BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Adolf yang bergabung


__ADS_3

Tidak perlu menunggu dua atau tiga hari. Keesokan harinya, media massa, media sosial seluruh Jerman dipenuhi pemberitaan dan pembahasan tentang Audric dan keluarga Martell.


Pro kontra terjadi dimasyarakat. Begitu juga para pejabat dan partai-partai yang berkuasa. Lalu, ketika kehebohan ini terjadi, Audric yang menjadi pembahasan utama menghilang.


Kana dia pergi?


Tentu saja berada disisi wanita yang dicintainya. Tempat persembunyian yang aman saat ini.


Dengan begitu, Ivon bisa bekerja dengan baik dan memimpin pasukan Martell yang saat ini tersebar diseluruh negeri. Baik yang resmi maupun yang berperan sebagai mata-mata. Seluruhnya ada dibawah komando Ivon dan Harald. Dua orang penting yang berdiri disisi kiri dan kanan Audric saat ini.


Ketegangan antar dua kubu politik yang terbagi memicu perhatian dari negara lain. Terutama negara yang memiliki hubungan erat dengan konglomerasi Martell sejak lama. Mereka turut mengambil sikap atas apa yang terjadi di sana.


Dua hari berlalu, pihak Isaac dan Luisa terdesak. Langkah mereka yang membuka niat Audric pada media berbuah malapetaka bagi keduanya. Banyak pihak yang akhirnya berubah haluan berada di pihak Audric. Terutama setelah Harald dan Rupert bekerja sama dalam menjatuhkan presiden dengan skandal.


Seperti niat Isaac sebelumnya saat membingkar tujuan Audric, saat rencana mereka perlahan gagal, Presiden akan dikambing hitamkan. Jadilah kepercayaan kepada Presiden hancur karena Rupert berhasil menguasai media dan mengarahkan suara netizen dengan skandal kotor Presiden.


"Berhentilah, Lui. Kamu hanya akan mengalami kerugian besar jika terus melanjutkan ini. Bahkan jika berhasil sekalipun, apa yang akan kamu dapatkan? Kakakmu, Aera dan semua orang sudah tahu siapa kamu saat ini."


Luisa menatap Adolf dengan mata yang dipenuhi kebencian. Dia ikut membenci Adolf karena pria itu malah membantu Audric. Bahkan sejak awal ketika percobaan pembunuhan pada Aera. Luisa baru tahu ketika Gustav menghilang setelah pesta penyambutan yang hancur.


"Jangan mencoba bersikap baik, kamu sama saja seperti mereka. Bahkan tidak membelaku sedikitpun saat media menyudutkanku saat ini."


"Memang apa yang bisa aku lakukan? Aku masih menyayangi diriku sendiri dan juga orang tuaku." sahut Adolf datar.


Dia pergi meninggalkan Luisa yang semakin frustasi di dalam kamarnya. Wanita itu terlihat tak akan menyerah.


"Yang benar saja, kakakku berubah banyak karena gadis sialan itu. Jika dia mati, semua akan kembali seperti semula. Kakakku hanya akan memperhatikanku seperti dulu!" katanya dengan sangat yakin.


"Jika secara politik tidak berhasil menjatuhkan kakak dan membuatnya sadar, maka kita hanya perlu kembali ke rencana awal perlahan-lahan. Biarkan mereka tenang sebentar saja." lanjutnya.


.


Skandal keji dan tak bermoral Presiden membuat dia terpaksa mundur dari posisinya. Terjadi perdebatan sengit antar perdana mentri dalam parlemen.


Saat ini, Audric sedang dalam perjalanan bersama Aera menuju Berlin ketika Harald memastikan bahwa Isaac maupun Luisa tidak akan bisa menyakiti Aera.


Selain pencabutan kekuasaan pada keduanya dalam otoritas keluarga maupun perusahaan, setiap langkah mereka kini diawasi dengan ketat.


Baik Luisa dan Isaac dalam keadaan terpojok saat ini. Meski begitu, Audric tahu Luisa tidak akan diam saja. Dia sangat mengenal tabiat adiknya itu.

__ADS_1


"Ric, kamu yakin dengan rencanamu?"


"Kita sudah membahasnya dua kali."


Ya, mereka memang telah membahasnya dua kali. Meski Audric telah menjelaskannya, tapi tetap saja rasanya akan berat baginya untuk menjadi pendamping Audric dalam posisi yang berbeda.


"Justru kamu... Kamulah yang membuat aku bingung Aera. Kenapa kamu terus mempertanyakan hal ini seakan tidak setuju. Padahal kamu tahu apa yang aku lakukan adalah pilihan terbaik."


'Justru itulah, aku tidak yakin ini akan menjadi baik.' jawab Aera dalam hati.


Audric membuang pandanganny luar jendela. Melihat keraguan Aera beberapa hari terakhir, membuatnya menebak-nebak alasannya. Mengingat sifat dan prinsip Aera selama ini, sepertinya di memahami penyebabnya. Namun Audric tidak ingin mengungkapkannya, dia takut akan ada gesekan dalam hubungan mereka.


