BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Dalang sesungguhnya


__ADS_3

Semua pelayan melihat dari jauh ketika Aera turun dan berjalan menuju ruang pertemuan. Semuanya berbisik setelah mereka menghilang dari pandangan, mempertanyakan kemiripan Aera dan Luisa. Bahkan mereka mulai curiga perubahan akan sikap tuan mereka yang terlihat lebih lembut pada adiknya setelah pelarian itu. Mereka mulai curiga yang Audric bawa saat itu adalah Aera.


Olivia yang mengantar Nonanya sampai pintu langsung berbalik dan menatap para pelayan itu dari jauh. Sangat tahu apa yang mereka pikirkan, namun dia tidak bisa membuat keributan sekarang. Dia akan menyerahkan kelancangan itu pada Friedrick nanti.


"Aera, kamu baik-baik saja? Bagaimana kabarmu?" tanya Adolf langsung.


Mereka duduk saling berhadapan dua lawan dua. Aera duduk tepat di depan Adolf. Sementara Audric dihadapan adiknya.


"Terima kasih atas kekawatiranmu, aku baik-baik saja." jawab Aera.


"Jadi, Kakak akan memilih mengotori martabat keluarga dengan membawanya masuk? Kakak tidak lihat bagaimana pelayan dan orang-orang mulai membuat rumor bahwa dia mungkin saja anak haram Martell!" Tampaknya Luisa tidak ingin menyembunyikan kemarahannya.


"Martabat? Sejak kapan kamu memikirkan hal itu? Bukankah kamu yang selalu seenaknya selama ini? Aku sudah cukup baik menutupinya sebagai kakakmu. Jadi, jangan berteriak dihadapanku seolah kamu berhak, kamu lupa? Kamu bukan Martell lagi setelah menikah, terlebih kamu juga tidak lebih baik mengingat siapa ibu kandungmu."


Pukulan telak itu membut Luisa kehilangan ketenangan yang tadi berusaha ia jaga.


"Aku akan selamanya menjadi Martell! Justru dia yang tidak pantas Kakak bawa kesini! Dia tidak memiliki hak apapun masuk kerumah ini!"


Luisa menatap tajam Aera, dia benar-benar terbakar amarah. Luisa yang mendambakan kasih sayang sejak dulu, tidak mendapatkan apapun dari kakak yang ia kagumi dan sukai. Luisa selalu bersikap dingin dan membuat masalah untuk mendapatkan perhatiannya. Bahkan ketikan orang tuanya masih ada, Luisa kehilangan waktu mereka karena kesibukan keduanya.


"Kenapa tidak, kami akan menikah sebentar lagi."


"Kakak!" bentak Luisa, suaranya nyaris memenuhi ruangan.


Adolf yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan ekspresi Aera, kini angkat suara.


"Aku dengar nenekmu meninggal, maafkan aku tidak bisa hadir saat pemakaman, Aera."


Deg!


Saat topik ini dibahas, bukan hanya Aera, bahkan Luisa menunjukkan ekspresi kelam. Dia menatap meja dengan geram. Pembicaraan beberapa hari lalu membuatnya semakin terganggu.


Flashback


Adolf membanting pintu kamar Luisa yang bersebelahan dengan kamarnya dengan kencang. Dia baru saja kembali dari Valencia setelah Audric menguasai keadaan. Tidak lama dalam perjalanan, dia mendapat berita bahwa nenek Aera meninggal oleh salah satu pengawal. Sudah jelas Audric tidak akan melakukannya, Adolf langsung bisa menduga Luisa melakukan sabotase.


"Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu! Aku sudah bilang jangan menyentuhnya dan neneknya!" teriak Adolf dengan marah.

__ADS_1


Luisa yang sedang merapikan rambutnya langsung berbalik. Tangannya bersedekap dan menatap Adolf dengan tenang.


"Benar, tapi kamu gagal bukan? Audric menguasai seisi kota. Walau aku tahu kamu akan gagal tapi aku tetap memberi kesempatan, tapi kamu menyia-nyiakannya dengan tidak bersungguh-sungguh. Kamu pikir kakakku semudah itu? Jadi sekarang apa gunanya janji itu." jawabnya dengan angkuh.


"Jangan berpikir aku akan membiarkanmu, Aku sudah bilang jika kamu menyentuh Aera, aku akan menghancurkanmu."


Luisa tertawa dengan sombongnya. Menatap Adolf dengan remeh.


"Memang apa yang bisa kamu lakukan? Bahkan membalas kematian Leonor tidak bisa kamu lakukan dengan benar sampai sekarang. Kamu hanya akan menjadi pion selamanya, Adolf. Bahkan posisimu saat ini diberikan dengan baik hati oleh kakakku. Membalasku? Apa Aera pengganti Leonor bagimu?"


"Tutup mulutmu! Jangan menyebut Leo dengan mulut kotormu."


Luisa maju dua langkah, wajah angkuhnya nampak terganggu.


"Kenapa tidak? Leonor sama jalangnya dengan Aera bukan? Wanita yang ingin berada disisi kakakku tampa tahu malu." desisnya dengan nada paling menghina.


Adolf yang semakin murka, mengangkat tangannya dan mencengkram leher Luisa dengan kencang.


"Jangan pikir aku tidak bisa melakukan apapun padamu, kamu membunuh Nenek Aera dan memfitnah kakakmu sendiri. Kamu pikir Audric akan diam saja? Kita lihat siapa yang akan kalah. Aku tidak peduli lagi jika kamu hancur, asal Aera aman, itu sudah cukup bagiku."


