BUKAN SALAH BUNDA

BUKAN SALAH BUNDA
BAB 8. TERPAKSA


__ADS_3

"Lepaaasss!" Malya berontak saat tubuh tegap lelaki itu menindihnya.


"Kini suamimu adalah aku," bisik Bian, menepuk pipi Malya lalu meninggalkan dirinya begitu saja.


Sepeninggal pria itu, Beatrice masuk ke kamar bersama perias pengantin dengan membawa baju ganti untuk acara ramah tamah.


Pasangan sepuh Klan Cakra pun meminta agar Malya lekas bersiap. "Maria, semoga bukan hanya penampilan yang berubah. Isi hatimu jauh lebih penting. Layani cucuku dengan baik, syukur-syukur kau dapat melahirkan pewaris bagi keluarga Cakra," kata Beatrice.


Malya seketika membola, melahirkan anak katanya. Hubungan awal mereka saja sangat buruk. Lain hal dengan Beatrice, lelaki sepuh yang berdiri menyandar di punggung sofa malah bersikap sebaliknya. Dia sangat ramah.


"Maria, nanti temani kakek berkebun ya. Kita tanami lahan samping yang kosong dengan berbagai jenis bunga. Anggap saja menekuni hobi baru," ujar Brandon lembut.


Malya seakan mendapat pasokan oksigen di tengah sesaknya himpitan. Wanita berhijab ini pun tersenyum manis seraya mengangguk. Beliau satu-satunya orang yang ramah dan menyambut dengan cinta.


"Jangan terlalu lama, tamu sudah menunggu. Setelah ini kalian akan terbang ke Labuan Bajo selama sepekan. Jadi siapkan dirimu," tutur Beatrice sambil lalu.


Hari terburuk dalam hidup Malya, bersandiwara di tengah keramaian yang tak dia kenal. Saat Bian meninggalkannya sendiri, Malya menuju private table bermaksud mengambil buah segar untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


Mempelai wanita itu pun duduk seorang diri di meja khusus. Namun, tiba-tiba suara yang lama menghilang tapi masih dia kenali, kembali terdengar.


"Gak usah menoleh. Ikuti saja maunya Bian agar semua selamat. Akan ada waktu untukmu bebas, Malya. Dan seperti janjiku, bilamana saat itu tiba semoga statusmu dapat diselamatkan," kata seorang pria dari belakang tubuhnya.


"Bagaimana orang tuaku? mertua?" tanya Malya, ingin menjelaskan bahwa dia tak kabur meninggalkan suaminya sendirian di sana.


"Mertuamu kini Beatrice. Keluarga Sulaiman tak akan dapat menyentuhmu. Aku yang membuka akses bagi Bian menemui orang tuamu. Kamu lihat bukan? betapa suamimu itu kesulitan. Harusnya sadar sih, kekuatanku melebihi klan Cakra," pungkasnya lagi.


Pria itu bangkit tanpa suara, sehingga Malya tak mendengar dia melenggang pergi.


"Sampai kapan? haruskah aku melayaninya juga? apa ada jaminan bagi keselamatanku?" cecar Malya.


Hening.


Jeda. Tak ada jawaban lagi.


Malya nekat menoleh ke balik tubuh. Semua masih tertata rapi seakan tak ada sosok yang barusan bicara dengannya.

__ADS_1


"Hantu? gak mungkin," gumam putri Haji Syakur.


Acara perhelatan pun berakhir. Malya ditarik paksa oleh Bian menuju kamar mereka di lantai tujuh.


Kesempatan bagi Malya mengatakan yang sesungguhnya bahwa pria misterius itu tadi juga hadir dalam pesta.


"Jangan ngarang! kau mau kabur lalu membuat skandal lagi? oh kini aku mengerti motifmu. Kamu menyodorkan diri, aku menikahimu sebab rasa bersalah telah menabrak dia hingga meninggal. Dan kau membongkar kisah ini lalu kabur sehingga membuat saham perusahaan Cakrawala anjlok. Perusahaan pun kolaps," tuduh Bian lagi.


Malya jengah. Dia akhirnya mengatakan hal yang justru membuat pewaris Cakra Corp meradang.


"Apa kau bodoh? tak bisakah memeriksa cctv agar apa yang aku katakan tadi terbukti? kau kan kaya, seharusnya dapat dengan mudah mendapatkan informasi akurat. Tak serta merta menuduhku!" balas Malya telak. Dia menatap tajam Biantara.


