BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 57. RUPS


__ADS_3

"Alhamdulillah, aku siap untuk esok pagi, ya Allah."


Biantara mencoba memejamkan mata setelah semua berkas, telah rapi dalam bundel di kamarnya.


Wallpaper desktop juga ponsel yang selama ini hanya ada foto bayi Meeza kini telah berganti dengan gambar pujaan hati meski statusnya adalah mantan.


"Andai kamu di sini, aku butuh kamu, Al," gumam Bian, perlahan masuk ke alam mimpi.


Semenjak menikahi Malya, ranjang ini tetap miliknya sebab wanita itu tidur di sofa. Dia akan menyentuh ranjang Bian manakala menjalankan kewajiban yang diminta paksa olehnya.


Jika selama ini dia berbaring di tengah ranjang, entah mengapa sejak berpisah dari Malya, Bian menggeser kebiasaan tidurnya menjadi ke sisi kanan. Dia seakan melihat bayangan Malya meringkuk di bawah selimut, menunjukkan punggung mulus juga rambut hitam panjang nan kusut.


"Al!" serunya terbangun kembali.


"Astaghfirullah. Hamba tahu kesalahan itu ya Robb, jangan lagi siksa diri ini dengan bayangan Malya yang tersakiti. Aku janji padamu," gumam Bian, turun dari ranjang lalu berwudhu dan menunaikan witir. Setelah itu dia mencoba memejam kembali.


...***...


Keesokan pagi.


Rapat direksi akan dimulai beberapa menit lagi. Kehadiran Beatrice di wakilkan oleh Roby sebagai pemegang mandat dengan menunjukkan surat kuasa yang Brandon dan Beatrice tanda tangani.


Seorang lawyer pun turut hadir mewakili pemegang saham rahasia yang akan unjuk diri apabila situasi genting.


Agenda dimulai dengan doa dan pujian yang tak biasanya ada di susunan acara. Bian lalu membuka rapat dengan menunjukkan performa perusahaan. Laporan keuangan global juga fluktuasi nilai saham.


"Stabil untuk kategori consumer goods atau retail itu sendiri. Bahkan performa elektabilitas perusahaan baik profile pendiri maupun citra perusahaan meningkat signifikan," jelas Biantara merujuk pada banyak bukti.


Slide analisis majalah keuangan, para pelaku bisnis bahkan ulasan seorang mumpuni kala dilakukan wawancara oleh pihak media, mengatakan bahwa Cakrawala masih menjadi tonggak Pioneer perusahaan retail yang teguh bercokol di Indonesia.


"Bagaimana dengan alasan pelepasan satu cabang yang kini di kelola oleh pihak kedua justru menaikkan minat kembali di situasi saat ini?" tanya seorang pria, pemegang saham.


"Sebagai test market. Cakrawala tetap mendapatkan profit. Bukankah sudah dibagikan hasil yang Anda maksud, Tuan Eldar?" ujar Bian.


"Apakah akan dilepaskan beberapa anak cabang dengan kondisi serupa? bukankah itu akan mempengaruhi siklus kebiasaan? membagi peluang perusahaan lain untuk merger?" desak salah satunya lagi.


Biantara sudah menduga. Jika pelepasan cabang terus dilakukan dan mengganti konsep retail menjadi wahana hiburan maka Cakrawala akan kehilangan identitas.


"Tidak. Cakrawala hanya akan menawarkan kerjasama sharing profit, pengadaan bahan akan tetap kami pegang. Aku sudah mengantongi beberapa vendor yang sesuai," ujar Bian lagi, meminta Chris menampilkan slide uji kelayakan beberapa perusahaan calon rekanan baru untuk penyediaan wahana hiburan seperti yang Valent kelola.


"SQ Corp ... mengapa tidak memakai Valent saja? terbukti kan?" ujar Andreas.

__ADS_1


"Seperti keinginan para direksi, akan dipertimbangkan. Juga sekaligus membuka visi baru dengan perusahaan sejenis," jawab Bian.


Presentasi pengembangan sayap bisnis, di setujui direksi meski Andreas menentang. Suaranya kalah satu poin.


Andreas telah membujuk sebagian pemegang saham untuk meninjau kembali performa Biantara sebagai pimpinan dan meminta kandidat baru.


Perseteruan pun mulai terjadi. Bian sudah menyiapkan ini sejak tiga bulan lalu. Gebrakan yang sulit di sisipi Andreas sebab kepercayaan para karyawan pada dirinya.


"Jika kita mengganti Biantara dengan kandidat lain hanya mengandalkan pengokohan saham saja, itu tidak fair. Cakrawala perusahaan keluarga, tentu Brandon ingin agar hanya keturunannya yang mengampu tahkta. Siapa lagi kandidat dari Cakra ini," ujar penasihat perusahaan.


Biantara menyilakan Andreas untuk maju. Dia memang berniat memberi forum untuknya kali ini.


"Silakan Andre," ujar Biantara.


Andreas terkejut, bukan begini seharusnya. Dia akan menunjukkan diri dengan menjatuhkan Bian lebih dulu. Namun, semua di luar prediksinya. Biantara mengenalkan dia secara terang-terangan.


Putra Anne pun naik podium meski terjadi huru hara di ruangan. Selama ini Brandon tidak pernah menyebutkan adanya kandidat lain.


"Aku Andreas Valencia, putra sulung Anne Citrawala, putri bungsu Brandon Cakra," ujar Andreas.


Profile diri, perusahaan juga prestasi lainnya telah di jabarkan Andreas dengan sempurna. Beberapa dewan direksi takjub akan kilau kandidat baru. Suasana ruangan riuh setelah Andreas unjuk gigi.


