
Aera sungguh sangat lelah. Dia berjalan dan berlari hampir seharian penuh. Nyatanya dia tidak bisa pergi dan tertangkap lagi oleh Audric.
Setelah sampai di istana. Mereka langsung berhadapan dengan ayah dan ibu Yohanes. Dua orang tua itu langsung menatap anak mereka dengan tajam.
"Apa kamu tahu masalah yang kamu timbulkan, Yohan?" ujar ibunya.
"Aku hanya mengajaknya bermain karena dia terus terkurung. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai kakak yang baik Ibu." jawab Yohanes santai.
"Bermain?" ulang Audric dingin.
Yohanes menoleh padanya, lalu melihat tangan Audric yang menggenggap erat tangan Aera. Gadis itu tampak akan mati sebentar lagi dimatanya. Ekspresi wajah tampa gairah untuk hidup.
"Lihatlah, dia bersedih sepanjang waktu. Aku hanya menghiburnya dari pria pemaksa ini."
"Yohan! Kamu akan dihukum untuk..."
"Kenapa aku dihukum Ayah? Apa Ayah berpikir aku benar-benar membawanya kabur? Aku masih sedikit punya belas kasihan untuk tidak membiarkannya mati ditangan mereka, jadi mana mungkin aku membiarkan hal berbahaya menimpanya ."
Aera yang mendengar jawaban Yohanes itu langsung menatapnya marah. Dia baru menyadari bahwa pria itu tidak benar-benar ingin membantunya. Dia tahu akan tertangkap sehingga hanya membawanya berputar-putar sesuka hati.
"Tetap saja, kamu akan dihukum untuk ini. Kembali ke kamarmu dan kamu tidak diizinkan keluar sampai waktu yang aku tentukan."
Yohanes tersenyum kecil. Seolah itu bukan masalah besar baginya. Lalu dia berlalu dari sana begitu saja seakan tidak punya beban dan rasa bersalah.
"Kamu juga sebaiknya bawa dia kekamarnya. Dia pasti lelah." ujar Alberto.
"Sebenarnya apa yang ada dipikiran anak itu? Apa dia pikir Audric akan diam saja?" ujar Alberto lagi setelah semua orang pergi.
"Jangan kawatir, aku yakin dia tidak benar-benar berniat membawa gadis itu kabur."
"Ya, aku harap kamu benar."
.
Aera terkejut ketika dia dibawa ke paviliun lain. Audric tidak membawanya ke kamarnya yang biasa, melainkan membawanya kekamar yang ia tempati disana.
"Aku tidak mau disini." katanya dengan tegas.
Sayangnya Audric tidak mengidahkannya. Pria itu melepas mantel Aira, lalu membawanya masuk kedalam kamar mandi.
"Bersihkan dirimu, setelah itu baru kita bicara."
Aera berdiri terpaku disana setelah pintu tertutup. Suara Audric benar-benar sangat berbeda. Sangat jelas dia sedang berusaha mati-matian menahan amarahnya.
Sementara Aera disana, pelayan yang biasa melayaninya masuk ke kamar atas perintah Audric. Menyiapkan keperluan Aera dan membantunya setelah mandi, padahal Aera sama sekali tidak membutuhkan itu. Dia tidak butuh orang lain untuk mengurus dirinya sendiri.
Audric berjalan cepat melewati lorong demi lorong menuju kamar Yohanes. Setibanya disana, dia langsung mendorong pintu dengan kasar dan masuk tampa permisi.
__ADS_1
Yohanes yang sedang duduk santai langsung berdiri dengan terpaksa, hal itu karena Audric mencengkram kedua kerah bajunya dan menariknya paksa.
"Wah, kamu mau berurusan dengan kerajaan karena menyakitiku?"
"Persetan dengan kerajaan, apa yang coba kamu lakukan? Beraninya kamu membawanya keluar dan berniat mengirimnya kabur?"
"Tenanglah, aku tidak benar-benar ingin melakukan itu. Aku juga tahu siapa saja yang saat ini mengincarnya. Aku hanya ingin menghiburnya setelah apa yang ia alami."
