BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Sakit


__ADS_3

Ivana duduk dengan gelisah dihadapan Luisa. Saat ini, mereka sedang berada di kediaman Adolf. Kesibukan Adolf yang selalu pergi ke negara bagian dan luar negri membuat Luisa merasa leluasa melakukan apapun dirumah itu.


Mereka sedang berada diruang tamu, Ivana menghubungi Luisa sejak dua hari dari pertemuannya dengan Aera. Ivana kawatir rencana Luisa gagal dan dia akan mengalami kerugian yang lebih besar.


"Tenanglah, Bibi. Saya yakin gadis itu sedang memikirkan rencananya sendiri. Saat ini Kakak masih di Amerika. Kita punya peluang membuat mereka berpisah. Jika tidak, kita ambil langkah cepat dengan menyerangnya lagi."


"Kamu tidak bisa meremehkan pengawalnya saat ini. Aku dengar dia sangat kuat dan telah lama bekerja pada Audric."


"Tentu saja, dia adalah orang kepercayaan Kakakku. Tapi bukan bearti tidak ada celah. Mari tunggu kesempatan."


"Sampai kapan? Pelayanku masih ada pada mereka. Kamu bilang kamu punya cara! Melihat gadis itu tidak menghubungiku dia pasti mengabaikan permintaanku!"


'Memangnya apa yang bisa wanita itu lakukan? Tujuanku menyuruhmu bicara padanya tentu saja untuk mengguncangnya, bukan benar-benar menjadikan dia pahlawanmu, dasar ceroboh. Pantas saja rahasianya gampang diketahui.' sinis Luisa dalam hati.


"Apa kamu tidak bisa memanfaatkan suamimu itu?" tanya Ivana.


Luisa tersenyum, bagaimanapun dia harus menyembunyikan keadaan sebenarnya meski kesal bibinya membawa nama Adolf.


"Ini perang keluarga kita, Bibi. Sumiku itu orang yang sedikit lurus. Jika dia tahu, dia hanya akan membuat kita dalam masalah."


"Bukankah dia mencintaimu, kamu tidak bisa membujuknya? Dia bisa jadi jembatan untuk bicara dengan kakakmu. Dia bisa membujuknya karena mereka terikat dengan politik."


'Dia benar-benar tidak pantas menjadi seorang Martell. Bodoh dan tak bermoral.' gerutu Luisa dalam hati.


Kalau bukan karena bisa dimanfaatkan, Luisa sudah pasti akan menggantikan Audric untuk memusnahkan Ivana yang dianggapnya sebuah kotoran dalam keluarga.


"Akan saya pikirkan Bibi, tapi tolong jangan banyak berharap. Karena sekali lagi, saya juga punya rencana. Tidak bisakah Bibi bersabar?" Luisa sengaja menekankan kalimat terakhir dengan ekspresi yang dingin.


"Ma-maaf membuatmu repot. Kamu keponakanku yang paling berharga. Aku sangat berterima kasih, aku hanya kawatir, jadi aku bersikap tidak sabaran."


"Tidak apa-apa, Bibi tampak lelah. Pulang dan istirahatlah, saya juga sudah mengerahkan orang untuk mencari pelayan itu. Jadi jangan kawatir."


"Ya, ya! Terima kasih. Kalau begitu aku pulang dulu."


Luisa memberikan senyum bisnis yang biasa. Sesuatu yang mereka berdua lupakan, terutama Ivana adalah, bahwa Audric tidak hanya memiliki si pelayan.


.


Pagi ini mata Aera sedikit bengkak. Olivia berusaha menutupinya dengan make up, tapi wajah pucatnya tidak bisa disembunyikan dengan baik.


"Nona, sebaiknya Nona izin saja hari ini. Kindisi Nona sedang tidak baik." bujuknya.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Yohanes. Pria ini juga sedang bersiap pergi, dia benar-benar harus kembali ke Spanyol karena ayahnya langsung yang menelepon.


"Kamu mau pergi main kemana lagi?" tanya Aera.


Yohanes memang belum memberitahu akan kepulangannya. Pembicaraan mereka juga tidak selesai saat itu karena kedatangan Ivana.


"Oliv, aku ingin bicara dengan Aera sebentar." ujar Yohanes.


"Ada apa?"


Aera melihat raut serius Yohanes yang duduk di sofa panjang setelah Olivia pergi.


