
Aera ingin bergerak langsung, namun Ivon mencegahnya. Dia menyuruh seseorang untuk memeriksa apalah pembunuh itu sendirian atau memiliki banyak teman.
Setelah memeriksa keadaan, barulah mereka bergerak. Mereka menyusuri lokasi luar pabrik karena vidio itu terihat berada di ruang terbuka.
"Ayo periksa bagian belakang melewati sisi kanan bangunan." bisik Aera.
Ivon mengangguk dan memberi komando pengawal lain. Mereka bergerak perlahan dan menjaga agar langkah mereka tidak terdengar. Begitu Aera mendengar suara tangis anaknya, hatinya merasa teriris. Dia hampir saja berlari kalau saja Ivon tidak menahannya dengan cepat.
"Yang mulia."
"Ma-Maaf! Apa yang harus kita lakukan?"
Mereka berbicara sambil berbisik. Ivon bergerak sendiri untuk mengintip keadaan dimana Pria itu berada. Sepertinya dia sudah selesai berbicara dengan Audric. Pria itu kini memegang pisau dan berjalan menuju tali yang terhubung dengan katrol dimana Henry kecil diikat diantara dua tiang.
Tali itu awalnya ditarik, lalu ia ulurkan perlahan. Seolah segaja membuat seseorang takut. Lalu ia tertawa seolah itu menyenangkan. Ternyata dia merekam aksinya itu.
"Sepertinya ada tikus yang datang bayi kecil. Haruskah aku membunuhmu sekarang? Sangat menyenangkan melihat teriakan seseorang kan, aku harus membuat pelanggan merasa puas." ujarnya.
Menyadari mereka ketahuan, Ivon keluar sendirian. Pria bertopeng itu tidak menoleh. Dia sibuk mengiris perlahan-lahan tali yang menahan Henry. Tapi tangan lain telah memegang sebuah senjata api.
"Kenapa kamu sendiri? Aku dengar harusnya kamu bersama Ratu. Pelangganku berkata Ratu harus melihat anaknya untuk terakhir kali."
Pria ini sangat tenang. Tidak ada rasa cemas sedikitpun dalam suaranya. Hal itu malah membuat Ivon dan Aera semakin kawatir. Aera menyuruh pengawal lain bergerak mendekati anaknya secara diam-diam sementara dia keluar dan berdiri tidak jauh dari Ivon.
"Lepaskan pangeran, ayo kita bicara." bujuk Aera.
Pria itu menoleh, berhenti mengiris tali itu. Dia tersenyum, lalu menyapa Aera dengan sapaan hormat ala bangsawan.
"Ternyata benar, kalian sangat mirip. Tapi aku lebih suka melihat bola matamu Yang mulia." ujarnya.
"Tolong lepaskan anakku. Kamu tahu kan, jika kamu tidak dalam posisi aman saat ini."
"Hmm? Siapa bilang?" jawabnya dengan wajah senang. "Aku suka pertahanan Anda. Tapi akan lebih enak melihat Anda menangis Ratuku." lanjutnya dengan panggilan tidak sopan pada Aera.
"Kumohon... Aku akan mengabulkan keinginanmu. Katakan apa yang kamu inginkan!" Aera mulai putus asa. Dia tidak tahan mendengar anaknya menangis dengan suara lirih begitu.
"Hahahaha! Aku suka air matamu. Tapi yang aku suka adalah darah Yang mulia. Bagaimana kalau Anda menunjukkan darah Anda, saya akan memberi waktu lebih lama untuk Anda melihat Pangeran."
"Jangan gila!" desis Ivon.
Pria itu merogoh sakunya dan melempar pisau lipat. Lalu mengacungkan pistol pada tali yang mengikat Pangeran.
__ADS_1
"Lakukan." katanya. Karena dia memakai topeng, Aera tidak bisa melihat ekspresi pria itu. Yang bisa diyakini hanyalah dia menggerakkan bibirnya untuk tersenyum lebar. Mengejek keadaan Aera tampa rasa takut sedikitpun.
'Dari mana Luisa mengenal pembunuh mengerikan seperti ini?' tanya Aera dalam hati. Dia mengambil pisau itu dan mengangkat tangannya yang lain. Bersiap melukai dirinya.
