BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kemarahan Audric


__ADS_3

Setelah tidak jadi bertemu Aera seperti yang ia katakan sebelumnya, Adolf akhirnya terbebas dari jadwalnya setelah sore. Dia menghampiri Aera yang saat itu sedang bersama Igor di alun-alun kota. Adolf tentu tidak turun dari mobilnya demi privasi, dia memerintahkan Harry untuk turun.


"Maafkan saya, Chef. Tapi saya harus pergi..."


"Tidak apa-apa. Masih banyak waktu untuk melanjutkannya nanti."


Dengan berat hati Aera meninggalkan Igor disana. Tampa mengetahui, bahwa Igor dan Harry melakukan kontak mata yang terlihat saling mencurigai satu sama lain. Igor bahkan menoleh pada kaca mobil yang terbuka, dimana Adolf menyapa Aera dari jauh sebelum gadis itu sampai padanya.


"Siapa pria yang bersamamu? Kenapa kamu mengikuti orang asing semudah itu?" tanya Adolf ketika Aera telah masuk.


"Dia bukan orang asing. Dia pemilik restoran tempatku bekerja."


"Tetap saja, kamu belum lama mengenalnya. Bagaimana kalau dia punya niat jahat."


"Dia orang baik. Dia bahkan mengajariku bahasa Spanyol secara gratis."


Adolf tentu saja tidak percaya begitu saja. Seramah-ramahnya orang Spanyol, Adolf tidak pernah percaya pada kebaikan siapapun tampa alasan.


"Aku hanya memintamu berhati-hati."


"Aku mengerti, jadi berapa lama kamu disini? Apa tidak apa-apa kamu menemuiku? Bagaimana kalau Luisa tahu."


"Memangnya apa yang akan dia lakukan? Dia tidak bisa melarangku, pernikahan itu hanya diatas kertas."


Aera terdiam sejenak. Entah kenapa dia tidak menyukai perkataan Adolf barusan. Bagaimanapun juga, dia benci dengan orang yang mempermainkan orang lain. Faktanya, dia tidak tahu ada kesepakatan antara keduanya. Jadi, bagaimana mungkin Adolf kawatir Luisa marah. Justru Luisa akan senang kalau Adolf mengambil hatinya.


"Kamu tidak menyukainya? Kamu pernah bilang dulu kamu tertarik padanya."


"Tertarik bukan bearti suka, Aera. Dulu aku memang tertarik saat kami masih remaja. Lalu ketika aku tahu kami akan dijodohkan, aku mencaritahu segala hal tentangnya. Tapi nyatanya itu tidak mudah. Keluarganya menyembunyikannya dengan baik. Aku akhirnya memutuskan mengambil jalan seolah aku menyukai pertunangan. Melakukan hal yang dilakukan seorang kekasih. Dia memang menarik, sebelum aku mengetahui ide gila Audric setelah bertemu Luisa palsu yang lebih menarik."


Adolf menoleh dan terkekeh sesudahnya. Apalagi ketika Aera membuat ekspresi yang menunjukkan bahwa Adolf terdengar seperti pria pembual.


"Bagaimanapun dia istrimu. Jadi perhatikanlah dengan baik."


"Apa maksudmu? Hubungan kami tidak seperti itu. Meski dia tinggal dirumahku, bukan bearti kami seperti pasangan pada umumnya."


"Lalu, kamu akan menjalani kehidupan seperti itu selamanya?"


"Hmm, tidak juga. Aku punya tujuan lain, begitupun Luisa. Kami punya tujuan masing-masing."


"Tapi dalam keluarga Martell kan tidak boleh ada perceraian."


"Aku Ackerman, aturan itu tidak berlaku bagi kami."


Aera langsung menoleh, wajahnya menunjujukkan bahwa dia sedang bertanya kebenarannya.


"Itu benar, walau ibuku seorang Martell, tapi setelah dia menikahi ayahku, ibuku tidak terikat lagi dengan aturan itu. Tapi, jika seorang yang berdarah Martell seperti ibuku bercerai, dia akan menjadi anggota keluarga yang diperlakukan seperti hantu."


"Ah, aturan keluarga kalian begitu rumit. Aku tidak mau dengar lagi." keluh Aera. Aturan terakhir terdengar menyedihkan didengar olehnya.


Adolf tertawa dan mengusap kepala Aera dengan gemas.


'Senang mendengar tawa seseorang lagi. Alangkah baiknya kalau istrinya memang Nona Aera. Hanya Nona yang bisa membuatnya begitu terbuka.' monolog Harry bertugas sebagai supir.


Adolf ternyata sudah memesan tempat disebuah restoran tepi pantai. Menyajikan pemandangan yang sangat indah sambil menikmati sajian mewah.

__ADS_1


"Wah, tempat ini sangat cantik. Haruskah aku melamar kerja disini?"


