Yohanes." jawaban tegas Ivon membuat Yohanes menyudahi tuduhannya.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?"


Ivon tidak langsung menjawab, dia juga tidak yakin bagian mana yang membuat Aera menangis.


"Tentang neneknya... Mungkin dia teringat neneknya dan..."


"Cukup!" potong Yohanes.


'Kenapa Aera sampai membicarakan hal pribadi seperti itu dengan orang ini?' kesalnya.


Yohanes menoleh pada pintu lagi, namun kali ini tidak ingin membukanya. Dia segera meninggalkan tempat itu. Memutuskan membiarkan Aera menangis untuk menenangkan dirinya. Perihal neneknya, Yohanes juga tidak akan bisa melakukan apapun untuk menghiburnya. Karena itu dia memilih pergi.


"Sial! Apa yang harus aku katakan pada Tuan?" gumam Ivon ketika melihat layar ponselnya yang kini menampilkan nama kepala keluarga.


"Ya, Tuan?"


"Nona sudah masuk ke kamar_ Dia tidak makan malam_ Sepertinya Nona tidak selera makan." Entah kenapa Ivon enggan mengatakan tentang Aera yang menangis, tapi dia tidak bisa menghianati Tuannya.


"Saya tidak bisa memberikan ponsel saya sekarang... Karena Nona sedang menangis."


Keringat dingin langsung keluar dari pelipisnya ketika mendengar pertanyaan Audric selanjutnya.


"Saya juga tidak mengerti, Tuan. Sepertinya dia teringat neneknya. Tadi kami sedang membahas tentang kedatangan Nyonya Ivana, lalu dia tiba-tiba menyebut neneknya. Saya tidak yakin tapi saya pikir itulah penyebab dia menangis."

__ADS_1


Panggilan ditutup begitu saja. Ivon yakin Audric akan sangat gelisah disana. Tapi seperti yang dikatakan Harald. Audric tidak bisa pulang sekarang kalau tidak ingin dipaksa ikut terlibat dalam politik luar negri yang bisa merugikan nama keluarga Martell.


__ADS_2