"Aku akan pulang pagi ini. Ayah memberikan perintah secara langsung tadi malam."


'Apa keharmonisan di depanku saat itu hanya sandiwara saja? Kenapa Yojanes seperti sangat tertekan oleh keluarganya?'


"Jangan berpikir terlalu jauh, Aku baik-baik saja. Orang tuaku juga baik-baik saja."


Aera cemberut dengan lucu karena Yohanes lagi-lagi berhasil membacanya dengan baik.


"Lalu apa maksudmu dengan kamu tidak menyukai kakakmu saat itu?"


"Oh, itu karena dia yang selalu menganggapku musuh. Dia itu seperti bunglon."


Aera tidak begitu mengerti mengapa bunglon menjadi gambaran kasar untuk kepribadian kakaknya.


"Bukankah bunglon pandai berkamuflase?" kata Yohanes lagi, Aera mengangguk setuju. "Nah, dia juga begitu. Dia bisa menjadi sangat baik saat dia menginginkan sesuatu, atau sangat jahat saat membenci sesuatu. Baginya, aku hanya pengganggu dan penghalang rencananya."


"Kenapa begitu?"


"Karena ayah dan ibuku yang membuatnya begitu."


"Aku tidak mengerti."

__ADS_1


Yohanes terkekeh, entah mengapa memiliki Aera sebagai adik angkat membuatnya senang. Seolah dia memiliki sesuatu yang harus dilindungi. Hidupnya yang membosankan menjadi lebih berwarna akhir-akhir ini. Dia juga sudah nyaman saat membicarakan masalah pribadi dengan Aera.


"Hubungan kakak adik itu jarang yang akur, lihat saja Audric dan Luisa. Begitu juga aku dan kakakku."


"Baiklah, lalu apa kamu akan baik-baik saja disana?"


"Eii... Apa kamu kawatir? Kamu tidak mau aku pergi, kan? Ayo katakan kamu tidak ingin aku pergi maka aku akan mencari alasan untuk tidak pergi."


Aera yang masih duduk di depan meja rias memutar matanya, membuat Yohanes tertawa.


"Akulah yang kawatir karena Audric tidak disini. Aku juga tidak suka dengan Ivon itu! Kamu harus selalu waspada, aku tidak bisa mempercayainya." suara Yohanes kembali serius.


"Jangan mengada-ada. Kamu tahu Ivon tidak akan berhianat."


"Ck! Pokoknya aku tidak suka padanya."


"Ya, ya! Ayo turun, aku harus berangkat juga."


Maka, pagi itu mereka berpisah di depan rumah. Yohanes pergi sesudah Aera pergi. Sebelum pergi, Yohanes melirik balkon lantai dua, dimana ada ayah Aera dan ibu tirinya. Akhir-akhir ini dua orang itu tetap tenang seolah menjadi tamu yang tak terlihat. Yohanes cukup mencurigai pergerakan mereka, namun karena Aera selalu diawasi oleh Ivon dengan ketat, Yohanes cukup tenang.


"Semoga dua manusia serakah itu hanya mengincar uang. Kalau sampai membahayakan Aera, aku juga akan turun tangan." gumamnya sebelum masuk ke dalam mobil.


.


Aera semakin pucat, sejak pagi dia memang merasakan bahwa kondisiny tidak baik. Saat ini dia sedang mendiskusikan tugas kelompok yang diberikan dosen mereka disebuah kafe depan kampus.


"Hei, kamu baik-baik saja? Wajahmu berkeringat."


Teman Aera yang duduk di sampingnya dengan ragu mengulurkan tangan untuk mengelap keringat di dahi Aera. Namun tangannya langsung ditepis oleh Ivon yang segera berdiri dari kursinya.


"Ma-maaf, aku hanya kawatir." ujar pria itu dengan gugup.


Dua yang lain juga terkejut karena sikap Ivon yang begitu protektif. Mereka malah menduga-duga yang tidak-tidak dan saling pandang satu sama lain. Bagaimanapun nama Aera bukan hal asing lagi sejak muncul diberbagai media sejak Audric membiarkan gosip berkembang.


"Nona, Anda baik-baik saja?"


"Aku hanya sedikit mual dan pusing." jawab Aera.


"Pergilah kerumah sakit, Aera. Kami akan mengirim pembagian tugas untukmu nanti. Lagipula grup kita akan tampil dua hari lagi, jadi masih ada waktu." ujar temannya yang lain, kali ini teman perempuan.


