
Aera menatap punggung lebar Audric lewat pintu balkon. Pria itu sedang menatap langit malam dengan memegang sebatang rokok ditangan kanannya. Aera sangat ingin mendengar alasan Audric pada saat itu. Namun pembicaraan tadi terputus begitu saja ketika pria itu memutuskan untuk pergi.
'Kenapa dia begitu?' tanya Aera dalam hati.
Sementara itu, Audric sendiri sedang gelisah untuk beberapa hal, tapi yang paling utama adalah tentang penilaian Aera padanya.
Dulu dia memang sangat kejam. Tidak peduli pada penderitaan orang lain. Walau nyatanya saat ini tidak jauh berbeda, tapi Audric selalu menjaga dirinya agar tidak melakukan hal yang dibenci oleh Aera. Kadar cintanya yang kian besar membuatnya takut sendiri.
'Jika dia tahu, dia akan membenciku. Sampai akhir anak itu mengapa menyusahkanku.' ujarnya dalam hati. Anak itu yang ia maksud adalah Leonor.
"Kamu akan terus disana? Ini sudah larut dan udara semakin membeku. Kamu tidak lupa ini sudah musim dingin, kan?"
Audric berbalik secepat kilat. Dia mematikan rokoknya dan langsung menghampiri Aera. Meletakkan kepalanya dipundak gadis itu dan bergumam tidak jelas.
"Tutup dulu pintunya, anginnya masuk ke dalam."
Kini mereka duduk di atas kasur, berdampingan dan menutupi kaki masing-masing dengan selimut yang sama.
"Apa kamu akan mengungkapkan pembunuhan itu pada pesta nanti? Atau saat rapat keluarga?"
"Aku harus menilai situasi dulu. Tapi ya, aku akan mempersiapkan segalanya."
"Bagaimana jika orang-orang bertanya alasanmu hanya berdiri dan melihat?"
Audric tahu Aera penasaran, namun dia tidak ingin menjawabnya sekarang. Dia tidak siap melihat reaksi Aera. Bagaimanapun, membiarkan bearti ikut melakukan kejahatan itu secara tidak langsung. Apalagi dia punya kuasa untuk menghentikannya.
"Tidak apa, aku hanya perlu menjawab apa adanya. Kamu tidak perlu kawatir. Fokus saja membalas Luisa. Dia pasti akan berusaha menjatuhkanmu nanti."
"Apa yang mungkin dia lakukan? Kami kan mirip. Sama-sama anak tidak sah. Bedanya dia dimasukkan kedalam daftar keluarga ayahnya dan aku dibuang."
"Bukti pemeriksaan DNA ada dalam kantorku. Selain itu, tidakkah kamu akan mengungkap ayah biologismu? Dia akan membantu untuk membungkam mulut mereka yang menghina status darahmu."
"Untuk apa? Aku tidak akan melibatkan pria jahat yang telah membuangku."
"Tapi, Aera... Maukah kamu memberiku izin jika itu diperlukan?"
Aera menoleh, Audric sedang menatapnya dengan lembut, lalu mengulurkan tangannya. Membelai wajah Aera dengan lembut.
"Apa mereka akan menyusahkanmu?"
"Hmm, mungkin. Mereka lebih kolot dariku. Selain itu, meski ayahmu jahat. Kamu tetap butuh pengakuannya ketika menghadapi Luisa nanti."
'Terlebih karena aturan penuh kesombongan dalam keluarga ini.' lanjut Audric dalam hati.
"Kita lihat nanti saja."
"Kamu punya rencana?" tanya Audric, bagaimanapun dia kemarin memberikan Aera kesempatan. Dia ingin mendengar cara Aera melakukannya.
"Aku tidak berbakat menghancurkan seseorang. Tapi aku ingin membalas kematian nenek.
"Kalau begitu lakukan saja. Kamu bisa melakukan apapun, bahkan jika kamu melakukan kesalahan, aku yang akan membereskannya."