"Tidak! Jangan lakukan itu Yang mulia!" cegah Ivon.
Aera terlihat takut dan juga ragu, melihat hal itu, sebuah tembakan membuat Aera menjerit. Pisaunya sampai jatuh dan tubuhnya bergetar hebat. Matanya melihat tali itu putus oleh tembakan, tapi pria itu menangkapnya dengan cepat. Dia benar-benar mempermainkan mental Aera.
"Tidak! Tidak! Kumohon! Aku akan menunjukkan darahku! Kumohon!"
Aera memohon dengan nada putus asa. Dia mengambil kembali pisaunya dan melukai telapak tangannya. Ringisan bersatu dengan tangisan. Darahnya mengucur dan pria itu terlihat sangat senang.
"Menyenangkan sekali. Lagi! Aku mau melihat Anda melukai leher Anda, Yang mulia." perintahnya.
Ivon hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia sangat kecewa pada dirinya sendiri dan berusaha memikirkan cara agar mereka bisa diselamatkan.
Lalu, harapan datang saat siluet yang ia kenali sebagai Dimitri dan Audric berdiri diseberang mereka. Tepat di depan drum berisi cairan kimia itu. Keduanya bersembunyi dalam kegelapan.
"Tidak, jangan lakukan itu Yang mulia!" Ivon maju dan meraih Aera yang kini sudah mengarahkan pisau kelehernya.
"Tidak, lepaskan aku Ivon! Dia akan membunuh anakku!" teriak Aera putus asa saat pisaunya diambil.
"Benar-benar menyebalkan. Sangat tidak asik bermain denganmu." kata pria itu, lalu dia mengarahkan pistolnya pada mereka.
Ivon langsung memasang badan untuk melindungi Aera. Punggungnya yang menjadi tameng tertembak oleh peluru itu. Namun dia tetap berdiri dan memeluk Aera dengan erat. Bersamaan dengan tembakan itu, Dimitri berlari memegang tali dan Audric meraih tubuh pangeran. Seluruh pasukan keluar dan melumpuhkan pria itu yang membabi buta melepaskan tembakan kemana-mana.
Tiga prajurit terluka karena tembakan dan satu pengawal Aera meninggal ditempat karena melindungi atasannya yang telah terluka.
Ivon dibawa kerumah sakit bersama prajurit lain yang terkena tembakan. Semuanya bisa selamat kecuali satu pengawal yang meninggal ditempat.
Berita tentang pangeran yang diculik akhirnya dibuka ke publik. Pencarian dan pengejaran Luisa dilakukan secara besar-besaran. Audric menyatakan akan memberi hukuman mati padanya dan siapapun yang mencoba membantunya lari. Wajah pria yang merupakan pembunuh bayaran itu juga diungkap ke publik. Membuat kegemparan terjadi dimana-mana.
Pengawalan ditambahkan dalam istana Ratu dimana Pangeran masih tinggal disana. Penjagaan seluruh istana juga diperketat. Albert yang telah terbukti membantu Luisa atas kesaksian para penghianat yang bekerja di Istana juga telah ditangkap. Begitu juga dengan istrinya. Mereka akan dieksekusi bersamaan dengan Luisa setelah dia tertangkap.
Media memberitakan keadaan ini secara besar-besaran. Dimana perselisihan anggota kerajaan memicu gejolak dalam dan luar negri. Tapi Audric mengunci mulut semua orang dengan satu pernyataan yang terdengar otoriter tapi juga penuh ketegasan.
"Tidak ada kata keluarga bagi penghianat yang membahayakan nyawa penerus tahta. Aku tidak berbelas kasihan kepada mereka yang membahayakan nyawa anak dan istriku."
Pernyataan itu mengunci mulut orang-orang yang berusaha melemahkan pengaruh kerajaan. Mereka lupa kekuatan Martell sendiri berada diatas kekuatan kerajaan secara resmi. Harta Audric yang ia miliki secara terpisah atas namanya sendiri, ia tunjukkan dengan membatasi pergerakan ekonomi para bangsawan yang menentang keputusan hukuman mati itu.
.
__ADS_1
Luisa sedang berada disebuah kapal penangkap ikan yang ia sewa ketika tahu rencananya gagal. Dia mengutuk pembunuh yang ia sewa karena bermain-main dengan perintahnya sehingga memberikan mereka waktu untuk menyerang balik.