Malam itu, Adolf berakhir minum-minum dirumah Harry. Dia juga akhirnya tidur disana berhari-hari dan tidak ingin kembali kerumahnya. Dia hanya akan berakhir emosi ketika melihat Luisa. Dia tidak ingin lepas kendali dan melakukan hal diluar batas manusia normal.


Sampai pada akhirnya dia mendapat kabar bahwa Aera telah kembali bersama Audric dan tinggal bersamanya. Berita itu juga menyebar pada anggota keluarga lainnya, sampai dia memutuskan akan mengunjungi Aera. Namun dia malah bertemu Luisa di depan rumah Audric.


Flasback end.


"Tidak perlu minta maaf, ini bukan salahmu. Tapi... Ini salah mereka yang penuh kesombongan."


Luisa yang tadinya berniat diam saja kini menarik ujung bibirnya. Dia melihat Audric yang menoleh padanya juga.


"Aku juga menyesalkan kejadian tak terduga itu, Aera. Padahal aku sudah berjanji akan melindungimu dari tangan Kakakku." ujarnya dengan wajah penuh penyesalan.


Aera beralih padanya, menatap wanita yang mirip dengannya itu datar.


"Aku juga menyesali akan gagalnya perjanjian kita. Aku jadi tertangkap dan malah akan menikah dengan kakakmu." jawab Aera. Jawaban yang memantik api diantara keduanya.


"Beraninya kamu...! Darah kotor sepertimu harusnya tidak boleh memiliki mimpi seperti itu, Aera." kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. Aera dengan tenang dan Luisa yang dilingkupi dengan emosi.

__ADS_1


Sementara itu, ekpresi Adolf yang sangat terkejut juga tampak terluka. Dia jelaa tidak rela jika Aera menikah dengan Audric. Namun saat ini dia tidak punya kesempatan untuk mengatakan hal itu.


"Entahlah, apakah statusku penting sekarang? Bahkan dirimu tidak jauh berbeda denganku sekarang. Bukankah kita saudara satu ibu?" Aera menyeringai, lalu memajukan sedikit wajahnya. "Kita mirip, Luisa. Bahkan sangat mirip." lanjutnya dengan menekankan kata mirip.


Tentu saja Aera tidak sembarangan mengatakan hal itu. Sejak dia tahu siapa ayah kandungnya, dia meresa tidak ada bedanya dengan Luisa sekarang. Karena itu, memancing kemarahan Luisa saat ini patut ia nikmati.


"Kamu pasti sudah gila mengatakan kita mirip. Apa kematian tua bangka itu sudah merusak isi kepalamu? Walau hidupmu tidak memiliki harapan, setidaknya kamu harus tahu diri sedikit."


"Jaga ucapanmu, Luisa!" bentak Audric dengan nada mengancam.


"Apa yang salah? Kenapa dia jadi berharga dan aku Kakak benci?"


"Kamu cemburu padaku karena Audric menunjukkan kasih sayangnya?" ejek Aera memanasi.


"Beraninya kamu! Apa kamu sudah bosan untuk hidup?" desis Luisa tajam.


"Kenapa? Kamu mau mengirim orang juga untuk membunuhku?"


Lusah tertawa remeh, "Dengan senang hati aku akan mengirimkannya padamu. Lucu sekali kamu berdamai dengan pembunuh nenekmu. Aku pikir kamu benar-benar menyukai orang tua itu, tampaknya tidak."


Tangan Aera sudah bergetar karena saking kuatnya dia mengepalkan tangannya. Aera geram karena Luisa tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia baru bisa bernapas dengan teratur saat Audric menggenggam tangan yang sejak tadi berada atas lututnya.


"Luisa. Kamu tahu kan, aku bisa melemparmu kepenjara." kata Audric.


Luisa yang tadi sempat merasa diatas angin kembali terlihat goyah.


"Kakak tidak akan melakukan hal itu." jawabnya dengan yakin.


Jawaban itu keluar begitu saja. Luisa baru sadar setelah melihat senyum licik Audric. Bahkan Aera dan Adolf menatapnya dengan penuh kebencian. Karena secara tidak langsung, dia telah mengakui bahwa dialah orang yang memberi perintah untuk membunuh nenek Aera.


.


Luisa masih duduk disana sendirian setelah Aera dibawa pergi oleh Audric. Adolf sendiri juga meninggalkannya. Wanita itu seperti tidak percaya pada apa yang diucapkan oleh Audric tadi. Selama ini, dia beranggapan bahwa kakaknya itu akan selalu menjaganya walau dia membuat ulah.


Sebanyak apapun dia membuat kekacauan, Audric hanya akan menghukumnya dengan tangannya sendiri. Meski begitu dia tidak akan pernah meninggalkannya. Dia akan mengatur Luisa dengan caranya, seperti itulah selama ini. Tapi mendengar ancaman penjara, itu artinya dia ditinggalkan. Audric tidak peduli lagi pada reputasinya dan kehormatan yang selama ini dijaganya.


'Dia membuangku karena sampah itu. Jadi, dia juga tidak akan repot-repot melindungi statusku yang anak haram, kan? Jadi... Apa akan jadi begini? Apa itu artinya aku harus memegang tangan orang lain sekarang?'

__ADS_1


__ADS_2