'Pria ini benar-benar gila. Apa dia berharap aku melakukan kejahatan yang sama seperti Luisa? Mana mungkin aku mampu berbuat sejahat itu.' pikir Aera.
Seakan bisa membaca pikirannya, Audric terkekeh pelan. Lalu mendekatkan diri dan tidur dengan memeluk pinggang Aera.
"Aku tahu kamu wanita yang baik. Jika kamu tidak bisa, maka aku siap mengotori tanganku untukmu."
Deg deg deg!
Lagi-lagi perkataan penuh pemujaan untuknya itu membuat Aera merinding. Audric seakan mengatakan bahwa perkataannya adalah hukum yang akan ia patuhi.
"Ric... Kamu tidak harus melakukannya. Tidak semua dendam diselesaikan dengan cara kejam."
"Huh?"
Audric kembali duduk, menatap wajah Aera dari jarak dekat. Mempertanyakan maksud perkataannya. Tentu saja dia tidak mengerti, dalam kamusnya, membalas dendam artinya menghancurkan lawan.
"Membuat orang menyadari kesalahannya dan menyesalinya juga bentuk balas dendam. Meski mungkin kamu akan menilaiku terlalu naif, tapi aku sedikit berubah pikiran setelah berpikir dan melihat keadaan. Apalagi setelah melihat kemarahan Luisa. Aku yang memiliki ibu dan kelahiran yang mirip dengannya, pasti membuatnya marah dengan kepribadian seperti itu, mungkin dia menginginkan kesempurnaan. Karena aku tumbuh dengan kasih sayang, lalu aku mendapatkan cinta dari kakak yang ia kagumi dan sayangi. Aku pikir aku sedikit mengerti sekarang."
"Kamu terlihat seperti kakaknya sekarang. Meski begitu aku tidak suka kamu terlalu memikirkannya. Dia bukan orang yang pantas untuk itu."
Kedua mata itu bertemu, Aera bisa melihat sorot kelam yang biasanyanya tak terbaca itu, kini berubah. Sorot mata Audric akhir-akhir ini lebih memiliki makna saat mata mereka bertemu, ada kelembutan disana.
'Bagaimana pria seperti ini bisa mencintaiku? Aku pasti akan memukul kepalaku jika aku masih seperti Aera yang dulu sebelum datang kesini. Sesuatu yang mustahil... Bahkan asal usulku juga terdengar seperti dongeng.' pikir Aera. Begitu banyak perubahan dalam hidupnya, bahkan kehilangan neneknya masih sulit ia percaya. Rasanya baru kemarin Aera pamit untuk mengikuti kelas profesor favoritnya disini.
Aera membelalakkan matanya karena baru sadar Audric sudah menciumnya. Bibirnya dilumat lembut dan kini tangan itu meraih tengkuknya.
"Aku bahkan masih merindukanmu ketika kamu ada dihadapanku seperti ini." bisik Audric.
__ADS_1
Kini bibir itu menyentuh daun telinganya. Menciptakan sensasi geli yang tak pernah ia rasakan. Jantungnya berpacu dengan kencang. Dia bahkan bisa mendengar napas berat Audric dengan jelas.
"Audric... Kita harus segera istirahat." ujarnya gugup.
Audric tersenyum kecil di tengkuk Aera. Gerakan bibir itu bisa Aera rasakan karena masih menempel dikulitnya. Ketika Audric menarik diri dan menatapnya, Aera merasa ingin menenggelamkan dirinya saat itu. Dia sangat malu karena gugup, tangannya bahkan bergetar kecil didalam genggaman tangan besar itu.
"Aku tidak akan menyentuhmu lebih jauh sebelum menikah. Aku sangat mengerti budaya timur yang sangat kamu pegang. Apa kamu takut?"
"Ti-tidak! Aku hanya... Tidak biasa. Maksudku ini pertama kalinya kamu..."
"Kamu tidak suka?" potong Audric.
"Bukan begitu, aku..."
"Jadi kamu suka?"
