
*Dalam setiap titik kehidupan seseorang, mereka akan memiliki satu hal berharga yang menjadi tonggak keputusan. Apakah itu sebuah prinsip hidup, cinta, atau sekedar keegoisan dan harga diri.
Selalu ada alasan dibalik semua perbuatan*.
Aera menutup bukunya. Menatap udara kosong melalui balkon kamar barunya. Udara musim semi begitu membuai, dia merasa mengantuk tapi tidak ingin tidur.
"Selalu ada alasan dibalik semua perbuatan." bisiknya.
Udara yang terasa kosong tiba-tiba terasa mencekiknya. Semua kenangan masa kecil hingga ia tumbuh dewasa muncul satu persatu.
Dari semua kenangan berharga bersama sang nenek yang penuh cinta, Aera selalu merasa kekosongan menderanya ketika semua anak disekelilingnya bisa memanggil seseorang dengan ibu dan ayah.
Bukannya tidak peduli, selama ini Aera hanya memendamnya. Karena ia merasa cukup dengan kehadiran sang nenek yang menjadi segalanya baginya. Dan dia tidak ingin kehilangan itu. Neneknya harus sembuh.
Seorang ibu tua, yang dipanggil nenek oleh Aera sesungguhnya masih bisa ia panggil ibu. Tapi Aera tidak pernah melakukannya sejak ia tahu dia bukanlah anak kandung neneknya. Alasannya saat itu, karena ia ingin menemukan orang tuanya.
Sayangnya, semakin dewasa, keinginan itu berubah menjadi sebuah kebencian. Aera tidak ingin mencarinya lagi. Aera merasa ditinggalkan. Sehingga, neneknya yang kini berumur 55 tahun itu menjadi alasan Aera untuk hidup dengan bahagia.
"Nona! Apa yang terjadi?"
Friedrick yang menghanpirinya terkait jadwal kuliahnya begitu terkejut. Aera terisak dan bersimbah air mata. Buku yang masih terbuka basah karena air matanya.
Friedrick menyingkirkan buku itu lalu berlutut dihadapannya. Dia mengeluarkan sapu tangan dan mengelap air mata itu. Setelah itu, dia memeluk Aera dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Jika ada yang mengganggu Anda katakan pada saya. Jangan menangis sendirian seperti ini."
Aera tidak menjawabnya, dia bahkan tidak sadar telah terisak berapa lama. Dia juga tidak ingin menangis. Tapi entah kenapa air matanya terus turun dan membuat dadanya terasa semakin sesak.
"Apa Anda ingin menunda jadwal kuliah?"
Aera menggeleng, dia masih bersandar dipundak Friedrick.
"Maafkan aku, Friedrick. Bajumu... Jadi kotor."
Friedrick tertawa, entah mengapa sikap tegas dan kakunya tiba-tiba melunak.
"Jangan kawatirkan itu. Sekarang Anda sudah baik-baik saja?"
"Hmm," Aera menarik diri, lalu mengusap sisa air matanya.
"Mata Anda jadi sangat bengkak. Adel, tutupi wajah sembab Nona dengan sedikit riasan."
Aera melirik kesamping, tidak sadar bahwa wanita yang dua hari lalu dikenalkan sebagai pelayannya ada disana. Dia tampak sangat cemas melihat Aera.
Tiga hari yang lalu, Audric pergi keluar negri. Dia tidak menemui dan berbicara dengan Aera sejak malam itu. Bahkan tidak menyapanya ketika melewati Aera yang turun dari tangga. Sejak saat itulah, Aera merasa ditelantarkan. Hari-harinya menjadi murung. Adolf juga tidak menghubunginya sejak dua hari yang lalu karena pekerjaannya.
Setelah selesai dirias, Aera dibawa menuju tempat pertemuan. Sebuah rumah yang cukup besar, dia akan disana seharian ini untuk menyelesaikan banyak materi. Hal itu dikarenakan pernikahan yang semakin sekat.
.
Audric yang masih berada di Perancis, mengetahui Aera menangis pagi ini mulai tampak terganggu. Dua hari belakangan ini, dia masih bersikap biasa meski tahu Aera sedikit berubah. Tapi ketika mendengar Aera menangis, hatinya menjadi lebih gelisah.
