
Dua laki-laki tua berbeda umur, Adriana dan suaminya Gilbert, Pamannya Abert dan Ivana,Luisa , serta dua kepala keluarga kecil lainnya mengadakan pertemuan. Mereka bertemu disebuah restoran yang dikelola oleh salah satu dari mereka. Pertemuan itu sangat privat, tapi tampa mereka sadari, seorang pria mengintai mereka dengan menyamar sebagai petugas kebersihan.
"Kenapa sepupuku tidak hadir, Bibi? Bukankah dia tokoh utamanya saat ini?"
Luisa menangkap rasa gugup Adriana, namun wanita kepala kepala empat itu berhasil mengatasinya. Dia tersenyum kecil seolah tidak ada masalah apapun.
"Isaac, dia sedang menuju kemari. Tolong maafkan keterlambatannya."
"Bibi tahu kenapa keluarga ini bertahan sampai detik ini? Salah satunya adalah menghargai waktu orang lain. Aku dan dua tetua disini berupaya untuknya, tapi apa hanya ini yang bisa ia tunjukkan?"
"Tenanglah Luisa, jangan terburu-buru. Aku mengetahui kemampuan Isaac, dia pasti punya alasan untuk ini." bela Abert.
"Bagaimana dengan pembahasan pasangan Audric terlebih dahulu? Jika rencana baru ini gagal, kita tidak bisa membiarkan mereka menikah."
Luisa tahu kenapa Abert membahas pasangan Audric. Pamannya ternyata belum menyerah mengenai Rubelia. Pernikahan yang akan menguntungkan bagi Martell secara keseluruhan. Dengan begitu Abert terbebas dari bayang-bayang kemiskinan yang terus mengancamnya saat ini karena dia sudah menancapkan kukunya dinegara itu.
"Paman, aku juga ingin pasangan lain untuk kakakku. Tapi, gadis itu dijaga langsung oleh Ivon. Apa kalian tahu siapa dia?"
"Aku pernah bertemu dengannya, pria yang selama ini hanya aku dengar namanya itu." sahut Ivana.
Itu adalah pertemua pertama Ivana secara sadar. Karena selama ini Ivon melakukan penyamaran dan menyembunyikan wajahnya. Saat Ivana datang, dia sedang tidak dalam penyamaran.
"Bayang-bayang Audric itu, biasanya menyembunyikan diri dengan baik. Tapi saat ini dia menunjukkan wajahnya aslinya bahkan di depan pelayan dan banyak orang. Dia adalah mesin pembunuh kakakku. Karena itulah Dimitri gagal saat itu. Karena aku meremehkan fakta siapa Ivon sebenarnya."
Luisa berhenti sejenak karena kedatangan seseorang. Dia adalah Isaac. Pria yang lebih muda dari Audric tapi lebih tua darinya. Setelah memberi salam, Isaac duduk disamping ayahnya.
"Kita tidak bisa mengincar Aera saat ini, terutama jika Ivon berada disisinya."
"Aera itu... Gadis yang mirip denganmu, kan? Aku dengar kalian satu ibu."
Isaac tiba-tiba menyela. Fakta yang belum diketahui keluarga Martell lain. Luisa sangat membenci fakta ini. Apalagi ketika menyadari semua orang disana saling bertukar pandang.
"Apa yang kamu katakan, Isaac?" tanya Adriana.
"Aku juga baru tahu. Bukankah ini sangat menarik?"
Luisa menatapnya tajam. Menyadari hal itu, Isaac tersenyum lebar.
"Jangan kawatirkan apapun adikku... Aku tidak sedang menyerangmu. Aku hanya penasaran saja. Bagaimanapun, sangat menarik terlibat dengan konspirasi ini. Aku sangat senang kamu menghilangkan kebosananku."