Aera melebarkan matanya ketika Audric kembali ******* bibirnya, namun tidak lama. Pria itu segera menarik dirinya dan tersenyum lebar. Senyum yang sangat menyilaukan mata. Sampai-sampai Aera merasa sudah melihat keajaiban dunia.
"Ngomong-ngomong Aera, apa kamu pernah pacaran sebelum bertemu denganku?"
Ketika tersadar, Audric sudah berbaring dan meletakkan kepalanya di atas pangkuannya.
"Pa-pacaran? Pernah saat high school." jawab Aera.
Dia memang pernah menerima cinta kakak kelasnya saat awal masuk SMA. Namun tidak bertahan lama karena Aera tidak benar-benar menyukainya. Mereka akhirnya memilih berteman.
"Pernah?"
Entah itu pertanyaan atau bermakna lain. Aera bisa merasakan hawa menyeramkan dari Audric.
"Itu bukan hubungan yang berarti. Aku juga tidak menyukainya sedalam itu. Kami akhirnya berteman, dia jadi senior yang..."
"Sial! Hentikan itu! Kamu mau membuatku tersiksa?"
"Huh? Apa maksudmu?"
Aera bisa melihat wajah suram Audric dan sorot penuh kekesalan dimatanya. Aera baru sadar Audric cemburu, entah kenapa terlihat sangat manis saat ini. Sisi arogan dan dingin itu sepenuhnya hilang.
"Aku tidak suka mendengarnya."
"Kan kamu yang bertanya duluan. Lalu kamu sendiri? Rubelia itu apa benar hanya teman?"
"Lalu berapa mantan pacarmu?"
"Tidak ada!"
Aera menunjukkan ekspresi tidak percaya. Seorang seperti Audric tidak berkencan rasanya sangat mustahil.
"Aku dipersiapkan sejak kecil sebagai kepala keluarga. Jadwalku sangat ketat pada pendidikan dan aku menghabiskan waktuku untuk belajar dan bekerja. Aku terbiasa untuk itu. Aku yang dulu juga memandang wanita seperti pengganggu. Aku tidak percaya pada cinta, pernikahan bagiku hanya bagian bisnis dalam hidup. Tapi itu berubah sejak kamu masuk dalam hidupku. Aku selalu menginginkanmu."
Mendengar perjelasan itu, Aera bisa mengerti orang seperti apa Audric dimasa lalu. Mengingat sikapnya diawal bertemu, lalu Audric yang menipunya saat itu, Aera sangat yakin Audric dulu sangat meninggikan dirinya sendiri. Sehingga orang lain terasa tidak sejajar dengannya. Orang yang arogan dan penuh kepercayaan diri seperti itu cenderung menganggap orang lain rendah.
"Rasanya sangat menyenangkan, berbicara tentang diriku padamu seperti ini." gumam Audric.
'Meski begitu masih ada banyak hal yang aku tidak mengerti tentangmu.' monolog Aera. Sejujurnya dia juga menyukai adanya sikap saling terbuka ini.
.
Beberapa artikel dengan berani membahas tentang Audric yang membawa seorang gadis kepesta. Meski begitu, Harald sudah mengatur semua pemberitaan dan hanya memunculkan berita positif, pagi ini sebuah artikel yang membahas asal usul Aera muncul. Menyebar secepat kilat dan dibahas diberbagai forum online. Banyak akun gosip disosial media yang juga membahasnya.
Berita yang menunjukkan bahwa Aera adalah anak diluar nikah dan fitnah terhadap ibunya yang mengatakan kalau ibu Aera adalah wanita penghibur. Netizen yang juga telah mengetahui wajah Luisa setelah pernikahannya, membanding-bandingkan mereka dan membuat banyak spekulasi.
"Ah... Sial! Siapa yang berani melakukan ini!" kesal Harald.
Dia sedang sibuk memeriksa ponselnya. Dia sedang berkirim pesan pada seseorang. Lalu ketika ada panggilan masuk, dia langsung mengangkatnya.