"Apa mungkin kita bisa pulang lebih cepat, Harald?"
Mereka sedang memeriksa masalah yang terjadi pada salah satu perusahaan perbankan disana. Audric terpaksa turun tangan langsung karena dia tidak pernah menpercayai siapapun jika sudah terjadi penyelewengan.
"Saya tidak bisa menjanjikan apapun, Sir. Anda tahu masalah disini tidak sederhana. Apa anda kawatir dengan Nona Aera?"
"Kita harus cepat, masalah pernikahan juga harus selesai. Pemilihan sebentar lagi. Aku bahkan harus menunda mematahkan tangan wanita tua itu."
Wanita tua yang dimaksud Audric adalah pelaku yang membicorkan rahasia Luisa pada Zagman. Dia adalah mantan pelayan Luisa yang diberhentikan ketika Aera datang. Audric harus menyerahkan tanah miliknya pada Zagman karena hal itu. Tentu saja dia akan merebutnya kembali, Audric hanya menunggu momen yang pas untuk melakukannya. Mereka belum mendapatkan bukti foto itu.
"Sir, Anda yakin menyerahkan Nona Aera pada Adolf?"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Kamu tahu kontraknya."
Harald tidak pernah melihat Audric tertarik dengan wanita sebelumnya. Tapi melihat sikap Audric saat ini, Harald merasa dia akan memiliki waktu yang berat.
"Anda tidak pernah kawatir pada siapapun sebelumnya, bahkan pada Nona Luisa. Nona Aera begitu rapuh dan naif. Dia terlihat mudah percaya pada orang tapi sesungguhnya dia cukup kuat dan berhati-hati. Anda pasti menyadarinya juga."
__ADS_1
Audric meletakkan penanya dan mengangkat kepalanya. Menatap Harald yang juga menatapnya.
"Apa yang ingin kamu sampaikan sebenarnya?"
"Mr.CEO. Saya seperti melihat sebuah gunung api yang siap meledak saat Anda melihat orang lain menaruh perhatian padanya. Lalu, bagaimana jika tangan itu digenggam pria lain dihadapan Anda?"
Audric mengeraskan rahangnya. Harald tahu dia sudah terlalu lancang. Dia tahu Audric sangat terganggu dan marah saat ini. Tapi entah kenapa, mengingat wajah Aera yang begitu polos malam itu, dia berkeinginan membantunya.
"Kamu tertarik padanya? Sehingga mencoba mempengaruhi keputusanku?"
Harald melebarkan matanya, dia tidak tahu kalau perkataanya akan menambah kesalah pahaman Audric setelah malam itu.
"Anda salah paham, saya memikirkan Anda."
Audric jelas tidak percaya dan tampak semakin murka. Dia bangkit dengan cepat dan mencengkram kerah Harald dengan keras. Membuat Harald tercekik, namun hebatnya, ekspresinya tetap begitu tenang.
"Ada batasan kamu mencampuri keputusan terkait keluargaku. Memikirkan hatiku? Aku hanya melihat bahwa kamu tertarik pada Aera dan mencoba mencegahnya menikah."
Kesalahpahaman malah semakin besar. Dia cemburu buta sehingga mengabaikan logikanya, entah kemana perginya kemampuan otaknya yang hebat itu.
Sepertinya kesan malam itu tidak meninggalkan kepalanya. Dia masih menyangka Harald dan Aera saling tertarik karena interaksi kecil itu.
Dia menghempaskan Harald kelantai lalu kembali duduk dikursinya. Audric sedang menahan diri, dia selalu seperti itu ketika marah. Meskipun memiliki keinginan besar menggunakan tinjunya, namun dia selalu menahannya karena sebuah kehormatan yang ia jaga.
"Lanjutkan pekerjaanmu diluar, aku tidak ingin mengotori tanganku." perintahnya dengan dingin.
Harald menghembuskan napas tampa suara. Alih-alih menjelaskan, dia ikut terbawa kesal dan marah akan ketidak pekaan yang dinilainya sungguh sebuah kebodohan.
"Terserah, kalau nanti kamu menangis, aku akan tertawa didepanmu walau kamu memukulku." gerutunya setelah sampai diluar.