Luisa sempat lupa kalau Isaac adalah ular berkepala dua. Dia tidak bisa diprediksi. Sejauh ini Luisa bisa memastikan dia menginginkan posisi Audric, tapi dia tidak punya power untuk melakukannya. Karena itulah Luisa mengusulkan Isaac sebagai kandidat untuk menggantikan kakaknya.
"Tunggu, apa maksudmu dengan satu ibu?" tanya salah satu tetua.
"Tidak perlu kawatirkan itu kakek." jawab Isaac, mereka memang memanggil kakek pada para tetua. "Kak Luisa tidak akan nyaman nanti."
Isaac tersenyum ramah. Menampilkan kesan positif dan hangat. Membuat siapapun yang tak mengenalnya akan berpikiran bahwa dia adalah orang yang sangat lembut.
"Hal ini adalah rahasia kepala keluarga terdahulu. Tidak ada perselingkuhan, tenang saja. Mereka hanya meminjam rahim wanita lain karena ibu mengalami masalah kesehatan. Meski kami saudara tiri, kalian semua tahu aku diperlakukan seistimewa apa bukan? Ini bukan masalah besar. Jadi tidak masalah jika kalian ingin tahu."
Semua orang bertukar pandang. Luisa memang terlihat tenang, tapi siapapun diruangan itu tahu dia hanya menahannya dengan baik.
"Jadi, bagaimana kalau kita memulai rencananya besok? Karena pestanya sudah ditetapkan lusa." ujar Isaac.
Pada akhirnya dia juga yang mengakhiri suasana canggung itu.
"Bagaimana kalau puncak penyerangan adalah kematian Leonor?" usul salah satu kepala rumah tangga.
"Jangan bawa-bawa anakku, itu terdengar menyakitkan." tolak Ivana.
"Ini masalah kepemimpinan dalam keluarga Martell, menyerangnya dengan kejahatan antar keluarga lebih masuk akal dari pada isu sosial dan politik. Kita sama-sama tidak menginginkan nama Martell rusak." kata salah satu tetua.
Abert melirik istrinya yang tampak cemas alih-alih bersedih. Sejak lama dia memang merasa aneh dengan sikap istrinya jika menyangkut anak mereka yang telah meninggal, tapi Abert tidak mencurigai apapun. Dia percaya dan yakin telah mengontrol anggota keluarganya dengan baik selama ini.
"Ivana, kita perlu melakukan ini. Tahanlah kesedihanmu, ini demi membalas kematian anak kita. Pembunuh itu harus kita balas dengan setimpal."
__ADS_1
Ivana menunduk, menunjukkan kesedihan untuk menutupi kecemasannya. Dia melirik Luisa yang ternyata sejak tadi memperhatikan ekspresinya.
Luisa tidak menunjukkan ekspresi apapun. Meski tahu sorot mata bibinya meminta pertolongan, namun dia tidak membuka mulutnya sama sekali. Membuat Ivana semakin gelisah dan takut.
Namun, mana mungkin Luisa akan menyetujui senjata makan tuan yang akan terjadi nanti, wanita itu mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja, berpikir bagaimana cara membelokkan pemikiran orang-orang disana.
"Selama ini kakakku punya alibi dan tidak ada bukti kuat dia membunuh Leonor. Seandainya ada satu bukti yang tak terbantahkan, kita bisa memakai cara itu."
Orang-orang tampak mengangguk setuju.
"Bagaimana dengan cara yang sedikit ekstrim?" sela Isaac.
Semua mata mengarah padanya.
"Memegang kelemahannya." lanjut Isaac dengan sangat percaya diri.
"Kamu tahu ada Ivon disekitar gadis itu. Jika kamu bisa menyingkirkannya, maka semua akan jadi lebih mudah." seru tetua satu lagi, yang lebih tua dari yang sebelumnya.
"Orang-orang dirumah utama dikuasai oleh Friedrick dan Ivon, mereka cenderung setia." tambah Luisa.
"Maka gunakan kelemahan salah satu dari mereka. Jika kita mendapatkan wanita itu, kita bisa memaksanya untuk turun tahta. Ini akan menjadi kudeta bagi keluarga Martell." kata Isaac.