"Bagaimana? Kamu menemukan siapa pelakunya?" tanya Harald pada si penelepon.
"Ah... Begitu ya. Aku mengerti, meski artikel itu sudah dihapus, beritanya telah menyebar. Dapatkan wartawan itu dan bawa padaku." katanya lagi.
Harald menghela napas, lalu berdehem pelan ketika Audric yang duduk di kursi kekuasaannya sedang menatapnya dengan tajam. Menunggu penjelasan darinya. Mereka sedang berada diruang kerja Audric dalam kediaman Martell. Harald menginap disana selama Audric tidak ke kantor.
"Sepertinya ini serangan terencana, Sir! Wartawan itu sepertinya telah dibayar."
"Mereka menggunakan status tidak sah sebagai senjata. Paman Abert juga tampaknya telah bergabung. Ini membuat rahasia kematian Leonor tidak bisa kita jadikan senjata, karena Luisa ikut campur. Anak itu diakui orang tuaku dan terdaftar, sehingga posisinya cukup kuat meski status anak diluar nikahnya terbongkar. Ini akan menyulitkan Aera."
"Bukankah Anda hanya perlu membujuk tiga dari lima tetua? Jika tiga suara telah anda dapatkan, sudah pasti suara Luisa tidak berarti."
Harald benar, Audric juga paham hal itu. Tapi aturan tertulis sejak lama melarang status anak tidak sah atau status rendah menjadi pendamping kepala keluarga. Jika dia bukan pemimpin, Audric tidak perlu serepot ini.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus berurusan dengan si tua Darwin lagi." gerutu Audric.
"Itu artinya penundaan pesta, Tuan?"
"Tidak, Jika ditunda Luisa bisa tahu langkahku. Lakukan diam-diam. Aku sendiri yang akan menemuinya. Darwin cukup keras kepala, tapi kita tidak bisa menyerangnya sembarangan."
"Ayah kandung Nona itu? Dia pasti akan semakin besar kepala. Lalu bagaimana dengan rapat sebentar lagi, Sir. Anda tidak bisa tidak datang. VG siap menyerang pada rapat kali ini. Para ilmuan juga telah mengemas barang mereka karena ragu akan menang."
Mengemas barang yang dimaksud Harald adalah telah ada kesepakatan diam-diam dari mereka untuk mencari perusahaan lain.
"Tidak heran, mereka sudah menghabiskan banyak waktu untuk proyek ini. Si tua itu pasti ingin segera terkenal. Tapi... Aku tidak begitu suka kalau anjing-anjingku menggonggong terlalu keras karena ingin daging. Harald... Kamu harus mengajari mereka."
Harald meneguk salivanya dengan berat. Aura membunuh itu membuatnya tertekan. Harald menyesal mengatakan masalah itu tampa bergerak terlebih dahulu.
Namun perubahan tiba-tiba dari suasana yang suram menjadi cerah membuat Harald semakin merinding. Senyum bahagia itu muncul di wajah Audric dengan tiba-tiba. Ketika Harald menoleh kebelakang, dia langsung tahu apa penyebabnya.
Aera berdiri disana, memegang sebuah buku dan Olivia membawa sebuah nampan berisi cemilan. Seketika Harald merasakan angin sejuk mengisi paru-parunya.
"Apa aku boleh bergabung?"
"Tentu saja, kemarilah."
Audric menjulurkan tangannya, menyuruh Aera mendekatinya.
"Ma-maafkan saya Tuan, saat kesini tuan Yohanes berpesan ingin menggunakan ruang olahraga pribadi Anda... Tuan Friedrick sedang berusaha menahannya saat ini..."
"Pergilah dan katakan dia boleh memakainya."
Olivia langsung terkejut, karena semua pelayan tahu bahwa Audric sangat benci sesuatu yang ia gunakan dipakai oleh orang lain.
Audric memiliki kecenderungan seperti itu, dia tidak suka berbagi barang dengan orang lain. Namun tentu saja hal itu tidak berlaku untuk Aera. Semua pelayan sudah tahu tentang hal ini. Sehingga perubahan kecil yang sering terjadi membuat orang lain takjub.