Walau dia tahu mana mungkin Audric menangis. Secara harfiah mungkin tidak, tapi tangisan tampa air mata bukankah jauh lebih menyedihkan.
.
Seminggu berlalu, Audric masih berada di Perancis. Aera mulai bersemangat lagi ketika Adel menemukan kucing terlantar di jalan dan membawanya pulang. Awalnya dia hanya menempatkan kucing itu di luar rumah dengan kandang yang ia beli. Tidak berani membawanya kerumah karena Audric tidak mengizinkan binatang apapun di dalam rumah.
Sayangnya, keputusan Audric diintervensi oleh keinginan Aera ketika kucing itu tiba-tiba lewat di depan kakinya. Dia langsung membawanya masuk. Meski Friedrick melarang dan mengatakan alasannya, hal itu tidak ia dengarkan. Begitu Audric memberi izin melalui telepon, barulah Friedrick mengurusnya.
"Friedrick! Dimana Coco! Kenapa dia tidak ada dikamarku? Aku tidak membuka pintu!" serunya dengan heboh.
Friedrick sedang berbicara dengan pelayan. Melihat Aera yang berlari kearahnya, dia langsung menghampirinya.
"Jangan berlari seperti itu di tangga, Nona. Saya akan mencarinya untuk Anda."
"Kalian mencari ini?"
Audric berdiri di depan pintu masuk dengan seekor kucing berbulu putih ditangannya. Melihat cara Audric memegang kucing itu, Aera segera berlari dan mengambilnya paksa.
Bagaimana tidak, Audric memegangnya seperti memegang kain lap. Dia bahkan mencengkramnya dengan keras hingga Coco kesulitan bergerak.
"Jangan menggendongnya dengan cara kasar seperti itu!"
Aera memberikan pandangan galak. Dia mengelus lembut kucingnya dan membuang muka dengan sebal.
Dalam keheningan yang akhirnya tercipta, Aera baru menyadari dirinya telah berbuat tidak sopan lagi. Dia mundur dengan pelan lalu berlari dari hadapan Audric.
Dia teringat kemarahan Audric dan tatapan matanya yang dingin saat itu. Audric juga tidak memperlakukannya baik akhir-akhir ini. Pria itu bahkan tidak menanyakan kabarnya seperti dulu ketika dia pergi dalam jangka waktu lama. Karena itu Aera merasa dia harus menghindarinya.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
Audric yang masih berdiri ditempatnya dengan ekspresi bingung itu langsung menoleh.
"Aku baik-baik saja."
'Aku hanya terkejut anak itu berani memarahiku hanya karena kucing,' lanjutnya dalam hati.
"Apa ada masalah lain selain Adolf yang mengganggumu?"
"Tidak ada, Tuan. Pagi ini dia meminta untuk bertemu Nona lagi. Saya sudah mengatakan untuk meminta izin anda dulu."
__ADS_1
"Abaikan saja, sepertinya dia sangat ingin membawa Aera lagi karena besok akhir pekan."
"Baik, tapi Tuan, kenapa Anda tidak mengizinkan Nona Aera pergi dengannya? Maksud saya... Dia calon suami Non jadi saya pikir tidak masalah bukan?"
Friedrick tidak sepeka Gustav, namun Audric tahu lama kelamaan dia akan berpikiran sama dengan Gustav. Audric heran mengapa orang-orang selalu berpikiran sama tentang sikapnya.
"Karena pernikahan itu hanya sebuah perjanjian diatas kertas. Aku tidak akan membiarkan Aera disentuh olehnya. Setelah semua ini selesai, dia akan dipulangkan kenegara asalnya."
.
Malam hari, ketika Friedrick membawakan susu untuk Aera, dia berpapasan dengan Audric yang memang ingin meluruskan masalahnya malam ini dengan Aera.
"Berikan itu padaku, kamu bisa beristirahat."
"Baik, Tuan." jawab Friedrick.
Pria tua itu sepertinya memahami tujuan Audric. Hubungan mereka sedikit buruk akhir-akhir ini dan sikap Aera yang murung juga sebuah masalah. Tentu saja sebagai kepala keluarga dia harus menyelesaikannya.
Tapi, apa memang itu alasan Audric ingin memperbaiki hubungannya?