"Tapi kita akan melawan banyak pihak yang berada disisi Audric," sela ayahnya, sementara ibunya, Adriana hanya diam. Alih-alih mendukung, dia tampak terpaksa ada disana.
"Karena itu kita butuh rencana matang yang harus didiskusikan malam ini, Ayah." Isaac menyeringai, pria berambut kuning ini memang sedikit tidak waras.
.
Sementara itu, dikediaman Martell sedang ada perang kecil. Sejak kejadian dirumah sakit tadi, Audric bersikap sangat kejam pada Ivon yang baru saja akan beristirahat setelah menerima banyak laporan begitu dia tiba. Dia memaksa Ivon melakukan latihan duel dengannya.
Awalnya, Aera sama sekali tidak tahu. Namun ketika Max tidak sengaja membahasnya bersama Jake, pengawal Aera untuk sementara, Aera jadi tahu apa yang terjadi.
Karena itu, disinilah dia. Di arena latihan tinju, dimana Audric dan Ivon sedang latihan tanding.
Gadis itu sedang memakai gaun panjang dan sepatu hak tinggi karena tadi sedang mencoba beberapa gaun yang akan ia kenakan besok.
"Ric! Ivon! Hentikan latihannya apa kalian sudah gila!" teriak Aera.
Pengawal yang sedang latihan maupun yang sedang bertugas semuanya terlihat tegang sejak tadi. Masalahnya, Audric tidak sedang ingin latihan tapi lebih kearah menyiksa.
'Bagaimana orang sibuk ini bisa melakukan hal ini sekarang?' keluah Aera.
"Kenapa kamu disini? Setelah mencoba gaun harusnya kamu melanjutkan istirahat." kata Audric.
Aera mengenyit, nada bicara Audric sangat berbeda. Sinis dan terkesan sangat kesal. Seperti anak kecil yang ingin dibujuk saat sedang merajuk.
"Apa sih! Ada apa denganmu? Kamu tidak lihat Ivon kesakitan? Lukanya kan belum terlalu kering!"
Wajah Audric mulai mengeras, dia menatap Ivon dengan sorot yang sangat tajam.
"Oh, jadi kamu berlari kesini karena kawatir padanya?"
"Bukankah harusnya begitu? Dia baru saja keluar dari rumah sakit."
"Hal ini biasa bagi mereka. Luka kecil harusnya tidak mempengaruhinya." Audric semakin menggelap. Jelas sekali dia semakin marah.
"No-Nona, sebaiknya Anda biarkan saja." bisik Jake yang tampak takut.
Ivon memang kesakitan, tapi dia tidak terlihat mempermasalahkan latihan itu. Dia tahu Audric sedang marah padanya. Namun menghukumnya dengan kejam bukan menjadi caranya lagi, Ivon bahkan sangat kagum pada perubahan Audric ini.
Jika Audric yang dulu, dia akan kenginjak jahitan di pahanya dan menekannya, lalu mungkin saja satu atau dua tambahan luka baru akan ia dapatkan. Audric tidak main-main saat menghukum bawahannya yang membuatnya marah besar.
"Tuan, sebenarnya ada sesuatu yang harus saya laporkan pada Anda tadi. Apa Anda masih ingin latihan?" tanya Ivon dengan tenang.
"Kamu merasa diatas angin karena dibela?" desis Audric yang hanya bisa didengar oleh Ivon karena jarak.
__ADS_1
'Ah, dia semakin marah.'
Aera menghela napas dan naik keatas ring begitu melihat mereka akan mulai lagi. Dia berdiri di depan Audric dan langsung menciumnya.
Tentu saja semua orang terkejut. Aera yang selama ini mereka tahu sangat polos berani mencium Audric di depan orang-orang. Mereka semua langsung menundukkan kepala, terkecuali Ivon yang masih syok berat. Pria itu akhirnya bisa mengendalikan dirinya ketika Aera telah menarik dirinya lagi.