"Anda banyak berubah, Sir!" ujar Harald dan tersenyum kecil.
"Turunlah, aku akan menyusul sebentar lagi." perintah Audric.
"Kamu mau pergi?" tanya Aera setelah Harald keluar.
"Ya, ada rapat penting dan aku harus menghadirinya. Ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Oh, itu... Yohanes mengajakku jalan-jalan..."
"Tidak boleh!" potong Audric langsung. "Ikut denganku, setelah itu aku akan mengajakmu kemanapun yang kamu inginkan." lanjut Audric sambil memakai jas dan mantelnya.
Tegas dan jelas. Sebenarnya Aera juga tidak begitu tertarik dengan ajakan Yohanes, sebelum mengganggu Friedrick dengan keinginan memasuki area pribadi Audric, dia mengajak Aera jalan-jalan satu jam dari sekarang.
"Baiklah, aku akan mengatakannya pada Yohanes dulu."
"Tidak perlu, ayo pergi."
Audric langsung menggandengnya dan membawanya pergi tampa berganti baju. Untungnya Olivia yang dengan cepat kembali langsung berlari ke kamar dan mengambilkan mantel dan sepatu yang pas untuk keluar. Olivia bahkan sampai ikut tampa memakai jaket atau mantel untuk melindunginya dari udara dingin.
"Maaf, Sir. Kita harus cepat jadi saya akan menambah kecepatan." ujar Harald.
Vilatex, perusahaan yang mereka datangi langsung menyambut mereka dengan sangat baik. Audric langsung meminta satu ruangan tunggu untuk Aera dan menyuruh dua pengawal yang ikut untuk menjaganya. Tindakan itu membuat banyak perhatian tertuju pada mereka. Apalagi setelah kejadian artikel buruk itu, pandangan berbeda ditujukan pada Aera secara diam-diam.
"Olivia, pakailah ini. Kamu bisa sakit karena bajumu hanya satu lapis."
Aera membuka mantelnya dan memberikannya pada Olivia karena kawatir, pelayannya itu dipaksa ikut untuk melayaninya tampa persiapan.
"Saya tidak apa-apa, Nona. Lagi pula kita di dalam ruangan. Andalah yang tidak terbiasa dengan udara dingin jadi jangan pikirkan saya."
Dua pengawal yang mendengar dan melihat mereka bertukar pandang. Lalu tersenyum tipis ketika menatap majikan baru mereka itu. Kekaguman jelas terlihat diwajah mereka.
"Nona, Anda ingin makan atau minum sesuatu?"
"Tidak, Audric bilang kita tidak akan lama disini."
"Wah, aku tidak tahu ada tamu penting disini. Aku pikir tuan Martell membawa siapa, ternyata wanita cantik."
Seorang pria berdiri di depan pintu. Aera tidak mengenalnya. Dia tidak setinggu Audric tapi cukup tampan untuk seukuran pria dewasa. Mata hitam itu menatap Aera. Ada kelicikan dan sorot menghina disana.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk lebih jauh." cegah pengawal saat ia melangkah maju.
"Anjing-anjing Martell memang luar biasa. Aku hanya sebentar, jangan cemaskan aku. Aku hanya penasaran dengan wajah yang mirip Luisa ini." ujarnya, lalu pergi dengan senyum liciknya.
Aera tidak tahu siapa dia, begitu juga dengan Olivia dan dua pengawal itu. Pria itu tampak familiar bagi Olivia tapi dia tidak bisa mengingatnya. Rasanya Friedrick sudah menunjukkan foto orang tersebut, tapi dia benar-benar lupa.
Sebagai kepala pelayan, Friedrick telah memberitahu pada Olivia siapa saja yang harus ia waspadai jika orang itu ada di dekat Aera. Namun wajah itu sama sekali tidak muncul dalam ingatannya.
__ADS_1