"Aku baik-baik saja, aku bisa..."


Aera tidak sempat melanjutkan perkataannya ketika Ivon hendak membantunya berdiri, dia langsung terhuyung dan Ivon segera menggendongnya. Salah satu teman Aera membawakan tasnya kemobil.


Ivon segera menghubungi dokter pribadi Audric saat mobil mulai melaju. Aera sendiri menutup matanya menahan nyeri yang menghentak-hentak di dalam kepalanya. Dia bahkan tidak sadar mencengkram kerah baju Ivon dan bersandar di dada pria itu.


"No... Nona? Tolong tahan sedikit lagi, kita akan segera sampai."


'Sial, kenapa denganku?'


Ivon gelisah, jantungnya tiba-tiba saja berdetak tak karuan. Dia melirik bawahannya yang merangkap sebagai supir.


"Coba pijit kepala Nona, mungkin bisa membantu." sarannya.


Tampaknya dia mengira arti lirikan Ivon adalah permintaan saran bagaimana cara menolong Aera yang kesakitan.


"Nona, apakah kepala Anda sangat sakit?"


Aera tidak menjawab, dia hanya terus meringis. Air matanya juga membasahi kemeja Ivon. Saat duduk tadi, Aera masih bisa menahannya, namun ketika berdiri, rasa sakit itu langsung menghantamnya dengan kuat, seolah sebuah palu besar dipukulkan kepadanya.


Pada akhurnya, Ivon memijit kecil kecil kepalanya sampai mereka tiba dirumah. Dokter telah menunggu dan langsung memeriksa Aera.


Setelah diberikan obat dan dipasang infus, Aera tertidur. Suhu tubuhnya juga turun karena memang musim dingin masih berlangsung.


"Saya pikir, Nona mengalami depresi dan kelelahan. Saya harap tidak ada masalah lain pada hasil sampel darahnya. Saya akan mengabari segera jika ada masalah." ujar dokter pada Ivon dan Friedrick sebelum pergi.


"Anda sudah memberi kabar pada Tuan?" tanya Friedrick.


"Sudah, tapi saya tidak yakin dia bisa kesini. Masalah disana semakin buruk. Harald bilang mungkin saja Tuan akan menggunakan pasukan rahasia Martell dan menggunakan cara yang sama kejamnya jika mereka ingin bermain kasar."


"Sejak dulu mereka yang berambisi itu memang selalu ingin menyeret keluarga ini karena posisi netral mereka. Apalagi Jerman saat ini sebagian besar dikuasai oleh keluarga ini. Jadi mereka ingin mengambil keuntungan selain menekan agar Martell tidak menjadi penghalang." ujar Friedrick.


Keduanya menoleh ketika terdengar rengekan dari Aera. Matanya masih terpejam, tapi Aera mengatakan sesuatu dalam tidurnya.


"Siapkan makanan untuk Nona ketika dia bangun nanti. Aku akan menjaganya disini." kata Ivon.

__ADS_1


"Saya juga akan disini." ujar Olivia.


Ivon berdiri di sisi ranjang. Olivia duduk di sisi yang lain.


"Nenek... Nenek jangan pergi..."


Itulah rengekan yang didengar keduanya. Aera mengatakannya seperti anak kecil yang sedang merengek.


"Hik! Sa-saya tidak tahan. Ma-maaf saya permisi sebentar." ujar Oliv menahan tangis. Wanita itu malah ikut menangis karena melihat Aera yang menangis dalam tidurnya.


Ivon menarik napas pelan. Dia duduk ditempat olivia tadi, lalu menghapus air mata Aera yang jatuh. Menatap wajah Aera yang menunjukkan kegelisahan.


Deg deg deg!


Lagi-lagi jantungnya berdetak kencang. Dia membelalak karena terkejut. Ivon segera berdiri, lalu duduk lagi dengan bingung.


"Ini tidak mungkin. Ada apa denganku?" bisiknya pada diri sendiri.


Dia nyaris menggenggam tangan Aera jika ponselnya tidak bergetar. Ivon segera tersadar dan langsung berdiri. Dia segera keluar dan mengangkatnya.


"Ya, Tuan."


"Bagaimana keadaannya?"


"Saat ini Nona sedang tidur. Untuk sementara ini, dokter mengatakan Nona kelelahan dan depresi."