"Menghibur? Apa alasanmu melakukan itu? Orang sepertimu ingin menghiburnya dan berharap aku percaya!" Audric menghempaskan Yohanes ke sofa sehingga pemuda itu terbatuk-batuk kecil.
"Hehehe... Aku sangat penasaran tahu. Wanita seperti apa yang bisa menarik iblis sepertimu. Jadi aku hanya ingin mengakrabkan diri dengan adik baruku."
Audric menurunkan pandagannya, menatap Yohanes yang mendongak karena posisinya disofa. Pria itu menyeringai dengan ekspresi gilanya.
"Jangan coba menyentuhnya. Atau aku akan mematahkan tangan dan kakimu."
"Mana mingkin, justru aku ingin menolong adikku tahu. Ketika tahu kamu membawanya kesini, aku buru-buru pulang lho."
"Ini peringatan pertama dan terakhir, berhenti main-main karena selanjutnya aku tidak akan mengampunimu." ancam Audric. Lalu pergi untuk kembali kekamarnya.
"Ah... Tentang dua orang yang mencoba menyerangnya siang tadi. Kamu ingin menyapa mereka? Katanya mereka suruhan Martell tuh. Kami tidak tahu Martell mana yang dia maksud. Siapa tahu kamulah yang mereka maksud."
Audric berbalik, menatapnya dengan tajam. Yohanes hanya tersenyum dan sama sekali tidak menunjukkan ketakutan seperti halnya orang lain. Ekspresi masa bodohnya itu membuat Audric benar-benar kesal.
"Aku akan menemui mereka setelah berbicara dengan Aera. Jangan membuat langkah apapun."
Audric membanting pintu tertutup. Kesal karena Yohanes bermain-main seolah dia adalah kakak yang sangat mempedulikan adiknya. Padahal Audric tahu Yohanes hanya ingin mengganggunya. Sejak dulu Yohanes memang suka berbuat sesuatu yang menarik perhatiannya, karena Audric dikenal dengan orang yang tidak tertarik pada apapun selain kehormatan keluarga.
.
Aera telah tertidur ketika Audric masuk. Tampaknya dia sangat lelah setelah mengalami banyak hal hari ini. Audric mengelus kepalanya dengan lembut sebelum masuk ke kamar mandi. Dia juga butuh membersihkan diri setelah kesana kemari mencari Aera.
Ketika dia selesai, dia langsung menghampiri Aera yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Sepertinya dia mengalami minpi buruk. Dia bahkan menangis terisak. Audric segera berbaring disampingnya dan memeluknya.
"Maafkan aku Aera. Aku begini karena sangat menginginkanmu, aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri." bisiknya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Aera. "Maaf atas keegoisanku setelah ini." tambahnya, sorot matanya yang biasanya kelam dan sedalam lautan itu, kini terlihat sedikit sendu. Namun ada ambisi besar disana, ambisi yang tidak ia tutupi sedikitpun.
Aera kembali tenang setelah beberapa menit. Nafasnya kembali teratur meski tangannya masih mencengkram baju tidur Audric dengan kuat. Dalam mimpinya, Aera mendengar suara Audric. Dalam mimpinya, Audric mengulurkan tangan ketika dia terjebak dalam kegelapan pekat yang menakutkan. Membuat ia tenang dalam pelukan pria itu sepanjang tidurnya.
.
Paginya, Aera bangun sendirian di dalam kamar dengan tenggorokan yang terasa sakit. Dia juga sedikit menggigil padahal masih musim panas. Dia berusaha bangun, tapi kakinya yang lemah membuatnya tidak bisa menopang tubuhnya. Dia jatuh terjerembab ke lantai, tepat ketika Nyonya Fernandes masuk bersama pelayan.
Mereka langsung sadar bahwa Aera tidak baik-baik saja ketika menolongnya. Badan Aera sangat panas. Dia mengalami demam tinggi.