"Sialan! Seluruh dunia sudah tahu wajahku. Satu-satunya tempat yang bisa aku kunjungi hanya tempat itu." gumamnya.
Kapal itu dijalankan seorang nelayan yang tidak mengenalinya. Luisa sengaja menyamarkan penampilannya saat dia menyewa kapal itu untuk mengantarnya menyebrangi lautan menuju sebuah pulau tak berpenghuni yang pernah ia beli. Dia telah mendirikan sebuah rumah disana beberapa tahun yang lalu.
"Nona, mungkin kita akan sedikit lambat karena sepertinya akan ada badai." kata pelayan itu ketika Luisa menghampirinya.
"Berapa lama?"
"Tergantung badainya, jika cepat dan tidak ada kendala mesin mungkin hanya setengah sampai satu jam."
Luisa menghela napas. Dia harus cepat karena takut kapal ini akan tertangkap angkatan laut yang berpatroli. Mereka sudah berada di perairan negara lain. Luisa sengaja menempuh jalur ilegal karena dia sedang dikejar.
"Sudah 3 hari, kita harus ambil jalur sedikit jauh untuk menghindari radar. Putar arahnya sedikit ke utara." perintah Luisa.
"Anda memahami laut dengan baik. Sebenarnya Anda lari dari siapa? Anda juga menghindari pihak berwajib. Saya harap Anda tidak membuat saya ikut terseret, Nona."
"Kamu cukup cerewet ya, Pak Tua!" kesal Luisa. Dia cukup frustasi saat ini karena dia akan mati kalau tertangkap.
Benar saja, hujan badai tiba-tiba membuat kapal tidak stabil. Mereka hampir saja terbalik kalau saja nelayan itu bukan orang yang hebat dalam menangani situasi.
Luisa bersandar pada dinding kapal setelah mereka berhasil lepas dari kematian. Dia menatap langit yang masih gelap. Seluruh pakaiannya basah karena air hujan dan ombak ketika membantu Pak tua itu menangani kapal.
"Kakak... Aku sangat membencimu." gumamnya.
Sorot mata sendu dan putus asa meski dia tidak mengeluarkan air mata. Gerimis masih turun, kulitnya yang seputih susu telah lama menjadi putih pucat sejak dia berada diruang bawah tanah penjara istana.
Setengah jam kemudian, mereka akhirnya sampai di pulau yang dimaksud. Luisa membayar nelayan itu dengan bayaran yang besar. Setelah itu dia ditinggalkan disana sendirian.
"Wanita yang aneh. Memangnya dia ingin mati sendirian disini? Bukankah pulau ini hanya ada hutan saja. Bagaimana caranya hidup tampa membawa apapun?" gumam nelayan itu saat kapalnya menjauh dari garis pantai.
Luisa masuk kedalam hutan dengan wajah tampa ekspresi. Tubuhnya menggigil kedinginan karena cuaca masih hujan dan semakin lebat dari waktu ke waktu.
Ketika matanya melihat bangunan yang ia tuju, dia mempercepat langkahnya. Sebuah bangunan persegi panjang yang terbuat dari logam, tampa atap dan jendela. Meski ada sirkulasi udara terpasang, tapi tidak menyala karena tidak ada penghuninya sampai Luisa datang.
Luisa membuka lempeng besi disamping bangunan, lalu menyalakan sumber listrik disana. Setelah itu barulah dia masuk kedalam.
Ruangan itu hanya terdiri dari satu ruang dan ada kamar mandi kecil disudut. Luisa memeriksa kran dan air belum mengalir karena perlu beberapa menit untuk penyulingan air laut. Sistem yang telah dibuat disana tampaknya perlu waktu karena telah lama tidak dinyalakan.
Luisa mengganti bajunya, lalu berbaring keatas kasur disana. Menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Udara masih terasa sedikit pengap, tapi dia masih bisa mengatasinya.
__ADS_1
'Aku penasaran berapa lama waktu yang aku punya. Pak tua itu tampak bisa diandalkan untuk tetap tutup mulut, tapi siapa yang tahu. Menunggu kematian setelah semuanya gagal sepertinya tidak buruk juga.'