Nyatanya dia menjadi sedikit ragu kala merasakan jantungnya yang berdetak semakin kencang. Begitu dia berada di depan pintu kamar Aera, perasaan ingin memeluk, menyentuh dan berbicara dengan santai seperti sebelumnya menyeruak seperti efek wiski dipagi hari yang membuatnya pusing.
Aera sedang bermain dengan Coco ketika pintu kamarnya diketuk. Dia yakin itu adalah Friedrick jadi dia menyuruhnya masuk tampa melihat.
Tapi ketika pintu terbuka, aroma parfum yang begitu kuat dan sangat dikenalnya membuat ia membeku. Coco berlari ketika langkah itu berhenti di depannya.
"Aku membawakan susu untukmu. Sejak kapan kamu minum ini pada malam hari?"
Aera berdiri, dia mengambil nampan itu dan meletakkannya diatas meja. Pandangannya tetap kebawah, dia menghindari mata Audric.
"Kamu tahu peraturan rumah ini?"
"Tentang apa?" suaranya sangat pelan.
"Dilarang membawa hewan apapun kedalam rumah."
Mata Aera membulat, dia langsung mendongak. Wajah memohon itu membuat Audric mengulurkan tangannya. Setelah hampir dua minggu, Audric akhirnya menyentuh wajah ini lagi.
Tidak seperti sebelumnya, Audric merasakan sengatan kecil diujung jarinya. Ada sesuatu yang janggal dan terasa menggelitik dihatinya. Apalagi ketika dia menatap mata biru itu. Warna mata asli milik Aera, membuatnya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Mata ini... Menangis beberapa hari yang lalu. Tentang apa itu?"
Aera tidak tahu, tidak mengerti dan sangat kebingungan saat ini. Ketika Audric bersikap seolah pertengkaran dan kemarahannya yang lalu bukan apa-apa.
'Apa perlakuannya yang mengabaikanku seolah bukan sebuah hal besar baginya? Memarahiku dan mengatakan hal menyakitkan...'
Aera menepis tangan Audric lalu mundur kebelakang beberapa langkah.
"Saya rasa bukan urusan Anda, Sir. Terima kasih telah membawakan susu itu. Bisakah Anda keluar sekarang?"
Audric menarik senyum tipis. Sikap formal itu membuatnya ingin tertawa. Dia tahu Aera ingin menangis lagi. Mata gadis itu telah berkaca-kaca. Sungguh Audric tidak bisa memahami dirinya juga. Karena itu, dia hanya berjalan menghampiri Aera dan menariknya kedalam pelukannya.
"Maafkan aku, sikapku mungkin sedikit keterlaluan akhir-akhir ini. Aku hanya sedang menghukummu." katanya membuat alasan.
'Hukuman? Jadi dia mengabaikanku, marah dan menghinaku adalah sebuah hukuman?'
Aera merasa akan gila, dia ingin meledak namun semua kalimat itu hanya tenggelam didasar hatinya. Sejujurnya, dia merindukan Audric. Satu-satunya orang dirumah itu yang membuatnya merasa ada. Meski ada pelayan, Gustav, Friedrick dan bahkan Adolf, sosok Audric yang memiliki pengaruh besar dalam suasana hatinya.
"Jadi, hukumanku sudah berakhir?" tanyanya dengan suara kecil.
"Hmm, hukumanmu sudah selesai."
Aera menarik kepalanya dan mendongak. Kedua mata itu kembali bertemu, membuat suatu perasaan membuncah keluar. Menciptakan uforia yang menggelitik.
Aera tersenyum lebar, menunjukkan gigi kecil yang rapi disana. Terlihat sangat manis dan cantik. Wajah itu sangat bersinar seolah cahayanya telah kembali.
Audric melepaskan pelukannya, lalu mencondongkan sedikit tubuh tingginya, lalu mencium pipi Aera dengan lembut. Setelah itu dia berbisik ditelinga Aera yang sudah memerah.
"Selamat malam Aera, sampai jumpa besok pagi."
__ADS_1
Aera masih mematung ketika Audric telah keluar dan menutup pintu kamarnya. Dia meraba pipinya yang terasa panas itu. Sebelum berlari keatas kasurnya dan menutup dirinya dengan selimut. Jantungnya berdetak kuat seakan ingin melompat keluar.