Sementara itu, Audric sedang duduk dihadapan dua orang yang sudah babak belur dan dipaksa berlutut dilantai. Harald berdiri disisinya dengan memegang data kedua orang tersebut. Mereka sedang berada disebuah rumah tua yang disiapkan orang-orang Yohanes.
Ketika Audric menadahkan tangannya, dia langsung memberikannya. Audric membacanya sebentar, lalu menatap bergantian keduanya.
__ADS_1
"Jadi, siapa yang menyuruh kalian? Martell mana?"
"Ti-tidak tahu Tuan, kami hanya menerima permintaan lewat pesan dan telepon." jawab salah satu diantara mereka.
"Harald?"
"Kami sudah menyelidiki pemilik nomor ponsel, dia adalah kaki tangan paman Anda."
"Paman selalu ceroboh pada rencananya. Juga menggunakan orang-orang bodoh ini. Menyerang ditengah keramaian dan dengan bodohnya melukai orang penting dikerajaan ini."
"Ss-saya akan melakukan apapun untuk bisa diampuni. Saya mohon jangan bawa kami pada pengadilan." pinta pria satunya lagi.
"Kenapa aku harus berbaik hati?" sahutnya.
Seseorang masuk terburu-buru dan menunjukkan isi pesan di ponselnya pada Harald. Pria itu adalah salah satu orang Yohanes.
"Tuan, Nona Aera dikabarkan sedang demam tinggi." kata Harald setelah mengembalikan ponsel milik si pria.
"Apa? Tadi sebelum pergi dia baik-baik saja."
Tentu saja Audric langsung panik. Dia langsung keluar dan memerintahkan pada mereka yang berjaga agar terus mengawasi dua orang itu. Sementara dia dan Harald pergi ke istana.
.
Setelah diperiksa dokter, Aera mengalami infeksi saluran pernapasan atas. Meski telah diberi obat dan demamnya telah turun. Tenggorokannya masih sakit. Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya menjawab jika dokter yang bertanya, selebihnya, dia mengabaikan semua orang.
"Aku akan membawanya kembali ke Jerman. Terima kasih atas kerja samanya Bibi." ujar Audric setelah doktee pergi dan hanya menyisakan dia dan Nyonya Fernandes.
"Oh, aku rasa aku bisa keberatan akan hal itu, kan? Tuan Martell muda?"
Seseorang tiba-tiba muncul di depan pintu dan masuk bersama Alberto. Audric dan istrinya menoleh padanya dengan pandangan penuh tanda tanya. Bahkan Aera ikut bingung dengan situasi saat ini. Siapa pria paruh baya yang tiba-tiba datang ini?
"Maaf mengganggu pembicaraan kalian, Yang mulia, yang mulia Darwin meminta bertemu dengan Aera."
"Kenapa sepupu raja ingin bertemu dengannya?" sahut Audric dengan nada tidak suka.
'Sepupu raja?' ulang Aera dalam hati. Dia juga bingung.
"Karena aku adalah ayah dari gadis ini."
Semua orang terkejut kecuali Alberto yang tampaknya telah tahu hal itu sebelumnya. Dia juga terlihat tidak menyukai situasi ini namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Sementara Audric mengepalkan tangannya, dia sangat tahu sepak terjang pria itu sejak dulu. Reputasinya dalam masyarakat saja baik. Dia terkenal dengan pria yang suka berhura-hura dan menjalin hubungan dengan banyak wanita sejak muda. Meskipun tidak ada kabar apapun tentang anak dikuar nikah dari semua wanita yang ia kencani, tetap saja profilnya sebagai pria sangat buruk.
'Bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul dan mengakui Aera? Apa yang telah aku lewatkan?' kesal Audric dalam hati.
"Jadi, Nak... Ayo pulang bersama ayahmu. Aku akan melindungimu sebagai orang tuamu." katanya pada Aera.
__ADS_1
Aera tidak menjawab, dia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pria paruh baya yang mengaku sebagai ayah biologisnya itu terlihat ramah, tapi entah kenapa Aera tidak senang dan gelisah melihat senyum diwajah itu. Aera bisa merasakan ketidak tulusan dari senyum itu.