
Aera mengemas seluruh barangnya dan memasukkannya kedalam satu koper. Dia tidak banyak memiliki barang yang bisa ia bawa. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berkemas. Lagi pupa dia juga baru pindah kesana.
Setelah memikirkan perkataan Luisa sehari sebelumnya, Aera memutuskan paginya untuk memberitahukan keputusannya. Bagaimanapun, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada sang nenek. Orang yang membesarkannya jauh lebih berharga baginya dari pada apapun. Terlebih, Audric memang belum menghubunginya dua hari ini.
Tentu saja Aera tidak tahu sebab Audric tidak menghubunginya, sehingga pikiran buruk terus membayanginya setelah pembicaraannya dengan Luisa.
Faktanya, pria itu bahkan tidak ada di Berlin saat ini. Dia sudah terbang ke Meksiko untuk mengurus kendala perusahaan disana. Hal yang sudah direncanakan matang-matang oleh Luisa tentu saja. Dialah otak dari semua masalah di Meksiko agar Audric tidak ada di Berlin saat ini.
Pengawal yang mengawasi Aera juga berhasil dikelabui olehnya. Sehingga mereka tidak bisa mengetahui bahwa Aera pergi dengan taksi.
"Mereka benar-benar tidak lihat, kan?" gumamnya, menoleh kebelakang ketika tidak melihat dua pria yang mengikutinya seperti biasa. "Aku benar-benar tidak percaya bisa terlibat dengan keluarga besar seperti mereka. Apa ini takdirku untuk bisa menemukan orang tua kandungku?" gumamnya. Pikirannya kembali melayang kemana-mana dalam perjalanan menuju bandara. Hanya dalam sekejap, dunianya terasa jungkir balik seperti ini.
Aera menggenggam sebuah alamat yang tertulis dalam kertas yang dikirimkan orang suruhan Luisa. Kertas dan juga beberapa foto yang menunjukkan bahwa neneknya telah ada di Spanyol. Disebuah rumah yang Aera tidak tahu dimana, tapi alamatnya tertulis di kertas.
Aera sangat takut ketika pesan dari Luisa masuk ke ponselnya. Memberitahu bahwa neneknya sedang menunggunya. Bagaimana bisa?
Sementara itu, Adolf yang memang mengetahui kepergian Aera, sengaja mengatur keberangkatannya pada hari dan jam yang sama untuk urusan kenegaraannya. Sehingga saat ia melihat Aera dikursi tunggu, dia langsung mengatur agar mereka bertemu dan berbicara tampa dilihat banyak pihak.
Beruntung Aera menutupi wajahnya dengan masker dan memakai topi lucu diatas kepalanya. Melihatnya dari jauh saja, Adolf langsung tersenyum.
"Dia terlihat sangat menggemaskan." gumamnya, lalu melangkah mendekat dan duduk di samping Aera yang sedang fokus dengan ponselnya.
"Adolf?"
Adolf menoleh, melebarkan matanya seolah ia juga terkejut.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Aera sedikit panik, dia menoleh kiri dan kanan. Seperti yang telah diatur Adolf, mereka memiliki jarak yang cukup jauh dari orang-orang. Dua pengawal Adolf dan Harry yang berdiri tidak jauh dari mereka, memantau situasi.
"Aku... Aku_"
"Kemana kamu berencana pergi tampa pemberitahuan?"
Aera menatap mata Adolf yang tampak menuntut jawaban. Lalu, dia akhirnya bercerita tentang pembicaraannya dengan Luisa. Dia menjelaskan tentang alasan dia pergi adalah karena tawaran Luisa dan neneknya yang telah dibawa ke Spanyol. Aera tidak menyebutkan tentang hubungannya dengan Audric.
"Tapi... Bagaimana bisa Luisa membuat keputusan seperti itu? Dia memang menemuiku, mengatakan akan menjalankan perannya mulai sekarang. Tapi dia tidak mengatakan akan membuat perjanjian denganmu, bagaimana kamu bisa pergi seperti ini? Tampa memberitahuku?"
Melihat reaksi Adolf, Aera mengeluarkan kertas berisi alamat yang diberikan Luisa padanya.
"Itu adalah tempat yang dikatakan Luisa. Aku juga mengambil cuti untuk sementara untuk kuliahku."
"Tapi... Apa alasanmu pergi kenegara itu?" tanya Adolf, dia memberikan lagi kertas itu pada Aera.
"Itu... Itu karena..."
Aera tidak bisa melanjutkan jawabannya. Panggilan untuk penumpang dari pesawat yang akan membawanya telah tiba. Aera berdiri dan menatap Adolf untuk terakhir kalinya.
"Maafkan aku, selamat tinggal untukmu." ujarnya, lalu berlari kecil meninggalkan Adolf yang hanya menatapnya dalam diam.
.
Ditempat lain, Harald mendapat laporan tentang Aera yang hilang. Tentu saja Harald panik. Mereka sedang ada ditengah masalah dan Audric harus memimpin rapat sebentar lagi. Dengan penuh kekawatiran dan tekat, Harald terpaksa harus menahan berita itu.