Jajaran direksi meminta waktu untuk menentukan apakah enam bulan ke depan pucuk pimpinan akan bergeser atau sebaliknya.


"Assalamualaikum, Al. Meeza sedang apa?" tanya Bian.


"Belajar nulis khat. Dia bilang ada tugas selama liburan dan kali ini ingin melukis," jelas Malya masih dengan suara lirih sebab dia tengah merasakan sakit berdenyut di lengannya.


"Al, sepertinya aku akan melepaskan ini. Ingin mengakhiri tali kebencian. Agar aku dapat menikmati waktu lebih banyak dengan kalian. Mengantar Meeza sekolah, pokoknya family man lah," kata Bian lagi.


"Apapun itu, asal jangan merasa terpaksa. Kaya sejak lahir, apa bisa jadi orang dengan kebiasaan lain?" selidik Malya lagi.


"Bisa kalau sama kamu. Doain ya, udah lelah banget. Cuma pengen keseharian menikmati waktu aja, ibadah dengan benar, mengunjungi kebun misalnya. Gak mau lagi ngoyo," jelas sang pewaris.


Malya memejam, apakah Tuhan mendengar mimpi doanya dan mengabulkan lewat Biantara. Dadanya sesak mendengar penuturan Bian yang sesuai dengan keinginan nan terpendam.


"Al!" panggil Bian, merasa Malya hanya diam.


"Ehm, lakukan apa yang Mas mau, semangat ya. Meeza tidak aku didik menjadi anak borjuis, meski Daddynya demikian," kekeh Malya, tanpa sadar menyiratkan sesuatu.


Hati Bian berbunga-bunga mendengar isyarat mantan istrinya. Dia kian teguh dan takkan menyesal apabila rapat rups kali ini membuat dirinya lengser.

__ADS_1


"Thanks, Malya Syakia. Setelah ini, aku akan datang untukmu," sambung Bian sebelum menutup panggilan.


Roby memperhatikan perubahan signifikan sikap seorang Biantara Cakra, dia tersenyum samar terlebih melihat komunikasi intens yang pria itu pupuk perlahan membuat Malya bersedia menerima panggilan rutin darinya.


"Belum juga maju, udah gak dapat tempat. Ku kira cuma aku yang direspon panggilannya untuk Alya, nyatanya sang mantan mendominasi, ckck Byby, Anda belum beruntung," gumam Roby meski menghadap laptopnya.


Melalui Chris, Roby kerap mendapat keluhan dari sang partner kerja. Asisten Bian merasa kehilangan kepercayaan sebab majikannya itu kerap melakukan semua hal sendiri jika untuk kepentingan Malya dan Meeza, tak lagi meminta bantuan darinya.


"Udah ganteng, kaya, sekarang nambah soleh, ayah kandung Zaza pula. Sekarang bujuk mau jadi orang biasa sesuai selera Malya. Ck, fix ini sih aku kesenggol," keluh Roby saat mendengar Bian bicara tadi.


Rapat rups dilanjutkan. Beberapa pemegang saham menginginkan tanggapan para karyawan jika posisi di geser mendadak. Chris menunjukkan survei internal perusahaan yang menunjukkan kepercayaan staff masih tinggi di pegang oleh Bian.


"Mengapa survei begini dipakai? bukankah bawahan tinggal ikut? apa pengaruhnya?" tuntut Andreas.


Eldar juga tetua lain unjuk bicara.


"Kenyamanan karyawan akan berdampak pada kesehatan internal perusahaan. Kualitas di dapat sebab adanya rasa loyal dari dalam. Karyawan justru motor terbaik bagi kami. Tentunya Anda tahu ini bukan?" terang Eldar.


"Jika mogok, demo tentu citra perusahaan akan menurun. Nilai saham pun demikian, anjlok, kepercayaan pasar bisa memudar dan itu sulit kita naikkan apabila telah bergeser," ujar sang tetua Mariana, salah satu direksi perusahaan lainnya.


"Demo mogok dan lainnya kan gampang, tekan saja pemicunya lalu rombak total. Masih banyak yang mau kerja!" tegas Andreas.


"Betul kata tuan Andre. Lagipula karyawan lama budget sudah tinggi dengan tunjangan dan lainnya," dukung salah seorang direksi untuk Andre.


"Menemukan karyawan yang tidak loyal mudah. Asal mau kerja pun banyak. Yang Cakrawala pupuk bukan sekedar itu, tuan Andreas. Memang budget akan naik tapi sejalan dengan profit perusahaan," ujar Eldar lagi.


"Mendiang tuan Brandon tidak hanya memikirkan laba. Tapi kenyamanan juga kesejahteraan para karyawan. Anda lihat laporan internal pekerja kami. Dalam kurun lima tahun terakhir hanya tercatat 0.1% saja karyawan yang mengundurkan diri dari Cakrawala itupun bukan atas ketidakpuasan persona perusahaan. Silakan Anda tarik kesimpulan sendiri," sambung Roby.


Biantara hanya diam menyimak. Dia sudah mengantongi isyarat Malya maka hatinya lebih teguh dan tenang.


Polling pemilihan pimpinan pun di lakukan sebab dua kubu saling adu argumen. Hal biasa terjadi di dalam rapat seperti ini. Direksi secara kasat mata memang hanya menginginkan profit semata, lumrah sebab ini adalah sebuah bisnis.


"Sisa satu nama lagi," ujar Chris saat mencatat hasil polling. Kedudukan Bian masih unggul dua poin atas Andreas. Namun, jumlah sahamnya sama.


"Sya, memilih Biantara Cakra sebagai CEO," lanjut Chris.


"Dia tidak hadir!" seru salah seorang wanita.


.


.

__ADS_1


..._____________________...


__ADS_2