Lalu bagaimana dengan Audric sendiri?
Pria dewasa itu tercengang beberapa detik. Ketika Aera melepaskan tangannya dari wajah Audric, barulah ia tersadar. Wajahnya memerah dan terlihat berbunga-bunga.
"Ayo pergi." ajak Aera.
"Satu ciuman lagi maka aku akan ikut denganmu."
"Jangan gila! Ayo kembali!"
Bukan hanya Audric, Aera juga sebenarnya sangat malu. Dia tidak tahu dari mana datangnya keberanian itu hingga dia melakukan cara memalukan untuk membujuk Audric.
"Kalau begitu aku akan lanjutkan latihan."
"Ck! Sudah tua masih saja kekanakan, apa dia tidak malu!" gerutu Aera dalam bahasa Indonesia.
Dia memegang kedua pergelangan tangan Audric yang masih memakai sarung tinju, lalu mempertemukan pandangan mereka.
"Aku ingin bersamamu, memilih gaun bersama dan ingin kamu menilai penampilanku. Pakaianmu juga sudah tiba, aku ingin kamu mencobanya di depanku."
Hebatnya, cara ini berhasil. Audric langsung tersenyum lebar dan melepas sarung tinjunya. Meraih tangan Aera dan membawanya pergi.
'Sangat manis, dia ingin aku bersamanya... Itu sangat manis.' senang Audric dalam hati.
"Hah... Padahal aku harus menyampaikan kabar penting ini." keluh Ivon.
Dengan kaki sedikit pincang, dia ikut turun. Dia memilih mengirim pesan pada Harald yang masih dikantor, lalu pergi menuju kamar pribadinya untuk beristirahat sejenak.
.
Friedrick dan Olivia tidak bisa menahan senyuman mereka ketika melihat tingkah tuan mereka. Audric yang selama ini terkenal dingin dan angkuh, terus menempel dan melakukan skinship sebanyak mungkin, juga melakukan hal yang tidak biasanya ia lakukan untuk menarik perhatian.
"Berhenti memainkan rambutku dan mulailah makan." keluh Aera.
Saat ini mereka sedang makan siang setelah selesai mencoba baju dan perancang juga sudah pergi untuk mengepaskan pesanan mereka. Sedikit terlambat untuk makan siang, tapi itu bukan masalah bagi keduanya.
"Aku sengaja mengosongkan jadwalku hari ini. Tapi tadi pagi aku malah dibuat kesal. Jadi sekarang jangan melarangku melakukan apapun yang aku suka!" sahut Audric.
Aera tertawa kecil, membuat Audric ikut tersenyum lebar. Mereka makan digazebo luar, tepat di area taman kesukaan Aera. Audric duduk bersandar disamping Aera yang sedang makan dan mengabaikan piringnya hanya untuk memperhatikan setiap gerakan kekasihnya.
"Buka mulutmu."
Aera menyuapinya karena Audric sejak tadi hanya memainkan rambutnya yang panjang.
"Lehermu kenapa sekecil ini?"
Audric mengelus leher Aera dengan punggung jarinya, membuat Aera tersentak dan meletakkan sendoknya.
"Jangan lakukan itu, aku terkejut tahu!"
"Kamu sangat sensitif, apa ini sangat geli."
Aera memerah, Audric menyeringai. Godaannya berhasil, dia terkekeh ketika Aera menatapnya kesal.
"Jangan marah padaku, salahkan tubuhmu yang sensitif. Itu baru leher, bagaimana area lain yang aku sentuh."
"Hentikan pikiran itu dan buka mulutmu."
Aera berhasil mengatasi rasa malunya. Dia mulai menyuapi Audric sembari terus menepis tangan Audric yang lagi-lagi menyentuh leher dan telinganya. Pria itu sengaja mengusilinya hanya untuk bersenang-senang.
__ADS_1