
"Nyonya, hati-hati," seru Lilis, kepala pelayan di rumah ini sekaligus asisten pribadi Beatrice.
Sang nyonya besar tak mengindahkan larangan Lilis, dia mencurigai seseorang di bawah tangga. Firasatnya terbukti kala melihat cucu menantu dan asisten Maria di sana.
"Nyonya besar!" ucap Malya dan Sari, bersamaan. Seketika wajah gadis di sebelah Malya pucat pasi, Sari khawatir di pecat.
"Kalian sedang apa? juga tadi, obat kabe, siapa yang membeli itu?" tanya Beatrice pada kedua wanita yang terkejut.
Hening.
Diam.
"JAWAB!!" Sentak sang nyonya besar.
"Nyonya, jangan emosi. Ingat kolesterol Anda," bisik Lilis menahan amarah Beatrice.
"A-aaku, Nyonya besar," jawab Sari melindungi Nonanya.
"Kamu, zina?! pergi, pergi dari rumahku. Aku tak mentolerir pezina. Bahkan Bian saja masih perjaka kala menikahi wanita tak perawan ini," usir Beatrice pada Sari dan menunjuk tangan ke arah Malya.
Asisten Maria seketika menyembah di kaki Beatrice, memohon agar dirinya jangan di usir dan tetap melayani sang nona.
Malya tak percaya, seorang Biantara masih menjaga kesucian hingga kejadian semalam. Dan dia bilang tak ingin ada kehamilan di antara mereka. Pantas saja, dia kesulitan, kasar dan tergesa. Apakah sama merasakan sakit sepertinya?. Pikiran putri Haji Syakur menerawang.
Melihat Sari memohon, Malya tak tega. Dia merengkuh bahu gadis itu, mengajaknya bangkit berdiri.
"Aku yang meminta Sari untuk membelikan pil pencegah kehamilan. Kondisiku masih lemah khawatir apabila tidak dapat menjaga kandungan dengan baik justru akan melukai calon pewaris Cakra, Nyonya," kata Malya dengan nada lembut.
Beatrice menghela nafas. Sedikit berpikir bahwa Maria peduli akan kesehatan calon cicitnya. Dia pun melunak.
"Maria, kau tak perlu risau jika mengandung kelak. Fokus saja menjaga kehamilan mu. Jika Bian macam-macam biar aku yang menghajarnya. Tidak perlu meminum pil semacam itu, apabila cucuku tak menginginkan kehadiran anak, biarkan saja. Ada aku," kekeh Beatrice seolah menjadi teman Malya.
Wanita ayu ini langsung mengerti bahwa sepuh di hadapannya tengah mendamba penerus untuk di siapkan menjadi ahli waris selanjutnya.
Istri Brandon akan menjaga cicitnya dengan segala cara tapi belum tentu memuliakan sang ibu sebab dia tak menyukai Maria.
__ADS_1
"Lilis, siapkan menu khusus untuk Maria agar dia lekas hamil. Tidak usah bicara pada Bian, pisahkan makanan untuk keduanya. Laki-laki atau perempuan sama saja, aku bisa menempa calon pewaris menjadi perkasa," kekeh Beatrice berbalik badan dan meneruskan langkah ke arah depan.
Malya dan Sari berpandangan sekilas. Mereka bertekad tetap melanjutkan misi yaitu membeli sesuatu yang dapat mencegah pembuahan di rahim sang nona.
...***...
Cakrawala Corp.
Biantara menerima hasil pindai cctv hotel saat resepsi pernikahan mereka. Dia baru sempat membuka file yang sudah Chris siapkan sejak lama.
Berulang kali jarinya memainkan kursor, memperbesar layar, memutar dengan aplikasi 3D bahkan mengecek semua kamera yang terpasang di koridor, hasilnya nihil.
"Apa yang sebenarnya Anda cari, Bos?" tanya Chris penasaran.
"Kata Malya, aku harus mengecek cctv saat dia makan buah di private table. Namun, di sini tak ada apapun bahkan siapapun. Malya hanya terlihat bicara sendiri," ujar Bian. Dia menopang dagu dengan satu tangan. Merasa heran.
"Aku lihat, boleh, Bos?" tanya sang asisten.
Bian mengangguk, dia memutar laptop hingga menghadap Chrisnandi. Pria muda di balik meja mengamati detail pergerakan tampilan video di layar.
Satu menit.
Lima menit berlalu.
"Perhatikan detik dan posisi alat makan ini, Bos. Di belakang tubuh Nona Malya," ujar Chris menemukan kejanggalan.