__ADS_1
Dia tidak ingin Audric meninggalkan rapat begitu saja sehingga akan menimbulkan masalah yang lebih rumit. Masalah Aera, saat ini bukan masalah kecil bagi atasannya itu. Dia akan menjadi sangat berlebihan hanya karena mendengar Aera melukai kakinya karena jatuh. Lalu bagaimana kalau dia mengetahui Aera menghilang?
"Aku harus mempersiapkan tubuhku untuk dipukuli setelah ini." keluhnya.
Setelah rapat selesai, mereka harus memeriksa langsung lokasi kontruksi yang bermasalah. Audric bisa saja mempercayakan ini pada direktur disana dan kembali pulang. Tapi dia adalah orang yang sangat perfeksionis. Dia tidak mempercayai siapapun jika telah terjadi masalah seperti ini.
Setelah meninjau lokasi, menemukan akar masalah. Audric langsung meradang, dia berbalik menuju mobilnya dengan aura yabg sangat mengerikan. Harald yang tahu bahwa Audric menemukan adanya indikasi kesengajaan dalam proyeknya, langsung berkeringat dingin.
"Harald, ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan bukan? Aku tahu kamu telah menahannya sejak tadi." ujarnya dengan dingin.
Mereka sudah berdiri di sisi mobil di tepi jalan yang jauh dari keramaian. Harald menunduk dan langsung berlutut dihadapannya.
"Maafkan saya menunda ini untuk disampaikan pada Anda. Tadinya, saya tidak tahu bahwa proyek ini disabotase."
"Katakan!"
Nada rendah itu terdengar sangat mengerikan. Bahkan dua pengawal dan satu supir mereka menggigil ditempat mereka.
"Nona... Nona Aera menghilang."
Harald tersungkur di tanah setelah menerima satu tendangan yang mengenai dadanya. Pengawal yang berdiri disana hanya bisa terpaku, tidak berani menolong Harald. Ini adalah kali pertama Harald mendapat pukulan, dan itu berasal dari Audric sendiri.
"Berdiri." perintah Audric.
Harald berdiri menghadap Audric dengan kepala tertunduk.
Plak!
Sekali lagi, dia mendapatkan hukuman. Audric menamparnya dengan keras hingga bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
Audric masuk ke dalam mobil. Harald langsung menyusulnya, mengelap darah dibibirnya dengan sapu tangan sebelum masuk ke mobil. Dia langsung menceritakan kronologinya pada Audric bagaimana para pengawal tahu bahwa Aera menghilang.
'Tentu saja, jika kejadian ini direncanakan. Sudah pasti otak dari semua ini juga akan mengelabui para pengawal bodoh itu.' pikir Audric.
'Luisa, anak haram itu berani sekali mengusikku setelah aku tahu statusnya. Harusnya aku lebih waspada ketika dia mengatakan akan kembali menjadi Luisa lagi.'
Audric mengepalkan tangannya, dia sungguh menghawatirkan keselamatan Aera. Takut Luisa memerintahkan orang untuk menyakitinya.
Mereka segera kembali ke Berlin. Begitu sampai dirumah, seluruh orang yang bertugas mencari Aera melaporkan situasi langsung padanya. Mulai dari Friedrick, kepala keamanan yang ditugaskan dan orang-orang bayaran yang disuruh memantau daerah sekitar tempat tinggal Aera.
"cctv menunjukkan Nona keluar naik taksi, Tuan. Dua orang pengawal yang berjaga berhasil dikecoh oleh seorang remaja yang dibayar untuk mengacaukan mereka." lapor kepala keamanannya yang bernama Ivon.
"Kemana dia pergi?"
Audric sudah mendapat informasi sedikit tentang bagaimana Aera menghilang dari Harald. Tidak ada bukti penculikan atau paksaan. Aera pergi atas kemauannya sendiri. Nomor Aera juga tidak aktif, Audric tahu gadis itu mengganti nomornya atau sengaja mematikan ponselnya. Dia, nyaris gila dengan kekecewaan saat tahu Aera ternyata pergi atas keputusannya sendiri.
"Taksi yang ia tumpangi menuju bandara. Tapi tidak ada jejak cctv dan namanya tidak terdaftar pada penerbangan manapun."
Tentu saja, semua rekam jejak Aera di dalam bandara telah dihapus oleh orang-orang suruhan Luisa.
"Friedrick."
"Nona telah mengajukan cuti secara mendadak, tapi dia belum mengurus administrasinya. Dia masih mengajukan lewat telepon pada petugas Universitas." lapor Friedrick.
__ADS_1
Audric memejamkan matanya sejenak, tapi jarinya memberi isyarat untuk laporan selanjutnya.
"Tidak ada hal yang mencurigakan selama beberapa hari terakhir, kecuali kedatangan seorang tamu wanita yang mirip dengannya. Kemungkinan dia adalah saudara Anda." lapor si orang bayaran.
"Kalian boleh pergi, kecuali kamu, Ivon."