Setibanya di kastil kediaman utama Martell, mereka langsung disabut oleh Friedrick dan seuruh pelayan disana. Friedrick dan Olivia tampak bersyukur melihat merema berdua baik-baik saja.


"Keadaan seluruh area aman. Pembunuh bayaran yang berhasil tertangkap telah dipindahkan ke penjara negara. Mereka akan menjalani pengadilan negara atas penyerangan pada keluarga Martell." lapor Harald begitu mereka sudah berada di ruang kerja Audric.


"Selain itu, Tuan. Tuan Adolf sedang menunggu Anda. Dia sudah ada disini sebelum Anda tiba." ujar Friedrick.


"Adolf? Dia disini?"


Aera langsung berdiri dari duduknya, membuat Audric langsung memasang wajah muram. Dia langsung menarik tangan Aera untuk kembali duduk.


"Tentu saja, kami berteman sebelumnya dan dia banyak membantuku. Aku dengar dia juga membantuku dengan menyampaikan informasi pada ayahku tentang percobaan pembunuhan itu. Bagaimanapun aku harus berterima kasih secara langsung."


Audric menarik napas pelan. Alasan Aera masuk akal dan dia tidak punya sanggahan untuk membenarkan kecemburuannya. Akhirnya dia hanya memasang wajah pasrah tapi tak rela.


.


"Apa kedatanganmu menunjukkan kesebelah mana keluargamu berpihak?" tanya Audric.


Mereka telah duduk dengan saling berhadapan. Adolf terlihat tenang, tidak terlalu menunjukkan emosi seperti dulu.


"Bisa dikatakan begitu. Kamu yang paling tahu kami tidak begitu suka persaingan."


"Tapi kamu suami dari Luisa saat ini. Apakah kamu akan mengatakan bahwa kamu melepaskan tanggung jawab darinya? Kamu akan membuat bingung teman politikmu yang telah mengulurkan tangan pada Luisa."


"Apa kamu yakin dengan perubahan yang kamu inginkan itu? Apa yang ingin kamu lakukan sebenarnya? Aku tahu kamu bukan orang yang hanya memikirkan posisi tertinggi. Bahkan tampa nama jabatan, posisi itu sudah lama kamu kuasai."


"Menurutmu apa alasanku?"

__ADS_1


Adolf terdiam, dia memang tidak memiliki dugaan yang kuat saat ini.


"Tapi banyak anggota keluargamu yang aku dengar menentang keputusanmu. Meski mereka mungkin akan digelari bangsawan karena memiliki darah Martell. Kenapa kamu tidak memiliki satu suara dengan mereka?"


"Apa aku punya alasan menjawab pertanyaanmu?"


Adolf mengutuk sifat Audric dalam hati. Tapi dia sudah memutuskan akan berdamai dengannya karena Aera. Jadi dia menahan diri untuk tidak terprovokasi.


"Kita ini rekan politik, aku ada dalam partai yang kamu pimpin. Lalu kamu pikir aku hanya akan merelakan posisiku begitu kamu menduduki posisi Raja?"


"Jadi kamu takut aku akan membuangmu?"


"Tidak, karena aku yakin kamu tidak akan melakukan hal itu. Kamu membutuhkan mentri yang setia padamu."


Aera tersenyum, senang mendengar pengakuan Adolf yang akan setia pada Audric.


"Aku senang kamu akan tetap menjadi teman, Adolf." kata Aera.


"Teman apanya, dia hanya akan menjadi bawahanku."


"Tapi dia temanku, jadi artinya dia temanmu juga." sanggah Aera.


"Terima kasih telah mempercayaiku sampai saat ini, Aera." ujar Adolf. "Aku masih berhutang padamu atas nenekmu. Aku benar-benar tidak menduga kalau Luisa akan melakukan hal diluar batas. Aku sungguh menyesal atas apa yang aku lakukan."


"Itu bukan salahmu, saat itu hanya membantuku. Aku justru berterima kasih atas informasi yang kamu berikan melalui Harry."


"Itu sesungguhnya jasa Gustav."


"Dimana dia saat ini? Aku dengar dia melarikan diri dari Luisa. Kamu melindunginya?" sela Audric.


"Ya, dia saksi penting yang harus tetap hidup. Lagi pula, dia hanya orang tua yang terlalu setia pada majikan yang salah."


"Kamu sangat baik hati." puji Aera.


Tentu saja Audric keberatan. Dia langsung menatap Adolf dengan kesal.


"Urusanmu jadi aku akan meninggalkanmu sekarang. Kamu bisa pulang sendiri."


Audric menarik tangan Aera dengan lembut. Meraih pinggangnya dan menariknya untuk pergi dari sana. Aera bahkan tidak sempat mengucapkan kalimat perpisahan pada Adolf.

__ADS_1


"Ya ampun, dia tidak berubah jika menyangkut Aera." gumam Adolf.


__ADS_2