"Jangan lakukan itu, bagaimana kalau kembali saja ke Jerman."


"Kamu bercanda ya."


"Kenapa kamu takut pada Luisa? Aku bisa melindungimu dan nenekmu."


Aera menatapnya dengan serius. Dia tidak takut pada ancaman Luisa jika hanya menyangkut keselamatan dirinya sendiri. Dia hanya tidak ingin neneknya terluka walau hanya sedikit. Dia tidak ingin menciptakan kekawatiran apapun pada sang nenek. Tawaran Adolf barusan bisa menjadi awal dari bahaya yang siap datang kapan saja jika dia menerimanya. Dia tidak ingin terlibat dengan Adolf lebih dari ini untuk kedepannya.


"Bolehkah aku minta sesuatu padamu?" tanya Aera.


"Tentu saja."


"Jangan datang kerumah, atau saat aku sedang bersama nenek. Aku tidak ingin membuatnya kawatir."


Adolf terdiam sejenak. Sejujurnya dia terkejut dan sedikit kecewa, tapi dengan tenang dia mengangguk dua kali.


"Tidak masalah, aku mengerti kamu sangat menyayanginya." jawabnya.


"Lalu, ba... Bagimana kabarnya? Apa kamu bertemu dengannya setelah pemilihan?"


Adolf tidak langsung menjawab. Sesungguhnya dia sangat kesal mendengar pertanyaan itu. Tentu saja dia tahu Aera mungkin akan mengajukan pertanyaan ini. Hubungan dan perasaan mereka yang rumit tidak selesai begitu saja hanya karena kepergian Aera.


"Apakah kamu kurang nyaman membahas orang yang tidak kamu sukai? Maafkan aku, kamu tidak perlu menja..."


"Dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kamu kawatirkan. Dia masih sangat sehat dan kejam seperti biasa." meski tenang, tapi Aera bisa menangkap ada kemarahan disana.


"Mengenai masa lalu kalian... Adolf... Aku rasa saat itu Audric tidak membunuh temanmu. Walaupun dia ada disana, tidak ada bukti..."


"Bu-bukan begitu. Aku tidak meremehkan penilaianmu. Hanya saja... Kamu juga bilang tidak ada bukti kan?"


"Bukti bisa dihapus oleh mereka. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan untuk menutupinya, saat itu dia adalah penerus dan ayahnya adalah kepala keluarga, Aera!" Adolf mulai tidak tenang.


"Tapi yang meninggal juga sepupunya, kan? Mana mungkin pihak pamannya..."


"Aera... Apa kamu pikir keluarga Martell seperti keluarga pada umumnya?"


"Huh? Apa maksudmu?"


"Keluarga mereka adalah keturunan bangsawan, bahkan kakek buyut Audric jika sistem pemerintahan tidak berubah, adalah bangsawan dengan keturunan darah kaisar terakhir. Pemikiran kuno masih mereka pertahankan dalam aturan keluarga. Bagi orang-orang seperti mereka, keluarga tidak lebih dari seorang pesaing. Karena itu ada yang namanya kepala keluarga untuk mempertahankan keutuhan. Ketika kakek buyutnya menjabat sebagai presiden saat itu, dia berhasil mengumpulkan banyak kekayaan karena posisinya. Menjadikan keluarganya semakin besar dan kuat, setelah ia lengser mereka mulai bergerak secara halus untuk menguasai perekonomian negara. Karena itu, mereka bahkan bisa hidup nyaman hanya karena terlahir dengan darah Martell meskipun tampa memiliki aset pribadi. Semua jabatan penting dalam perusahaan maupun partai diisi oleh keluarga. Aturan ketat dalam keluarga mereka, hanya bisa diubah oleh kepala keluarga bersama para tetua. Karena itu, bagi mereka, membuang bukti pembunuhan oleh penerus jauh lebih penting dari pada mengungkap kebenaran."


Aera tidak tahu kenapa Adolf menceritakan latar belakang keluarga Audric. Tapi jika penilaiannya tidak salah, Adolf tampaknya ingin meyakinkan Aera tentang keyakinannya. Juga agar Aera menjauhi mereka.


"Aku minta maaf karena membuatmu kesal."


Adolf sedikit tersentak, tampaknya rasa frustasi dan kawatir membuatnya bersikap berlebihan.


"Tidak, Aera kamu tidak salah. Maafkan aku karena terlalu kawatir. Aku hanya ingin kamu aman. Bagaimanapun, kamu adalah bukti hidup bahwa Luisa bukan anak sah. Luisa adalah orang yang paling berbahaya bagimu saat ini. Karena itu, kamu tidak boleh berhubungan dengan Audric lagi karena Luisa tidak menyukainya."


"Apa karena itu dia melakukan ini semua padaku sejak awal?"