Biantara kembali memutar laptop, memandang lekat dengan memperbesar kembali tampilan agar lebih kentara.
"Benar, bergeser dan di potong beberapa menit. Siapa yang melakukan ini berarti dia telah menyiapkan segalanya sebab caranya halus sekali. Malya mendapat instruksi dari seseorang bahkan dia ada di sekitarku," lirih Bian berusaha menebak siapa pelaku di balik ini.
"Nona tidak mengetahui siapa mereka, Bos. Beliau menoleh saat sosok itu pergi," tambah Chris menakar argumen atas sikap dan bahasa tubuh Malya di sana.
"Kenapa begitu?" selidik Bian.
"Jika mengetahui, beliau tak akan begitu penasaran dan membuat gerakan yang bakal mencelakai sumber bahkan dirinya," ungkap Chris.
__ADS_1
"Benar juga. Sosok ini tahu bahwa Malya akan melawan sehingga menekan keluarganya. Dan aku simpulkan bahwa asisten itulah yang menjadi penghubung mereka berdua," tebak Bian lagi.
Cucu Beatrice lalu membuat bagan darimana semua ini bermula. Bagaimana kelangsungan setelahnya juga temuan yang baru saja dia ketahui.
Kesimpulan pewaris Cakra Corp hanyalah satu. Malya tetap terkoneksi dengan para pelaku sehingga dia menjalankan ini tetap tak sendiri. Suka atau tidak itulah kenyataannya.
"Ok. Aku akui kamu jujur meski tak sepenuhnya benar. Malya Syakia," lirih Bian memutar kursinya menghadap jendela. Dia tengah memikirkan sesuatu.
Menjelang Maghrib Biantara kembali ke Mansion Cakra. Mengetahui sang suami tiba, wanita ayu menggeser posisi dirinya untuk melaksanakan salat dan dzikir, bukan segan tapi lebih agar kekhusyuan ibadahnya tak terganggu.
Tak ada percakapan di antara keduanya meski Bian mendengar lirih suara Malya saat mengaji. Lelaki itu asik sendiri dengan menyalakan musik beat disertai volume tinggi.
Mantan istri Sulaiman tak gentar, dia terus melantunkan bacaan surat yang di hafal. Sesekali Malya memejamkan mata hingga tanpa sadar bulir bening mengalir dari ujung netra.
"Gak usah nangis! cengeng!" sentak Bian, menurunkan volume suara musik berdentum.
"Aku bukan nangis sebab sulit menghafal Kalam Allah apalagi nangisin kamu. Aku sedih sebab Rosulullah mengingat kami, ummatnya nan boro inget padanya. Ummati, ummati, ummati ... bahkan saat sakarotul maut yang Rosulullah sebut adalah kita. Sedangkan ummat beliau? sibuk hura-hura," isak Malya kian deras. Dia memeluk mushaf dan sesenggukan di sana membuat Bian heran.
Penerus kekayaan Cakrawala tertegun mendengar apa yang Malya ucapkan. Namun, Bian memilih tak peduli. Dia hanya mematikan suara musik nan terasa menganggu semenjak kalimat Malya mengudara tadi. Keduanya pun kembali saling diam.
Setelah makan malam. Malya membantu para maid merapikan meja makan dan menuju ke dapur. Saat akan menaiki tangga untuk naik ke kamar, langkahnya di tahan oleh suara Lilis yang memanggil Nyonya muda agar menuju ruang keluarga.
Malya pun berbalik arah, berjalan di belakang Lilis menuju ruangan megah tak jauh dari sana.
"Maria, kemarilah. Kamu belum bertemu dengannya bukan? sepupu Bian yang baru menjejakkan kaki kembali di sini. Dia sekarang sudah sukses besar," kata Beatrice menunjuk seorang pria yang duduk di sebelah Bian.
"Memangnya aku gak sukses, Nek?" suara Bian menimpali.
"Sama suksesnya," ujar Brandon yang duduk di sebelah Beatrice.
Pria itu tersenyum ramah saat wanita ayu hadir dan berdiri di sisi sang tetua wanita. Nona muda pun hanya membalas dengan sekilas pandang padanya akan tetapi mimik wajah Malya berubah saat mendengar suaranya saat memperkenalkan diri.
"Hai pengantin baru, aku sepupu Bian. Semoga kalian langgeng," ujarnya, membuat wajah ayu yang menunduk seketika menengadah.
.
__ADS_1
.
..._____________________...