"Beraninya mengaturku!! jangan lagi, lancang menatap suamimu seperti ini!" sentak Biantara. Dia meraih lalu mencengkeram dagu Malya hingga membuah wajah ayu itu menengadah.


Putri Haji Syakur menahan sakit di kedua rahangnya. Terlebih saat tangan kekar itu menepis dirinya hingga Malya jatuh di atas tempat tidur.


Cucu Beatrice lalu keluar kamar, membanting pintunya keras.


"Gak boleh nangis. Kuat Al, dia bakalan menindas jika kamu cengeng," kata Malya menyemangati diri sendiri meskipun tetap saja bulir bening itu jatuh.


Dua pekan setelahnya.


Suatu malam, Bian pulang dalam keadaan kacau. Chris mengatakan bahwa tubuh sang tuan muda tidak bertoleransi dengan Alkohol akan tetapi kolega memesankan minuman sejenis cocktail yang ternyata tetap ada mixed miras didalamnya.


"Beliau sudah memuntahkan semua isi perutnya. Hanya saja efek samping masih ada, Nona," ujar Chris saat akan merebahkan tubuh Bian di tempat tidur.


"Tunggu apalagi Maria, lekas ganti baju cucuku. Begitu saja tak mengerti, istri macam apa kamu ini," ujar Beatrice yang melihat insiden ini.


Malya rikuh, selama ini dia tak pernah menyentuh apapun milik Biantara. Dia dilarang mendekat bahkan tidak tidur dalam satu ranjang meski di ruangan yang sama.


Cucu menantu Beatrice pun meminta agar mereka meninggalkan dirinya. Dengan hati gundah, Malya melaksanakan tugas pertama sebagai istri Bian malam itu.


Perlahan semua pakaian pria terkapar ini berhasil Malya lepaskan kecuali underwear. Tubuh beraroma parfum musk, Malya seka dengan handuk hangat nan lembab sebelum memakaikan kembali kaos oblong juga celana pendek yang dia ambil dari walking closet milik Biantara.


Usapan lembut, hangat dan halusnya jemari Malya membuat jiwa kelelakian seseorang yang setengah sadar bangkit. Bian tanpa sadar menyebut nama Maria.

__ADS_1


"Maria. Baby, aku kangen kamu," gumam pewaris klan Cakra.


Tiba-tiba. Tarikan tangan kuat di lengan Malya membuat tubuh yang tengah lengah itu jatuh ke pelukan Bian.


"Lepasin aku! lepas!!" seru Malya memukuli dada pria dibawahnya.


Sebesar apapun energi seorang wanita yang digunakan untuk memberontak, takkan mampu menepis kekuatan tenaga pria, terlebih ditambah dorongan gairah yang perlahan memuncak.


Malya menangis. Memang ini adalah hak sang suami akan tetapi tidak ada keridoan pada salah satu pihak. Permohonan wanita yang Bian klaim hanya status di atas kertas, nyata di ingkari sebab perkara nafsu.


Biantara sesaat terkejut, dia mendapati hal aneh dari tubuh Malya. Namun, sudah separuh jalan hingga akhirnya ibadah halal pun dia tuntaskan.


"Jangan lupa, beli dan minum obatnya besok pagi. Aku gak mau kau hamil," kata Bian setelah kesadarannya berangsur pulih.


Dia lalu bangkit, meraih pakaiannya dan meninggalkan Malya yang terkulai kesakitan, begitu saja. Pintu kamar kembali dibanting kasar pria angkuh itu.


Malya terisak, dia menarik selimut kian rapat untuk menutupi sesuatu yang dinilai menjijikkan baginya kini. Tubuh ringkih itu meringkuk sesaat, sebelum dia beringsut menjulurkan kaki lalu melangkah gontai, kepayahan menuju bathroom.


"I-ibuuuu," isak Malya di bawah guyuran shower. Tubuhnya luruh merasakan sakit lahir batin.


Di tengah malam buta, mata bulatnya menjadi lebih sipit akibat bengkak terlalu banyak menangis. Malya mendekap bantal mini di atas sofa seperti biasanya, menyembunyikan segala duka lara.


Sementara di ruangan lain.


Bian melakukan hal yang sama, membersihkan diri. Dia merutuki kebodohannya dengan menyentuh Malya malam ini dalam keadaan setengah waras.


"Bodoh Bian! tapi tunggu, tadi dia masih ... berarti belum di sentuh oleh Sulaiman?" gumamnya di bawah guyuran shower.


Dua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. "Lagipula dia istriku kan? gak salah dong," ujarnya lagi.


.


.


..._____________________...

__ADS_1


__ADS_2