Audric memutuskan sambungan. Ivon menghembuskan napas. Dia harus bersiap menyambut tuannya kapan saja. Melihat responnya, Ivon yakin dia akan segera kembali apapun keadaannya.


Ivon kembali masuk, memastikan keadaan Aera sebentar sebelum keluar lagi. Dia butuh istirahat tapi tidak bisa berada jauh dari posisi Aera saat ini. Sehingga dia pergi ke ruang kerja Audric dan berbaring di sofa dalam ruangan itu. Matanya menatap langit-langit dengan pikiran campur aduk.


"Aku tidak tahu kalau dia menahannya selama ini. Semakin aku mengenalnya, dia jauh dari yang aku bayangkan." gumam Ivon setengah menyesali pemikirannya selama ini.


Belum lagi perasaan-perasaan aneh yang terus mengganggunya baru-baru ini. Meski saat latihan Ivon sudah merasakannya, namun tadi adalah puncaknya sehingga tampa sadar mendorongnya melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Meski dia belum memahaminya secara baik, namun dia sadar bahwa dia tidak seharusnya memiliki perasaan seperti itu.


.


Tengah malam, Aera merasakan sebuah tangan besar memegang keningnya. Matanya terbuka dan dia melihat sosok tinggi besar sedang membungkuk kearahnya. Lampu kamar yang redup membuat Aera tidak bisa melihat wajahnya, kesadarannya juga belum sepenuhnya pulih.


"Ivon? Kamu masih menjagaku disini?" tanyanya pelan. Lalu menyingkirkan tangan itu dengan pelan.


Namun ketika menyadari aura yang berbeda, Aera segera menoleh lagi. Memperhatikan dengan saksama. Dia bahkan duduk untuk melihatnya dengan jelas.


"Audric?" bisiknya pelan ketika segalanya lebih jelas.


"Ya, apa aku semudah itu dilupakan sampai kamu salah mengira aku orang lain?"


Suara itu terdengar sangat kesal. Aera berusaha turun karena tenggorokannya terasa kering. Dia ingin mengambil air yang ada di atas meja. Tapi Audric dengan cepat menyambar gelas dan menuangkan air untuknya.


Setelah gelas ada ditangan Aera, Audric segera menyalakan lampu. Dia ingin melihat wajah Aera dengan jelas.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Aku sakit." jawab Aera datar. Lalu memberikan gelas yang telah kosong.


Audric langsung tersenyum, merasa perilaku Aera saat ini sangat manis. Setelah meletakkan gelas dia langsung memeluk Aera dengan lembut. Aera mencoba mendorongnya, namun Audric menahannya. Sehingga dia pasrah pada akhirnya.


"Apa pekerjaan disana sudah selesai? Kenapa kamu tiba tengah malam begini?"


"Kamu masih bertanya? Tentu saja karena kamu sakit. Aku sangat gelisah."


"Oh... Maafkan aku."


Mendengar kata maaf itu, Audric langsung melepaskan pelukannya. Dia berlutut karena posisi Aera yang duduk di tepi ranjang. Menatap mata Aera yang sayu dengan serius.


"Apa ada yang mengganggumu? Katakan padaku, apapun itu tolong diskusikan denganku. Apa... Apa kamu terbebani dengan pembalasan dendam atas kematian nenekmu yang aku serahkan padamu? Jika itu terlalu berat, maka jangan lakukan. Aku yang akan melakukannya."


Aera tidak menjawab, dia sedang berpikir apa yang harus ia katakan saat ini. Segalanya terasa salah saat ini. Aera merasa keberadaannya disana saja sudah salah. Bagaimana dia akan mengatakan hal lainnya?


"Aku bermimpi... Nenek barusaja datang kemimpiku."


Aera tidak bohong, saat dia mengigau dan merengek, itu adalah saat dia memimpikan neneknya.


"Dia tersenyum padaku, tapi semakin lama dia semakin menjauh. Sebelum benar-benar pergi, dia bilang aku harus kembali. Aku harus kembali kemana? Apa mungkin disini bukan tempatku? Karena itu Nenek pergi?"


Audric memeluknya lagi. Dia menyesali kebodohan yang ia lakukan. Membahas dendam dan kematian neneknya ketika Aera sedang depresi seperti saat ini.

__ADS_1


'Tapi aku tidak bisa menunda menyelesaikan segalanya. Maafkan aku, Aera.'


__ADS_2