Semua orang pergi dari sana. Menyisakan Harald dan Ivon. Pria yang seumuran dengan mereka dan tidak kalah tampan dari Harald.
Ivon adalah mantan atlit MMA yang mengundurkan diri setelah tidak sengaja membuat lawannya terbunuh di pertandingan terakhirnya.
Audric sendiri yang merekrutnya setelah menjadi penonton pada pertandingan itu, menyelesaikan masalah hukum dan menarik Ivon untuk menjadi orangnya.
"Bagaimana dengan pergerakan Luisa?"
"Adik Anda telah pindah kerumah suaminya pagi ini, tepat ketika Nona Aera menghilang. Adolf, juga melakukan penerbangan pagi ini. Kemungkinan besar, mereka berdua terlibat dalam kepergian Nona Aera. Selain itu, Nenek Nona Aera juga dilaporkan menghilang dari rumahnya dua hari yang lalu."
"Mereka ternyata sudah bergerak diam-diam dibelakangku."
"Ketika kami menyelidiki kepergian neneknya, para tetangga melihat bahwa sebelum menghilang, dia didatangi oleh dua orang. Satu warga asli dan satu orang asing. Kami juga menyelidi penerbangan, tapi tidak ada jejak. Sama seperti Nona Aera. Kami sedang menyelidiki orang asing yang mendatanginya."
"Harald, gunakan segala cara untuk mendapatkan informasi identitas orang tua kandung Aera."
"Baik, Tuan."
"Ivon, tetap kirim orang untuk mencari Aera keseluruh Jerman. Temukan dia apapun yang terjadi. Gunakan kekuatan Martell untuk mendapatkan informasi dari pihak bandara. Karena lawannya sama-sama dari nama Martell, kemungkinan akan sedikit terkendala. Kamu bisa menggunakan sedikit paksaan jika perlu."
"Baik, Tuan." jawab Ivon dengan sigap.
.
Aera sudah tiba disebuah kota kecil di negara Spanyol. Aera benar-benar dikirim kesana untuk menemui neneknya. Ketika mereka bertemu, neneknya di dampingi seorang pria yang tidak dikenali oleh Aera.
Setelah berbincang sebentar, dia baru tahu kalau pria itu adalah suruhan Luisa. Dia mengaku sebagai perwakilan yayasan yang menanggung pengobatan sang nenek. Neneknya hanya tahu kalau dia dibawa ke Spanyol sebagai pasien kanker yang ditanggung yayasan. Karena mereka mengatakan pada sang nenek kalau dokter dan rumah sakit terbaik ada disana.
Seharian ini, Aera hanya bertukar cerita dengan neneknya. Aera juga mengaku mengambil cuti kuliah setelah tahu kabar neneknya sakit. Dia tidak punya alasan lain untuk dikatakan mengenai keberadaannya disana. Tidak mungkin dia jujur. Karena itu Aera sungguh merasa menyesal karena terus berbohong.
Mereka disediakan rumah sederhana. Dengan tanah yang cukup luas dan tetangga yang cukup ramah.
Aera segera mencari pekerjaan yang tidak terlalu berat keesokan harinya. Meskipun dia memiliki uang banyak dalam kartu yang dibuatkan Audric. Dia tidak bisa mengambilnya dan membuat keberadaannya terlacak.
Aera tidak ingin membahayakan neneknya. Pria yang ditugaskan Luisa selalu mengawasi mereka dengan identitas palsunya. Beruntung Aera sudah mengambil cukup banyak uang sebelum pergi, uang yang cukup mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari selama beberapa bulan.
Tapi, Aera tidak ingin hanya diam saja menunggu uang simpanan itu habis. Lagi pula dia harus mengisi kekosongan hari-harinya sampai dia menemukan cara lepas dari pengawasan Luisa dan membawa neneknya pergi.
"Permisi... Apa kalian benar mencari seorang pelayan?" tanya Aera.
Dia sedang berada di dalam sebuah restoran yang cukup mewah dengan sebuah kertas berisi keterangan lowongan kerja.
"Ah, kamu ingin melamar pekerjaan juga? Tunggulah disana, pemilik restoran belum tiba. Saat dia tiba kalian akan di wawancara satu persatu. Tapi... Apa kamu orang asing? Kamu menggunakan bahasa Inggris tapi kamu terlihat seperti wajah spanyol."
Aera hanya tersenyum canggung. Lalu dia mengangguk dan mengatakan kalau dia dari Indonesia dan berkewarganegaraan Jerman.
"Ah... Begitu, cukup rumit. Nah, tunggulah disana seperti yang lain." ujar pelayan pria yang Aera ketahui bernama Edward dari nama yang tertulis pada seragamnya.
__ADS_1
Tidak lama Aera diwawancarai oleh pemilik reatoran. Seorang pria berumur 35 tahun sekaligus chef utama disini. Pria yang bernama Igor itu ramah dan tegas secara bersamaan. Sehingga Aera berharap dia mau menerimanya bekerja disana walaupun secara kualitas, Aera pikir pelamar lain lebih baik darinya.