Aera menunduk, sedikit murung dan terlihat tertekan.


"Setelah beberapa kali berbicara dengannya, tampaknya pada awalnya dia hanya ingin lari dari pernikahan ini. Tapi ketika dia menyadari hubungan akrabmu dengan kakaknya, pemikirannya menjadi berubah." Tampaknya Adolf menghindari kata 'menyukai' dalam mendeskripsikan hubungan Aera dan Audric.

__ADS_1


Sementara ditempat lain, Audric baru saja keluar dari bandara bersama Harald. Mereka langsung disabut oleh orang yang selama ini ditugaskan untuk mengawasi Aera, seorang tetangga yang rumahnya tidak jauh dari rumah yang ditempati Aera.


Mereka langsung menuju tempat dimana Aera berada. Sayangnya, kedatangannya diketahui oleh Adolf lewat Harry. Sehingga dia dengan cepat membawa Aera pergi dari restoran.


"Kenapa buru-buru?" tanya Aera bingung.


"Tidak apa-apa. Nanti aku jelaskan, saat ini ayo pergi dulu."


Aera langsung masuk ke dalam mobil begitu Harry membukakan pintu untuknya. Ketika mereka pergi, tepat saat itu mobil Audric masuk kearea parkir restoran.


"Sebaiknya, saat ini kamu mengajak nenekmu menginap di villa pinggir pantai. Tempat indah bagus untuk pemulihan penyakit." ujar Adolf.


"Kenapa tiba-tiba mengusulkan hal itu? Apa ini ada kaitannya dengan kamu yang tiba-tiba ingin keluar cepat-cepat dari restoran?"


"Kamu ingat pembahasan terakhir kita tadi, kan?"


"Apa? Apa hubungannya dengan itu?"


"Audric disini, dia menemukan keberadaanmu."


Tentu saja Aera sangat terkejut. Bagaimanapun, dia sudah membuat kesepakatan dengan Luisa untuk pergi. Orang-orang Luisa masih ditempatkan di dekat neneknya. Wanita itu bisa membahayakan neneknya kapanpun.


"Kami tidak boleh bertemu, kan? Bagaimana bisa dia disini?"


"Karena itu kita harus cepat."


Setelah penjelasan singkat yang tidak dimengerti neneknya, Aera membawa neneknya menuju villa yang disiapkan oleh Adolf.


Namun mereka pergi menggunakan taksi karena Aera tidak ingin neneknya bertemu Adolf.


Sementara itu, Audric yang sampai di restoran tidak menemukan mereka. Dia menatap mata-mata suruhannya dengan dingin setelah Harald mendapat informasi mereka baru saja pergi.


"Antar aku kerumahnya."


Akhirnya pria itu membawa Audric dan Harald kerumah Aera. Namun tentu saja mereka tidak menemukan siapapun. Rumahnya kosong, Adolf sudah memerintahkan orang-orangnya untuk menyembunyikan sisa keberadaan Aera disana.


"Tampaknya, seseorang selain Luisa berusaha menyembunyikannya dariku." desis Audric.


"Mereka sudah tahu kita akan datang. Artinya mata-mata Adolf juga ada disekitar Aera selain mata-mata Luisa."


"Atau mereka bekerja sama." sambung Audric dengan perasaan kesal tertahan. "Jadi, Aera akhirnya bekerja sama dengan bajingan itu untuk menghindariku."


Harald langsung kawatir tentang keadaan Audric saat ini. Selain kecemburuan, atasannya itu membuat kesimpulan berdasarkan emosi dan kekecewaannya.


'Kenapa malah jadi semakin rumit?' kesal Harald.


"Sir, ayo selidiki pelan-pelan. Kita harus bertemu Nona secara langsung untuk tahu kebenarannya. Tolong jangan terburu-buru."


"Apa aku harus menyiapkan sangkar emas agar dia tidak bisa lari?" gumam Audric.


Harald menatap horor wajah Audric setelah dia mendengar perkataannya. Dia bisa melihat sosok Audric yang beberapa waktu terkubur sejak adanya Aera muncul lagi. Sungguh mengerikan melihatnya yang seperti ini. Kemarahan dan kekecewaan Audric tampaknya tak terbendung lagi.


"Persetan dengan ketulusan! Cara itu justru membuat dia pergi dariku! Cari keseluruh sudut kota. Tempatkan penjagaan disetiap jalan keluar dari kota ini. Periksa setiap kendaraan yang keluar. Aku ingin dia ditemukan malam ini juga." perintahnya.


Mau tidak mau Harald hanya bisa mematuhinya tampa berani menyela. Mereka akhirnya harus menghubungi berbagai pihak untuk menemukan Aera. Menggunakan kekuasaan dan uang untuk membuat kekuasaan wilayah tunduk atas permintaan Audric.

__ADS_1


__ADS_2